Ingatlah tidak ada arang batu yang menjadi intan tanpa melalui tekanan demi tekanan. Hidup yang melalui kesukaran dan dugaan adalah untuk menjadikan kita lebih kuat dan lebih memahami orang lain. Cuma hati yang pernah dilapah yang boleh merasa besarnya erti kasih dan sayang sesama manusia.

Wednesday, 30 November 2011

Siapakah Ahlus Sunnah itu?


Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?
Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka.
Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )
Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)
Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir:
Semua mengaku telah meraih tangan Laila
Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu
Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.
Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka.
As Sunnah
Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.
As Sunnah menurut bahasa
As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh
Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.
As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh.
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).”
Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”
Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.”
Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.
As Sunnah Menurut Ahli Hadits
As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya.
Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”.
As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih
As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.
Siapakah Ahlus Sunnah
Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka.
1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)
3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)
4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”
6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.
7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.
8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.
9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.
Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”
Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.
Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”
Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”
2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.
Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)
Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:
“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :
Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya
Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.

source: http://blumewahabi.wordpress.com/siapakah-ahlus-sunnah-itu/

Friday, 11 November 2011

Ibn Taymiyah NAbi bagi wahabi?

Ibn Taymiyah NAbi bagi wahabi?

http://abulehyah.blogspot.com/


Kajian Ilmiah Rapi :

KENAPA ULAMA’-ULAMA’ MENTAHZIR IBN TAYMIYAH, MUHAMMAD ABD WAHHAB DAN GOLONGAN WAHHABI?

Disediakan Oleh ;

Abu Lehyah Al-Kelantany ( 0133005046)



بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد

Penulis mendatangkan 3 perkara dalam membincangkan isu Ibn Taymiyyah dan Al-Mujassimah al-Wahhabiyah :
  • Pengenalan biodata Ibn Taymiyah.
  • Pandangan ulama'-ulama' mu'tabar terhadap Ibn Taimiyyah.
  • Senarai Ulama'-ulama' yang membantah dan mengkafirkan Ibn Taimiyah.
  • Syubuhaat-syubuhaat (kesamaran-kesamaran) sekitar isu kekufuran Ibn Taymiyah.

SIAPAKAH IBN TAYMIYYAH?


Nama penuh Ibnu Taimiyyah ialah Ahmad Taqiyuddin, Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syeikh Majduddin Abi al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qasim al-Khadhar bin Muhammad bin Ali bin Abdillah.
  • Nama Taimiyah berasal dari nama datuknya, Muhammad bin Al khadhar. Ini kerana ketika beliau melakukan haji ke Mekah beliau melalui jalan Taima’.
  • Datuknya seorang yang faqih dalam mazhab hanbali yang masyhur.
  • Beliau lahir di desa Harran, Palestin pada 10 rabiulawal, 661H. Beliau seorang yang berbangsa kurdi.
  • Pada mulanya, beliau merupakan seorang alim, banyak pengetahuan dalam fiqh mazhab Hanbali, dan Usuluddin kemudiannya shaz dan menyimpang dari mazhab yang empat.
  • Mengajar dan bertabligh di Masjid Bani Umayyah di Damsyik dan ramai murid.
  • Terpengaruh dengan fahaman Musyabbihah dan Mujassimah.(ajaran terpesong)
  • Menyerupakan Tuhan dengan makhluk, mengeluarkan fatwa yang jauh berbeza dari mazhab Hanbali, Hanafi, Maliki dan Syafi’.

Ahmad ibn Taimiyah lahir di tengah-tengah keluarga yang berilmu yang bermadzhab Hanbali. Ayahnya adalah seorang alim dalam mazhab hanbali yang berperawakan tenang. Beliau (ayahnya) dihormati oleh ulamak-ulamak Syam dan pegawai-pegawai kerajaan sehinggakan mereka memberi mandat dan kepercayaan kepadanya di beberapa jabatan ilmiah untuk membantu mereka. Setelah ayahnya wafat, mereka melantik Ibnu Taimiyah menggantikan posisi/tempat ayahnya bahkan mereka yang selama ini mempercayai ayahnya, turut menghadiri majlis Ibn Taymiyah untuk mendorong dan memotivasinya supaya meneruskan tugas-tugas ayahnya dan memberi pujian kepadanyanya. Namun pujian tersebut ternyata membuatkan Ibnu Taimiyah terlena dan tidak menyedari motif sebenarnya disebalik pujian tersebut. Ibnu Taimiyah mulai menyebarkan satu demi satu bid’ah-bid’ahnya yang sesat sehingga para ulamak dan jabatan kerajaan yang dahulu memujinya mula menjauhinya satu persatu.
Ibnu Taimiyah meskipun adalah seorang yang tersohor dan memiliki banyak karangan dan pengikut, namun sesungguhnya beliau adalah seperti yang dinyatakan oleh al-Muhadditsu al Hafizh al Faqih Waliyy ad-Din al ‘Iraqi (W 862 H)-anak Syeikul Huffaz Zain al-addin Al ‘Iraqi dalam kitabnya al-Ajwibah al-Murdhiyah ‘ala al-asilati al-Makkiyyah : “Ibnu Taimiyah telah menyalahi Ijma’ dalam banyak permasalahan, kira-kira sekitar 60 masalah, sebahagiannya dalam masalah Ushul ad-Din (pokok-pokok agama) dan sebahagian lagi berkenaan dengan masalah-masalah furu’ ad-Din (cabang-cabang agama), Ibnu Taimiyah dalam masalah-masalah tersebut mengeluarkan pendapat lain; yang berbeza setelah termeterainya ijma’ di dalamnya".
Pelbagai lapisan masyarakat dan orang awam yang jahil mulai terpengaruh dan cuba mengikuti Ibnu Taimiyah sehinggakan perkara ini disedari oleh ulamak-ulamak di masa Ibnu Taimiyah sebagai suatu ancaman yang bahaya, lalu mereka mulai bersuara, bertindak mentahzir dan membantah pendapat-pendapatnya serta menggolongkan beliau di dalam kelompok para ahli bid’ah yang sesat. Di antara yang membantah Ibnu Taimiyah adalah al Imam alHafizh Taqiyy ad-Din Ali bin Abd al Kafi as-Subki (W 756 H) dalam karyanya ad-Durrah al Mudhiyyah fi ar-Radd 'ala Ibn Taimiyah, beliau mengatakan:

“Amma ba’du…

Ibnu Taimiyah benar-benar telah membuat bid’ah-bid’ah ( melakukan perkara-perkara baru) dalam dasar-dasar I’tiqod/keyakinan (Ushul al 'Aqa-id), beliau telah meruntuhkan tonggak-tonggak dan sendi-sendi Islam setelah ia sebelum ini bersembunyi disebalik taktik kotor mengikuti al Qur’an dan as-Sunnah. Pada zahirnya beliau mengajak kepada kebenaran dan menunjukkan kepada jalan syurga, ternyata kemudian ia bukan melakukan ittiba’ (mengikuti sunnah, ulama Salaf dan ijma’ ulamak) akan tetapi sebenarnya membuat bid’ah-bid’ah baru, beliau shaz dari umat muslimin dengan menyalahi Ijma’ dan beliau juga mengatakan tentang Allah dengan perkataan yang mengandungi tajsim (meyakini Allah adalah jisim; benda yang memiliki ukuran dan dimensi) dan bersusun (tarkib) bagi zat Allah Yang Maha Suci".
Seterusnya Imam al-Subki mengatakan “ Beliau-Ibn Taimiyah- mengatakan Allah meliputi segala yang baharu dengan zatnya (hulul), Beliau menyebut Al-quran itu baharu, Allah berkata-kata setelah sebelumnya tidak,dan sesungguhnya Allah berkata-kata kemudian dia diam dan berlaku pada zatNya Iradaat dengan mengikut makhluk” pada akhir komentar Imam Subki menegaskan “ Ibn Taymiyah tidak tergolong dalam mana-mana golongan daripada 73 golongan yang berpecah dari pada umat ini, dan juga tidak bersepakatan dengan mana-mana umat, semua itu ( apa yang diyakini oleh ibn taymiyah) adalah kekufuran yang amat keji yang sedikit jumlahnya jika dinisbahkan dengan bid’ah-bid’ah yang dilakukan dalam masalah cabang agama ( furu’ fiqhiyyah)".
Di antara perkataan Ibnu Taimiyah dalam ushul ad-din yang menyalahi ijma’ kaum muslimin adalah perkataannya bahawa jenis alam ini qadim (tidak ada permulaan), (sebagaimana ia katakan dalam tujuh karyanya: Muwafaqah Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syarh Hadits an-Nuzul, Syarh Hadits ‘Imran ibn al Hushain, Naqd Maratib al Ijma’, Majmu’ah Tafsir Min Sitt Suwar, Majmu' Al Fatawa) dan Allah pada Azal (keberadaannya tanpa permulaan) selalu diiringi dengan makhluk. Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa Allah adalah jisim (bentuk), mempunyai arah dan berpindah-pindah. Ini semua adalah hal yang ditolak dalam agama yang mulia ini.

Dalam sebahagian karangannya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahawa Allah Ta’ala sama besar ‘Arasy, tidak lebih besar atau lebih kecil, Maha suci Allah dari perkataan ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahawa para nabi itu tidak ma’shum, Nabi Muhammad tidak memilik jah (kehormatan), kerana itu menurutnya jika ada orang bertawassul dengan Nabi maka ia salah besar yang membawa kepada syirik (sebagaimana ia nyatakan dalam bukunya at-Tawassul Wa al Wasilah. Beliau juga mengatakan bahawa berpergian/bermusafir untuk menziarahi makam Rasulullah adalah dikira sebagai perjalanan maksiat dan tidak boleh mengqashar shalat kerananya (sebagaimana beliau kemukakan perkara ini di dalam kitab Majmuk al Fatawa). Dalam hal ini beliau benar-benar sangat keterlaluan padahal tidak ada seorang pun sebelumnya (salaf ataupun khalaf) berpandangan semacam ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahawa siksa bagi penduduk neraka akan terhenti dan tidak akan berlaku selama-lamanya (sebagaimana dituturkan oleh sebagian ahli fiqh dari sebahagian karangan Ibnu Taimiyah dan juga dinukil oleh muridnya; Ibn al Qayyim al Jawziyyah dalam kitab Hadi al Arwah ila Bilad al-Afrah).
Ibnu Taimiyah sudah berkali-kali diperintah untuk bertaubat dari menyebarkan perkataan dan kepercayaanya yang sesat ini, baik dalam masalah-masalah ushul maupun furu', setelah bertaubat di hadapan qadhi-qadhi, beliau bagaimanapun selalu mengingkari janji-janjinya- ( sifatnya yang muzabzab menyebabkan dia dipenjara sebanyak 4 kali)-sehingga akhirnya beliau dipenjara dengan kesepakatan para qadhi (hakim) dari empat madzhab; Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Al Imam al Hafizh al Faqih al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki yang sezaman dengannya dalam salah satu risalahnya mengatakan: “Ibnu Taimiyah dipenjara atas kesepakatan para ulama dan para penguasa”. Terakhir mereka (qadhi-qadhi) menyatakan Ibnu Taimiyah adalah sesat, harus ditahzir (diwaspadai) dan dijauhi, seperti dijelaskan oleh Ibnu Syakir al Kutubi (murid Ibnu Taimiyah sendiri) dalam kitabnya ‘Uyun at-Tawarikh. Pada saat yang sama, Sultan Muhammad ibn Qalawuun mengeluarkan keputusan rasmi pemerintah (warta kerajaan ) untuk dibaca di seluruh Masjid di Syam dan Mesir agar masyarakat mewaspadai dan menjauhi Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya. Ibnu Taimiyah akhirnya dipenjara di benteng Al-Qal’ah di Damaskus hingga mati pada tahun 728 H.
Insyaallah..moga kte mendapat taufiq dan hidayat daripada Allah taala. Nantikan komentar-komentar para ulama' mu'tabar tentang Ibn Taymiyah dan sejauh mana beliau ditentang disebabkan kekufurannya dalam iktiqod dan keganjilannya dalam permasalahan fiqhiyah. Tungguuu...

Disediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany ( 0133005046)


Kajian Ilmiyah ; ISU IBN TAYMIYAH BUKAN ISU KHILAFIYAH !!


Disediakan Oleh ;

Abu Lehyah Al-Kelantany
( 0133005046)


بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد


Marilah kita berlindung dengan Allah subhanahu wa taala daripada Syaitan yang direjam. Segala puji-pujian kita panjatkan kepada Allah, tuhan yang bersifat degan segala sifat kesempurnaan, yang menjadikan sekalian makhluk, yang menciptakan tempat dan masa, wujudnya qadim lagi azali, tidak dimulai dengan ketiadaan, tanpa bagaimana, tanpa arah yang enam, dan tidak berhajat kepada tempat, selawat dan salam ke atas junjunan besar kita nabi muhammad Sollallahu 'alaihi wasallam, kelaurga baginda,sahabat-sahabat, tabi'iin dan ulama'-ulama ASWJ yang tidak lekang memperjuangkan kelestarian akidah Islam.


Amanah Ilmiyah perlu dijaga dan tidak boleh diselewengkan. Atas matlamat ini penulis cuba menukilkan perbahasan ulama'-ulama' terhadap Ibn Taymiyah dan golongan mujassimah wahhabiyah dan jauh daripada sikap memfitnah atau mentohmah. semoga pembaca menilainya dengan neraca dan mizan syara'...


PANDANGAN ULAMA’-ULAMA’ AHLUS SUNNAH TENTANG IBNU TAIMIYAH


Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolany (W 852 H) yang bergelar Amir Al-Mukminin dalam bidang hadith telah menukilkan dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154,155 bahawa para ulama’ menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq. “para ulama’ telah menggelarkan Ibn Taimiyah dengan tajsim berdasarkan apa yang telah beliau tulis di dalam kitabnya “al-Aqidah al-Wasithiyah, al-Hamawiyah” dan lain-lainnya. Sebagai contoh, beliau berpendapat bahawa tangan, kaki, betis dan wajah adalah sifat-sifat hakikat bagi Allah Ta’ala, Allah beristiwa’ di atas ‘arasy dengan zat-Nya..”Imam Ibn Hajar menambah lagi : “Dia dihukum dengan munafiq kerana perkataannya (kritikan) terhadap Sayidina Ali..” Katanya lagi :“Ibn Taimiyah juga dihukum zindiq kerana berpendapat bahawa tidak boleh beristhighathah (meminta pertolongan) daripada Nabi Sollahu ‘Alaihi Wasallam.

Ibnu Hajar menyatakan; “ Ibnu Taimiyah menyalahkan Sayyidina ‘Umar ibn al Khaththab – semoga Allah meredhainya-, dia menyatakan tentang Sayyidina Abu Bakr Ash-Siddiq –semoga Allah meredhainya-bahawa beliau masuk Islam di saat umurnya tua renta/sangat dan tidak menyedari betul apa yang beliau katakan (hilang ingatan kerana tua sangat-nyanyuk).( kata Ibn Taymiyah) Sayyidina Utsman ibn ‘Affan –semoga Allah meredhainya-mencintai dan cenderung kepada harta dunia (materialis) dan Sayyidina 'Ali ibn Abi Thalib –semoga Allah meredhainya-menurutnya- berperang kerana gilakan pangkat bukan kerana agama, begitu juga - ‘Ali Bin Abi Thalib-mengikut Ibn Taymiyah telah menyalahi nash al-Qur’an dalam 17 permasalahan ”. 'Ali Bin Abi Thalib menurut Ibnu Taimiyah tidak pernah mendapat pertolongan dari Allah (makhzdulan) ke manapun beliau pergi, sangat cenderung/mencintai dan haus akan kekuasaan, pernah mencuba beberapa kali untuk mendapatkan kekuasaan tetapi tidak berjaya dan dia masuk Islam di waktu umurnya kecil ( 13 tahun ) padahal anak kecil itu Islamnya tidak sah”. seterusnya Ibn Hajar mengatakan “ dan beliau (ibn Taimiyah mencela Imam Ghazali, lalu masyarakat ketika itu telah bangun hampir membunuhnya”. ini bukti masyarakat pada masa itu amat membenci Ibn Taymiyah dan kuncu-kuncunya di sebabkan fahaman ghuluwnya.

Di dlm kitab Fath al-Bari, m.s. 66, jld. 3 pula, beliau menegaskan:“…Hasilnya, mereka telah berpegang dengan pendapat Ibn Taimiyah tentang haramnya bermusafir untuk menziarahi maqam Rasulullah dan kami mengingkarinya. Inilah seburuk-seburuk (ashna') masalah yg dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah.”
Ibnu Hajar al Haytami al-Makkiy (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idhah fi Manasik al Hajj Wa al 'Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk menziarahi makam Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam: "Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam rasulullah ini, kerana sesungguhnya beliau adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah sepertimana yang diperkatakan oleh al-‘Izz Ibn Jamaah". Al-hafidz Al-Faqih Taqiyyuddin as-Subki juga dengan panjang lebar telah membantahnya dalam sebuah tulisannya yang tersendiri.

Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi dengan celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah suatu yang aneh kerana beliau ( bukan terhenti setakat itu sahaja) bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang zalim yang kafir dan mulhid/atheis. Ibnu Taimiyah menisbahkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, beliau menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang keji. Kerananya, demi Allah beliau telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan keadilan-Nya dan tidak menolong pengikutnya yang mendukung dan mempertahankan pendustaan-pendustaan yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”. Ibn Hajar Al-Haytami dalam kitab lainnya Fatawa al-Hadithiah m/s 114 -116 menyebut : “ Ibn Taymiyah adalah seorang hamba yang tidak diberi pertolongan oleh Allah, disesatkan, dibutakn, dipekakkan, dan dihinakan akannya, demikian itu sebagaimana dishorihkan/dijelaskan oleh a`immah (imam-imam) yang tampil menerangkan kefasadan (kerosakan) hal keadaannya dan mendustakan perkataan-perkataannya. Dan sesiapa yang ingin (mengetahui kefasadannya itu) hendaklah bermuthalaah (mengulangkaji) kata-kata Imam Mujtahid yang disepakati akan keimamamnya dan kemuliaannya dan sampainya kepada martabat ijtihad –iaitu- Abi al-Hasan as-Subki dan anaknya al-Taj As-Subki dan Syiekh Imam al-‘Izz Bin Jama’ah dan ulama’ yang sezaman dengan mereka serta lainnya daripada al-Syafi’yyah dan al-Malikiyyah dan al-Hanafiyyah”.

Pengarang kitab Kifayatul Akhyar, Syiekh Taqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahawa para ulamak dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat dan keluar daripada landasan Islam secara IJMA' ULAMA', dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan: “Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama’.” Dalam kitab yang sama m/s. 123, (cetakan Isa al-Baabi al-Halabi) berbunyi:“Syeikh Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali adalah salah seorang daripada ulama’ yang menghukum kafir Ibn Taimiyah. Dia mempunyai penolakan ke atas Ibn Taimiyah. Dia juga pernah mengangkat suara dengan keras mengkufurkan Ibn Taimiyah di dalam beberapa majlisnya. Disamping itu, Imam al-Subki juga mempunyai hujah untuk mengkufurkannya..” Pada halaman yg lain, beliau mengatakan: “banyak masalah-masalah yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah menyimpang daripada kebenaran.”

Adz-Dzahabi (Mantan murid Ibnu Taimiyah) dalam risalahnya Bayan Zaghal al Ilmi wa ath-Thalab, m.s. 23 (cetakan al-Taufiq 1347H, Damsyik):“Sesungguhnya aku telah melihat sesuatu yang telah menimpa Ibn Taimiyah. Beliau telah disingkir, dihukum sesat dan kafir serta tidak dipercayai antara kebenaran dengan kebatilan. Sebelum beliau menceburi bidang ini (falsafah), beliau merupakan cahaya yang menerangi kehidupan, lebih-lebih lagi tentang al-salafnya. Kemudian cahayanya itu menjadi gelap-gelita..”

Dalam kitab yang sama hlm 17 berkata tentang Ibnu Taimiyah: “ Saya sudah lelah mengamati dan menimbang sepak terajangnya (Ibnu Taimiyah), sehinggalah saya merasa bosan setelah bertahun-tahun menelitinya. Hasil yang saya peroleh adalah; ternyata bahawa penyebab tidak sejajarnya Ibnu Taimiyah dengan ulama’ Syam dan Mesir serta beliau dibenci, dihina, didustakan dan dikafirkan oleh penduduk Syam dan Mesir adalah kerana beliau seorang yang sombong takabbur, terlena oleh diri sendiri dan hawa nafsunya (‘ujub), sangat haus dan cenderung untuk mengepalai dan memimpin para ulama’ serta sering memperlekeh para ulama’ besar.
Lihatlah wahai pembaca betapa berbahayanya sikap mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya dan betapa nestapanya akibat yang ditimbulkan dari kecenderungan terhadap populariti dan kemasyhuran ( mencari nama). Kita mohon semoga Allah mengampuni kita". Adz-Dzahabi melanjutkan: “Sesungguhnya apa yang telah menimpa Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, hanyalah sebahagian dari risiko yang harus mereka peroleh, janganlah pembaca ragukan hal ini”.
Risalah adz-Dzahabiah ini memang benar adanya-( sekarang wahabi mengingkari wujudnya risalah ini)-dan ditulis oleh Adz-Dzahabi sendiri kerana al Hafizh as-Sakhawiy (W 902 H)- murid kepada Ibn Hajar Al-Asqolany menukilkan perkataan adz-Dzahabi ini dalam bukunya al I’lan bi at-Taubikh, hlm. 77. Suatu peringatan dari penulis jika didapati dari mana-mana kitab bahawa adz-Dzahabi memuji Ibn Taimiyah ketahuilah semua itu sebelum tertulisnya Risalah adz-Dzahabiah. Bahkan Adz-Dzahabi menegaskan pendiriannya terhadap ibn Taimiyah sebagaimana dinukilkan oleh Ibn Hajar al-Asqolany dalam ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 151:“ Dan saya –adz-Dzahabi- saya tidak beri’tiqod bahawa padanya (ibn Taymiyah) itu terpelihara dari dosa (ishmah) bahkan saya bercanggah dengannya dalam masalah-masalah usul (iktiqod) dan furu’ (cabang)“.

Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i yang merupakan guru Al-Hafiz al-Iraqi (W 761 H) adalah antara ulamak yang semasa dengan ibnu Taimiyah juga mencelanya dengan keras dan menyenaraikan kesesatan-kesesatan ibn Taimiyah. Perkara ini dinukilkan oleh al-Muhaddith al-Hafidz al-Muarrikh Shamsul al-Din Bin Thulun di dalam Dakhair al-Qasr m/s 69. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah meninggalkan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah sehinggalah beliau wafat. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya". Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul An-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith..


Ibnu Taimiyah juga menuturkan iktiqodnya bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dalam beberapa kitabnya: Majmu’ al Fatawa, juz IV, hlm. 374, Syarh Hadits an-Nuzul, hlm. 66, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, juz I , hlm. 262. Keyakinan dan kepercayaan seperti ini jelas merupakan kekufuran. Ianya dikira sebagai kekufuran Tasybih; yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah. Ini juga merupakan bukti bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah Mutanaaqidh (Pernyataannya sering bertentangan antara satu dengan yang lain, wa al-Mubthil Mutanaaqidh). Bagaimana beliau boleh mengatakan –pada suatu ketika-bahawa Allah duduk di atas ‘Arsy dan - pada ketika yang lain-mengatakan Allah duduk di atas Kursi ?!, padahal kursi itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ‘Arsy sebagaimana dijelaskan oleh hadith nabi sollallahu ‚alaihi wasallam... nauzubillah.

Imam al-Kauthari (Wakil Ulama' Utsmaniyyin) di dalam kitab “Maqalaat” m/s. 35 menyifatkan bahawa Ibn Taimiyah adalah seorang pengikut Ibn Malikan, ahli falsafah yahudi apabila beliau (Ibn Taimiyah) menisbahkan suara kepada Allah Subhanahu wa taala dan pendapatnya yang mengatakan bahawa menjelmanya benda-benda yang baharu pada zat Allah. Pada m/s. 241 pula, beliau mengkritik tindakan Ibn Taimiyah yang menuqilkan hasil-hasil penulisan al-Mujassimah ke dalam kitabnya. Manakala pada m/s. 242 beliau mengemukakan beberapa contoh nuqilan Ibn Taimiyah yg menunjukkan kepada aqidah al-Tasybih.

Setelah dikemukakan semua ini , sepatutnya tidaklah pantas terutama bagi orang yang mempunyai kedudukan di sisi masyarakat (ustaz, tok guru, qadhi, mufti, dan sebagainya) dan yang mempunyai pengikut untuk memuji Ibnu Taimiyah kerana jika ini dilakukan maka orang awam yang jahil akan mengikutinya dan mengambil kata-katanya. Ekoran daripada itulah akan muncul bahaya yang sangat besar. Kerana Ibnu Taimiyah adalah penyebab berlakunya wabak pengkafiran terhadap orang yang ber-tawassul, beristighatsah dengan Rasulullah dan para Nabi, pengkafiran terhadap orang yang berziarah ke makam Rasulullah, para Nabi serta para wali untuk ber-tabarruk. Padahal pengkafiran seperti ini belum pernah terjadi sebelum kemunculan Ibnu Taimiyah. Inilah antara bid’ah yang mula-mula dipelopori oleh ibn Taymiyah. Sementara itu, dewasa ini para pengikut Ibnu Taimiyah (wahhabi) juga mengkafirkan orang-orang yang ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan para nabi dan orang-orang yang Soleh, bahkan mereka menamakan Syiekh ‘Alawi ibn Abbas al Maliki dengan nama Thaghut Bab as-Salam (ini bererti mereka mengkafirkan Sayyid ‘Alawi), kerana beliau -semoga Allah merahmatinya- mengajar di sana, di Bab as-Salam, al Masjid al Haram, Makkah al Mukarramah.

Jadi isu Ibn Taymiyah dan golongan mujassim wahabiyah bukanlah isu khilafiyah sebagaimana yang disangka-sangkakan. Kekufurannya pula amat jelas dan berbukti. Ini juga bukanlah suatu fitnah terhadapnya kerana kalam-kalam kufur Ibnu Taymiyah sememangnya sabit dalam kebanyakan kitab-kitab ulama'-ulama' dan dalam kitab-kitab beliau sendiri dan amat mustahil jika ada yang menyatakan kalam-kalam ibn taymiyah tidak sabit bahkan anak-anak muridnya juga menukilkannya di dalam kitab-kitab mereka...nantikan senarai ulama'-ulama' yang memfatwakan Ibn taimiyah sebagai mujassim, sesat, dan keluar dari landasan Islam...insyaallah.

Di Sediakan Oleh ;

Abu Lehyah Al-Kelantany

sumber: http://jihadwahabi.blogspot.com/2008/05/ibn-taymiyah-nabi-bagi-wahabi.html

Thursday, 10 November 2011

IMAM ASY-SYAFI'I

IMAM ASY-SYAFI'I (Pemilik Manhaj Fiqih Yang Memadukan Antara Dua Madzhab Pendahulunya)



Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.

Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga

Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan Raasulullah SAW ketika masih muda.

Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah SAW memandangnya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya.”

Sementara ibunya berasal dari suku Azd, Yaman.

Gelarnya

Ia digelari sebagai Naashir al-Hadits (pembela hadits) atau Nasshir as-Sunnah, gelar ini diberikan karena pembelaannya terhadap hadits Rasulullah SAW dan komitmennya untuk mengikuti as-Sunnah.

Kelahiran Dan Pertumbuhannya

Para sejarawan sepakat, ia lahir pada tahun 150 H, yang merupakan -menurut pendapat yang kuat- tahun wafatnya Imam Abu Hanifah RAH tetapi mengenai tanggalnya, para ulama tidak ada yang memastikannya.

Tempat Kelahirannya

Ada banyak riwayat tentang tempat kelahiran Imam asy-Syafi’i. Yang paling populer adalah bahwa beliau dilahirkan di kota Ghazzah (Ghaza). Pendapat lain mengatakan, di kota ‘Asqalan bahkan ada yang mengatakan di Yaman.

Imam al-Baihaqi mengkonfirmasikan semua riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa yang shahih beliau dilahirkan di Ghaza bukan di Yaman. Sedangkan penyebutan ‘Yaman’ barangkali maksudnya adalah tempat yang dihuni oleh sebagian keturunan Yaman di kota Ghaza. Beliau kemudian lebih mendetail lagi dengan mengatakan, “Seluruh riwayat menunjukkan bahwa Imam asy-Syafi’i dilahirkan di kota Ghaza, lalu dibawa ke ‘Asqalan, lalu dibawa ke Mekkah.”

Ibn Hajar mengkonfirmasikan secara lebih spesifik lagi dengan mengatakan tidak ada pertentangan antar riwayat-riwayat tersebut (yang mengatakan Ghaza atau ‘Asqalan), karena ketika asy-Syafi’i mengatakan ia lahir di ‘Asqalan, maka maksudnya adalah kotanya sedangkan Ghaza adalah kampungnya. Ketika memasuki usia 2 tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang Yaman, karena ibunya berasal dari suku Azd. Ketika berumur 10 tahun, ia dibawa ibunya ke Mekkah karena ibunya khawatir nasabnya yang mulia itu lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhan Dan Kegiatannya Dalam Mencari Ilmu

Imam asy-Syafi’i tumbuh di kota Ghaza sebagai seorang yatim, di samping itu juga hidup dalam kesulitan dan kefakiran serta terasing dari keluarga. Kondisi ini tidak menyurutkan tekadnya untuk hidup lebih baik. Rupanya atas taufiq Allah, ibunya membawanyanya ke tanah Hijaz, Mekkah. Maka dari situ, mulailah imam asy-Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an dan berhasil menamatkannya dalam usia 7 tahun.

Menurut pengakuan asy-Syafi’i, bahwa ketika masa belajar dan mencari guru untuknya, ibunya tidak mampu membayar gaji gurunya, namun gurunya rela dan senang karena dia bisa menggantikannya pula. Lalu ia banyak menghadiri pengajian dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari beberapa masalah agama. Ia menulis semua apa yang didengarnya ke tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, maka ia masukkan ke dalam karung.

Ia juga bercerita bahwa ketika tiba di Mekkah dan saat itu masih berusia sekitar 10 tahun, salah seorang sanak saudaranya menasehati agar ia bersungguh-sungguh untuk hal yang bermanfa’at baginya. Lalu ia pun merasakan lezatnya menuntut ilmu dan karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan, untuk menuntut ilmu ia harus pergi ke perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang dijumpainya untuk mencatat.

Hasilnya, dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz, pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin Khalid az-Zanji.

Semula beliau begitu gandrung dengan sya’ir dan bahasa di mana ia hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, ia sempat berinteraksi dengan mereka selama 10 atau 20 tahun. Ia belajar ilmu bahasa dan balaghah. Dalam ilmu hadits, ia belajar dengan imam Malik dengan membaca langsung kitab al-Muwaththa` dari hafalannya sehingga membuat sang imam terkagum-kagum. Di samping itu, ia juga belajar berbagai disiplin ilmu sehingga gurunya banyak.

Pengembaraannya Dalam Menuntut Ilmu

Imam asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih lagi ketika ia mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai suku Arab paling fasih. Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari orang-orang Hudzail selama interaksinya bersama mereka. Di samping syair, beliau juga menggemari sejarah dan peperangan bangsa Arab serta sastra.

Kapasitas keilmuannya dalam bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.

Di samping itu, imam asy-Syafi’i juga seorang yang bacaan al-Qur’annya amat merdu sehingga membuat orang yang mendengarnya menangis bahkan pingsan. Hal ini diceritakan oleh Ibn Nashr yang berkata, “Bila kami ingin menangis, masing-masing kami berkata kepada yang lainnya, ‘bangkitlah menuju pemuda al-Muththaliby yang sedang membaca al-Qur’an,” dan bila kami sudah mendatanginya sedang shalat di al-Haram seraya memulai bacaan al-Qur’an, orang-orang merintih dan menangis tersedu-sedu saking merdu suaranya. Bila melihat kondisi orang-orang seperti itu, ia berhenti membacanya.

Di Mekkah, setelah dinasehati agar memperdalam fiqih, ia berguru kepada Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Mekkah. Setelah itu, ia dibawa ibunya ke Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik. Di sana, beliau berguru dengan Imam Malik selama 16 tahun hingga sang guru ini wafat (tahun 179 H). Pada saat yang sama, ia belajar pada Ibrahim bin Sa’d al-Anshary, Muhammad bin Sa’id bin Fudaik dan ulama-ulama selain mereka.

Sepeninggal Imam Malik, asy-Syafi’i merantau ke wilayah Najran sebagai Wali (penguasa) di sana. Namun betapa pun keadilan yang ditampakkannya, ada saja sebagian orang yang iri dan menjelek-jelekkannya serta mengadukannya kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Lalu ia pun dipanggil ke Dar al-Khilafah pada tahun 184 H. Akan tetapi beliau berhasil membela dirinya di hadapan khalifah dengan hujjah yang amat meyakinkan sehingga tampaklah bagi khalifah bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak beralasan dan ia tidak bersalah, lalu khalifah menjatuhkan vonis ‘bebas’ atasnya. (kisah ini dimuat pada rubrik ‘kisah-kisah islami-red.,).

Beliau kemudian merantau ke Baghdad dan di sana bertemu dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany, murid Imam Abu Hanifah. Beliau membaca kitab-kitabnya dan mengenal ilmu Ahli Ra`yi (kaum Rasional), kemudian kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di sana selama kurang lebih 9 tahun untuk menyebarkan madzhabnya melalui halaqah-halaqah ilmu yang disesaki para penuntut ilmu di Haram, Mekkah, demikian juga melalui pertemuannya dengan para ulama saat berlangsung musim haji. Pada masa ini, Imam Ahmad belajar dengannya.

Kemudian beliau kembali lagi ke Baghdad tahun 195 H. Kebetulan di sana sudah ada majlisnya yang dihadiri oleh para ulama dan disesaki para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru. Beliau tinggal di sana selama 2 tahun yang dipergunakannya untuk mengarang kitab ar-Risalah. Dalam buku ini, beliau memaparkan madzhab lamanya (Qaul Qadim). Dalam masa ini, ada empat orang sahabat seniornya yang ‘nyantri’ dengannya, yaitu Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, az-Za’farany dan al-Karaabiisy.

Kemudian beliau kembali ke Mekkah dan tinggal di sana dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu meninggalkannya menuju Baghdad lagi, tepatnya pada tahun 198 H. Di Baghdad, beliau juga tinggal sebentar untuk kemudian meninggalkannya menuju Mesir.

Beliau tiba di Mesir pada tahun 199 H dan rupanya kesohorannya sudah mendahuluinya tiba di sana. Dalam perjalanannya ini, beliau didampingi beberapa orang muridnya, di antaranya ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Murady dan ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidy. Beliau singgah dulu di Fushthath sebagai tamu ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang merupakan sahabat Imam Malik. Kemudian beliau mulai mengisi pengajiannya di Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata, kebanyakan dari pengikut dua imam sebelumnya, yaitu pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik lebih condong kepadanya dan terkesima dengan kefasihan dan ilmunya.

Di Mesir, beliau tinggal selama 5 tahun di mana selama masa ini dipergunakannya untuk mengarang, mengajar, berdebat (Munazharah) dan meng-counter pendapat-pendapat lawan. Di negeri inilah, beliau meletakkan madzhab barunya (Qaul Jadid), yaitu berupa hukum-hukum dan fatwa-fatwa yang beliau gali dalilnya selama di Mesir, sebagiannya berbeda dengan pendapat fiqih yang telah diletakkannya di Iraq. Di Mesir pula, beliau mengarang buku-buku monumentalnya, yang diriwayatkan oleh para muridnya.

Kemunculan Sosok Dan Manhaj (Metode) Fiqihnya

Mengenai hal ini, Ahmad Tamam di dalam bukunya asy-Syaafi’iy: Malaamih Wa Aatsaar menyebutkan bagaimana kemunculan sosok asy-Syafi’i dan manhaj fiqihnya. Sebuah manhaj yang merupakan paduan antara fiqih Ahli Hijaz dan fiqih Ahli Iraq, manhaj yang dimatangkan oleh akal yang menyala, kemumpunian dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kejelian dalam linguistik Arab dan sastra-sastranya, kepakaran dalam mengetahui kondisi manusia dan permasalahan-permasalahan mereka serta kekuatan pendapat dan qiyasnya.

Bila kembali ke abad 2 M, kita mendapati bahwa pada abad ini telah muncul dua ‘’perguruan’ (Madrasah) utama di dalam fiqih Islam; yaitu perguruan rasional (Madrasah Ahli Ra`yi) dan perguruan hadits (Madrasah Ahli Hadits). Perguruan pertama eksis di Iraq dan merupakan kepanjangan tangan dari fiqih ‘Abdullah bin Mas’ud yang dulu tinggal di sana. Lalu ilmunya dilanjutkan oleh para sahabatnya dan mereka kemudian menyebarkannya. Dalam hal ini, Ibn Mas’ud banyak terpengaruh oleh manhaj ‘Umar bin al-Khaththab di dalam berpegang kepada akal (pendapat) dan menggali illat-illat hukum manakala tidak terdapat nash baik dari Kitabullah mau pun dari Sunnah Rasulullah SAW. Di antara murid Ibn Mas’ud yang paling terkenal adalah ‘Alqamah bin Qais an-Nakha’iy, al-Aswad bin Yazid an-Nakha’iy, Masruq bin al-Ajda’ al-Hamadaany dan Syuraih al-Qadly. Mereka itulah para ahli fiqih terdepan pada abad I H. Setelah mereka, perguruan Ahli Ra`yi dipimpin oleh Ibrahim bin Yazid an-Nakha’iy, ahli fiqih Iraq tanpa tanding. Di tangannya muncul beberapa orang murid, di antaranya Hammad bin Sulaiman yang menggantikan pengajiannya sepeninggalnya. Hammad adalah seorang Imam Mujtahid dan memiliki pengajian yang begitu besar di Kufah. Pengajiannya ini didatangi banyak penuntut ilmu, di antaranya Abu Hanifah an-Nu’man yang pada masanya mengungguli semua rekan sepengajiannya dan kepadanya berakhir tampuk kepemimpinan fiqih. Ia lah yang menggantikan syaikhnya setelah wafatnya dan mengisi pengajian yang diselenggarakan perguruan Ahli Ra`yi. Pada masanya, banyak sekali para penuntut ilmu belajar fiqih dengannya, termasuk di antaranya murid-muridnya yang setia, yaitu Qadi Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, Zufar, al-Hasan bin Ziyad dan ulama-ulama selain mereka. Di tangan-tangan mereka itulah akhirnya metode perguruan Ahli Ra`yi mengkristal, semakin eksis dan jelas manhajnya.

Sedangkan perguruan Ahli Hadits berkembang di semenanjung Hijaz dan merupakan kepanjangan tangan dari perguruan ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Aisyah dan para ahli fiqih dari kalangan shahabat lainnya yang berdiam di Mekkah dan Madinah. Penganut perguruan ini banyak melahirkan para imam seperti Sa’id bin al-Musayyab, ‘Urwah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad, Ibn Syihab az-Zuhry, al-Laits bin Sa’d dan Malik bin Anas. Perguruan ini unggul dalam hal keberpegangannya sebatas nash-nash Kitabullah dan as-Sunnah, bila tidak mendapatkannya, maka dengan atsar-atsar para shahabat. Di samping itu, timbulnya perkara-perkara baru yang relatif sedikit di Hijaz, tidak sampai memaksa mereka untuk melakukan penggalian hukum (istinbath) secara lebih luas, berbeda halnya dengan kondisi di Iraq.

Saat imam asy-Syafi’I muncul, antara kedua perguruan ini terjadi perdebatan yang sengit, maka ia kemudian mengambil sikap menengah (baca: moderat). Beliau berhasil melerai perdebatan fiqih yang terjadi antara kedua perguruan tersebut berkat kemampuannya di dalam menggabungkan antara kedua manhaj perguruan tersebut mengingat ia sempat berguru kepada tokoh utama dari keduanya; dari perguruan Ahli Hadits, ia berguru dengan pendirinya, Imam Malik dan dari perguruan Ahli Ra`yi, ia berguru dengan orang nomor dua yang tidak lain adalah sahabat dan murid Imam Abu Hanifah, yaitu Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany.

Imam asy-Syafi’i menyusun Ushul (pokok-pokok utama) yang dijadikan acuan di dalam fiqihnya dan kaidah-kaidah yang dikomitmeninya di dalam ijtihadnya pada risalah ushul fiqih yang berjudul ar-Risalah. Ushul tersebut ia terapkan dalam fiqihnya. Ia merupakan Ushul amaliah bukan teoritis. Yang lebih jelas lagi dapat dibaca pada kitabnya al-Umm di mana beliau menyebutkan hukum berikut dalil-dalilnya, kemudian menjelaskan aspek pendalilan dengan dalil, kaidah-kaidah ijtihad dan pokok-pokok penggalian dalil yang dipakai di dalam menggalinya. Pertama, ia merujuk kepada al-Qur’an dan hal-hal yang nampak baginya dari itu kecuali bila ada dalil lain yang mengharuskan pengalihannya dari makna zhahirnya, kemudian setelah itu, ia merujuk kepada as-Sunnah bahkan sampai pada penerimaan khabar Ahad yang diriwayatkan oleh periwayat tunggal namun ia seorang yang Tsiqah (dapat dipercaya) pada diennya, dikenal sebagai orang yang jujur dan tersohor dengan kuat hafalan. Asy-Syafi’i menilai bahwa as-Sunnah dan al-Qur’an setaraf sehingga tidak mungkin melihat hanya pada al-Qur’an saja tanpa melihat lagi pada as-Sunnah yang menjelaskannya. Al-Qur’an membawa hukum-hukum yang bersifat umum dan kaidah Kulliyyah (bersifat menyeluruh) sedangkan as-Sunnah lah yang menafsirkan hal itu. as-Sunnah pula lah yang mengkhususkan makna umum pada al-Qur’an, mengikat makna Muthlaq-nya atau menjelaskan makna globalnya.

Untuk berhujjah dengan as-Sunnah, asy-Syafi’i hanya mensyaratkan bersambungnya sanad dan keshahihannya. Bila sudah seperti itu maka ia shahih menurutnya dan menjadi hujjahnya. Ia tidak mensyaratkan harus tidak bertentangan dengan amalan Ahli Madinah untuk menerima suatu hadits sebagaimana yang disyaratkan gurunya, Imam Malik, atau hadits tersebut harus masyhur dan periwayatnya tidak melakukan hal yang bertolak belakang dengannya.

Selama masa hidupnya, Imam asy-Syafi’i berada di garda terdepan dalam membela as-Sunnah, menegakkan dalil atas keshahihan berhujjah dengan hadits Ahad. Pembelaannya inilah yang merupakan faktor semakin melejitnya popularitas dan kedudukannya di sisi Ahli Hadits sehingga mereka menjulukinya sebagai Naashir as-Sunnah (Pembela as-Sunnah).

Barangkali faktor utama kenapa asy-Syafi’i lebih banyak berpegang kepada hadits ketimbang Imam Abu Hanifah bahkan menerima hadits Ahad bilamana syarat-syaratnya terpenuhi adalah karena ia hafal hadits dan amat memahami ‘illat-‘illat-nya di mana ia tidak menerima darinya kecuali yang memang valid menurutnya. Bisa jadi hadits-hadits yang menurutnya shahih, menurut Abu Hanifah dan para sahabatnya tidak demikian.

Setelah merujuk al-Qur’an dan as-Sunnah, asy-Syafi’i menjadikan ijma’ sebagai dalil berikutnya bila menurutnya tidak ada yang bertentangan dengannya, kemudian baru Qiyas tetapi dengan syarat terdapat asalnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Penggunaannya terhadap Qiyas tidak seluas yang dilakukan Imam Abu Hanifah.

Aqidahnya

Di sini dikatakan bahwa ia seorang Salafy di mana ‘aqidahnya sama dengan ‘aqidah para ulama Salaf; menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dan menafikan apa yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya tanpa melakukan Tahrif (perubahan), Ta`wil (penafsiran yang menyimpang), Takyif (Pengadaptasian alias mempertanyakan; bagaimana), Tamtsil (Penyerupaan) dan Ta’thil (Pembatalan alias pendisfungsian asma dan sifat Allah).

Beliau, misalnya, mengimani bahwa Allah memiliki Asma` dan Sifat sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam haditsnya, bahwa siapa pun makhluk Allah yang sudah ditegakkan hujjah atasnya, al-Qur’an sudah turun mengenainya dan menurutnya hadits Rasulullah sudah shahih karena diriwayatkan oleh periwayat yang adil; maka tidak ada alasan baginya untuk menentangnya dan siapa yang menentang hal itu setelah hujjah sudah benar-benar valid atasnya, maka ia kafir kepada Allah. Beliau juga menyatakan bahwa bila sebelum validnya hujjah atas seseorang dari sisi hadits, maka ia dapat ditolerir karena kejahilannya sebab ilmu mengenai hal itu tidak bisa diraba hanya dengan akal, dirayah atau pun pemikiran.

Beliau juga mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar, memiliki dua tangan, berada di atas ‘arasy-Nya dan sebagainya.

Beliau juga menegaskan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan dengan hati. (untuk lebih jelasnya, silahkan merujuk buku Manaaqib asy-Syafi’i karangan Imam al-Baihaqi; I’tiqaad al-A`immah al-Arba’ah karya Syaikh Dr.Muhammad ‘Abdurrahman al-Khumais [sudah diterjemahkan –kurang lebih judulnya-: ‘Aqidah Empat Imam Madzhab oleh KH.Musthafa Ya’qub])

Sya’ir-Sya’irnya

Imam asy-Syafi’i dikenal sebagai salah seorang dari empat imam madzhab tetapi tidak banyak yang tahu bahwa ia juga seorang penyair. Beliau seorang yang fasih lisannya, amat menyentuh kata-katanya, menjadi hujjah di dalam bahasa ‘Arab. Hal ini dapat dimengerti, karena sejak dini, beliau sudah tinggal dan berinteraksi dengan suku Hudzail yang merupakan suku arab paling fasih kala itu. Beliau mempelajari semua sya’ir-sya’ir mereka, karena itu ia dianggap sebagai salah satu rujukan bagi para ahli bahasa semasanya, di antaranya diakui sendiri oleh seorang tokoh sastra Arab semasanya, al-Ashmu’i sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Imam Ahmad berkata, “asy-Syafi’i adalah orang yang paling fasih.” Imam Malik terkagum-kagum dengan bacaannya karena demikian fasih. Karena itu, pantas bila Imam Ahmad pernah berkata, “Tidak seorang pun yang menyentuh tinta atau pun pena melainkan di pundaknya ada jasa asy-Syafi’i.” Ayyub bin Suwaid berkata, “Ambillah bahasa dari asy-Syafi’i.”

Hampir semua isi sya’ir yang dirangkai Imam asy-Syafi’i bertemakan perenungan. Sedangkan karakteristik khusus sya’irnya adalah sya’ir klasik. Alhasil, ia mirip dengan perumpamaan-perumpamaan atau hikmah-hikmah yang berlaku di tengah manusia.

Di antara contohnya,
- Sya’ir Zuhud

Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah jika engkau lalai
Pasti Dia membawa rizki tanpa engkau sadari
Bagaimana engkau takut miskin padahal Allah Sang Pemberi rizki
Dia telah memberi rizki burung dan ikan hiu di laut
Siapa yang mengira rizki hanya didapat dengan kekuatan
Semestinya burung pipit tidak dapat makan karena takut pada elang
Turun dari dunia (mati), tidak engkau tahu kapan
Bila sudah malam, apakah engkau akan hidup hingga fajar?
Berapa banyak orang yang segar-bugar mati tanpa sakit
Dan berapa banyak orang yang sakit hidup sekian tahunan?

- Sya’ir Akhaq

Kala mema’afkan, aku tidak iri pada siapa pun
Aku tenangkan jiwaku dari keinginan bermusuhan
Sesungguhnya aku ucapkan selamat pada musuhku saat melihatnya
Agar dapat menangkal kejahatannya dengan ucapan-ucapan selamat tersebut
Manusia yang paling nampak bagi seseorang adalah yang paling dibencinya
Sebagaimana rasa cinta telah menyumbat hatiku
Manusia itu penyakit dan penyakit manusia adalah kedekatan dengan mereka
Namun mengasingkan mereka adalah pula memutus kasih sayang

Tawadlu’, Wara’ Dan ‘ibadahnya

Imam asy-Syafi’i terkenal dengan ketawadlu’an (kerendahan diri)-nya dan ketundukannya pada kebenaran. Hal ini dibuktikan dengan pengajiannya dan pergaulannya dengan teman sejawat, murid-murid dan orang-orang lain. Demikian juga, para ulama dari kalangan ahli fiqih, ushul, hadits dan bahasa sepakat atas keamanahan, keadilan, kezuhudan, kewara’an, ketakwaan dan ketinggian martabatnya.

Sekali pun demikian agungnya beliau dari sisi ilmu, ahli debat, amanah dan hanya mencari kebenaran, namun hal itu semua bukan karena ingin dipandang dan tersohor. Karena itu, masih terduplikasi dalam memori sejarah ucapannya yang amat masyhur, “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang melainkan aku tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran atas lisannya atau lisanku.”

Sampai-sampai saking hormatnya Imam Ahmad kepada gurunya, asy-Syafi’i ini; ketika ia ditanya oleh anaknya tentang gurunya tersebut, “Siapa sih asy-Syafi’i itu hingga ayahanda memperbanyak doa untuknya?” ia menjawab, “Imam asy-Syafi’i ibarat matahari bagi siang hari dan ibarat kesehatan bagi manusia; maka lihat, apakah bagi keduanya ini ada penggantinya.?”

Imam asy-Syafi’i seorang yang faqih bagi dirinya, banyak akalnya, benar pandangan dan fikirnya, ahli ibadah dan dzikir. Beliau amat mencintai ilmu, sampai-sampai ia berkata, “Menuntut ilmu lebih afdlal daripada shalat sunnat.”

Sekali pun demikian, ar-Rabi’ bin Sualaiman, muridnya meriwayatkan bahwasanya ia selalu shalat malam hingga wafat dan setiap malam satu kali khatam al-Qur’an.

Ad-Dzahabi di dalam kitabnya Siyar an-Nubalaa` meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman yang berkata, “Imam asy-Syafi’i membagi-bagi malamnya; sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat dan sepertiga ketiga untuk tidur.”

Menambahi ucapan ar-Rabi’ tersebut, Adz-Dzahabi berkata, “Tentunya, ketiga pekerjaan itu hendaknya dilakukan dengan niat.”

Ya, Imam adz-Dzahabi benar sebab niat merupakan ciri kelakuan para ulama. Bila ilmu membuahkan perbuatan, maka ia akan meletakkan pelakunya di atas jalan keselamatan.

Betapa kita sekarang-sekarang ini lebih berhajat kepada para ulama yang bekerja (‘amiliin), yang tulus (shadiqiin) dan ahli ibadah (‘abidiin), yang menjadi tumpuan umat di dalam menghadapi berbagai problematika yang begitu banyaknya, La hawla wa la quwwata illa billaah.

Imam asy-Syafi’i tetap tinggal di Mesir dan tidak pergi lagi dari sana. Beliau mengisi pengajian yang dikerubuti oleh para muridnya hingga beliau menemui Rabbnya pada tanggal 30 Rajab tahun 204 H.

Alangkah indah isi bait Ratsâ` (sya’ir mengenang jasa baik orang sudah meninggal dunia) yang dikarang Muhammad bin Duraid, awalnya berbunyi,
Tidakkah engkau lihat peninggalan Ibn Idris (asy-Syafi’i) setelahnya
Dalil-dalilnya mengenai berbagai problematika begitu berkilauan

REFERENSI:

- asy-Syafi’i; Malaamih Wa Atsar Fi Dzikra Wafaatih karya Ahmad Tamam
- I’tiqaad A`immah as-Salaf Ahl al-Hadits karya Dr.Muhammad ‘Abdurrahman al-Khumais
- Mawsuu’ah al-Mawrid al-Hadiitsah
- Al-Imam asy-Syafi’i Syaa’iran karya Muhammad Khumais
- Diiwaan al-Imam asy-Syafi’i, terbitan al-Hai`ah al-Mishriiyyah Li al-Kitaab
- Qiyaam asy-Syafi’i (Thariqul Islam)
- Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi’i karya Dr.Muhammad al-‘Aqil, penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi’i


sumber:  http://almudarris.multiply.com/reviews/item/7

Ibn Taimiyah

Ibn Taimiyah; Pemilik Kemerdekaan Hati Nurani

Abad ke-13 M merupakan periode malapetaka besar bagi sejarah Islam. Dunia Muslim belum lagi pulih dari porak-poranda Perang Salib yang panjang itu, bencana yang lebih buruk datang pula melanda.
Suku Mongol menyerbu negara Muslim, memusnahkan kekayaan intelektual dan cultural yang menumpuk selama berabad-abad pemerintahan Muslim, dan membunuh jutaan kaum Muslimin. Baghdad, kota Seribu Satu Malam yang tersohor itu, kota intelektual dan cultural Metropolitan Islam, tanpa memperhatikan keberatan dunia dirampok oleh Hulaku Khan, sang Mongol, pada 1258 M. Seluruh warisan cultural dan intelektual kota itu dibakar menjadi abu, atau dicampakan ke Sungai Tigris.
Pada kurun waktu dan huru-hara dan bencana sepeti itulah lahir Ibn Taimiyah, seorang pemikir agama yang berpengaruh besar terhadap dunia pemikiran Islam. Pemikir bebas dan penganut kemerdekaan hati nurani. Ia merupakan seorang yang dipetanyakan oleh sebagian ummat, tetapi dimuliakan oleh semuanya, karya serta teladan hidunya menjadi sumber ilham bagi setiap orang. Dia adalah kepahlawanan yang idup, yang diuji dalam kesengsaraan dan godaan, dukacita dan penderitaan, yang dipersembahkannya untuk kebaikan agama, kebenaran, dan keutamaan hati nurani manusia.
Ibn Taimiyah lahir di Harra, pada masa mudanya mengungsi karena takut pada suku Mongol, dan tiba bersama orang tuanya di Damaskus pada 1268 M. Ketika itu ia hampir berusia enam tahun. Ia cedas luar biasa, otaknya tajam, dan ingatannya kuat. Pada usia muda Ibn Taimiyah telah menguasai semua ilmu yang ada, agama dan fiqh rasional, teologi, logika, dan filosofi. Karena itu ia berperan penting di antara teman sebayanya. Dalam hal ini ia dibantu oleh ayahnya, ilmuwan utama fiqh Hanbali, disamping memetik manfaat dai ajaran Zain al Din Ahmad, al-Muqaddasi.
Pada 1282 M, ketika ayahnya meninggal, Ibn Taimiyah menggantikan kedudukann sang ayah sebagai guru besar hukum Hanbali dan memangku jabatan ini dalam derajat kemuliaan selama 17 tahun. Tetapi, cara berpikirannya yang bebas, menimbulkan permusuhan dengan penganut Syafi'i, sehingga jabatan itu lepas dari tangannya. Namun waktu itu ia telah terkenal di dunia Islam dan ditugaskan bekotbah jihad melawan suku Mongol yang menyerbu Suriah dan menaklukan Damaskus. Khotbahnya menggembleng rakyat dan menggugah sultan Mesir, Sultan al-Nasir, untuk mengangkat senjata melawan orang-orang Mongol. Pada perang dahsyat di Marj as-Safa, pada 1302 M, Ibn Taimiyah berjuang gagah berani, sehingga pasukan Mongol terusir dan menderita kerugian besar.
Sejak itu hingga akhir hayatnya, mulailah baginya masa "pengadilan" yang keras dan sengsara. Pandangan bebasnya itu seolah-olah menjadi kutukan hidupnya. Ia menyarankan oposisi di bebagai daerah, dan menimbulkan kemarahan para pemuka. Pada 1307 M ia bersama dua saudaranya dipenjarakan selama empat tahun, karena dituduh mempetlikan sifat manusia dengan sifat Tuhan. Setelah bebas ia diangkat menjadi guru besar di sekolah yang didirikan oleh Sultan Mesir.
Setelah tujuh tahun ia diijinkan balik ke Damaskus, bahkan diangkat kembali sebagai guru besar, jabatannya yang dulu. Tetapi seera pula sengketa besar dengan Sultan membawa dia kembali ke penjara selama beberapa bulan, pada 1320 M.
Sebagai penganut keunggulan hati nurani individual, cara berpikirnya yang bebas itu tidak cocok dengan Muslim ortodoks dan konvensional. Kutukannya yang mematikan terhadap praktek-praktek pemujaan orang suci dan para penganutnya menimbulkan dendam di hati Sultan, yang mengurung dia di benteng Damaskus pada 1326 M. di tempat itulah ia tekun menulis tafsir Qur'an dan surat selebaran lainnya tentang sejumlah pokok pesoalan yang controversial. Ia wafat di penjara pada 1327 M. Kabar kematiannya menyuramkan Damaskus, dan sekitar 200.000 orang, mengikuti pemakamannya. Do'a pemakaman dipimpin oleh Ibn al-Wardi.
Kebesaran Ibn Taimiyah terletak pada kemandiriannya dan kebebasan berpikinya. Ia adalah di antara orang-orang mujtahid besar yang pernah dilahikan Islam, seorang yang menolak taqlid buta. Sebagai seorang penganut madzab Hanbali, ia setia mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah, tak suka berkompromi, dan seorang antropomorfis sejati seperti pendahulu keagamaannya, Imam Hanbal.
Ilmu dankesenian Yunani diterjemahkan pada masa Abbasiyah. Masalah itu disesuaikan oleh Ibn Taimiyah dengan doktrin Islam atas permintaan mereka yang baru memeluk agama itu.
Jasanya yang terbesar kepada Islam terletak pada peringatannya kepada rakyat, betapa pelunya mereka menyesuaiakan diri dengan kesederhanaan dan kemurnian Islam masa awal, serta secara mutlak mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah.



Prinsip dasar Ibn Taimiyah ialah:

1. Wahyu merupakan sumber pengetahuan agama. Penalaran dan intuisi hanyalah sumber terbatas.
2. Kesepakatan umum pada ilmuwan yang terpercaya selama tiga abad perrtama Islam juga turut memberi pengertian tentang asas pokok Islam disamping Al-Qur'an dan As-Sunnah.
3. Hanya Al-Qur'an dan As-Sunnah penuntun yang otentik dalam segala persoalan.
Ia membuang dan sungguh-sungguh mencela pengarruh asing yang korup, serta mencemarkan kemurnian dan kesederhanaan Islam masa awal. Dari Ibn Taimiyah, Muhammad Ibn Abdul Wahhab, seorang pemikir besar abad ke-18, dan sekolah Pembaruan al-Manar di Mesir, mendapat ilham bagi persoalan itu.
Ia terang-terangan menyatakan permusuhan dengan eksponen Muslim berfilosofi yunani. Filosofi, katanya, menimbulkan kebimbangan dan menyebabkan perpecahan dalam Islam. Ia mengkritik keras doktrin Ibn Arabi tentang Kesatuan makhluk. Menurut pendapatnya, kesimpulan Ibn arabi dalam hal ini tidak saja bertentangan dengan ajaran Nabi, tetapi juga dengan doktrin ke-Esa-an Tuan, seperti yang termaktub di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Ibn Taimiyah merupakan tokoh controversial dalam dunia Islam. Seorang pemikir bebas yang yakin kepad keunggulan hati nurani individu, dan seorang yang ingin melihat Islam dalam kemuliaan sejati, ia lalu mengecam kepada semua pencemaran dan pengaruh asing yang marasuk ke dalam Islam. Karena sikap inilah ia dicaci, dipukul, dicambuk, dipenjarakan, dan dianiaya lahir batin. Namun ia tetap nekad hidup berhenti menghadapi penganiayaan.

Seri Kebohongan Ibnu Taymiah (6): Ibnu Taymiah Mengkufuri Surah Ad-Dahr Turun Untuk Ahlulbait Nabi as.

sumber: http://ibnutaymiah.wordpress.com/2010/05/07/ibnu-taymiah-mengkufuri-surah-ad-dahr-turun-untuk-ahlulbait-nabi-as/

Seri Kebohongan Ibnu Taymiah (6)
(“Tulisan dibawah ini kami lengkapi dengan bukti scan dari kitab “Minhajus-Snnah” karya Ibnu Taymiah terbitan Saudi Arabia yang di Tahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim”_pen)
Jika Anda bertanya, apa sebenarnya yang paling istimewa dari Syeikhul Islam-nya kaum Wahabi Salafi? Maka jawabnya tegas: Keberaniannya dalam mendustakan dan mengkufuri berbagai nash keutamaan Ahlulbait suci Nabi, utamanya Imam Ali as.  setiap berhadapan dengan keutamaan Imam Ali as., Ibnu Taymiah seakan dibisiki qarin/perewangnya[1] untuk bersegera mengkufurinya dengan alasan apapun, betapa pun alasan itu terlihat dungu dan membuktikan kemunafikan!
Puluhan bahkan mungkin ratusan contoh dapat disajikan sebagai bukti keangkuhannya terhadap kebenaran Allah SWT dan Rasul-Nya…
Dalam kesempatan ini saya mengajak Anda menyimak satu bukti tambahan atas hal itu.
Surah ad-Dahr yang juga dikenal dengan nama surah al-Insân dengan nomer urut dalam mush-haf ke 76 telah ditegaskan dalam berbagai riwayat shahihah bahwa ia turun  sekaitan dengan sedekah yang diberikan Ahlulbait as. kepada seorang miskin, yatim dan tawanan perang secara berurutan dalam tiga hari setiap kali mereka (Ahlulbait as.) hendak menyantap hidangan berbuka puasa nadzar!
Allah SWT mengabadikan pristiwa agung itu dengan menurunkan sebuah surah lengkap yang mengisahkannya dan sekaligus menjelaskan maqam agung yang disandang Ahlulbait di sisi Allah… karena surah tersebut tidak turun untuk keluarga besar bani Umayyah; Abu Sufyan, Hindun, Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan Hakam ayahnya, atau keluarga musuh-musuh Ahulbait lainnya… maka Ibnu Taymiah sangat keberatan terhadap “keberpihakan langit” terhadap keluarga Muhammad Saw. Karenanya, keutamaan ini harus segera ditentang! Dan kaum awam pun harus dibodohi agar tertipu dengan kepalsuannnya! … Untuk itu semua Ibnu Taymiah (juru bicara kaum munafikin pembenci keluarga suci Nabi Saw.) berkata:
Perhatikan Scan yang di blok warna kuning
.
.
.
.
.
.
.
Sisi Kedua:

إن هذا الحديث من الكذب الموضوع باتّفاق أهل المعرفة بالحديث، الذي هم أئمة هذا الشأن وحكّامه، وقول هؤلاء هو المنقول في هذا الباب، ولهذا لم يرو هذا الحديث في شيء من الكتب التي يرجع اليها في النقل، لا في الصحاح ولا في المساند ولا في الجوامع ولا السنن، ولا رواه المصنّفون في الفضائل، وإن كانوا قد يتسامحون في رواية أحاديث ضعيفة…

Sesungguhnya hadis ini (hadis yang menegaskan bahwa surah itu turun untuk Ahlulbait as. _pen) adalah kebohongan/kepalsuan berdasarkan kesepakatan para ulama ahli hadis. yang mana mereka adalah imam-imam dalam disiplin ilmu ini dan para hakimnya. Dan ucapannya mereka adalah yang dinukil dalam bab/hal ini. Karenanya hadis itu sama sekali tidak pernah diriwayatkan dalam satu kitab rujukan manapun, tidak dalam kitab-kitab hadis Shahih, Musnad-musnad, Jami’-jami’ maupun Sunan-sunan. Tidak juga pernah dirwayatkan oleh para penulis kitab-kitab Fadhâil.. kendati mereka itu biasanya mentolerir hadis-hadis dha’ifah/lemah….
(Minhaj As-Sunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, Cet. Saudi Arabia, Jilid 7, hal. 177-178) -Lihat Scan Kitab di atas-
.
.
.
Sisi Ketiga:

.

إن الدلائل على كذب هذا كثيرة، منها: إن علياً إنما تزّوج فاطمة بالمدينة…

وسورة هل أتى مكيّة باتّفاق أهل التفسير والنقل، لم يقل أحد منهم إنها مدنيّة

.
“Bukti-bukti kepalsuan hadis itu banyak sekali, di antaranya; Ali baru menikah dengan Fatimah di kota Madinah…….
Dan Surah Hal Atâ adalah surah Makkiyah berdasarkan kesepakatan ahli tafsir dan hadis. Tidak seorang pun dari mereka mengatakan bahwa ia Madaniyah (turun setelah hijrah)!”
(Minhaj As-Sunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, Cet. Saudi Arabia, Jilid 7, hal. 179) -Lihat Scan Kitab di atas-


Inilah yang dikatakan Ibnu Taymiah!
Sementara bukanlah hal sulit bagi seorang santri apalagi ulama untuk menemukan puluhan bukti bahwa surah ad-Dahr/Hal Atâ adalah berstatus Madaniyah bukan Makkiyah, apalagi menjadi kesepakatan para ulama bahwa ia Makkiyah! Tetapi Ibnu Tayimiah tidak pernah punya rasa malu untuk menisbatkan kepalsuan yang dibisikkan Qarin-nya itu kepada para ulama dan kesepakatan ulama!
Sebagai contoh perhatikan keterangan al Baghawi di bawah ini:
.

سورة الإنسان، مدنيّة، وهى إحدى وثلاثون آية

“Surah al-Insân adalah Madaniyyah. Ia berjumlah 31 ayat.” [2]
.
Keterangan serupa dapat Anda jumpai dalam tafsir Fathu al-Qadîr; asy Syaukâni – dan ia menegaskan bahwa pendapat itu adalah pendapat Jumhur ulama ahli tafsir-[3] dan Rûh al-Ma’âni; al Aluûsi, [4]
.
Surah Al Insân Turun Untuk Ahlulbait Nabi Saw.
Adapun bukti-bukti tekstual dari hadis/riwayat bahwa surah tersebut turun untuk mengabadikan amalan terpuji Ahlulbait as. adalah sangat banyak sekali. Para ulama, ahli tafsir, para muhaddis dan penulis kitab-kitab Fahdâil telah berlomba-lomba meriwayatkan dan menyebutkannya.
Ketika menyebut sejarah putri terkasih Nabi; Fatimah az Zahra as. (yang oleh Ibnu Taymiah tidak jarang dihina kemulaiannya)-, para ulama Ahlusunah juga tidak ketinggalan menyebutkan peristiwa tersebut dan hadis sekaitan turunnya surah itu! Bahkan mereka mensifatinya hadis tersebut sebagai hadis yang sangat masyhur.[5]
Saya hanya memngajak Anda –khususnya para santri dan ulama agar merujuk kitab-kitab di bawah ini untuk membutkikan betapa nyata kedunguan Ibnu Taymiah dan betapa dalam dendam dan kebenciannya terhadap leluarga suci Nabi Muhammad Saw. sehingga tanpa malu dan tanpa rasa takut sedikit pun akan siksa Allah SWT atas yang membenci Nabi dan keluarga sucinya dan mengkufuri keutamaan mereka!!…
Saya hanya meminta Anda merujuk kitab-kitab di wbawah ini:
  1. Tafsir al Wâhidi.
  2. Tafsir al Kasysyâf,; az Zamakhsyari.
  3. Tafsir Fakhru ar Râzi,15/244.
  4. Tafsir ad Durr al Mantsûr; as Suyuthi,6/485.
  5. Rûh al Ma’âni,15/174.
  6. Tafsir al Baidhâwi,2/552.
  7. tafsir an Nasafi,2/758.
  8. Tafsir an Nisaburi (dicetak dipinggir tafsir ath Thabari),12/112.
  9. Tafsir al Khâzin,4/378.
  10. Usdul Ghâbah; Ibnu al Atsîr,5/530.
  11. Al Ishâbah; Ibnu Hajar,8/281.
  12. Ar Riyâdh an Nadhirah; Muhibbuddîn ath Thabari, 2/180.
  13. Farâid as Simthain,2/53.
  14. Kifâyah ath Thalib; al Kunji:348.
  15. al Mustadrak’ al Hakim.
  16. Tadzkirah al Khawâsh:281.
  17. dll.

[1] Dalam Al Qur’an ayat 36 surah az Zukhruf [43] Allah berfirman:

وَ مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطاناً فَهُوَ لَهُ قَرينٌ

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an) , Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”
Dan setan adalah sejelek-jelek qarin.. demikian dijelaskan Alah dalam firman-Nya:

وَ مَنْ يَكُنِ الشَّيْطانُ لَهُ قَريناً فَساءَ قَريناً

“Barang siapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk- buruknya.” (QS. An Nisâ’ [4];38)

Apa itu Wahabi/Salafi?

Jadi berbalik kepada perbincangan kita tentang Wahhabi,apa itu Wahhabi?
Adakah seseorang dilabel sebagai wahabi kerana mereka:
1)Tidak qunut subuh?
2)Tidak melakukan tahlil arwah?
3)Tidak menyambut maulid?
4)Tidak melakukan amalan talqin?
5)Menolak sunnah thoriqah?
6)Tinggal dan belajar di saudi?
7)Menolak kewajipan bermazhab ?
Itu sebenarnya cuma ‘ikhtilaf kecil’ antara ahli sunnah wal jama’ah dan Wahhabi,Maka aku katakan,seorang itu dipanggil WAHABI kerana :
1) Mentasybih dan Menjisimkan Allah Taala dengan makhluk-Nya. Seperti kata setengah golongan wahhabi : Allah duduk bersemayam di atas arasy di langit, ataupun yang mengatakan Allah duduk di atas arasy tapi kononnya tidak sama macam makhluk.
Puak-puak ni mengatakan : Kalau Allah tidak berhajat kepada tempat, ini menafikan kewujudan Allah!
Aku katakan : Subhanaka haza buhtanun ‘azhim! Sebagaimana diitsbatkan kewujudan Allah Taala sebelum dijadikan mana-mana tempat,begitu juga setelah Allah Taala menjadikan tempat. Allah itu wujud tanpa bertempat, dulu kini dan selama-lamanya. Ini tidak menafikan kewujudanNya. Tuan-tuan, gologan wahhabi ini mereka tidak menerima sekali-kali Allah ini wujud jika tiada bertempat.Cuba kalian berfikir,langit itu makhluk(ciptaan),Allah itu khaliq(pencipta),jika Allah(khaliq)tinggal di langit(makhluk) maka isyqal yang dapat insan waras keluarkan ialah:
-Allah perlukan makhluk(langit).
-Langit lebih besar dari Allah(contohnya jika kita lebih besar dari rumah,macam mana kita nak tinggal di rumah?).
-Jika Allah tinggal di langit,sebelum Allah ciptakan langit,Allah dimana?
-perbuatan ‘duduk’ itu adalah perbuatan makhluk,adakah fe’el allah sama dengan fe’el makhluk?kenapa orang Wahhabi tak namakan anak mereka sebagai ‘Abdul Jalis’(Hamba kepada yang duduk)?
Dan banyak lagi kalian fikirkan sendiri,kalau tak post ni akan menjadi terlalu panjang,tidak ada yang berminat nak baca nanti.
2) Mengkafir umat Islam secara keseluruhannya.
Wahabi ini menuduh umat Islam Salaf dan Khalaf yang bertawassul dengan para nabi atau sahabat ,tabiin dan wali –wali Allah yang soleh ADALAH KAFIR.
Dengan ini mereka mendustakan HADITS SOHIH yang diriwayat para ulamak muhaddithin seperti :
1) Imam Al-Hafidz Thobroni dalam “Mu’jam Kabir”dan “Mu’jam soghir” dan mensohihkan hadis tawassul tersebut.
2) Imam Syeikhul Islam As-Subky di dalam kitab “Syifa-us-Saqam”.
3) Imam Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya “Dala-il An-Nubuwwah” dan kitab Syu’ab al-Iman.
4) Amir Mukminin dalam bidang hadis, Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqolani. Beliau menyebut cerita tentang lelaki yang datang kepada kubur Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassallam lalu bertawassul dengannya. Ibn Hajar Mensohihkan sanad hadis ini di dalam kitab Fathul Bary jilid 2 m/s 495.
5) Imam Al-Hafidz Al-Dimyathi.
6) Imam Al-Hafidz Abu Al-Hasan Al-Maqdisy.
7) Syeikh Huffaz Al-Hafiz ‘Iraqy.
8) Imam Al-Hafidz Al-Darulqutny.
9) Imam Al-Hafidz Nawawi.
10)Imam Al-Hafidz Imam Al-Nasai’.
11) Imam Al-Hafidz Al-Lughawi Murtadha Az-Zabidi Al-Hasani.
12) Ibn Sunni di dalam ” ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah”.
13) Amir Mukminin dalam bidang hadis, Imam Al-Bukhari dalam “adab al-mufrad”.
14) Imam Al-Hafidz Tirmizi.
15) Al-Hakim Abu Abdillah di dalam kitabnya ” Mustadrak”. Beliau menyebut hadits bertawassulnya Nabi Adam dengan Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi wassallam serta mensohihkan hadits tersebut.
16) Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuty dalam kitabnya “Khaso-is Al-Qubra”. Beliau menyebut tentang hadits tawassulnya Nabi Adam.
17) Imam Al-Hafidz Abu Al-Farraj Ibn Jauzy di dalam karyanya “Al-wafa’ “.
18) Imam Al-Hafidz Al-qadhi ‘iyadh dalam kitabnya ” As-Syifa’ Fit Taa’rif Bi Huquqil Mushthofa Sollallahu ‘Alaihi Wassallam”. Beliau menyebut keharusannya pada bab Ziarah dan juga pada bab kelebihan Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassallam.
19) Imam As-syeikh Nuruddin Al-Qory yang terkenal dengan gelaran Mulla ‘Ali Qory di dalam syarahnya terhadap kitab Syifa’.
20) Imam Al-Hafidz Al-Qoshtholany di dalam kitabnya “Al-Mawahibul Ladunniyyah” pada bahagian awal kitabnya.
21) Al-Allamah As-Syeikh Muhammad ‘Abdul Baqiy Al-Zarqany dalam syarahnya pada kitab Al-Mawahib (jilid 1 m/s 44).
23) Imam Syeikhul Islam Abu Zakaria Yahya An-Nawawi di dalam Kitabnya ” Al-i-dhoh” pada bab yang ke 6 m/s 497)
24) Al-Allamah As-Syeikh Ibn Hajar Al-Haitamy dalam “Hasyiah ‘Ala Al-i-dhoh”, m/s 499. beliau membincangkan keharusan bertawassul secara khusus di dalam bab yang di namakan ” Al-Jauhar Al-Munazzhom”.
25) Imam Al-Mufassir Abu ‘Abdullah al-Qurthuby di dalam tafsirnya pada Jilid yang ke 5 m/s 265.
Antara sahabat yang bertawassul dan meriwayat hadis- hadis ini :
1) Abdullah Ibn ‘Umar
2) Uthman Bin Hunaif
3) Bilal bin Harits
Adapun pandangan Al-Albaani yang mengatakan hadis ini dhoif tidaklah boleh diterima kerana dia tidak pernah sampai ke martabat Al-Hafiz atau Muhaddits maupun Musnid,dan dia tidak mempunyai sanad hadis walaupun cuma 10 hadis,jauhnya seperti langit dan bumi.
Bahkan bila kita teliti pandangan wahhabi yang mengatakan tawassul ini syirik, mereka sebenarnya mendustakan dan MENGKAFIRKAN penghulu kita Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wassallam yang mengajar doa tawassul ini :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكُ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي ، فَتَقْضِي لِي حَاجَتِي
Adakah nabi Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wassallam mengajar kepada kita suatu doa yang membawa kepada syirik??
Aku katakan : Subhanaka haza Buhtanun ‘Adzim!!
HADIS TAWASSUL
Sesungguhnya At-Thabrani dan al-Baihaqi telah meriwayatkan bahawa seorang lelaki telah datang mengadukan halnya kepada Sayyidina Utsman bin Affan dizaman pemerintahannya, tetapi Saiyyidina Utsman tidak berpaling kepadanya dan tidak memandang kepada hajat yang diperlukannya [kerana kesibukan]. Lelaki itupun berlalu dan mengadu pula kepada Utsman bin bin Hunaif tentang hal itu. Mendengar hal itu, Utsman bin Hunaif pun berkata kepadanya: Kalau begitu pergilah kamu ke tempat berwudhu dan berwudhulah, kemudian datangilah masjid dan bersholatlah. Lepas itu berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكُ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي ، فَتَقْضِي لِي حَاجَتِي
Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon kepadaMu dan aku menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap [hajatku] dengan [perantaraan]mu kepada Tuhanku agar diperkenankan bagiku hajatku. Dan engkau sebutlah hajatmu. Lelaki itupun berlalu dari situ dan melakukan suruhan tersebut.Kemudian dia datang ke pintu rumah Sayyidina Utsman . Tiba-tiba datang seorang penjaga pintu lalu menarik tangannya masuk kedalam dan didudukkan bersama-sama Saidina Utsman . Sayyidina Utsman berkata: Sebutlah hajatmu itu. Lalu lelaki itupun menyebut dan akhirnya Sayyidina Utsman pun menunaikan hajatnya. Sayyidina Utsman bertanya lagi: Kalau kamu mempunyai hajat lagi, sebutlah.Selepas itu lelaki itupun keluar lalu menemui Utsman bin Hunaif dan berkata kepadanya: Moga-moga Allah membalas jasamu dengan kebaikan. Tidaklah ia memandang kepada hajatku sehingga engkau mengajarkan kepadaku. Ibn Hunaif lantas menjawab: Demi Allah, tidaklah aku mengajarmu, tetapi sebenarnya aku telah menyaksikan bahwa Rasulullah ketika didatangi oleh seorang buta mengadu akan hilangnya penglihatannya ………. (hingga akhir hadits .. Maka ini adalah tawassul dan seruan selepas wafat Rasulullah.
Syeikhul Takfir
Siapakah syeikhul takfir ini sebenarnya ? Kenapakah disembunyi identitinya?..
Untuk menjawab soalan ini,mari kita lihat bukti yang didedahkan oleh ulamak-Ulamak bahawa Muhammad Bin Abdul Wahhab inilah sebenarnya Syeikhul Fattan dan Syeikh Takfir.
-Mengkafirkan ulama najd, lihat Al-Durar m/s 10,15.
-Mengkafirkan ulama mazhab hanbali dan selainnya yang sezaman dengannya,lihat Al-Durar m/s 10,13.
-Muhammad Bin Abdul Wahhab kafirkan orang perseorangan. Antaranya dia mengkafirkan Ahmad Ibn Abd Karim (seorang alim mazhab hanbali),lihat Al-Durar m/s 10,64.
-Mengkafirkan orang badawi. Lihat Al-Durar (113,114) (118,117,119) beliau mengatakan bahawa mereka lebih kafir dari Yahudi Dan Nasoro.
-Mengkafirkan penduduk makkah. Lihat Al-Durar 10/86 dan 9/291. Dia mendakwa kedua tanah haram Makkah Dan Madinah adalah negara kufur. Lihat Al-Durar 10/7.
-Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkafirkan ibn Arabi sebagaimana dalam kenyataannya di dalam kitab Al-Durar 10/25 : “Dia (Ibn ‘Arabi) lebih kufur dari firaun sesiapa yang tidak mengkafirkannya , maka dia adalah seorang yang kafir. Bahkan, kafir juga orang yang merasa ragu dengan kekufurannya.”
-Mengkafirkan Imam Al-Razi pengarang kitab tafsir yang masyhur, tafsir al-kabir.Lihat Al-Durar 10/72, 273. Dia telah mendakwa Imam Al-Razi telah menulis sebuah risalah membenarkan umat Islam menyembah bintang-bintang, rujuk Al-Durar 10/355, dakwaan sebegini dia sandarkan kepada Ibn Taymiyah Al-Harrani al-Mujassim di dalam kitab “Iqtidho’ As-Sirot Al-Mustaqim”. Tetapi apabila ulamak merujuk dakwaan kenyatan ini ,ianya tidak terdapat sebagaimana yang disebut oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab.
-Mengkafirkan kebanyakan penduduk Syam dengan mendakwa mereka menyembah Ibn Arabi lihat Al-Durar 2/45.
-Dia mengatakan ilmu fiqh yang diistinbatkan oleh imam mazhab adalah usaha yang kufur,lihat Al-Durar 2/59.
-Mengkafirkan ulama kalam (ulamak usuluddin). Dia berkata ’ulama’ telah ijmak mengkafirkan ulamak kalam. lihat Al-Durar 1/35.
-Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkafirkan semua guru-gurunya, di dalam kitab risalah untuk penduduk riyadh, tarikh najd tulisan Husain Bin Ghannam m/s 137-138, Muhammad Bin Abdul Wahhab berkata di dalam risalah tersebut ” tidak ada dari seorang pun dari kalangan guru-guruku yang mengetahui makna La ilaha illa Allah”.
Golongan wahabi
1. Mengkafikan Ahlus Sunnah Wal Jamaah iaitu al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah. Soleh bin Fauzan (wahhabi) berkata: ” Pengikut Al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah tidak layak digelar sebagai ahli sunnah wal jamaaah”. Rujuk kitab Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam, m/s 32, Terbitan Riasah Ammah Lil Ifta’ di Riyadh (Najd). Juga cucu Muhammad Bin Abdul Wahhab, Abd Rahman tidak ketinggalan mengikuti jejak takfir datuknya di dalam kitabnya Fathul Majid m/s 353, Terbitan Maktabah Darul Salam Riyadh.
2) Mengkafirkan mereka yang menyebut selawat syifa’ ,IbnBazz (wahhabi) berkata : ” lafaz selawat ini adalah syirik“. Rujuk kitab “Kaifa Ihtadaitu Ila Al-Tauhid” , Karangan Muhd Jamil Zainu, m/s 83,89, Cetakan Darul Fatah.
3)Mengkafirkan saiyyidah Hawwa.
4) Mengkafirkan ulama-ulama sufi yang benar lagi soleh dan mengisytiharkan perang terhadap mereka seperti di dalam kitab ” Majmu’ Al-mufid Min ‘Akidah Tauhid” ,m/s 102, Cetakan Maktabah Darul Fikr Riyadh. Nash kata-kata mereka ialah : ”perangilah golongan sufi sebelum kamu memerangi YAHUDI, sesungguhnya sufi itu adalah ruh Yahudi”.
5) Mengkafirkan ulama yang mentafsirkan istiwa(yang mereka terjemahkan sebagai bersemayam) dengan makna istaula di dalam kitab mereka “Halaqaat Mamnu’ah “, Tulisan Husam Al-Aqod ,Cetakan Darus Sahabah ,Tonto.
6) Mengkafirkan Umat Islam yang menyambut maulidurrasul dan yang mengamal amalan ini sejak 900 tahun yang lalu. Ibn Baaz berkata: ” Perayaan maulidurrasul adalah menyerupai orang yahudi “. rujuk kitabnya ” Tahzir minal Bida’ah”, m/s 5, Cetakan Riyadh Saudi.
7) mengkafirkan ulama yang bertawasul dengan para wali dan solihin,berkata abu bakar al jazair, di dalam kitab aqidatul mukmin m/s 144’ tawasul dengan kemuliaan mereka adalah syirik dan boleh mengeluarksan mereka dari islam dan berkekalan dalam neraka.’
8) Wahabi mengkafirkan Ibn Hajar Al-Asqolany dan Imam Nawawi dalam kitab mereka ” liqa’ babil maftuh“.
9) Wahabi mengkafirkan umat Islam yang beristighasah dengan para anbiya’. Ibn Bazz berkata: ” istighasah dengan nabi –nabi adalah syirik”. Rujuk kitabnya ” ‘akidah Sohihah Wa Ma Yudhodiduha”, m/s 22, Cetakan Darul Watan Riyadh.
10) Wahabi mengkafirkan mereka yang mengucapakan “good morning” and “good night”, dan mengatakan ucapan ini salah kerana mengikut jejak yahudi di dalam kitab mereka “Akhtho’ Sya’i’ah”, Karangan Muhd Zainu, m/s 67.
11) Mengkafirkan sebahagian penduduk Islam di Hijaz dan Yaman , berkata Ibn Bazz: ” telah tersebar dikalangan penduduk di sana (Hijaz dan Yaman) mereka yang menyembah selain dari Allah menyembah pokok, batu-batu dan kubur.”
12) Mengkafirkan sebahagian penduduk Syam, dan mendakwa penduduk syam menyembah Ibn ‘Arabi. Rujuk ta’liq Ibn Bazz pada kitaq “Fathu Majid”, m/s 217, Cetakan Darul Aulaanah.
13) Mengkafirkan sebahagian penduduk Islam di Mesir.Wahhabi mengatakan bahawa penduduk Islam Mesir mengagungkan Tuhan iaitu wali Ahmad Badawi. Rujuk taaliq Ibn Baz pada kitab “Fathul Majid” m/s 206, Cerakan Aula Nahi.
Islam vs Liberal
Berkata Mohd Asri Bin Zainul ‘Abidin,di dalam Majalah I m/s 33: ” sekarang dunia moden, banyak pengetahuan boleh di cari hanya beberapa klik di hadapan internet. Jika kita tidak larat fikir , jangan halang orang lain mencari maklumat dan berfikir. Tunjukkan imej keistimewaan islam itu dengan mengizinkaN kepelbagaian pemikiran hidup dalam iklim yang harmoni selagi tiada penipuan dan pengkhianatan.”
Sekira maklumat yang Dr Asri sebarkan itu jelas penipuan dan pengkhianatan…adakah Dr asri nak mengatakan ianya ilmiyah dan berfakta…??
Pengasas Wahhabi
Post ni dah terlampau panjang,nanti tak ada yang mahu baca,jadi aku akan ceritakan sejarah pengasas wahhabi ni di post yang lain.
Disini aku cuma ceritakan secara ringkas mengenai pengasas Wahhabi.Wahhabi ni merujuk kepada seorang alim dari tanah najd(riyadh,saudi arabiyya) yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab.Ulama menisbatkan kepada Wahhab sebab tak mahu ia digelar sebagai ajaran Muhammadiyyah kerana orang ramai akan salah paham bahawa ia adalah ajaran Nabi Muhammad.Ia dinisbatkan kepada nama individu sebab ajaran ini adalah ajaran baru yang belum pernah didengari sebelum ini kecuali bab akidah,Syeikh M.A.W(Muhammad Abdul Wahhab) ini telah mengikuti akidah mujassimah(menjisimkan Allah) yang dicipta oleh seorang ulama mahsyur yang dikenali sebagai Syeikhul Islam iaitu Ibnu Taymiyyah,guru kepada ibnu Qayyim Jauziyyah.
Sejarah hitam Muhammad Bin Abdul Wahhab kelihatan amat terang dan nyata sekali di dalam masyarakat Islam. Bila disebut kalimah wahhabi, umat Islam setempat akan membayangkan suatu kumpulan yang baru datang memporak- perandakan masyarakat dan memecahbelahkan Umat Islam. Dan ini memang benar-benar berlaku dan nyata bila dirujuk sejarah golongan wahhabiyah ini.
Gerakan ini telah berkerjasama dengan tentera kafir(British)dalam perang dunia pertama untuk menjatuhkan empayar turki usmaniah dan merampas Mekah Madinah(sebagai hadiah dari British) dari penjaga asalnya dari kaum bani Quraisyh yang berketurunan nabi.
Keturunan nabi dan arab bani quraish dibunuh,dipancung,dirogol dan dihalau dari bumi Mekkah dan Madinah oleh puak Wahabi yang meminta pertolongan ketenteraan dari bani sa’ud yang juga telah diwahhabikan dan British.
Hasilnya,keturunan M.A.W telah dijadikan ketua agama Mekah Madinah hingga sekarang,bani Sa’ud pendokong fahaman Wahabi diberi takhta di seluruh jazirah arab hijjaz yang kemudiaannya ditukar menjadi sebuah negara bernama ‘Saudi Arabiyya’ dan bagi British,empayar Turki Usmaniah yang berdiri teguh beratus-ratus tahun hancur luluh dan membuatkan mereka bersorak.
Arab Saudi yang mesra musuh islam
Arab Saudi yang mesra musuh islam
Tak lama kemudian,masjid Al-Aqsa pula dirampas oleh British dari penjaganya yang berketurunan nabi dan diberi kepada yahudi yang menjadikan ia sebagai negara Israel.
Maka itulah tanda kiamat apabila ketiga-tiga masjid paling suci dalam islam telah dirampas dari penjaga asalnya iaitu keluarga Rasulullah.Hingga kini Arab Saudi menjadi kawan baik Amerika dan eropah sebagai tanda terima kasih memberikan Mekah Madinah kepada mereka(bani sa’ud)dari jagaan empayar Turki Usmaniah.(Kalian boleh berfikir sendiri betapa buruknya golongan Wahabi ini.)
Fitnah Wahhabi ini telah diberi amaran oleh Nabi saw didalam hadis baginda dan golongan Wahhabi tidak sanggup menerima hakikat bahawa Muhammad Abdul Wahhab sebagai tokoh Al-Fattan dan Qarn Syaithan (tanduk Syaithan) seperti yang tersebut dalam hadis-hadis an-Nabawiyyah,dan ramai ulamak muktabar menolak Muhammad Bin Abdul Wahhab ini baik sezaman dan selepasnya.
Hadith dari Sahih Bukhari tersebut adalah seperti berikut (terjemahannya):
Ibn ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Syam kami, Ya Allah Ya Tuhanku! berkatilah negeri Yaman kami”. Mereka (para Sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Najd kami”. Baginda (terus) berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Syam kami, Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Yaman kami”. Mereka (para Sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Najd kami”. Aku agak pada (permintaan) yang ketiga Baginda bersabda: “Padanya (Najd) (akan berlaku) gempa bumi, fitnah dan tempat terbit tanduk syaitan(Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di Najd begitu juga nabi palsu yang timbul selepas kewafatan Nabi iaitu Musailamah Al-kazzab juga dari Najd yang kini dinamakan Riyadh,Arab Saudi)”.
Dalam banyak hadith lain, Najd itu disebut sebagai terletak di sebelah timur Madinah.Nabi pernah menunjukkan jari ke arah timur dan berkata,fitnah akan datang dari timur!sebanyak 3x, Dan sememangnya jika dilihat kedudukan koordinat geografi, Najd/Riyadh terletak pada 2443N 04644E, manakala Madinah terletak pada 2433N 03942E. Kedudukan Riyadh/Najd hampir pada garis darjah latitude yang sama (beza 10 minit sahaja – bukan ukuran waktu tetapi ukuran latitude) dengan Madinah betul-betul sebelah timur.
Helah yang digunapakai bagi mereka yang gerun dengan hadith ini ialah mereka mengatakan bahawa Iraq(tempat lahirnya fitnah Syiah) sememangnya di sebelah timur. Tetapi yang sebenarnya, latitude yang paling rendah bagi Iraq ialah sekitar 3040N (kota Basrah). Baghdad pula 3340N.
Dengan kedudukan latitude sedemikian, Iraq terletak di antara 0 – 40 darjah ke utara Madinah,bukan timur. Kalau nak dikatakan timur, ianya sepatut disekitar 90 +/- 20 darjah dari Medinah.
Moga Allah selamatkan kita dari fitnah Wahhabi!
USA kawan baik Arab Saudi 



sumber:  http://sufiafriqiyya.wordpress.com/2011/04/13/apa-itu-wahabisalafiahli-hadist/