“Hai orang-orang beriman, tidak halal bagi kamu mewarisi wanita dengan cara paksa, dan janganlah kamu menyusahkan mereka karena hendak mengambil kembali sebagian dari apa yang telah kamu berikan kepadanya, terkecuali bila mereka melakukan perbuatan keji yang nyata. Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian jika kamu tidak menyukai mereka maka bersabarlah, karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Menikah adalah fitrah manusia. Rasulullah saw. menyebut menikah sebagai sunahnya. Bahkan, Nabi berkata, siapa yang membenci sunahnya, tidak termasuk dalam golongannya.
Setiap kita, pasangan muslim dan muslimah yang melakukan pernikahan, paham betul bahwa tujuan menikah yang utama adalah untuk mendapatkan ridha Allah. Setelah itu untuk mewujudkan keluarga yang sakinah mawahdah wa rahmah dan meneruskan keturunan dengan memperoleh anak-anak yang saleh dan salehah. Kita juga menyadari bahwa lembaga keluarga yang kita bentuk adalah wadah untuk melaku proses perubahan, baik untuk diri kita sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Sepasang suami-istri yang dipersatukan oleh ikatan pernikahan juga sadar bahwa keluarga adalah organisasi kecil yang memiliki aturan dalam pengelolaannya. Karena itu, sepasang suami-istri harus bisa memahami hak dan kewajiban dirinya atas pasangannya dan anggota keluarga lainnya.
Sepasang suami-istri dalam berinteraksi di rumah tangga sepatutnya melandasi hubungan mereka dengan semangat mencari keseimbangan, menegakkan keadilan, menebar kasih sayang, dan mendahulukan menunaikan kewajiban daripada menuntut hak.
Kewajiban seorang istri terhadap suaminya adalah pertama, mentaati suami. Namun, dalam mentaati suami juga ada batasannya. Batasan itu adalah seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Tidak ada ketaatan terhadap makhluk untuk bermaksiat kepada Allah, Sang Pencipta.”
Kewajiban seorang istri terhadap suami yang kedua adalah menjaga kehormatan dirinya, suami, dan harta keluarga. Ketiga, mengatur rumah tangga. Keempat, mendidik anak-anak. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw. bersabda, “Wanita adalah pengasuh dan pendidik di rumah suami, dan bertanggung jawab atas asuhannya.” Keluarga adalah prioritas seorang istri, meski tidak ada larangan baginya untuk melakukan peran sosialnya di masyarakat seperti berdakwah, misalnya.
Dan kewajiban lain seorang istri kepada suaminya adalah berbuat baik kepada keluarga suami.
Sedangkan kewajiban seorang suami kepada istrinya adalah pertama, membayar mahar dengan sempurna. Kedua, memberi nafkah. Rasulullah saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan wanita, karena kamu mengambil mereka dengan amanat Allah dan kamu halalkan kemaluan mereka dengan kalimat Allah; dan kewajiban kamu adalah memberi nafkah dan pakaian kepada mereka dengan baik.”
Ketiga, suami wajib memberi perlindungan kepada istrinya. Keempat, melindungi istri dari siksa api neraka. Ini perintah Allah swt., “Hai orang-orang yang beriman, selamatkan dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Kewajiban keempat, mempergauli istri dengan baik. Allah berfirman, “Dan pergaulilah mereka dengan cara yang baik.” (An-Nisa: 19)
Rasulullah saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya; dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap istrinya.” (Tirmidzi)
Muasyarah bil ma’ruf
Di ayat 19 surat An-Nisa di atas, Allah swt. menggunakan redaksi “muasyarah bil ma’ruf”. Makna kata “muasyarah” adalah bercampur dan bersahabat. Karena mendapat tambahan frase “bil ma’ruf”, maknanya semakin dalam. Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan “perbaikilah ucapan, perbuatan, penampilan sesuai dengan kemampuanmu sebagaimana kamu menginginkan dari mereka (pasanganmu), maka lakukanlah untuk mereka.”
Sedangkan Imam Qurthubi dalam tafsirnya menerangkan makna “muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Pergaulilah istri kalian sebagaimana perintah Allah dengan cara yang baik, yaitu dengan memenuhi hak-haknya berupa mahar dan nafkah, tidak bermuka masam tanpa sebab, baik dalam ucapan (tidak kasar) maupun tidak cenderung dengan istri-istri yang lain.”
Adapun Tafsir Al-Manar menerangkan makna ”muasyarah bil ma’ruf” dengan kalimat, “Wajib atas orang beriman berbuat baik terhadap istri mereka, menggauli dengan cara yang baik, memberi mahar dan tidak menyakiti baik ucapan maupun perbuatan, dan tidak bermuka masam dalam setiap perjumpaan, karena semua itu bertentangan dalam pergaulan yang baik dalam keluarga.”
Di antara bentuk perlakuan yang baik adalah melapangkan nafkah, meminta pendapat dalam urusan rumah tangga, menutup aib istri, menjaga penampilan, dan membantu tugas-tugas istri di rumah.
Salah satu hikmah Allah swt. mewajibkan seorang suami ber-muasyarah bil ma’ruf kepada istrinya adalah agar pasangan suami-istri itu mendapatkan kebahagiaan dan ketenangan dalam hidup. Karena itu, para ulama menetapkan hukum melakukan “muasyarah bil ma’ruf” sebagai kewajiban yang harus dilakukan oleh para suami agar mendapatkan kebaikan dalam rumah tangga.
Karena itu, para suami yang mendambakan kebaikan dalam rumah tangganya perlu mendalami tabiat perempuan secara umum dan tabiat istrinya secara khusus. Jika menemukan ada sesuatu yang dibenci dalam diri istri, demi kebaikan keluarga temukan lebih banyak kebaikan-kebaikannya. Suami juga harus tahu apa perannya dalam rumah tangga. Dan, jangan pernah mencelakan istri dengan kekerasan, baik secara fisik maupun mental. Ketika seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw.,” Apa hak istri terhadap suaminya?” Rasulullah saw. menjawab, “Memberi makan apa yang kamu makan , memberi pakaian apa yang kamu pakai, tidak menampar mukanya, tidak membencinya serta tidak boleh memboikotnya.”
Bagaimana jika timbul perselisihan? Cekcok antara suami-istri adalah hal yang manusiawi. Jika Rasulullah saw. memberi toleransi waktu tiga hari bagi dua orang muslim saling mendiamkan satu sama lain, alangkah baiknya jika suami-istri saling mendiamkan di pagi hari, di malam harinya sudah bisa saling senyum lagi. Kenapa?
Sebab, pasangan suami-istri muslim dan muslimah paham betul bahwa perselisihan mereka adalah gangguan Iblis. Rasulullah saw. pernah menerangkan kepada para sahabat, “Sesungguhnya Iblis meletakkan singgasananya di atas air, kemudian dia mengirim pasukannya, maka yang paling dekat kepadanya, dialah yang paling besar fitnahnya. Lalu datanglah salah seorang dari mereka seraya berkata: aku telah melakukan ini dan itu, Iblis menjawab, kamu belum melakukan apa-apa. Kemudian datang lagi yang lain melapor, aku mendatangi seorang lelaki dan tidak akan membiarkan dia, hingga aku menceraikan antara dia dan istrinya, lalu Iblis mendekat seraya berkata, “Sangat bagus kerjamu” (Muslim)
Begitulah, Iblis menjadikan menceraikan pasangan suami-istri sebagai prestasi tertinggi tentaranya. Karena itu, Islam mencegah perbuatan yang bisa menyebabkan perselisihan suami-istri. Karena itu, jika cekcok dengan pasangan hidup Anda, segera selesaikan masalahnya. Upayakan selesaikan masalah rumah tangga sendiri. Jangan menghadirkan pihak ketiga. Jika belum selesai juga, hadirkan seseorang yang bisa menjadi hakim yang bisa diterima kedua belah pihak.
Seiring dengan panjangnya perjalanan waktu dan lika-liku kehidupan, kadang ikatan pernikahan mengkendur. Karena itu, perkuat lagi ikatan itu dengan mengingat-ingat kembali tujuan pernikahan. Bangun komunikasi yang positif. Komunikasi adalah kunci keharmonisan. Karena itu, pahami betul cara berkomunikasi pasangan Anda. Dan, hidupkan syuro dalam keluarga. Bahkan untuk urusan kecil sekalipun perlu dibicarakan bersama. Insya Allah, Allah swt. akan memberi kebaikan yang banyak dalam keluarga Anda. Amin.
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2009/cara-memperlakukan-istri/
Kehidupan itu adalah suatu nikmat bagi orang yang menghargai dan menyedarinya.
Thursday, 2 December 2010
Bila kasih diberi, mengapa dikhianati?
Saya berbual dengan seorang sahabat tentang kasih sayang. Juga tentang bagaimana menghargai kasih sayang yang dikurniakan. Sebelum saya huraikan hasil perbualan kami, saya ingin menyoal anda dengan pertanyaan saya ini.
Kamu fikir, siapakah sebenarnya yang paling sayang kepada kamu?
Mungkin ada yang menjawab ibu, pasangan hidup, sahabat karib, dan lain-lain. Mungkin. Tetapi, jika ada yang memberikan jawapannya adalah Allah, ketahuilah bahawa jawapan kamu itu bersamaan dengan jawapan saya.
Ya, yang paling sayang kepada kita ialah Dia. Pencipta kita. Pembuat kita. Allah.
Bayangkan, kita sebagai manusia yang lemah ini pun akan sayang kepada sesuatu yag dihasilkan dengan titik peluh kita sendiri, bagaimana pula dengan Dia yang mengakui secara jelas bahawa Dialah Yang Maha Penyayang.
Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Berkenaan perkara ini, sahabat nabi, Abu Hurairah R.A. ada meriwayatkan sebuah hadis dengan katanya,
Pernah suatu hari Sayyidina Umar datang menghadap Rasulullah s.a.w. dengan membawa beberapa orang tawanan. Di antara para tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan dia terus mengambil bayi itu lalu mendakapkannya ke perut untuk disusui.
Namun, Allah lain. Dia tak sama dengan orang yang kita sayang. Allah, bila Dia menyuruh kita berbuat sesuatu, atau melarang kita dari melakukan sesuatu yang lain, Dia sentiasa Melihat kita. Maka, di sinilah nilaian kepada sejauh mana kita menghargai kasih dan sayang yang Allah berikan.
Adakah kita tetap buat yang Allah larang?
Atau masih tak laksanakan perkara yang Dia suruh?
Sedangkan Dia tetap melihat apapun yang kita lakukan.
Tapi masih ramai yang tidak tinggalkan maksiat.
Jadi, selain dari ancaman azab-azab yang sangat mengerikan itu, saya ingin mengajak kita kepada menghindar maksiat dengan menginsafi bahawa kita sudah terlalu banyak berhutang kasih kepada Allah. Sangat banyak. Kasih Allah kepada kita bukan sekadar semasa kita hidup, bahkan sebelum kita hidup dan selepasnya.
- Artikel iluvislam.com
Kamu fikir, siapakah sebenarnya yang paling sayang kepada kamu?
Mungkin ada yang menjawab ibu, pasangan hidup, sahabat karib, dan lain-lain. Mungkin. Tetapi, jika ada yang memberikan jawapannya adalah Allah, ketahuilah bahawa jawapan kamu itu bersamaan dengan jawapan saya.
Ya, yang paling sayang kepada kita ialah Dia. Pencipta kita. Pembuat kita. Allah.
Bayangkan, kita sebagai manusia yang lemah ini pun akan sayang kepada sesuatu yag dihasilkan dengan titik peluh kita sendiri, bagaimana pula dengan Dia yang mengakui secara jelas bahawa Dialah Yang Maha Penyayang.
Segala puji tertentu bagi Allah, Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan sekalian alam. Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
Perasaan Sayang Yang Makhluk Miliki Adalah Kurniaan Allah
Kita biasa melihat betapa sayangnya seorang ibu atau bapa kepada anaknya. Juga perasaan sayang seorang iteri kepada suaminya. Namun, biasakah kita melihat bahawa perasaan sayang mereka ini, Allahlah yang mengurniakannya kepada mereka.Berkenaan perkara ini, sahabat nabi, Abu Hurairah R.A. ada meriwayatkan sebuah hadis dengan katanya,
"Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: Allah telah menjadikan kasih sayangNya terbagi dalam seratus bahagian. Dia menahan sembilan puluh sembilan bahagian di sisi-Nya dan menurunkan satu bahagian ke bumi. Dari satu bahagian itulah para makhluk saling kasih-mengasihi sehingga seekor ibu binatang mengangkat cakarnya dari anaknya kerana takut melukainya." [riwayat Imam Muslim]
Bayangkan, betapa banyaknya kasih dan sayang yang Allah miliki. Maka betapa besarnya pula kasih sayang Allah kepada manusia kerana manusialah makhluk yag paling dikasihiNya.Pernah suatu hari Sayyidina Umar datang menghadap Rasulullah s.a.w. dengan membawa beberapa orang tawanan. Di antara para tawanan itu terlihat seorang wanita sedang mencari-cari, lalu jika ia mendapatkan seorang bayi di antara tawanan dia terus mengambil bayi itu lalu mendakapkannya ke perut untuk disusui.
Lalu Rasulullah s.a.w. bersabda: "Bagaimana pendapat kamu sekalian, apakah wanita ini akan melemparkan anaknya ke dalam api?" Para sahabat menjawab: "Tidak, demi Allah, sedangkan dia mampu untuk tidak melemparnya." Rasulullah s.a.w. bersabda: "Sungguh Allah lebih mengasihi hamba-Nya daripada wanita ini terhadap anaknya."
Begitu sekali kasihnya Allah kepada hambaNya. Tidakkah kita patut berfikir untuk menghargainya?Menghargai Kasih Sayang Allah
Kita ini, bila kita tahu ibu bapa sayang kepada kita, kita jadi tak tergamak untuk lukakan hati mereka. Tak sampai hati hendak buat perkara yang mereka tak suka kita buat. Tetapi, kita buat juga secara sembunyi.Namun, Allah lain. Dia tak sama dengan orang yang kita sayang. Allah, bila Dia menyuruh kita berbuat sesuatu, atau melarang kita dari melakukan sesuatu yang lain, Dia sentiasa Melihat kita. Maka, di sinilah nilaian kepada sejauh mana kita menghargai kasih dan sayang yang Allah berikan.
Adakah kita tetap buat yang Allah larang?
Atau masih tak laksanakan perkara yang Dia suruh?
Sedangkan Dia tetap melihat apapun yang kita lakukan.
Tinggalkan Dosa Kerana Hutang Kasih
Kita selalu dengar ustaz-ustaz kita pesan supaya tinggalkan maksiat kerana setiap maksiat kita itu balasannya adalah neraka Allah. Neraka pula azabnya tidak terfikir oleh otak, tidak terucap pula oleh lidah. Betapa dahsyat.Tapi masih ramai yang tidak tinggalkan maksiat.
Jadi, selain dari ancaman azab-azab yang sangat mengerikan itu, saya ingin mengajak kita kepada menghindar maksiat dengan menginsafi bahawa kita sudah terlalu banyak berhutang kasih kepada Allah. Sangat banyak. Kasih Allah kepada kita bukan sekadar semasa kita hidup, bahkan sebelum kita hidup dan selepasnya.
Diriwayatkan oleh Saiyidina Abu Hurairah, Rasulullah s.a.w. bersabda,"Tatkala Allah menciptakan makhluk, Allah telah menuliskan dalam kitab catatan-Nya yang berada di sisi-Nya di atas arsy bahawa sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku" [riwayat Imam Muslim].
Sahabat-sahabat, tergamaknya kita membalas kasih sayang Allah dengan kemungkaran. Hamba apakah kita ini?- Artikel iluvislam.com
Cinta itu bukan Tuhan
Seorang suami pernah meluahkan rasa hatinya kepada saya. Yakni tentang gangguan perasaan yang dialaminya. Dia diusik kenangan lama apabila bertemu dengan bekas kekasihnya semula. Entah kenapa perasaan cinta mereka seakan berputik kembali.
"Kami terlalu cinta. Malangnya kami tidak ada jodoh. Kami terpaksa berpisah dan kemudiannya menemui jodoh masing-masing."
Dia mengadu setelah hampir sepuluh tahun, tidak sangka hatinya masih berbunga cinta. Dan ajaibnya cinta, ia tidak mengenal usia. Sedangkan kini dia sudah punya dua orang anak dan bekas kekasihnya pun ada seorang anak. Masing-masing sudah punya keluarga.
"Apa masalahnya?" tanya saya seperti sukar memahaminya.
Dia kemudian mengakuinya bahawa bekas kekasihnya pun rupa-rupanya juga masih mencintainya.
Cinta bukan Tuhan, itulah jawapan pendek yang saya berikan padanya. Saya tegaskan tidak semua kehendak cinta mesti kita patuhi. Bila cinta melanggar batas-batas rasional, nilai-nilai kemanusiaan dan yang paling utama melanggar syariat, kehendaknya mesti dihentikan.
Saya ingatkan kepadanya, pertimbangkanlah bagaimana nasib isteri dan anak-anaknya nanti jika kehendak cinta yang "gila" itu dipenuhi. Pergi memburu cinta yang tidak pasti, lalu meninggalkan anak-anak dan isteri yang diamanahkan Allah... Berbaloikah?
Dan yang paling utama, bagaimana pula hukum Allah yang akan dilanggar jika hubungan terlarang (haram) itu diteruskan?
Mencinta isteri dan suami orang adalah haram. Curang itu khianat. Khianat itu adalah antara ciri kemunafikan.
Ya, cinta memang buta, tetapi orang yang bercinta (lebih-lebih lagi orang beriman) jangan pula sampai buta mata hati untuk mengawal dan mengendalikan rasa cinta. Demi cinta sanggup berdosa? Demi cinta sanggup menempah neraka? Fikir dan zikirkanlah (ingatkanlah)!
Malangnya, begitulah realitinya kini. Cinta dimartabatkan terlalu agung dan disanjung membumbung... Demi cinta segala-galanya berani diterjah dan sanggup diredah. Tidak percaya? Bacalah masalah-masalah masyarakat yang dipaparkan di dada akhbar atau majalah. Isteri jatuh cinta pada suami orang. Suami jatuh cinta kepada wanita lain dan rela meminggirkan isteri sendiri. Bila ditanya kenapa? Kebanyakannya menjawab, "apa boleh buat, kami sudah jatuh cinta!"
Inilah gara-gara dan bahananya menonton filem cinta versi Bollywood, Hollywood atau filem-filem "yang sewaktu dengannya". Inilah impak lagu-lagu cinta yang menyumbat telinga dan menyempitkan jiwa. Secara tidak sedar filem-filem dan lagu-lagu itu telah menawan "akal bawah sedar" sesetengah masyarakat, bukan sahaja remaja, bahkan "retua" hingga sanggup menobatkan cinta sebagai Tuhan dalam kehidupan.
Lihat sahaja bagaimana hero dan heroin dalam filem-filem tersebut sanggup melepasi apa jua halangan demi penyatuan cinta mereka. Pengorbanan demi cinta disanjung dan dipuja walaupun jelas melanggar tatasusila dalam beragama. Kerap kali ibu-bapa dipinggirkan, kononnya kerana menghalang kehendak cinta. Apa sahaja plot dan klimaks cerita, cinta akan dimenangkan. Seolah-olah tujuan hidup manusia hanya semata-mata untuk cinta!
Mari kita renung sejenak. Cuba tanyakan siapakah yang mengurniakan rasa cinta di dalam hati setiap manusia? Tentu sahaja jawabnya ialah Allah. Allah mencipta manusia, hati, akal dan perasaannya. Cinta itu fitrah yang dikurniakan Allah pada setiap hati. Lalu kita tanyakan lagi untuk apakah Allah berikan naluri cinta ini?
Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Untuk mengetahui apa tujuan cinta kita perlu kembali kepada persoalan asas, untuk apa manusia dijadikan? Ini adalah kerana semua yang diberikan Allah kepada manusia adalah untuk memudahkan manusia menjalankan tujuan ia diciptakan oleh Allah. Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Tidak lain, hanya untuk menjadi hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini.
Ini ditegaskan sendiri oleh Allah melalui firman-Nya:
"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menjadi hamba (beribadah) kepada-Ku." (Surah Al Dhariyat, 51: 56)
Dan Allah menegaskan lagi:
"Kami jadikan di muka bumi manusia sebagai khalifah."
Dua tujuan penciptaan manusia ini adalah amanah yang sangat berat. Allah menegaskan lagi:
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikul amanat itu kerana mereka khuatir mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu tersangat zalim dan jahil." (Surah Al Ahzab, 72)
Sebagai hamba Allah, manusia perlu mengabdikan dirinya kepada Allah setiap masa, ketika dan di mana sahaja. Ia perlu menjadi manusia yang baik melalui ibadah-ibadah fardu Ain yang diwajibkan secara personel oleh Allah ke atas dirinya. Dan sebagai khalifah di muka bumi, manusia perlu mengurus, mentadbir dan memakmurkan muka bumi ini berpandukan hukum-hakam Allah s.w.t. Ini adalah tanggung-jawab yang berat dan memerlukan penyertaan orang lain bersama-sama untuk dilaksanakan. Kebanyakannya amalan berbentuk fardu kifayah ini memerlukan tenaga jemaah.
Allah swt Maha Mengetahui akan kelemahan manusia. Dua tujuan yang besar penciptaan manusia itu tidak boleh dipikul secara bersendirian. Justeru, awal-awal lagi manusia wujud secara "co-existance" (ujud secara bersama). Kebersamaan ini sangat perlu untuk memberi kekuatan bagi memikul tujuan hidup yang sangat besar dan berat itu. Dan titik awal perpaduan antara seorang manusia dengan seorang manusia yang lain ialah hubungan suami-isteri yang membentuk sebuah keluarga.
Keluarga adalah nukleus yang pertama dalam hubungan sesama manusia. Daripada sebuah keluarga terbentuklah masyarakat, daripada penyatuan masyarakat terbentuklah daerah, negeri, negara dan akhirnya dunia kehidupan yang lebih besar dan luas. Lihatlah bagaimana segala bentuk perhubungan itu semuanya berasal daripada hubungan seorang lelaki (suami) dan seorang wanita (isteri).
Maha suci Allah yang menyatukan manusia dalam pakej-pakej perhubungan yang bernama keluarga, masyarakat, daerah, negeri, negara dan dunia antarabangsa. Semua itu untuk apa?
Ya, untuk bersatu bagi menjalankan peranan mereka sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Tugas yang berat dan mencabar itu akan terasa lebih mudah jika dipikul bersama-sama. Tanpa hubungan dan bantuan daripada orang lain, manusia tidak akan terpikul amanah yang besar itu.
Sesungguhnya, untuk memulakan tapak asas atau benih permulaan hubungan antara manusia dengan manusia itulah Allah ciptakan rasa cinta. Allah datangkan rasa rindu, sepi dan inginkan teman di dalam hati Nabi Adam. Pada hal Nabi Adam tinggal di syurga – tempat terhimpunnya segala nikmat dan keindahan.
Namun, tanpa seorang "teman wanita", Nabi Adam masih terasa kesepian jua. Allah jugalah yang mengurniakan rasa itu, untuk menjadi sebab terbentuk hubungan suami-isteri yang kemudiannya menjadi sebab pula lahirlah zuriat demi zuriat yang melahirkan generasi manusia.
Dan kemudian datanglah musim ujian. Cinta mereka berdua terpisah ketika "tercampak" ke alam dunia. Setelah sekian lama cinta mereka terpisah (sebagai kafarah satu kesalahan), akhirnya mereka bertemu di padang Arafah. Dan dari situlah bergabunglah jiwa, minda, perasaan dan tenaga mereka berdua untuk menjalankan peranan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia.
Cinta Hanya Jalan, Bukan Tujuan
Cinta itu bukan tujuan... Cinta itu hanya jalan. Cinta itu bukan matlamat, cinta itu cuma alat. Rasa ingin mencintai dan dicintai dalam diri setiap manusia pada hakikatnya adalah untuk membolehkan manusia melaksanakan tujuan ia diciptakan. Cinta itu mengikat hati antara lelaki dengan wanita untuk sama-sama membentuk ikatan perkahwinan demi menyempurnakan agama. Justeru kerana itulah Rasulullah s.a.w telah bersabda:
"Barang siapa yang berkahwin maka sempurnalah separuh agamanya, tinggal separuh lagi untuk dilaksanakan."
Cinta memang penting, tetapi ibadah dan menegakkan hukum Allah jauh lebih penting. Sayangnya, hakikat ini sangat jarang difahami dan dihayati oleh orang yang bercinta. Tujuan cinta sering dipinggirkan. Ibadah dan hukum Allah yang tinggi dan suci telah dipinggirkan hanya kerana cinta. Kononnya, cinta itu sangat suci dan tinggi.
Mungkin rasa seperti itulah yang berbunga di dalam jiwa si suami yang diimbau nostalgia cinta lama oleh bekas kekasihnya yang saya sebut pada awal tulisan ini. Kerana cinta, terdetik dalam hatinya untuk bersama bekas kekasih walaupun terpaksa mengorbankan anak dan isterinya. Mungkin rasa cinta itulah juga yang menyebabkan ramai wanita mengorbankan kehormatan diri kepada kekasih hati demi membuktikan ketulusan cintanya. Mungkin kerana itulah juga seorang anak sanggup berpisah dengan ibu-bapanya demi memburu cinta.
Bertuhankan cinta samalah bertuhankan hawa nafsu. Bila tujuan suci dan hakiki dipinggirkan, timbullah tujuan keji dan ilusi sebagai ganti. Sering terjadi nafsu seks dijadikan tujuan di sebalik rasa cinta. Cinta yang berbaur dengan kehendak seks inilah yang pernah dikecam oleh Al Farabi dengan katanya:
"Cinta yang berlandaskan nafsu seks adalah cinta yang diilhamkan oleh Tuhan kepada haiwan!"
Ironinya, ada yang berkata, "lelaki memberi cinta untuk mendapatkan seks. Wanita memberi seks untuk mendapatkan cinta."
Eksploitasi dan manipulasi cinta ini tidak akan memberi kebahagiaan kepada sesiapa – baik kepada lelaki mahupun kepada wanita. Lelaki yang mendapat seks dengan memperalatkan cinta, tidak akan pernah puas. Kehendak nafsu tidak terbatas dan tidak akan pernah puas. Melayani nafsu, umpama minum air laut... semakin diminum, semakin haus.
Manakala wanita yang memberi seks, kononnya untuk mendapat cinta, tidak akan mendapat cinta yang sejati. Mereka hanya akan menemui kasanova dan lelaki hidung belang yang hanya cinta sebelum dapat apa yang diidamkan, tetapi tunggulah sebaik sahaja habis manis sepahnya dibuang. Wanita-wanita malang ini bukan hanya kehilangan cinta, tetapi hilang maruah, kehormatan dan harga diri.
Letakkanlah cinta sebagai alat untuk beribadah kepada Allah. Wujudkanlah rumah tangga bahagia yang menjadi wadah tertegaknya kalimah Allah.
SYURGA RUMAHTANGGA
Binalah rumah-tangga di tapak iman
Tuluskan niat luruskanlah matlamat
Suami pemimpin arah tujuan
Isteri pembantu sepanjang jalan
Lalu mulakanlah kembara berdua
Kerana dan untuk... Allah jua
Di tapak iman dirikanlah hukum Tuhan
Iman itu tujuan Islam itu jalan
tempat merujuk segala kekusutan
tempat mencari semua penyelesaian
rumah jadi sambungan madrasah
berputiklah mawaddah...
berbuahlah rahmah
Inilah kunci kebahagiaan rumah-tangga
setia dan penyayang seorang suami
cinta dan kasih seorang isteri
Lalu berbuahlah mahmudah demi mahmudah
lahirlah zuriat yang soleh dan solehah!
- Artikel iluvislam.com
"Kami terlalu cinta. Malangnya kami tidak ada jodoh. Kami terpaksa berpisah dan kemudiannya menemui jodoh masing-masing."
Dia mengadu setelah hampir sepuluh tahun, tidak sangka hatinya masih berbunga cinta. Dan ajaibnya cinta, ia tidak mengenal usia. Sedangkan kini dia sudah punya dua orang anak dan bekas kekasihnya pun ada seorang anak. Masing-masing sudah punya keluarga.
"Apa masalahnya?" tanya saya seperti sukar memahaminya.
Dia kemudian mengakuinya bahawa bekas kekasihnya pun rupa-rupanya juga masih mencintainya.
Cinta bukan Tuhan, itulah jawapan pendek yang saya berikan padanya. Saya tegaskan tidak semua kehendak cinta mesti kita patuhi. Bila cinta melanggar batas-batas rasional, nilai-nilai kemanusiaan dan yang paling utama melanggar syariat, kehendaknya mesti dihentikan.
Saya ingatkan kepadanya, pertimbangkanlah bagaimana nasib isteri dan anak-anaknya nanti jika kehendak cinta yang "gila" itu dipenuhi. Pergi memburu cinta yang tidak pasti, lalu meninggalkan anak-anak dan isteri yang diamanahkan Allah... Berbaloikah?
Dan yang paling utama, bagaimana pula hukum Allah yang akan dilanggar jika hubungan terlarang (haram) itu diteruskan?
Mencinta isteri dan suami orang adalah haram. Curang itu khianat. Khianat itu adalah antara ciri kemunafikan.
Ya, cinta memang buta, tetapi orang yang bercinta (lebih-lebih lagi orang beriman) jangan pula sampai buta mata hati untuk mengawal dan mengendalikan rasa cinta. Demi cinta sanggup berdosa? Demi cinta sanggup menempah neraka? Fikir dan zikirkanlah (ingatkanlah)!
Malangnya, begitulah realitinya kini. Cinta dimartabatkan terlalu agung dan disanjung membumbung... Demi cinta segala-galanya berani diterjah dan sanggup diredah. Tidak percaya? Bacalah masalah-masalah masyarakat yang dipaparkan di dada akhbar atau majalah. Isteri jatuh cinta pada suami orang. Suami jatuh cinta kepada wanita lain dan rela meminggirkan isteri sendiri. Bila ditanya kenapa? Kebanyakannya menjawab, "apa boleh buat, kami sudah jatuh cinta!"
Inilah gara-gara dan bahananya menonton filem cinta versi Bollywood, Hollywood atau filem-filem "yang sewaktu dengannya". Inilah impak lagu-lagu cinta yang menyumbat telinga dan menyempitkan jiwa. Secara tidak sedar filem-filem dan lagu-lagu itu telah menawan "akal bawah sedar" sesetengah masyarakat, bukan sahaja remaja, bahkan "retua" hingga sanggup menobatkan cinta sebagai Tuhan dalam kehidupan.
Lihat sahaja bagaimana hero dan heroin dalam filem-filem tersebut sanggup melepasi apa jua halangan demi penyatuan cinta mereka. Pengorbanan demi cinta disanjung dan dipuja walaupun jelas melanggar tatasusila dalam beragama. Kerap kali ibu-bapa dipinggirkan, kononnya kerana menghalang kehendak cinta. Apa sahaja plot dan klimaks cerita, cinta akan dimenangkan. Seolah-olah tujuan hidup manusia hanya semata-mata untuk cinta!
Mari kita renung sejenak. Cuba tanyakan siapakah yang mengurniakan rasa cinta di dalam hati setiap manusia? Tentu sahaja jawabnya ialah Allah. Allah mencipta manusia, hati, akal dan perasaannya. Cinta itu fitrah yang dikurniakan Allah pada setiap hati. Lalu kita tanyakan lagi untuk apakah Allah berikan naluri cinta ini?
Untuk Apa Manusia Diciptakan?
Untuk mengetahui apa tujuan cinta kita perlu kembali kepada persoalan asas, untuk apa manusia dijadikan? Ini adalah kerana semua yang diberikan Allah kepada manusia adalah untuk memudahkan manusia menjalankan tujuan ia diciptakan oleh Allah. Apakah tujuan Allah menciptakan manusia? Tidak lain, hanya untuk menjadi hamba Allah dan khalifah di muka bumi ini.
Ini ditegaskan sendiri oleh Allah melalui firman-Nya:
"Tidak Aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk menjadi hamba (beribadah) kepada-Ku." (Surah Al Dhariyat, 51: 56)
Dan Allah menegaskan lagi:
"Kami jadikan di muka bumi manusia sebagai khalifah."
Dua tujuan penciptaan manusia ini adalah amanah yang sangat berat. Allah menegaskan lagi:
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, namun semuanya enggan memikul amanat itu kerana mereka khuatir mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu tersangat zalim dan jahil." (Surah Al Ahzab, 72)
Sebagai hamba Allah, manusia perlu mengabdikan dirinya kepada Allah setiap masa, ketika dan di mana sahaja. Ia perlu menjadi manusia yang baik melalui ibadah-ibadah fardu Ain yang diwajibkan secara personel oleh Allah ke atas dirinya. Dan sebagai khalifah di muka bumi, manusia perlu mengurus, mentadbir dan memakmurkan muka bumi ini berpandukan hukum-hakam Allah s.w.t. Ini adalah tanggung-jawab yang berat dan memerlukan penyertaan orang lain bersama-sama untuk dilaksanakan. Kebanyakannya amalan berbentuk fardu kifayah ini memerlukan tenaga jemaah.
Allah swt Maha Mengetahui akan kelemahan manusia. Dua tujuan yang besar penciptaan manusia itu tidak boleh dipikul secara bersendirian. Justeru, awal-awal lagi manusia wujud secara "co-existance" (ujud secara bersama). Kebersamaan ini sangat perlu untuk memberi kekuatan bagi memikul tujuan hidup yang sangat besar dan berat itu. Dan titik awal perpaduan antara seorang manusia dengan seorang manusia yang lain ialah hubungan suami-isteri yang membentuk sebuah keluarga.
Keluarga adalah nukleus yang pertama dalam hubungan sesama manusia. Daripada sebuah keluarga terbentuklah masyarakat, daripada penyatuan masyarakat terbentuklah daerah, negeri, negara dan akhirnya dunia kehidupan yang lebih besar dan luas. Lihatlah bagaimana segala bentuk perhubungan itu semuanya berasal daripada hubungan seorang lelaki (suami) dan seorang wanita (isteri).
Maha suci Allah yang menyatukan manusia dalam pakej-pakej perhubungan yang bernama keluarga, masyarakat, daerah, negeri, negara dan dunia antarabangsa. Semua itu untuk apa?
Ya, untuk bersatu bagi menjalankan peranan mereka sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Tugas yang berat dan mencabar itu akan terasa lebih mudah jika dipikul bersama-sama. Tanpa hubungan dan bantuan daripada orang lain, manusia tidak akan terpikul amanah yang besar itu.
Sesungguhnya, untuk memulakan tapak asas atau benih permulaan hubungan antara manusia dengan manusia itulah Allah ciptakan rasa cinta. Allah datangkan rasa rindu, sepi dan inginkan teman di dalam hati Nabi Adam. Pada hal Nabi Adam tinggal di syurga – tempat terhimpunnya segala nikmat dan keindahan.
Namun, tanpa seorang "teman wanita", Nabi Adam masih terasa kesepian jua. Allah jugalah yang mengurniakan rasa itu, untuk menjadi sebab terbentuk hubungan suami-isteri yang kemudiannya menjadi sebab pula lahirlah zuriat demi zuriat yang melahirkan generasi manusia.
Dan kemudian datanglah musim ujian. Cinta mereka berdua terpisah ketika "tercampak" ke alam dunia. Setelah sekian lama cinta mereka terpisah (sebagai kafarah satu kesalahan), akhirnya mereka bertemu di padang Arafah. Dan dari situlah bergabunglah jiwa, minda, perasaan dan tenaga mereka berdua untuk menjalankan peranan sebagai hamba Allah dan khalifah di dunia.
Cinta Hanya Jalan, Bukan Tujuan
Cinta itu bukan tujuan... Cinta itu hanya jalan. Cinta itu bukan matlamat, cinta itu cuma alat. Rasa ingin mencintai dan dicintai dalam diri setiap manusia pada hakikatnya adalah untuk membolehkan manusia melaksanakan tujuan ia diciptakan. Cinta itu mengikat hati antara lelaki dengan wanita untuk sama-sama membentuk ikatan perkahwinan demi menyempurnakan agama. Justeru kerana itulah Rasulullah s.a.w telah bersabda:
"Barang siapa yang berkahwin maka sempurnalah separuh agamanya, tinggal separuh lagi untuk dilaksanakan."
Cinta memang penting, tetapi ibadah dan menegakkan hukum Allah jauh lebih penting. Sayangnya, hakikat ini sangat jarang difahami dan dihayati oleh orang yang bercinta. Tujuan cinta sering dipinggirkan. Ibadah dan hukum Allah yang tinggi dan suci telah dipinggirkan hanya kerana cinta. Kononnya, cinta itu sangat suci dan tinggi.
Mungkin rasa seperti itulah yang berbunga di dalam jiwa si suami yang diimbau nostalgia cinta lama oleh bekas kekasihnya yang saya sebut pada awal tulisan ini. Kerana cinta, terdetik dalam hatinya untuk bersama bekas kekasih walaupun terpaksa mengorbankan anak dan isterinya. Mungkin rasa cinta itulah juga yang menyebabkan ramai wanita mengorbankan kehormatan diri kepada kekasih hati demi membuktikan ketulusan cintanya. Mungkin kerana itulah juga seorang anak sanggup berpisah dengan ibu-bapanya demi memburu cinta.
Bertuhankan cinta samalah bertuhankan hawa nafsu. Bila tujuan suci dan hakiki dipinggirkan, timbullah tujuan keji dan ilusi sebagai ganti. Sering terjadi nafsu seks dijadikan tujuan di sebalik rasa cinta. Cinta yang berbaur dengan kehendak seks inilah yang pernah dikecam oleh Al Farabi dengan katanya:
"Cinta yang berlandaskan nafsu seks adalah cinta yang diilhamkan oleh Tuhan kepada haiwan!"
Ironinya, ada yang berkata, "lelaki memberi cinta untuk mendapatkan seks. Wanita memberi seks untuk mendapatkan cinta."
Eksploitasi dan manipulasi cinta ini tidak akan memberi kebahagiaan kepada sesiapa – baik kepada lelaki mahupun kepada wanita. Lelaki yang mendapat seks dengan memperalatkan cinta, tidak akan pernah puas. Kehendak nafsu tidak terbatas dan tidak akan pernah puas. Melayani nafsu, umpama minum air laut... semakin diminum, semakin haus.
Manakala wanita yang memberi seks, kononnya untuk mendapat cinta, tidak akan mendapat cinta yang sejati. Mereka hanya akan menemui kasanova dan lelaki hidung belang yang hanya cinta sebelum dapat apa yang diidamkan, tetapi tunggulah sebaik sahaja habis manis sepahnya dibuang. Wanita-wanita malang ini bukan hanya kehilangan cinta, tetapi hilang maruah, kehormatan dan harga diri.
Letakkanlah cinta sebagai alat untuk beribadah kepada Allah. Wujudkanlah rumah tangga bahagia yang menjadi wadah tertegaknya kalimah Allah.
SYURGA RUMAHTANGGA
Binalah rumah-tangga di tapak iman
Tuluskan niat luruskanlah matlamat
Suami pemimpin arah tujuan
Isteri pembantu sepanjang jalan
Lalu mulakanlah kembara berdua
Kerana dan untuk... Allah jua
Di tapak iman dirikanlah hukum Tuhan
Iman itu tujuan Islam itu jalan
tempat merujuk segala kekusutan
tempat mencari semua penyelesaian
rumah jadi sambungan madrasah
berputiklah mawaddah...
berbuahlah rahmah
Inilah kunci kebahagiaan rumah-tangga
setia dan penyayang seorang suami
cinta dan kasih seorang isteri
Lalu berbuahlah mahmudah demi mahmudah
lahirlah zuriat yang soleh dan solehah!
- Artikel iluvislam.com
Kisah Raja Afrika
Pada zaman dahulu kala di negeri Afrika, terdapat seorang raja yang memerintah dengan adil dan saksama.
Raja Afrika tersebut mempunyai seorang sahabat rapat bernama Koami.
Koami mempunyai satu sifat yang sungguh unik iaitu Koami suka melihat setiap perkara yang berlaku (positif mahupun negatif) dalam hidupnya sebagai sesuatu yang baik dengan mengucapkan, "Ini sungguh bagus."
Hendak dijadikan cerita, pada suatu hari Raja Afrika mengajak Koami pergi memburu di dalam hutan.
Sepertimana kebiasaan, Koami menyediakan peralatan untuk memburu seperti senapang, peluru, makanan dan lain-lain.
Entah bagaimana, Koami terlupa untuk memeriksa senapang tersebut samada masih elok atau tidak.
Ketika di dalam hutan, Raja Afrika melihat kelibat seekor rusa jantan di celah-celah semak, dengan pantas Raja Afrika menembak menggunakan senapang yang dibawa oleh Koami.
"Pom!!"
Senapang tersebut meletup dengan sangat kuat apabila picunya ditekan.
Akibatnya Raja Afrika kehilangan ibu jari kanan kerana letupan senapang tersebut dan menjerit-jerit menahan kesakitan.
Tiba-tiba terkeluar daripada mulut Koami, "Ini sungguh bagus."
Bagaikan terbakar telinga Raja Afrika apabila mendengar kata-kata Koami itu dan berkata dengan marahnya, "Bodoh!!!, Ini tidak bagus. Pengawal! Kurung Koami di dalam penjara seumur hidup..."
Setelah setahun berlalu, pada suatu hari Raja Afrika bersama beberapa orang pengawal keluar memburu di dalam hutan.
Alangkah malangnya nasib Raja Afrika tersebut kerana terserempak dengan Puak Madura yang suka memakan daging manusia.
Raja Afrika dan pengawal-pengawal ditangkap dan diperiksa seorang demi seorang bagi memastikan manusia buruan mereka sempurna tubuh badan.
Apabila melihat Raja Afrika tidak memiliki ibu jari kanan, Puak Madura tersebut melepaskan Raja Afrika tersebut kerana pada kepercayaan Puak Madura, manusia yang tidak sempurna tubuh badan sempurna akan menjadi sumpahan jika dimakan.
Betapa bersyukurnya Raja Afrika tersebut kerana selamat daripada dimakan oleh Puak Madura itu.
Barulah Raja Afrika sedar bahawa benarlah kata-kata sahabat rapatnya Koami, "Ini sungguh bagus."
Ketika peristiwa Raja Afrika kehilangan ibu jarinya setahun yang dulu.
Raja Afrika memerintahkan supaya Koami dilepaskan dan Raja Afrika dengan rendah diri memohon maaf di atas tindakannya mengurung Koami di dalam penjara.
Tetapi Koami tiba-tiba berkata, "Ini sungguh bagus."
Terkejutnya Raja Afrika mendengar kata-kata itu dan bertanya, "Mengapa pula sungguh bagus?"
Dengan selamba Koami menjawab, "Jika Tuanku tidak mengurung patik, sudah tentu patik bersama-sama Tuanku pergi memburu dan bertemu dengan Puak Madura itu dan akhirnya patik akan mati di makan Puak Madura itu."
Raja Afrika hanya duduk terpaku memikirkan kebenaran kata-kata Koami tersebut.
Artikel: iluvislam.com
Raja Afrika tersebut mempunyai seorang sahabat rapat bernama Koami.
Koami mempunyai satu sifat yang sungguh unik iaitu Koami suka melihat setiap perkara yang berlaku (positif mahupun negatif) dalam hidupnya sebagai sesuatu yang baik dengan mengucapkan, "Ini sungguh bagus."
Hendak dijadikan cerita, pada suatu hari Raja Afrika mengajak Koami pergi memburu di dalam hutan.
Sepertimana kebiasaan, Koami menyediakan peralatan untuk memburu seperti senapang, peluru, makanan dan lain-lain.
Entah bagaimana, Koami terlupa untuk memeriksa senapang tersebut samada masih elok atau tidak.
Ketika di dalam hutan, Raja Afrika melihat kelibat seekor rusa jantan di celah-celah semak, dengan pantas Raja Afrika menembak menggunakan senapang yang dibawa oleh Koami.
"Pom!!"
Senapang tersebut meletup dengan sangat kuat apabila picunya ditekan.
Akibatnya Raja Afrika kehilangan ibu jari kanan kerana letupan senapang tersebut dan menjerit-jerit menahan kesakitan.
Tiba-tiba terkeluar daripada mulut Koami, "Ini sungguh bagus."
Bagaikan terbakar telinga Raja Afrika apabila mendengar kata-kata Koami itu dan berkata dengan marahnya, "Bodoh!!!, Ini tidak bagus. Pengawal! Kurung Koami di dalam penjara seumur hidup..."
Setelah setahun berlalu, pada suatu hari Raja Afrika bersama beberapa orang pengawal keluar memburu di dalam hutan.
Alangkah malangnya nasib Raja Afrika tersebut kerana terserempak dengan Puak Madura yang suka memakan daging manusia.
Raja Afrika dan pengawal-pengawal ditangkap dan diperiksa seorang demi seorang bagi memastikan manusia buruan mereka sempurna tubuh badan.
Apabila melihat Raja Afrika tidak memiliki ibu jari kanan, Puak Madura tersebut melepaskan Raja Afrika tersebut kerana pada kepercayaan Puak Madura, manusia yang tidak sempurna tubuh badan sempurna akan menjadi sumpahan jika dimakan.
Betapa bersyukurnya Raja Afrika tersebut kerana selamat daripada dimakan oleh Puak Madura itu.
Barulah Raja Afrika sedar bahawa benarlah kata-kata sahabat rapatnya Koami, "Ini sungguh bagus."
Ketika peristiwa Raja Afrika kehilangan ibu jarinya setahun yang dulu.
Raja Afrika memerintahkan supaya Koami dilepaskan dan Raja Afrika dengan rendah diri memohon maaf di atas tindakannya mengurung Koami di dalam penjara.
Tetapi Koami tiba-tiba berkata, "Ini sungguh bagus."
Terkejutnya Raja Afrika mendengar kata-kata itu dan bertanya, "Mengapa pula sungguh bagus?"
Dengan selamba Koami menjawab, "Jika Tuanku tidak mengurung patik, sudah tentu patik bersama-sama Tuanku pergi memburu dan bertemu dengan Puak Madura itu dan akhirnya patik akan mati di makan Puak Madura itu."
Raja Afrika hanya duduk terpaku memikirkan kebenaran kata-kata Koami tersebut.
Artikel: iluvislam.com
Ketahuilah, Minda Anda Dipengaruhi!
Mungkin anda tak pernah dengar istilah 'cognitive dissonance' (CD). CD ini merupakan istilah psikologi. Boleh rujuk buku-buku psikologi untuk ketahui lebih lanjut tentang CD ini. Secara ringkas, CD membawa maksud satu keadaan di mana minda anda didesak untuk membuat keputusan mengikut keadaan persekitaran ataupun keputusan yang berdasarkan di luar rasional anda.
Satu analogi mudah.
Anda berada di dalam sebuah kelas matematik Tahun Satu. Guru anda menuliskan satu soalan mudah pada papan hitam;
1 + 1 = ?
Guru anda meminta murid-murid di dalam kelas tersebut untuk memberikan jawapan;
"1 + 1 jawabnya 2 atau 3?"
Sekilas pandang, anda pasti sudah mengetahui 1 + 1 jawapannya pastilah 2. Maka anda begitu yakin untuk memberikan jawapan 2.
Namun ketika itu, seorang murid mengangkat tangan dan menjawab 3. Secara tiba-tiba, murid-murid lain turut mengangkat tangan dan bersetuju dengan jawapan 3.
Anda yang kebingungan dan mungkin berasa akan terasing disebabkan anda akan mengeluarkan jawapan yang berbeza daripada majoriti, serta-merta menyertai kelompok majoriti tadi dengan jawapan yang salah walaupun hakikatnya anda tahu 3 itu jawapan yang salah.
Dalam erti kata lain, anda mengelak untuk menjadi seseorang yang "pelik dan berkecuali" dalam kumpulan tersebut!
Pernah mengalami situasi sebegini? Mungkin ketika pembelajaran mahupun perbincangan ataupun mesyuarat.
Cuba kita beralih ke sudut yang lebih dekat, dalam perspektif kehidupan seharian kita. Ada tak berlakunya keadaan CD ini? Saya beri contoh ringkas.
Bagi lelaki, anda lihat rakan-rakan anda masih menyambung kerja di kala azan berkumandang.
"Taknak ke masjid ke?" tanya anda.
"Nantilah, habiskan kerja ni dulu." jawab mereka.
Bagi anda, sebenarnya boleh sahaja untuk menyambung kerja selepas selesai solat. Akan tetapi, disebabkan anda tidak mahu menjadi 'watak asing' dalam kelompok tersebut, anda mengalah.
Kita tengok situasi untuk kaum Hawa pula.
"Teringinlah nak pakai tudung labuh macam tu." bisik anda dalam hati. Maka anda menyuarakan hajat murni anda kepada rakan-rakan untuk meminta pandangan.
"Tak payahlah, tudung biasa pun dah cukup. Tak panas ke?"
"Kau pakai labuh-labuh nanti, macam mana nak geng dengan kami?"
Alasan-alasan yang diberikan oleh rakan-rakan sedikit sebanyak mematikan hajat anda. Maka anda menurut sahaja. Bak angin lalu.
Dua situasi di atas merupakan contoh-contoh berlakunya keadaan cognitive dissonance (CD). Dalam teori psikologi, minda (mind power) merupakan kunci kepada tindakan dan sikap (behavioural act).
Maka, sememangnya wajar dikatakan minda merupakan bahagian pertama yang mempengaruhi tindakan kita dalam kehidupan seharian. Maksimumkanlah fungsi akal anda untuk berfikir sebelum bertindak, tentang rasionaliti tindakan tersebut dan penerimaannya dalam agama.
Bukankah banyak firman-Nya yang menganjurkan kita supaya banyak berfikir?
Artikel iluvislam.com
Satu analogi mudah.
Anda berada di dalam sebuah kelas matematik Tahun Satu. Guru anda menuliskan satu soalan mudah pada papan hitam;
1 + 1 = ?
Guru anda meminta murid-murid di dalam kelas tersebut untuk memberikan jawapan;
"1 + 1 jawabnya 2 atau 3?"
Sekilas pandang, anda pasti sudah mengetahui 1 + 1 jawapannya pastilah 2. Maka anda begitu yakin untuk memberikan jawapan 2.
Namun ketika itu, seorang murid mengangkat tangan dan menjawab 3. Secara tiba-tiba, murid-murid lain turut mengangkat tangan dan bersetuju dengan jawapan 3.
Anda yang kebingungan dan mungkin berasa akan terasing disebabkan anda akan mengeluarkan jawapan yang berbeza daripada majoriti, serta-merta menyertai kelompok majoriti tadi dengan jawapan yang salah walaupun hakikatnya anda tahu 3 itu jawapan yang salah.
Dalam erti kata lain, anda mengelak untuk menjadi seseorang yang "pelik dan berkecuali" dalam kumpulan tersebut!
Pernah mengalami situasi sebegini? Mungkin ketika pembelajaran mahupun perbincangan ataupun mesyuarat.
Cuba kita beralih ke sudut yang lebih dekat, dalam perspektif kehidupan seharian kita. Ada tak berlakunya keadaan CD ini? Saya beri contoh ringkas.
Bagi lelaki, anda lihat rakan-rakan anda masih menyambung kerja di kala azan berkumandang.
"Taknak ke masjid ke?" tanya anda.
"Nantilah, habiskan kerja ni dulu." jawab mereka.
Bagi anda, sebenarnya boleh sahaja untuk menyambung kerja selepas selesai solat. Akan tetapi, disebabkan anda tidak mahu menjadi 'watak asing' dalam kelompok tersebut, anda mengalah.
Kita tengok situasi untuk kaum Hawa pula.
"Teringinlah nak pakai tudung labuh macam tu." bisik anda dalam hati. Maka anda menyuarakan hajat murni anda kepada rakan-rakan untuk meminta pandangan.
"Tak payahlah, tudung biasa pun dah cukup. Tak panas ke?"
"Kau pakai labuh-labuh nanti, macam mana nak geng dengan kami?"
Alasan-alasan yang diberikan oleh rakan-rakan sedikit sebanyak mematikan hajat anda. Maka anda menurut sahaja. Bak angin lalu.
Dua situasi di atas merupakan contoh-contoh berlakunya keadaan cognitive dissonance (CD). Dalam teori psikologi, minda (mind power) merupakan kunci kepada tindakan dan sikap (behavioural act).
Maka, sememangnya wajar dikatakan minda merupakan bahagian pertama yang mempengaruhi tindakan kita dalam kehidupan seharian. Maksimumkanlah fungsi akal anda untuk berfikir sebelum bertindak, tentang rasionaliti tindakan tersebut dan penerimaannya dalam agama.
Bukankah banyak firman-Nya yang menganjurkan kita supaya banyak berfikir?
Artikel iluvislam.com
Cinta dan Maksudnya
CINTA adalah perasaan jiwa dan tarikan hati. Hati seseorang yang mengenal CINTA akan tertarik kepada yang diCINTAInya dengan penuh perasaan dan kegembiraan. CINTA seperti makna ini adalah merupakan perasaan semula jadi (fitrah) yang sentiasa menjadi sifat-sifat manusia. Manusia yang mula tersangkut dengan CINTA selalunya akan berusaha bersungguh-sungguh untuk mencapai keinginannya.
Adakah ISLAM mengiktiraf pengzahiran CINTA ?
ISLAM dengan hakikat semula jadinya mengiktiraf CINTA yang bersemi pada diri seseorang. Bahkan ISLAM telah pun menggariskan kepada kita tiga peringkat CINTA iaitu CINTA paling agung, CINTA pertengahan, dan CINTA yang paling hina. Oleh itu, ISLAM mengiktiraf perasaan CINTA kerana ia adalah fitrah semula jadi manusia. Manusia tidak dapat lari daripadanya kerana ia adalah hikmah yang ALLAH kehendaki sebagaimana firman-NYA :
“(Tetaplah atas) fitrah ALLAH yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah ALLAH.” (Ar-Rum:30)
Adakah ISLAM mengiktiraf pengzahiran CINTA ?
ISLAM dengan hakikat semula jadinya mengiktiraf CINTA yang bersemi pada diri seseorang. Bahkan ISLAM telah pun menggariskan kepada kita tiga peringkat CINTA iaitu CINTA paling agung, CINTA pertengahan, dan CINTA yang paling hina. Oleh itu, ISLAM mengiktiraf perasaan CINTA kerana ia adalah fitrah semula jadi manusia. Manusia tidak dapat lari daripadanya kerana ia adalah hikmah yang ALLAH kehendaki sebagaimana firman-NYA :
“(Tetaplah atas) fitrah ALLAH yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah ALLAH.” (Ar-Rum:30)
Wednesday, 1 December 2010
Bukti Kebenaran Nabi Musa a.s membelah Laut.
Salam, masihkah anda ingat dgn kisah mukjizat Nabi Musa yg membelah laut merah dgn tongkatnya? Mari kita rujuk penemuan seorang Arkeologi bernama Ron Wyatt pada akhir tahun 1988 yg lalu, beliau menagku telah menemukan beberapa bangkai roda kereta perang kuno didasar laut merah. Menurut beliau, mungkin ini merupakan bangkai kereta perang Firaun yg tenggelam dilautan tersebut saat digunakan untuk mengejar Musa bersama para pengikutnya.
Menurut beliau lagi, selain menemukan beberapa bangkai roda kereta tempur berkuda, Wyatt bersama para krunya juga menemukan beberapa tulang manusia & tulang kuda ditempat yg sama.Penemuan ini sudah tentunya semakin memperkuat dugaan bahawa sisa2 tulang belulang itu merupakan sebahagian dari kerangka para bala tentara Fir’aun yg tenggelam di laut Merah.hasil penyelidikan yg dilakukan di Stockhlom University terhadap beberapa sisa tulang belulang tersebut, memang benar adanya bahawa struktur & kandungan beberapa tulang telah berusia sekitar 3500 tahun lalu. dimana menurut sejarah, kejadian pengejaran itu juga terjadi dlm kurun waktu yg sama.
Selain itu, ada suatu benda menarik yg juga berhasil ditemukan, iaitu poros roda dari salah satu kereta kuda yg kini keseluruhannya telah tertutup oleh batu karang, sehingga bentuk aslinya sangat sukar untuk dilihat secara jelas.Mungkin Allah sengaja melindungi benda2 ini untuk ditunjukkan kepada kita semua bahawa mukjizat yg diturunkan kepada Nabi2Nya merupakan suatu hal yg nyata & bukan merupakan cerita karangan turun temurun belaka.Diantara beberapa bangkai kereta tadi, ditemukan pula sebuah roda dgn 4 buah jeruji yg terbuat dari emas. Berikut adalah sisa dari roda kereta kuda yg ditunggangi oleh sang raja Firaun.
kumpulan saintis mengkaji beberapa peta kuno Delta Sungai Nil & mendapati laut terbelah itu merujuk kepada sebuah lagun yang kini dikenali sebagai Tasik Tanis di selatan Laut Mediterranean dekat Laut Merah dan satu cawangan Sungai Nil.
Sekarang mari kita perhatikan gambar diatas,
Pada bahagian peta yg dilingkari (lingkaran merah), menurut para ahli kira2 disitulah lokasi dimana Nabi Musa bersama para kaumnya menyeberangi laut Merah. Lokasi penyeberangan diperkirakan berada di Teluk Aqaba di Nuweiba.
Kedalaman maksimum perairan di sekitar lokasi tersebut adalah 800 meter di sisi ke arah Mesir & 900 meter di sisi ke arah Arab. Sementara itu di sisi utara & selatan lintasan penyeberangan (garis merah) kedalamannya mencapai 1500 meter.Lekukan laut dari Nuweiba ke arah Teluk Aqaba sekitar 1/14 atau 4 derajat, sementara itu dari Teluk Nuweiba ke arah daratan Arab sekitar 1/10 atau 6 derajat.
Diperkirakan jarak antara Nuweiba ke Arab sekitar 1800 meter. Lebar lintasan Laut Merah yg terbelah diperkirakan 900 meter.Dapatkah kita membayangkan berapa gaya yg diperlukan untuk dpt membelah air laut hingga memiliki lebar lintasan 900 meter dgn jarak 1800 meter pada kedalaman perairan yg rata2 mencapai ratusan meter untuk waktu yg cukup lama, mengingatkan kita pengikut Nabi Musa yg menurut sejarah berjumlah ribuan? (menurut tulisan lain diperkirakan jaraknya mencapai 7km, dgn jumlah pengikut Nabi Musa sekitar 600.000 orang & waktu yg diambil untuk menyeberang sekitar 4 jam). Menurut sebuah kajian, jumlah diperlukan dlm tekanan (gaya per satuan luas) sebesar 2.800.000 Newton/m2 atau setara dgn tekanan yg kita terima jika menyelam di laut hingga kedalaman 280 meter.
LAKARAN menunjukkan angin kuat dari timur telah menyebabkan air lagun (kiri) & sungai (kanan) 'berpusing' dan membentuk dinding air dekat Laut Merah. Hasil kajian saintis berkenaan disiarkan di Internet oleh Jurnal Public Library of Science ONE. - Agensi
Jika kita kaitkan dgn kecepatan angin, menurut beberapa hukum fizik, setidak2nya diperlukan hembusan angin dgn kecepatan konstan 30 meter/detik (108 km/jam) sepanjang mlm untuk dpt membelah & mempertahankan belahan air laut tersebut dlm jangka waktu 4 jam. sangat luar biasa, wallahualam bisawab.
sumber rujukkan http://www.wyattmuseum.com/red-sea-crossing-05.htm
Cinta ALLAH
Dikisahkan dalam sebuah kitab karangan Imam Al-Ghazali…
Pada suatu hari Nabi Isa AS berjalan ketika dihadapannya seorang pemuda yang sedang menyiram air di kebun. Dan ketika pemuda tersebut melihat Nabi Isa AS, dia pun berkata, "Wahai Nabi Isa AS, hamba ingin engkau meminta kepada Tuhanmu agar Dia memberi kepadaku sebesar biji Jarrah cintaku kepada-Nya."
Berkatalah Nabi Isa AS, "Wahai saudaraku, kamu tidak akan kuat/mampu untuk Jarrah itu."
Berkatalah pemuda itu, "Wahai Isa AS, jika aku tidak kuat untuk satu Jarrah, maka engkau mintalah untukku setengah Jarrah saja."
Adanya keinginan pemuda itu untuk mendapatkan kecintaannya kepada Allah, maka Nabi Isa AS pun berdoa, "Ya Tuhanku, berikanlah dia setengah biji Jarrah cintanya kepada-Mu." Setelah Nabi Isa AS berdoa maka beliau pun berlalu dari tempat itu.
…
Selang beberapa lama Nabi Isa AS datang lagi ke tempat pemuda yang memintanya berdoa, tetapi Nabi Isa AS tidak menjumpai pemuda itu. Maka Nabi Isa AS pun bertanya kepada orang yang hilir mudik di tempat tersebut. Dari seseorang didapat berita bahwa pemuda itu kini telah gila dan saat ini berada di atas gunung.
Setelah Nabi Isa AS mendapat penjelasan, maka beliau pun berdoa kepada Allah SWT, "Wahai Tuhanku, tunjukkanlah kepadaku tentang pemuda itu."
Selesai berdoa, Nabi Isa AS dapat melihat pemuda itu berada di antara gunung-gunung dan sedang duduk di atas sebuah batu besar, matanya memandang ke langit.
Nabi Isa AS pun menghampiri pemuda itu dengan memberi salam, tetapi pemuda itu tidak menjawab salam Nabi Isa AS, lalu Nabi Isa berkata, "Aku ini Isa AS.
"Kemudian Allah SWT menurunkan wahyu yang berbunyi, "Wahai Isa, bagaimana dia dapat mendengar perbicaraan manusia, sebab dalam hatinya itu terdapat kadar setengah biji Jarrah cintanya kepada-Ku. Demi Keagungan dan Keluhuran-Ku, jika engkau memotongnya dengan gergaji sekalipun tentu dia tidak akan mengetahuinya."
Menjadi Tunang Orang Tanpa Kita Sedar?
Jika seorang lelaki menyatakan hasrat kepada seorang perempuan untuk dijadikan isteri dan wanita itu bersetuju, adakah ia dikira bertunang walaupun ibu bapa perempuan itu belum tahu atau tidak kenal pihak lelaki?
Jawapan
Makna pinang dari segi syarak : adalah pihak lelaki menyatakan hasrat berkahwin kepada pihak perempuan. Apabila pihak perempuan berkata setuju, maka perempuan itu sudah dikira menjadi tunang kepada lelaki tersebut.
Contohnya apabila seorang lelaki berkata kepada seorang perempuan, "Aku ingin jadikan kamu sebagai isteriku."
"Kahwin la dengan kita bila-bila," jawab perempuan tersebut.
Maka dari segi hukum syarak, tatkala pihak perempuan itu bersetuju, dia telah menjadi tunang kepada lelaki tersebut; walaupun ia disebut dalam telefon.
Jadi, haram bagi lelaki lain untuk masuk meminang jika hal itu diketahui. Namun jika pihak lelaki lain yang ingin masuk meminang itu tidak tahu, maka ia tidak haram.
Bagaimana dengan kebiasaan orang Melayu yang menghantar rombongan meminang untuk lelaki meminang perempuan?
Ia hanyalah adat Melayu, dan tiada kena mengena dengan hukum Islam. Antara hukum Islam dan hukum adat, mana satu lebih penting?
Namun tiada masalah dengan adat Melayu itu, cuma dari segi hukum Islam, bertunang itu adalah apabila seorang perempuan itu bersetuju dengan hasrat pihak lelaki untuk menjadikannya seorang isteri.
Bagaimana Jika Perempuan Itu Ketiadaan Ibu Dan Ayah?
Mengikut hukum syarak, jika perempuan itu persetujuannya sudah diizinkan oleh syarak seperti perempuan yang cerdik, yang sudah baligh dan sebagainya, ia sudah dianggap bertunang jika dia bersetuju dengan pelawaan lelaki yang menyatakan hasrat mengahwininya.
Apabila perempuan itu persetujuannya tidak menepati hukum syarak seperti belum baligh, gila dan lain-lain, maka wali diperlukan untuk menjawab 'pinangan' tersebut.
Kesimpulannya, kita perlu berhati-hati kerana kita boleh menjadi tunang orang tanpa kita sedar. Pastinya ramai yang tidak tahu dan perasan akan hakikat ini.
Sekiranya kita memang betul-betul sudah menjadi tunangan orang, bacalah artikel 'Disiplin Islam Dalam Pertunangan' dan 'Bagaimana Bercouple Cara Islam?'
"Jangan samakan tunang dari segi adat dengan tunang dari segi syarak. Ramai di antara kita tahu tentang tunang dari segi adat; ada hantaran dan ada cincin. Sedangkan itu bukan syarat sah tunang. Cincin dalam pertunangan ibarat memakai jubah ketika solat. Ia bukanlah suatu kemestian untuk pakai jubah ketika solat, tetapi ia sudah jadi kebiasaaan. Itu sahaja. Tak ada jubah, tak bermakna tak sah solat."
Bolehkah Perigi Mencari Timba?
Mengubah persepsi manusia bukanlah mudah, lebih-lebih lagi bagi mereka yang telah lama berpegang pada sesuatu adat sehinggakan terlalu sulit untuk mengubahnya berlandaskan syariat.
Mendidik manusia tidak semudah membawa seekor lembu untuk meragut rumput di padang
Pendidikan berasaskan Islam perlulah diterap bermula dari kecil supaya tidak berlaku kejanggalan yang tidak bertempat apabila syariat diutamakan berbanding dengan budaya turun temurun.
Isu ini seringkali berlaku terutama sekali dalam konteks pencarian jodoh.
Masyarakat kita sering memandang serong kepada wanita yang melamar lelaki sehinggakan terbit peribahasa Melayu yang berbunyi perigi mencari timba yang dicipta khusus untuk wanita yang melamar lelaki.
Golongan "perigi mencari timba" ini seolah-olah dipandang keji dan dianggap seperti telah melakukan kesilapan besar semata-mata kerana adat tanpa melihat dari sudut syariat Islam.
Seolah-olah syariat diketepikan dan adat diutamakan.
Inilah budaya yang merantai pemikiran kita, sehinggakan pelbagai persoalan timbul apabila terdapat pihak yang cuba mengubah persepsi masyarakat. Pelbagai pertanyaan bergelodak di benak apabila persoalan ini diperjelaskan.
"Biar betul ustaz, tak kan perempuan yang datang melamar lelaki."
"Eh, malulah macam ni ustaz."
"Boleh ke buat seperti itu. Nanti apa kata orang."
Saya tidak risau bagi mereka yang ada rupa, digilai oleh ramai lelaki, tapi bagaimana pula mereka yang sekadar cukup-cukup makan, atau bujang terlajak (andalusia).
Tidakkah dianggap 'sial' atau aib oleh masyarakat.
Sudah pasti aib itu bukan sahaja disandang oleh andalusia sebagai individu, tetapi tempiasnya juga terkena kepada keluarganya.
Inilah penghalang utama dan satu-satunya 'musibah' bagi wanita yang hendak melamar lelaki.
Saya pernah menerima banyak persoalan berkaitan jodoh terutama daripada golongan wanita berumur yang masih belum berkahwin.
Kadang-kadang saya melihat salah satu masalah kita ialah sikap, walhal melihat pada kemampuan, kedudukan serta pendapatan boleh sahaja memiliki atau lebih senang bisa 'memancing' lelaki tetapi masih sukar untuk mendapat pasangan.
Sikap kita pada suatu ketika dahulu yang mungkin agak memilih, mahu cari yang sepadan atau lebih daripada diri.
Mana ada kelas seorang doktor kahwin dengan ustaz, mana padan seorang business womenberjaya nikah dengan tukang kebun.
Maka kalian telah membawa fitnah kepada agama.
Tidak kurang juga di kalangan ahli gerakan, mencari pasangan antara ahli gerakan, tidak boleh berbeza fikrah atau bukan daripada satu jamaah yang sama.
Maka menunggulah dengan penuh hiba si wanita dalam gerakan tadi jejaka idaman satu jamaah datang menyunting.
Kalau ahli gerakan itu berjuta-juta mungkin tiada masalah, tapi kalau sekerat janganlah berani bermimpi di siang hari.
Maafkan saya, mungkin sedikit agresif (panas), cuma saya ingin ubah sedikit persepsi kita kerana syarat sah kahwin dan rukunnya tidak pernah menyebut perkara yang dirumitkan tadi.
PERSEPSI
Mengapa untuk sebuah kebaikan dan kemaslahatan hidup dapat dikalahkan oleh persepsi yang kolot ini?
Persoalannya kembali kepada sikap individu tersebut, apakah dia lebih mengutamakan persepsi atau kebahagiaan hidup yang sejati?
Kita meraih syurga cinta Allah melalui pasangan, bukan kerana fikrah kita sama atau sebagainya. Kebahagiaan adalah dambaan sebuah rumahtangga.
Apakah kita terasa jijik apabila mengetahui Saidatina Khadijah yang datang melamar Baginda s.a.w, hanyalah seorang anak yatim piatu, tiada siapa dan apa-apa di sisi.
Sedangkan kedudukan Khadijah di sisi masyarakat adalah seorang yang berkedudukan, hartawan, ahli perniagaan berjaya, dan dihormati oleh kaum Quraisy.
Beliau menepis persepsi tidak sihat demi mempersunting lelaki yang di matanya terdapat tanda-tanda kemuliaan dan kematangan peribadi. Nafisah binti Munabih menjadi saksi bukti cinta Khadijah kepada insan al-Amin ini.
Siapa kita kalau hendak dibandingkan dengan Khadijah?
"Saya teramat sedih ustaz. Kami dah bertunang, memang dah nak kahwin tetapi tiba-tiba putus di tengah jalan," rintih seorang wanita mengenang nasib malangnya.
Malah lebih parah lagi masalah bertunang dan kemudian terputus sebelum diijab-qabulkan ini berlaku berulang kali dan kesannya menimbulkan ketakutan kepada mereka untuk terus mencuba lagi.
Bak kata pepatah, luka di tangan nampak darahnya, luka di hati siapakah yang tahu betapa parahnya ia.
Para ulama' bersetuju bahawa jodoh ialah salah satu qada' ketentuan Allah Taala seperti rezeki dan ajal seseorang hamba.
Semuanya itu termaktub sejak azali lagi.
Namun kita tidak boleh berserah bulat-bulat hingga terkulat, apabila sampai suatu masa kita telah berputus asa dan mengatakan ini adalah takdir Ilahi. Apakah kita tahu itu ialah takdir Ilahi?
Maka sebab kita tidak tahulah kita masih mempunyai satu lagi talian hayat, iaitu ikhtiar.
IKHTIAR, USAHA
Manusia diberi hak seluas-luasnya untuk berusaha dan terus berusaha tanpa mengenal erti putus asa.
Kita teringin makan sesuatu yang enak, tapi bolehkah ia hadir tanpa kita berusaha seperti gigih bekerja untuk mencari duit yang halal sebelum memiliki makanan yang enak tadi.
Maka usaha itulah yang akan menjadi penentu pada ketentuan takdir Ilahi.
Kalau tidak, kalian tidak ubah seperti Mat Jenin di era moden.
Tidak menjadi kesalahan apabila melihat pada kemaslahatan perempuan memulakan dahulu, soal jodoh selagi mana ia tidak menyalahi syara' maka dihalalkan dalam Islam, bahkan amat digalakkan.
Hendaklah difahami sejelasnya, Islam tidak pernah meletakkan bebanan ke atas bahu lelaki sahaja untuk memulakan terlebih dahulu dalam persoalan mencari jodoh.
Buang jauh-jauh persepsi dangkal terhadap peribahasa Melayu; "perigi mencari timba" atau "langkah bendul", dalam Islam ia masih terjaga dan tidak mengaibkan.
BERUSAHA MENCARI KEBAIKAN DAN REDHA ALLAH
Pernah suatu ketika, telah datang kepada Rasulullah s.a.w seorang wanita arab menyatakan hasrat secara terus terang tanpa perantaraan untuk bersuamikan Rasulullah s.a.w.
Tapi baginda s.a.w menolak dengan cara baik dan Baginda s.a.w sendiri yang tolong mencarikan suami buat wanita itu dari kalangan para sahabatnya dan mereka kemudian hidup dalam rumahtangga yang bahagia.
Bagaimanapun haruslah diingatkan bahawa, wanita yang ingin menggunakan kaedah ini untuk mendekatkan jodohnya perlu menyedari hakikat sopan santun dan tidak melampaui batas hukum syara' yang menjadi benteng terpelihara.
Mereka perlu berwaspada agar tindakan itu tidak menjejaskan maruah dan harga diri di mata masyarakat kita yang berpegang kepada nilai-nilai agama dan adat.
Tujuannya mesti jujur dan hendaklah mendekati lelaki dengan niat yang benar-benar untuk dibuat suami.
Tidak perlulah bercinta dulu, atau mahu mengenal hati budi masing-masing. Apabila sudah serasi, aturlah masjlis perkahwinan secepat mungkin.
BERDOA
Jangan lupa juga untuk bekalkan doa bagi menguatkan usaha kita tadi.
Doa adalah senjata orang mukmin. Mendekatkan jodoh dengan doa adalah amalan para solifus soleh.
Biarlah malu kita bersalut iman dan bertempat.
Wanita mudah mendapat fitnah ketika bujang berbanding apabila telah berumahtangga, mencari sesuatu kebaikan amat dianjurkan dalam Islam.
Jangan salahkan takdir andai kita sendiri silap membuat perhitungan.
Kalian masih diberi peluang untuk membuat pilihan.
Andai kita mahu ke arah kebaikan dengan usaha yang gigih, maka kalian akan merasai kesan sampingannya yang sementara seperti penat dan hampir berputus asa, tetapi ia hanyalah seketika.
Imbuhannya kalian akan mendapat kebaikan yang abadi. InsyaAllah, yang penting berusaha dan kemudian bertawakkal.
Allahua'lam.
Subscribe to:
Posts (Atom)



