Ingatlah tidak ada arang batu yang menjadi intan tanpa melalui tekanan demi tekanan. Hidup yang melalui kesukaran dan dugaan adalah untuk menjadikan kita lebih kuat dan lebih memahami orang lain. Cuma hati yang pernah dilapah yang boleh merasa besarnya erti kasih dan sayang sesama manusia.

Friday, 12 August 2011

KISAH NABI SULAIMAN DENGAN SEORANG PEMUDA YANG BERBAKTI KEPADA IBU DAN BAPANYA.


Nabi Sulaiman adalah anak kepada Nabi Daud a.s Sejak kecil lagi Nabi Sulaiman sudah pandai memberi pendapat yang adil dalam satu-satu hal.Dalam al_Quran pada ayat 78 hingga ke ayat 82 ada menyebut tentang kelebihan Nabi Sulaiman.Pada suatu hari Nabi Daud bersama anaknya Nabi Sulaiman sedang duduk di serambi mahligainya, kemudian datang seorang petani membuat pengaduan bahawa tanam-tanamannya telah dimusnahkan kambing seorang gembala, setelah Nabi Daud meneliti dengan teliti akan keputusan yang hendak dibuatnya, maka ia pun memberitahu petani tersebut katanya:"Orang yang mengembala kambing itu hendaklah memberikan kambing tersebut kepada kamu sebagai gantirugi".Apabila Nabi Sulaiman mendengar keputusan bapanya, maka Nabi Sulaiman berkata:"Hukuman yang dibuat oleh ayahanda adalah kurang tepat." Nabi Daud berkata:"Kalau kurang tepat apakah hukuman yang lebih baik dari ini?".

Nabi Sulaiman yang baru berusaha 11 tahun pun berkata:"Yang baiknya pada pendapat anakanda ialah, pengembala kambing hendaklah memberikan kambingnya kepada petani ini buat sementara waktu saja, dengan ini petani dapat mengambil susu dan bulunya, dan dalam pada itu pengembala kambing itu hendaklah memperbaiki semula tanaman petani ini.Setelah tanaman itu kembali seperti asalnya, maka petani ini hendaklah memulangkan semula kambing tersebut kepada tuannya."Kagum Nabi Daud mendengar kata-kata yang diucapkan oleh anaknya yang masih mentah itu, maka ia pun berkata:"Hukuman anakanda itu lebih baik dan adil."

Allah swt. Telah meganugerahkan buah fikiran yang baik kepada Nabi Sulaiman dan Allah swt. Juga telah memudahkan angin untuk berkhidmat kepada Nabi Sulaiman a.s. Menurut riwayat, ahli tafsir mengatakan Nabi Sulaiman menggunakan angin untuk menuju ke suatu tempat, seperti mengguna kapalterbang di masa sekarang.Ia duduk diatas tikarnya atau kursinya, lalu angin menerbangkannya ke negeri yang dikehendakinya. Selain daripada itu Allah swt. Juga telah menundukkan syaitan-syaitan kepada Nabi Sulaiman sebagai kuli untuk menyelam ke dalam laut untuk mengambil mutiara-mutiara dan begitu juga untuk membuat kerja-kerja lain, seperti membuat kota, mahligai dan sebagainya.

Setelah wafatnya Nabi Daud, Nabi Sulaiman membesarkan kerajaan dibawah pimpinannya. Pada suatu hari Nabi Sulaiman mengadakan perjalanan bersama rombongannya yang terdiri dari Manusia dan Jin, Nabi Sulaiman mempunyai banyak mukjizat, tujuan Nabi Sulaiman mengaturkan perjalanan ini ialah untuk mengembara ke tepi laut dan untuk mengetahui kebesaran Allah swt.

Setelah sampai ditepi laut, tiba-tiba Nabi Sulaiman terpandang kedalam laut sesuatu benda yang menakjubkan.Ia memerintahkan pada Jin Iprit:"Wahai Ifrit, cuba kamu lihat kedalam laut, ada suatu benda yang menakjubkan aku, oleh itu kamu bawakan ia ke mari!".Jin Ifrit tidak banyak bercakap sebab ia takut akan murka Nabi Sulaiman maka ia pun turun ke laut, setelah Jin Ifrit menyelam begitu dalam ke dalam laut ia pon kembali dengan tangan kosong sambil berkata:"Tuanku, hamba telah menyelam sampai begitu dalam ke dalam laut, tapi hamba tidak berjumpa dengan barang yang tuanku katakan."

Kemudian Nabi Sulaiman menyuruh Jin yang lain menyelam ke dalam laut untuk mendapatkan benda ajaib yang dikatakan oleh Nabi Sulaiman, tapi malangnya Jin yang ditugaskan itu pun gagal mendapatkan benda tersebut.Setelah mendapatkan penjelasan dari jin-jin tersebut maka Nabi Sulaiman pun berkata kepada Ashif bin Barkhiya yakni orang yang mendapat ilmu terus dari Allah swt." Sekarang aku perintahkan kepadamu, pergilah kamu ke dalam laut dan bawakan benda ajaib yang kukatakan" Ashif bin Barkhiya pun menyelam kedalam laut, apabila ia sampai pada dasar laut maka ia pun terpandang suatu benda yang berupa Kubah yang diperbuat dari kapur putih dan mempunyai pintu, lalu ia berkata didalam hatinya:" Wah, benda apakah ini, bersinar-sinar pula, aku mesti mengeluarkan dengan segera," Ashif ialah seorang manusia yang mempunyai kekuatan yang luar biasa.

Ashif dapat membawa benda tersebut naik keatas dan mempersembahkan kepada Nabi Sulaiman, apabila Nabi Sulaiman melihat akan benda tersebut ia pun berkata:"Wah, alangkah indahnya benda ini, tapi mengapakah aku tidak dapat melihat isi kandungan benda ini, padahal Allah swt. Telah memberi aku mukjizat yang mana pengelihatanku dapat menembusi segala sesuatu."

Kemudian Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah swt. Supaya ia dapat melihat isi dalam benda yang berbentuk Kubah tersebut. Doa Nabi Sulaiman pun diperkenankan oleh Allah swt. Dan terbukalah Kubah tersebut.Apabila Kubah tersebut terbuka maka terlihatlah oleh Nabi Sulaiman seorang pemuda yang sedang sujud dan bertasbih memuji-muji Allah swt. Lalu Nabi Sulaiman berkata:" Maha Suci Allah lagi Maha Besar."Mendengar seruan Nabi Sulaiman maka pemuda itu pun bangun dari sujud lalu memberi salam.

Nabi Sulaiman memulakan pertanyaan kepada pemuda tersebut:"Siapakah kamu wahai pemuda! Adakah kamu Malaikat, Jin atau Manusia."Jawab pemuda itu:" Aku hanyalah seorang manusia biasa." Nabi Sulaiman bertanyakan lagi:"Apakah yang membuat engkau memperolehi kemuliaan sedemikian rupa, apakah amal yang pernah kamu lakukan sehingga Allah swt. Menurunkan rahmat dan berkah yang tak ternilai ini kepada kamu?.Berkatalah pemuda itu:" Saya berbakti kepada kedua ayah dan ibuku". Nabi Sulaiman bertanya lagi:" Bagaimanakah kamu berbakti kepada kedua orang tuamu?" Berkata pemuda tersebut:" Saya memelihara mereka berdua sehingga lanjut usia mereka."

Akhirnya pemuda tersebut pun menceritakan perihalnya, kata pemuda tersebut:" Kedua ayah dan ibuku adalah orang yang salih, mereka sangat takut dan sangat taat kepada Allah swt. Sejak masih kecil hingga dewasa mereka melihara saya dengan baik sekali, mereka juga mendoakan saya, agar saya menjadi orang yang salih.Bapa saya meninggal dunia dalam usia yang lanjut dalam peliharaan saya dan yang tinggal ialah ibu yang sudah tua, sangat lemah dan sakit serta matanya buta dan kakinya lumpuh. Sayalah satu-satunya orang yang merawat dan menguruskan keperluannya, saya selalu mengangkatnya untuk mandi dan saya yang memandikannya."

Berkata pemuda itu lagi:" Segala urusan makan dan minumnya saya uruskan dan sayalah yang menyuapkan makanannya, sebagaimana ia menyuapkan saya di waktu saya kecil. Saya selalu memohon kepada Allah swt. Dan ibu saya juga selalu berdoa supaya saya dikurniakan ketenangan dan kepuasan dalam hidup saya serta memberikan kepada saya setelah, wafatnya sebuah tempat yang bukan didunia atau pun dilangit.Setelah ibu saya wafat, saya berputar-putar ditepi laut ini, tiba-tiba saya lihat ada suatu Kubah dari mutiara. Saya mendekati Kubah tersebut, ia pintu Kubah terbuka. Apabila saya masuk kedalam, pintu Kubah ini tertutup, maka tidaklah saya ketahui samaada saya berada di bumi atau di langit."

Nabi Sulaiman bertanya lagi:" Kamu hidup di zaman mana?. Pemuda itu menjawab:" Saya hidup di zaman Nabi Ibrahim a.s. " Nabi Sulaiman mengira umur pemuda itu tersebut, dalam kiraannya umur pemuda itu telah mencapai 1.4000 tahun, tetapi tidak ada satu pun uban pada rambutnya. Nabi Sulaiman bertanya pemuda itu:"Apakah tuan merasakan nikmat Allah swt.? Bagaimana Allah swt.memberikan rezeki pada mu dalam Kubah ini?. Pemuda itu berkata: "Setelah saya berada dalam Kubah ini , maka tahulah saya bahawa Allah swt. Telah menciptakan syurga khusus untuk saya didalam Kubah ini." Nabi Sulaiman bertanya pemuda itu lagi untuk melihat syurga yang dikatakan oleh pemuda tersebut:" Tunjukkanlah kepadaku bagaimanakah keadaan syurgamu itu.". Pemuda itu berdoa kepada Allah swt. Lalu suasana dalam Kubah itu yang gelap tiba-tiba bertukar menjadi terang-benderang. Terkejut Nabi Sulaiman sambil berkata:"Maha Suci Allah seruan sekalian alam."

Suatu pemandangan yang tiada didunia ini terpampang di hadapan Nabi Sulaiman dan rombongannya, dimana terdapat pokok-pokok, kebun yang indah, kolam air susu, madu dan suara-suara yang merdu. Melihat akan hal ini maka Nabi Sulaiman pun berkata:" Wahai pemuda, ini syurga, demi Allah sesungguhnya kamu telah mendapat kurnia Allah swt. Yang tiada bandingannya". Maka berkata pemuda tersebut:"Memang benar, ini syuarga saya untuk didunia ini, sebagai ganjaran dari Allah swt. Terhadap amal bakti yang saya buat. Kalau saya lapar, saya makan bermacam-macam buah-buahan yang berbagai macam citarasanya, semua jenis makanan yang saya ingin akan tersedia , dan kalau saya haus akan tersedia pula bermacam-macam jenis minuman yang paling lazat."

Nabi Sulaiman bertanya lagi:"Bagaimana kamu dapat mengetahui siang atu malam". Jawab pemuda itu:" Apabila terbit fajar maka Kubah ini akan menjadi putih, ini menandakan hari telah siang, dan apabila matahari terbenam Kubah ini menjadi gelap, maka tandanya hari sudah gelap". Pemuda itu berkata lagi:"Cukuplah, sebab saat ini saya harus menghadap kepada Allah swt. Untuk solat dan zikir, bertasbih dan mensucikan dan memuji kebesarannya."Kemudian Nabi Sulaiman pun berkata:" Baiklah wahai pemuda, aku akan segera pergi ke tempat kamu ini."

Kemudian Nabi Sulaiman berserta dengan rombongannya pun keluar dari Kubah tersebut, maka pemuda itu pon berdoa kepada Allah swt. Lalu tertutuplah kembali Kubah tersebut.Nabi Sulaiman termenung sejenak memikirkan peristiwa yang dilihatnya sebentar tadi, dan ia pun mengarahkan Ashif bin Barkhiya supaya menghantarkan kembali Kubah tersebut ke tempat asalnya. Ashif terus membawa Kubah tersebut ke dalam laut dan meletakkan di tempat asalnya.

Setelah itu Nabi Sulaiman pun berkata kepada rombonganya:"Untuk pertama kalinya aku menjumpai tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah swt. Aku bersyukur kepada Allah swt. Dan semuga bertambah iman dalam sanubariku, dengan ini juga bertambah pula hikmah dan pel;ajaran yang dikurniakan oleh Allah swt. Terhadapku.Maha suci Allah dan segala puji bagi Allah dan sesungguhnya aku bersaksi bahawa tiada Tuhan melainkan Allah, Allah Maha Besar dan tiada daya dan kekuatan apa-apapun di dunia ini melainkan dengan kehendak Allah swt." Kemudian kembalilah Nabi Sulaiman bersama rombongannya menuju ke Istana kerajaannya.

Kasihlah kepada kedua ibu bapa kita sebagaimana kasihnya mereka kepada kita, hanya seorang ibu saja yang tahu betapa susah payahnya ia mengandong selama 9 bulan, dan setelah lahir anak itu, kiranya ia sakit hanya ibu dan bapalah yang tahu akan sedihnya mereka kepada anak mereka itu. Apa sumbangan yang harus kita buat terhadap orang yang menjaga kita. Dalam al-Quran Allah swt. Berulang-ulang kali memberitahu kita, supaya kita taat kepada kedua orang tua kita, layanilah dan hormatilah mereka dan jangan sampai mereka marah kepada kita, sebab doa merekalah yang paling mujarab di sisi Allah swt.

SEKIAN
 
Source: google.com 

Thursday, 11 August 2011

Paderi Khatolik Memeluk Islam

Idris Tawfiq

(Itulah dia kesudahan kehidupan dunia) dan sebaliknya Allah menyeru manusia ke tempat kediaman yang selamat sentosa dan Dia sentiasa memberi petunjuk hidayatNya kepada sesiapa yang dikehendakiNya (menurut undang-undang peraturanNya) ke jalan yang betul lurus (yang selamat itu).
(QS Yunus: 25)

Ayat tersebut di atas menjelaskan bahawa Allah SWT akan memberikan hidayah (jalan kebaikan) kepada sesiapa sahaja yang dikehendakinya untuk memilih Islam. Tak peduli sesiapa pun. Baik kanak-kanak, majikan, mahupun tokoh agama bukan Islam sekalipun. Ayat tersebut sesuai dengan kisah Idris Tawfiq , seorang paderi di Britain yang akhirnya memilih Islam di dalam hidupnya. Beliau menjadi mualaf setelah mempelajari Islam dan melihat sikap lemah-lembut serta kesederhanaan umat Islam.

Sebelumnya, Idris Tawfiq adalah seorang paderi di gereja Katholik Rom di Britain. Pada awalnya beliau memiliki pandangan yang negatif terhadap Islam. Baginya Islam hanya sesuai dengan keganasan, potong tangan, diskriminasi terhadap perempuan, dan sebagainya. Namun pandangan itu mulai berubah ketika beliau melakukan kunjungan ke Mesir. Di negara piramid itu, Idris Tawfiq menyaksikan ketulusan dan kesederhanaan kaum Muslimin dalam melaksanakan ibadah dan serta keramahan sikap mereka. 

Beliau melihat sikap umat Islam yang jauh berbeza dengan pandangannya selama ini. Menurutnya, Islam sangat lembut, bertolak ansur, sederhanana, ramah, dan memiliki sifat keteladanan yang boleh dijadikan contoh untuk agama lain.

Mesir, negara yang membawa perubahan besar dalam hidup Tawfiq

Di Mesir, Tawfiq dapat merasakan kedamaian yang dicarinya. Pada awalnya hanya sebagai mengisi waktu cutinya dengan menyaksikan Pirmad, unta, padang pasir, dan pepohon padang pasir. Namun perkara ini membawanya kepada Islam dan membuat perubahan yang besar di dalam hidupnya.

''Mulanya mahu bercuti. Saya menaiki pesawat ke Hungary. Di Eropah saya mengunjungi beberapa pantai. Selepas itu saya menuju ke Kaherah, Mesir dan di sana saya menghabiskan masa yang paling indah di dalam hidup saya.''

''Ini adalah kali pertama saya berkenalan dengan umat Islam dan Islam. Saya melihat masyarakat Mesir yang lemah lembut, orangnya manis, tetapi sangat kuat,'' terangnya.

''Saya melihat mereka tenang, lembut, dan tertib dalam beribadah. Terdapat juga suara panggilan solat (azan), mereka yang kebanyakannya peniaga, segera bergegas menuju masjid. Indah sekali saya melihatnya,'' katanya.

Dari sinilah, pandangan Tawfiq berubah tentang Islam. ''Waktu itu, seperti masyarakat Britain yang lain, pengetahuan saya tentang Islam adalah seperti yang saya lihat di dalam TV bahawa Islam adlah ganas. Tetapi itu bukanlah ajaran Islam.'' tegasnya.

Di sana beliau membaca Al-Quran. Tawfiq terbaca keterangan di dalam Al-Quran yang menyatakan:

Demi sesungguhnya engkau (wahai Muhammad) akan dapati manusia yang keras sekali permusuhannya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik dan demi sesungguhnya engkau akan dapati orang-orang yang dekat sekali kasih mesranya kepada orang-orang yang beriman ialah orang-orang yang berkata: "Bahawa kami ini ialah orang-orang Nasrani". Yang demikian itu, disebabkan ada di antara mereka pendeta-pendeta dan ahli-ahli ibadat, dan kerana mereka pula tidak berlaku sombong. 
(Al-Maidah ayat 82).

Ayat ini membuatnya berfikir panjang. Baginya Islam adalah sangat baik dan bertolak-ansur. Tetapi ada pihak yang amat memusuhi islam. Inilah yang menjadi babak awal keislaman bekas paderi Britain ini dan akhirnya beliau menerima Islam.

Pulang dari Mesir, Tawfiq masih lagi menjadi penganut agama Katholik. Ketika beliau aktif mengajar pelajaran agama kepada para pelajarnya di sebuah sekolah umum di Britain, beliau diminta untuk mengajarkan pelajaran perbandingan agama.

''Saya mengajar tentang agama Kristian, Islam, Judaisme, Buddha dan lain-lain. Jadi, setiap hari saya harus membaca tentang agama Islam untuk saya ajarkan kepada pelajar. Dan di sana terdapat ramai penuntut Muslim berketurunan Arab. Mereka menunjukkan contoh pergaulan yang baik dan bersikap sopan dengan rakan-rakan. Dari sini, saya makin berminat untuk berinteraksi dengan pelajar Muslim,'' ujarnya.

Sepanjang bulan Ramadhan, beliau melihat umat Islam, termasuk para siswanya, berpuasa serta melaksanakan solat tarawih bersama-sama. ''Perkara ini saya saksikan hampir setiap hari dalam bulan ramadhan. Lama kelamaan saya mula belajar dengan mereka, walaupun ketika itu saya belum menjadi Muslim,'' papar Tawfiq.

Pada bulan Ramadhan, Tawfiq mempelajari Al-Quran. Beliau membaca ayat-ayat Al-Quran dari terjemahannya. Dan ketika membaca ayat 83 surah Al-Maidah, beliau kaku.

''Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul (Muhammad), kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran (Alquran).'' 
(Al-Maidah ayat 83)

Secara tiba-tiba, Tawfiq dapat merasakan apa yang disampaikan Alquran. Beliau menangis. Namun beliau sembunyikan dari pandangan para pelajarnya. Beliau dapat merasa sesuatu di sebalik ayat tersebut.

Bermula dari kejadian itu, Tawfiq makin bersungguh-sungguh mempelajari Islam. Ketika terjadi peristiwa 11 September 2001 dimana dua menara kembar World Trade Center (WTC) di Amerika Serikat telah dirempuh oleh pesawat, ramai orang yang mempersalahkan umat islam dan Islam. Beliau sangat hairan. Walaupun masih memeluk Kristian, beliau yakin bahawa Islam tidak seperti itu.

''Awalnya saya takut juga. Saya khuatir peristiwa sama akan berulang di Britain. Lebih-lebih lagi orang barat menuduh orang Islam yang melakukan rempuhan itu.'' kata Tawfiq.

Namun Tawfiq yakin, Islam tidak seperti apa yang barat fikirkan. Dengan pengalaman di Mesir, beliau dapat melihat Islam adalah agama yang sangat baik, dan penuh dengan toleransi. Terdetik di hatinya, ''Mengapa Islam? Mengapa kita menyalahkan Islam sebagai agama keganasan. Bagaimana jika kejadian itu dilakukan oleh orang Kristian? Adakah Kristian akan dilabel sebagai pengganas?'' Kerana itu, beliau mengagak kejadian itu hanyalah dilakukan oleh pihak tertentu, dan bukannya dari ajaran Islam.

Tawfiq bersama rakan Islam Amerika


Memeluk Islam

Bermula dari situ, beliau cuba mencari jawapannya. Beliau pergi ke Masjid terbesar di London dan berbincang dengan Yusuf Islam tentang Islam. Tawfiq memberanikan diri bertanya pada Yusuf Islam. ''Apa yang akan kamu lakukan apabila menjadi Muslim?''

Yusuf Islam menjawab. ''Seorang Muslim harus percaya pada satu Tuhan, solat lima kali sehari, dan berpuasa pada bulan Ramadhan,'' ujar Yusuf yang dikenali sebagai Cat Stevens.

Tawfiq berkata, ''Semua itu sudah saya lakukan.''

Yusuf berkata, ''Jadi apa yang kamu tunggu?''

Saya katakan, ''Saya masih seorang yang beragama Kristian.''

Perbincangan kami terhenti seketika kerana sudah tiba waktu solat zohor. Para jamaah bersiap-siap untuk menunaikan solat. Saya mundur ke belakang saf dan menunggu sehingga selesai solat.

Ketika menunggu, Tawfiq terdengar  suara yang mempertikaikan sikapnya. ''Saya menjerit, walaupun di dalam hati. ''Siapa yang cuba bermain-main dengan saya.''

Namun saya tidak menjumpai pemilik suara itu. Tetapi suara itu mengajak saya untuk memeluk. Akhirnya, selepas solat selesai, Tawfiq segera menuju ke arah Yusuf Islam. Dan beliau menyatakan ingin memeluk Islam. Tawfiq meminta Yusuf Islam mengajarnya mengucap dua kalimat syahadat.

''Ayshadu an Laa Ilaha Illallah. Wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullah.'' Saya bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah.

Jamaah menyambut dengan gembira. Tawfiq menitiskan air mata. Bukan kerana sedih, tetapi terasa sangat bahagia.

Tawfiq telah memilih agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ini. Beliau tidak menyesal setelah menjadi pengikutnya. Pangkat dan penghargaan yang diterimanya dari gereja dilupakan dan ditinggalkannya.

Seperti yang kita tahu, Idris Tawfiq mendapat gelaran kesarjanaan dari University of Manchester dalam bidang sastera, dan gelaran bishop dari University of Saint Thomas Aquinas di Rom. Berstatuskan gelaran tersebut, beliau dapat mengajar ilmu Katholik kepada jemaatnya. Namun, akhirnya beliau beralih mengajarkan Islam kepada masyarakatnya.

''Dulu saya gembira menjadi paderi dan pastor untuk membantu masyarakat selama beberapa tahun  yang lalu. Namun, saya dapat merasakan ada sesuatu yang tidak kena. Saya beruntung, Allah SWT memberikan hidayah pada saya. Saya tidak menyesal meninggalkan tugas saya di gereja. Saya percaya, kejadian (keislamannya) ini lebih baik jika dibandingkan dengan kehidupan masa lalu saya,'' terangnya.

Berdakwah Melalui Lisan dan Tulisan

Ketika ditanyakan pada Idris Tawfiq tentang perbezaan besar antara Kristian Katholik dan Islam, beliau berkata: ''Dasar dari agama Islam adalah Allah. Semua perkara disaksikan Allah, tidak ada yang luput dari perhatianNya. Ini berbeza dengan agama lain. Islam merupakan agama yang menyeluruh.''

Beliau menambah, Islam mengajar umatnya untuk senantiasa beribadah kepada Allah setiap masa. Tidak hanya beribadah pada hari minggu. Selain itu beliau berkata, Islam mengajar umatnya cara menegur dan menyapa orang lain dengan lembut, bersikap ramah, mengajarkan adab makan dan minum, memasuki rumah orang lain, cara bersilaturahim yang baik. ''Tidak hanya dengan itu, semua persoalan dijawab dan diajarkan di dalam Islam,'' terangnya.

Penceramah Dan Penulis

Caranya bertutur, sikapnya yang sopan santun banyak disukai masyarakat. Gaya bicaranya yang baik serta sederhana dan lemah lembut, menyentuh hati menyebabkan orang mudah terpikat dengan hujah-hujahnya. Tawfiq kini giat berceramah dan menulis buku tentang Islam dan keislamannya.

Tawfiq menyampaikan ceramah ke merata tempat dengan satu tujuan, menyebarkan dakwah Islam. Idris Tawfiq mengatakan, dia bukanlah pakar dalam agama. Namun beliau memiliki cara menjelaskan tentang Islam dalam bentuk yang sangat sederhana. Dia memiliki banyak pengalaman dalam berceramah dan mengenali karakter masyarakat.

Tawfiq juga dikenali sebagai penulis. Tulisannya tersebar di ruangan surat khabar, majalah, jurnal, dan laman web. Beliau juga menyumbang artikel-artikel dalam laman web www.islamonline.net dan www.readingislam.com

Dia menulis artikel mingguan di Mesir Mail, akbar tertua Mesir berbahasa Inggeris, dan Sawt Al-Azhar, surat khabar Al-Azhar University. Dia juga adalah pengarang beberapa buah buku. Antaranya, Dari syurga yang penuh kenikmatan: sederhana, pengenalan Islam; Berbicara ke Pemuda Muslim; Berbicara ke Mualaf. Selain itu, beliau juga menjadi juru bicara umat Islam di Barat. Beliau juga banyak memberi ceramah melalui radio dan televisyen.

Web beliau : http://www.idristawfiq.com
===================================================

Saya membaca kisah ini pada 11th August 2011. Memang pada mulanya membaca nda terasa apa-apa, tetapi apabila sudah menghayati dan menggambarkan bagaimana keadaan si Paderi(bekas) mendapat hidayah yang begitu MANIS sekali dari ALLAH swt, timbul rasa terharu dihati saya sendiri.

Sesungguhnya HIDAYAH ALLAH tu inda mengenal siapa-siapa di dunia. Marilah kita memohon kepada ALLAH, agar kita sentiasa mendapat hidayah dariNYA. Amin.



Isa_Hs (11/8/11)

Wednesday, 10 August 2011

Aku Yakin ALLAH Tidak Akan Mensia-siakan Ku.

Kadangkala dalam hidup kita tidak pernah sedar, Tuhan sudah melengkapkan hidup kita dengan benda-benda yang kita perlukan untuk jalani hidup dengan sempurna. Sebab Dia akan sentiasa berikan yang terbaik buat kita.
Sempurna vs Terbaik?
Sempurna itu saya lihat dari sisi, dari gambaran cukup atau tidak dalam sesuatu benda asas dalam hidup yang menjadi suatu keperluan, bukan dalam konteks kita dapat segalanya yang kita minta.
Terbaik? Benda yang kita perolehi itu pastinya sesuatu yang Allah sudah rancang untuk kita, dan Dia tahu itu ada adalah sebaik-baik perkara yang bersesuaian dengan fitrah diri kita. Bukankah Allah itu sebaik-baik perancang? Seperti mana tidak pernah ada istilah kebetulan ataupun istilah bernasib baik dalam hidup. Segala sudah diatur rapi, hanya menunggu masa untuk 'dilepaskan' dari Loh Mahfuz dan mencorakkan hidup kita.
Hidup tetap ada pasang surutnya. Tetap ada kegembiraan walapun terselit duka. Allah juga telah berjanji, selepas kesusahan pasti kesenangan berpanjangan akan datang menghampiri. Untuk mengharungi, caranya juga Allah telah jelaskan. Solat dan sifat sabar itu penawarnya.
Syukur tingkatannya lebih tinggi dari tingkatan sabar. Berapa ramai manusia boleh bersabar? Tidak ramai. Apatah lagi yang mampu mengucap syukur, malah bilangan lebih sedikit. Apa erti syukur yang sebenarnya? Apabila kita redha dengan segala ujian yang datang menyinggah, itu adalah suatu bentuk kasih dan tarbiyyah Dia buat kita. Redha? Bila hati ini belajar mengucapkan syukur. Lebih cantik apabila diadun dengan tawakal dan kebergantungan sepenuhnya terhadap rahmat Allah yang tidak pernah surut datang menyirami kita setiap masa.
Rezeki Allah itu bertebaran di muka buminya yang luas, selagi ada rezeki buat kita maka usah gusar. Mengapa harus dikisahkan, dirisaukan tentang perkara yang belum pasti berlaku? Benar hidup itu suatu percaturan, tiada siapa yang mengetahui masa depan apa yang bakal berlaku.
Namun bersedia dengan kejutan dalam hidup yang sudah ditentukan dan tetap istiqamah berusaha mencari redhaNya, suatu ketetapan yang perlu dilakukan sentiasa. Itu sahaja cara mengajar hati agar redha. Jangan pernah berhenti yakin dengan adanya rahmat Allah, tetap sentiasa akan ada laluan buat kita seandainya laluan target kita sudah beralih simpangnya, kerana Allah sudah membina 'jalan yang lain'.
Terus usaha mencari redhaNya. kerana Allah melihat kepada hasil. balasan yang setimpal itu imbalannya. sama ada dalam bentuk yang sama seperti apa yang kita usahakan, mungkin juga balasan itu dalam bentuk lain yang tidak pernah kita sangka-sangka. yakinlah bahawa hidup ini diciptakan dengan indah, dan ujian itu penyerinya. Ujian itu wasilah kita mencapai apa yang sepatutnya yang terbaik dalam hidup kita. Ujian itu perlu sebelum melayakkan diri kita menerima imbalan yang pastinya tetap membuatkan hidup kita tenang dan dalam keredhaanNya.
Cukuplah Allah sebagai pelindungku.
Sesungguhnya Allah bersama dengan orang yang bersabar. Usah bersedih.
-Artikel iluvislam.com

Dimana DIA di Hatimu?

Semasa Rasulullah s.a.w. dan Saidina Abu Bakar bersembunyi di Gua Thur, dalam perjalanan hendak berhijrah ke Madinah, musuh-musuh Islam sudah berdiri di hadapan pintu gua dan hampir menemui mereka.
Ketika Saidina Abu Bakar cemas, Rasulullah s.a.w. menenangkannya dengan berkata, "Jangan takut, ALLAH bersama kita."
Itulah kehebatan Rasulullah, ALLAH sentiasa di hatinya.
Ketika di ambang maut?
Sewaktu Da'thur, seorang tentera musuh menyerang hendap Rasulullah s.a.w. lalu meletakkan pedang di leher baginda dan bertanya, "Siapakah akan menyelamatkan kamu daripadaku?"
Jawab Rasulullah penuh yakin, "ALLAH."
Mendengar jawapan itu, gementarlah Da'thur dan terlepaslah pedang daripada tangannya. Itulah kehebatan Rasulullah... sentiasa ada DIA di hati baginda.
Ketika tiada siapa mengetahui?
Diceritakan juga bahawa pada suatu ketika Khalifah Umar Al-Khattab ingin menguji seorang budak gembala kambing di sebuah padang pasir. "Boleh kau jualkan kepadaku seekor daripada kambing-kambing yang banyak ini?"
"Maaf tuan, tidak boleh. Kambing ini bukan saya yang punya. Ia milik tuan saya. Saya hanya diamanahkan untuk menjaganya sahaja."
"Kambing ini terlalu banyak dan tidak ada sesiapa selain aku dan kamu di sini. Jika kau jualkan seekor kepadaku dan kau katakan kepada tuanmu bahawa kambing itu telah dimakan oleh serigala, tuanmu tidak akan mengetahuinya," desak Saidina Umar lagi, sengaja menguji.
"Kalau begitu, di mana ALLAH?" ujar budak itu.
Saidina Umar terdiam dan kagum dengan keimanan yang tinggi di dalam hati anak kecil itu. Walaupun hanya seorang gembala kambing yakni pekerja bawahan, tetapi dengan kejujuran dan keimanannya, dia punya kedudukan yang tinggi di sisiALLAH. Jelas ada DIA di hatinya.
Ketika kamu tiada jawatan?
Satu ketika yang lain, Saidina Khalid Al-Walid diturunkan pangkatnya daripada seorang jeneral menjadi seorang askar biasa oleh Khalifah Umar. Keesokannya, Saidina Khalid tetap ke medan perang dengan semangat yang sama. Tidak terjejas sedikit pun perasaan dan semangat jihadnya walaupun telah diturunkan pangkat.
Ketika ditanya mengapa, Saidina Khalid menjawab, "Aku berjuang bukan kerana Umar." Ya, Saidina Khalid berjuang kerana ALLAH. Ada DIA di hatinya.
Lalu, di mana Dia dihati kita?
Melihat anekdot-anekdot itu, aku terkesima lalu bertanya kepada diri, di manakah DIA dalam hatiku?
Apakah ALLAH sentiasa menjadi pergantungan harapan dan tempat merujuk serta membujuk hatiku yang rawan?
ALLAH ciptakan manusia hanya dengan satu hati. Di sanalah sewajarnya cinta ALLAH bersemi. Jika cinta ALLAH yang bersinar, sirnalah segala cinta yang lain. Tetapi jika sebaliknya, cinta selain-NYA yang ada di situ, maka cinta ALLAH akan terpinggir. Ketika itu, tiada DIA di hatiku!
Sering diri ini berbicara sendiri, bersendikan sedikit ilmu dan didikan daripada guru-guru dalam hidupku, kata mereka (dan aku amat yakin dengan kata itu);
"Bila ALLAH ada di hatimu, kau seolah-olah memiliki segala-galanya. Itulah kekayaan, ketenangan dan kebahagiaan yang hakiki."
Kata-kata itu sangat menghantui diriku. Ia menyebabkan aku berfikir, merenung dan bermenung, apakah ALLAH menjadi tumpuan dalam hidupku?
Apakah yang aku fikir, rasa, lakukan dan laksanakan sentiasa merujuk kepada-NYA?
Bila bertembung antara kehendak-NYA dengan kehendakku, kehendak siapa yang aku dahulukan? Sanggupkah aku menyayangi hanya kerana-NYA? Tegakah aku membenci juga kerana-NYA?
Muhasabah ini melebar lagi. Lalu aku tanyakan pada diri, bagaimana sikapku terhadap hukum-hakam-MU?
Sudahkah aku melawan hawa nafsu untuk patuh dan melakukan segala yang wajib sekalipun perit dan sakit ketika melaksanakannya? Sudahkah aku meninggalkan segala yang haram walaupun kelihatan indah dan seronok ketika ingin melakukannya?
Soalan-soalan ini sesungguhnya telah menimbulkan lebih banyak persoalan. Bukan akal yang menjawabnya, tetapi rasa hati yang amat dalam. Aku tidak dapat mendustai-MU, ya ALLAH.
Dan aku juga tidak dapat mendustai diri sendiri
Aku teringat bagaimana suatu ketika seorang sufi diajukan orang dengan satu soalan, "Apakah engkau takutkan ALLAH?"
Dia menangis dan menjawab, "Aku serba salah untuk menjawab ya atau tidak. Jika aku katakan tidak, aku akan menjadi seorang yang kufur. Sebaliknya kalau aku katakan ya, aku terasa menjadi seorang munafik. Sikapku amat berbeza dengan kata-kata. Orang yang takutkan ALLAH bergetar hatinya bila mendengar ayat-ayat ALLAH tapi aku tidak..."
Maksudnya, jika seorang sufi yang hatinya begitu hampir dengan ALLAH pun sukar bila ditanyakan apakah ada DIA di hatinya, lebih-lebih lagilah aku yang hina dan berdosa ini.
Di hatiku masih ada dua cinta yang bergolak dan berbolak-balik. Antara cinta ALLAH dan cinta dunia sedang berperang dengan begitu hebat dan dahsyat sekali.
Kalau kau tanyakan aku, "Adakah DIA di hatimu?"
Aku hanya mampu menjawab, "Aku seorang insan yang sedang bermujahadah agar ada DIA di hatiku. Aku belum sampai ke tahap mencintai-NYA tetapi aku yakin aku telah memulakan langkah untuk mencintai-NYA."
Justeru, kerana belum ada DIA di hatiku, hidupku belum bahagia, belum tenang, dan belum sejahtera. Aku akan terus mencari. Aku yakin ALLAH itu dekat, pintu keampunan-NYA lebih luas daripada pintu kemurkaan-NYA.
Selangkah aku mendekat, seribu langkah DIA merapat. Dan akhirnya... aku yakin... suatu saat nanti, akan ada DIA di hatiku dan di hatimu jua.
Dan kita akan terus mengemis kasih...
- Artikel iluvislam.com

Aku Tetap BerSYUKUR

Alangkah bahagianya hidup ini walau aku bukan dari golongan orang kaya raya.  Aku dibesarkan dalam keluarga yang amat sederhana, bahkan, aku tidak segan untuk mengakui keluargaku bukan dari orang yang mewah dan senang.  Tetapi aku tetap bersyukur dari dahulu hingga sekarang.
Jika dibandingkan dengan orang yang senang, aku termasuk golongan yang kurang senang.  Tetapi jika dibandingkan dengan golongan yang lebih susah dariku, aku termasuk golongan orang yang senang.
Aku pernah ke sekolah dengan hanya sebatang pensil, sepasang baju, sepasang kasut dan wang belanja sebanyak 15 sen sehari.  Cuba bandingkan dengan yang senang dan yang susah.  Jadi aku patut bersyukur yang aku senang.
Bila masuk ke universiti, aku berbekalkan 'maggi' dan biskut kering.  Walhal kawan-kawanku berbekalkan biskut berkrim dan lemak manis dan duit yang banyak.  Aku hanya diberi RM50 untuk wang belanja.  Aku masih ingat jasa baik adik bongsuku menghantar surat sekali sekala dan masukkan RM1 untuk ku dari simpanan duit belanja sekolahnya.  Tetapi tidak seorang sahabatku tahu cara hidupku.  Aku bersyukur.
Bila mula-mula kerja, aku menyewa bilik di bawah tangga yang sepatutnya bilik stor.  Kalau nak masuk ke bilik, aku perlu menunduk kepala.  Dan bila berada dalam bilik, aku tidak boleh berdiri tegak sebab bumbungnya memang rendah.  Sekeping tuala ku jadikan tilam alas tubuhku untuk tidur.  Dan separuh baju-bajuku sebagai bantal alas kepalaku.  Aku susun baju-bajuku yang lain yang hanya berapa helai ditepi dinding sebelah tempat aku tidur. Lantainya simen semata-mata.
Tetapi aku tidak pernah lupa untuk menghulur RM50 setiap bulan kepada ibubapaku.  Dan setiap kali gajiku naik aku tambah pemberianku kepada mereka.  Aku bersyukur.
Satu hari ibu bapaku telefon ke pejabat nak datang tengok bilikku sewa.  Aku buat macam-macam alasan sehingga satu hari mereka berjaya datang ke rumah yang aku menyewa bilik itu.  Alangkah terperanjat mereka melihat keadaanku.
Ibuku menitis airmata dan muka ayahku berubah.  Tetapi aku tetap mengukir senyuman dan berjanji aku akan pindah ke bilik yang lebih selesa tidak lama lagi.  Waktu itu aku hanya bergaji sebanyak RM275 sebagai kerja yang pertama.
Satu ketika aku hanya tinggal 15sen dalam saku dan terpaksa berjalan kaki balik.  Tetapi hatiku tidak pernah rasa susah dan aku sentiasa bersyukur.
Waktu malam aku hanya minum air panas dan cicah biskut kering.  Aku terpaksa ketatkan perutku sebab aku perlu menampung semua perbelanjaan dengan duit gaji sebanyak itu.  Tambang bas, duit sewa bilik, duit bulanan ibubapaku dan duit buat perbelanjaanku untuk makan minum dan pakaianku.
Tetapi berkat kesabaranku, doa dan restu kedua orang tuaku dan dengan nasihat mereka yang aku tidak lupa, aku berjaya berdikari menempuh segala perit jerih dalam hidupku.
Sehingga aku telah mendirikan rumahtangga dan mempunyai 3 orang anak.  Yang sulung sudah pun mendirikan rumahtangga dan aku dianugerahkan seorang cucu perempuan yang amat comel.
Anak kedua perempuanku sudah bekerja dan beliau pula sentiasa menghulur wang bulanan kepada kami.  Inilah berkatnya rezeki waktu aku membantu kedua ibubapaku dan kini aku dibalas jasa dengan pemberian dari anakku pula.
Betapa bahagianya hidupku kini.  Kini aku menikmati kebahagian hidupku dengan lebih bertambah lazatnya.  Aku peruntukan masa mendalami ilmu ugama serta belajar alquran sebagai bekalan hidupku diakhirat kelak.  Betapa syukurnya aku kepada Allah SWT.
Alhamdulillah aku telah dijemput Allah SWT sebagai tetamu ke rumah-Nya berulang-ulang kali semenjak tahun 1989 mulai umrahku yang pertama.
Mungkin juga berkat duit ku kerja, aku pernah membawa kedua ibubapaku berumrah pada tahun 1997.
Dan aku amat bersyukur dapat membawa ibuku berumrah bulan Ramadhan tahun 2006.
Ayahku telah meninggal dunia pada tahun 2000.  Semenjak tahun 2000 aku telah berulang kali berumrah di bulan ramadhan sehingga aku seolah-olah tidak dapat tidak berumrah bila Ramadhan tiba.
InsyaAllah ramadhan tahun 2011 ini aku telahpun berdaftar untuk menunaikan umrah.  Bersyukurku kepada-Nya aku telah diizinkan menunaikan fardhu haji sebanyak dua kali dalam tahun 1992 dan 2001 dan jika diizinkan aku menyimpan hasrat hendak menunaikan haji ke tiga, insyaAllah.  Aku tetap bersyukur kepada-Nya.
Jikaku fikirkan, hidupku dipenuhi bermacam-macam warna dan rasa.  Ada yang berwarna cahaya berkilau-kilauan menggambarkan kejayaan dan kebahagiaan, ada yang berwarna hitam pekat yang menggambarkan pengalaman pahit maung.
Ada rasa manis seperti madu menggambarkan keenakan dalam hidupku dan tidak kurang juga rasa pahit hempedu menggambarkan musibbah yang menimpa diriku.  Tetapi dengan semua ini, aku tidak lupa mensyukuri-Nya kerana semua ini aku terima sebagai ujian dari-Nya.  Bahkan dengan segala pengalaman ini juga membuat diriku lebih yakin sebagai hamba Allah-Nya.
Aku tidak pernah mimpi aku akan diberi rezeki begitu mewah sekali jika ku fikirkan hidupku waktu dahulu.  Sungguh benarlah bahawa usaha, sabar dan taqwa akan membenihkan rezeki yang berlipat ganda jika kita yakin.
Aku bersyukur dan sentiasa sujud kepada-Mu Ya Allah Ya Rahman Ya Karim.  Dan selawat dan salamku kepada kekasih-Mu Ya Allah, Nabi Ulul Azmi.  Aku mengakhiri penulisanku dengan lafaz kalimah Asy hadu an la ilaha illallah hu wa asy ha du anna muhammaddarrosullullah.
- Artikel iluvislam.com

Indahnya Tentang Takdir

"Kalau benar Allah tu kejam, kau dah pun hangus disambar petir waktu kau lalai tunaikan kewajipan kau sebagai hamba Allah. Contohnya waktu kau tidak mengerjakan solat'
Itu kata seorang temanku sewaktu aku menanyakan soal Neraka dan Syurga. Sewaktu aku menanyakan di manakah tempatnya arwah Iyai, Atu dan Paksu sekarang ini.
Iyai, Atu dan Paksu sudah lebih setahun meninggalkan kami. Dalam payah menerima kenyataan itu, aku pujuk hati aku. Dunia ini hanya sementara dan akhirat juga yang abadi.
Berfikir lagi......
'Perpisahan' itu sebahagian daripada rencana dunia. Iyai, Atu dan Paksu hanya permulaan untuk sengsara ku menghadapi 'perpisahan' dengan orang yang amat aku sayangi.
Sedangkan, di dunia ini masih bernafas mereka yang sangat-sangat aku sayangi dan entah bila 'perpisahan' lain akan terjadi. Maka aku simpan angan-angan untuk bertemu mereka akhirat nanti.
Namun, apakah aku akan bertemu dengan mereka? Sedang aku sendiri tidak pasti di manakah tempat untuk aku di akhirat sana.
Lebih setahun aku cuba merungkai persoalan-persoalan yang sering timbul dalam otak. Akhirnya aku menemui sesuatu yang aku terlalu jahil selama ini.
Yang pertama aku ucapkan, Alhamdullilah... Terima kasih ya Allah atas cinta ini. Dan Subhanallah.... Begitu agungnya cinta Allah.... Akhir sekali, Astagfirullah.... Ampunkan aku wahai Tuhan atas kekhilafanku mempersoalkan bukti cinta-Mu...
Saat menghadapi musibah, aku dipujuk dengan ungkapan, 'itu takdir Allah, kita harus terima'. Dalam rasa sakit hati, kecewa dan sedih mengharunginya aku tidak mampu berfikir secara positif.
Malah, aku mempersoalkan apa itu takdir? Kenapa takdirku begitu? Syukur, kalau bukan kerana soalanku itu, aku mungkin tidak akan memperolehi jawapannya. Mungkin itu sebahagian daripada hikmah Allah atas kurnia musibah kepada ku.
Hidup kita sudah ditentukan sejak azali lagi. Sudah tertulis dalam takdir jalan yang akan kita lalui sepanjang hidup. Maka kenapa Tuhan perlu menghukum kita atas jalan cerita yang ditulis-Nya?
Selalu kita hanya menurut kata takdir. Kita semat dalam minda, hidup kita sudah ditentukan Allah. Kita tidak mampu mengubahnya kerana kita tidak berkuasa. Benar, yang berkuasa hanya Allah.
Hanya Allah yang mampu mengubah segalanya. Kerana itu kita perlu berdoa. Berdoa kepada Allah untuk menjadikan kita lebih baik. Dengan doa, banyak perkara yang boleh berubah. Itulah kelebihan DOA.
Dan aku bertanya lagi... Dengan doa kita boleh mengubah takdir kita?
(aku rasa semakin malu dengan kejahilanku. Tapi malu itu aku tolak ke tepi demi ilmu)
Ya... Ada takdir yang boleh berubah. Takdir tidak semestinya bermaksud kata muktamad untuk hidup kita.
Takdir ada dua, takdir mubram dan takdir mu'allaq.
Takdir mubram ialah qadha dan qadar yang tidak dapat dielakkan. Ia pasti terjadi pada diri manusia sedangkan manusia tidak mempunyai kesempatan atau tidak ada ikhtiar untuk memilihnya. Contohnya seperti hari kiamat dan apabila seseorang meninggal dunia.
Sebagaimana firman ALLAH S.W.T :  
'Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu, maka apabila datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat pula memajukannya' [Al-Araf:34]
Takdir mubram ini terdapat pada sunatullah yang ada di alam raya ini. Oleh kerana itu, sunnatullah tersebut juga terbahagi dua iaitu hukum-hukum kemasyarakatan dan hukum alam. Dalam al-Quran surat al- Fushilat ayat 11 dinyatakan bahawa sekali-kali tidak akan pernah terjadi perubahan pada sunnatullah.
Takdir mu'allaq pula ialah qadha dan qadar yang bergantung pada ikhtiar dan usaha seseorang mengikut kemampuan yang ada pada manusia. Dalam menghadapi takdir ini manusia berdoa, wajib berikhtiar atau berusaha ikut kemampuan demi mengubah keadaan menjadi lebih baik buat dirinya. Tentu sahaja soal berhasil atau tidak usahanya bergantung kepada ALLAH S.W.T.
Aku semakin tertarik tentang takdir mu'allaq, takdir yang boleh diubah dengan doa.
(temanku tersenyum.  mungkin dia kasihan melihat aku yang sangat teruja.)
Aku mengalihkan pandangan ke depan. Membiarkan telingaku ke arahnya. Biar aku dapat mendengar dengan lebih jelas. (sebenarnya untuk mengelak dia melihat mukaku yang sedang menahan malu dek kejahilanku)
Jangan salah faham dengan takdir mu'allaq itu. Doa saja tidak akan mendatangkan kesan. Pernah dengar makna DUIT? (selamba jer aku jawab, duit itu wang. Benda untuk kita beli sesuatu.) DUIT punya makna yang lebih dalam.
'D' = DOA        'U' = USAHA     'I' = IKHTIAR     'T' = TAWAKAL
Selain berdoa, kita perlu berusaha dan mencari ikhtiar. ALLAH S.W.T menjelaskan dalam firman-NYA :
'Sesungguhnya ALLAH tidak akan mengubah keadaan (nasib) sesuatu bangsa sehingga bangsa itu mahu mengubah keadaan (nasib) mereka sendiri.' [Ar-Rad : 11]
Dalam konteks usaha dan ikhtiar, sebagai hamba kita perlu menggunakan akal yang dikurniakan khusus untuk kita sebagai manusia.
Sebagai contoh, apabila kita lapar perlukah kita menunggu orang lain untuk menyuapkan kita makanan yang ada di depan mata kita sedangkan kita sendiri punya tangan.
Demikian juga Tuhan. Allah telah menganugerahkan kita segala kudrat. Dengan kudrat serta akal, Allah menyuruh kita berusaha mendapatkan apa yang kita minta (melalui doa) kerana Allah telah pun memberikan permintaan kita itu (Insya-Allah).
Namun, tidak semua yang kita doakan itu akan Allah berikan. Di sinilah tawakal berperanan.
Tawakal bermaksud menerima dengan redha segala yang telah Allah kurniakan. Tawakal juga menyakini hikmah di sebalik semua yang terjadi. Ada sebab kenapa Allah tidak memakbulkan doa kita.
Sebab yang tentunya untuk kebaikan kita. Dengan tawakal juga, kita tidak akan merasa terlalu kecewa apabila Allah tidak mengabulkan doa kita kerana kita telah yakin akan hikmah di sebalik semuanya.
Apa kaitannya DUIT dengan takdir mu'allaq?
(Pemikiranku yang hanya sejengkal tentang agama ini menerbitkan pertanyaan. Temanku tidak terus menjawab, sebaliknya menceritakan aku suatu kisah sebagai contoh).
Ada seorang gadis menjumpai duit sebanyak 300 ringgit. Semasa dia menjumpai duit itu, tidak ada sesiapa bersamanya. Sudah pasti, seandainya dia mengambil duit itu tidak ada sesiapa pun tahu.
Dia mula berfikir, sama ada mangambil duit itu ataupun membiarkan sahaja. Di sini gadis itu mempunyai banyak pilihan. Melalui pilihan yang dia pilih itulah yang akan menentukan takdirnya.
Satu perkara yang perlu diketahui, takdir mu'allaqq lebih dahulu ditulis sebelum takdir mubram. seandainya gadis itu memilih untuk mengambil duit itu, maka takdir mubram akan tertulis gadis itu sebagai pencuri.
Takdir mubram tidak dapat diubah lagi kerana gadis itu telah mengambil duit yang bukan miliknya. Maka, atas kesalahan mencuri itulah gadis itu akan dihukum.
Tetapi, atas dasar cinta dan kasih Allah, gadis itu tidak terus dihukum malah diberikan kesempatan untuk menginsafi perbuatannya.
Di sini doa juga memainkan peranan. Dalam kekeliruan, gadis itu berdoa. Memohon kepada Allah untuk ditunjukkan kepadanya hidayah.
Dengan izin Allah, gadis itu mendapat ilham untuk mengembalikan duit 300 ringgit itu ke balai polis.
Oh... begitu rupanya. Hari ini baru aku tahu takdir itu ada juga yang boleh diubah dengan 'DUIT'?
Menyedari hakikat itu, kini semuanya terletak di tangan kita. Memang Allah telah menulis takdir kita, namun kita juga boleh meminta untuk menjadi yang lain. Kita masih diberikan peluang untuk menjadi yang baik. Selagi kita bernafas, selagi kita diberikan hidup, selagi itulah peluang ada untuk kita.
Lihatlah sahabat, betapa Tuhan juga punya toleransi. Sebesar mana dosa yang kita lakukan, selagi kita hidup selagi itulah pintu keampunan Allah terbuka luas untuk kita. Kita hanya perlu tepuk dada dan tanya hati kita.
Namun yang sedihnya, apabila ada antara kita yang merasa layak untuk menghukum. Dan sebilangan besar dari kita sukar untuk memaafkan.
Terlalu sukar untuk memberikan peluang kepada insan lain untuk berubah. Apakah kita sudah merasa setaraf dengan Tuhan untuk menghukum orang lain tanpa memberikan peluang?
Ya Allah, betapa singkatnya pemikiranku selama ini. Aku mencari-cari bukti cinta-Mu dari semua musibah yang menimpahku. Tetapi sukar untuk aku mendapatkannya kerana kejahilanku tentang sifat-Mu.
Terima kasih ya Allah atas kekeliruan ini kerana jika tidak kerana kekeliruan ini, tidak akan terlintas di benakku untuk mengenali-Mu dengan lebih dalam.
Semakin aku mengenali-Mu aku semakin yakin dengan kasih-MU.
-Artikel Iluvislam.com

Kisah Itik dan Kura-kura

Terdapat dua ekor itik dan seekor kura-kura yang bersahabat baik tinggal di suatu kawasan yang semakin kering dek kemarau panjang. Binatang-binatang yang bermastautin di situ telah lama meninggalkan tempat tersebut memandangkan semakin hari semakin sukar untuk mendapatkan makanan dan minuman. Semua kolam kering dan tumbuh-tumbuhan semakin kekuningan dimamah sinaran mentari yang hangat membahang.
Disebabkan keadaan semakin mendesak, maka dua ekor itik itupun telah berpakat dan mengambil keputusan untuk berpindah ke kawasan yang lebih lembab dan berair. Kura-kura berasa risau memandangkan sahabat baiknya ingin meninggalkan tempat tersebut. Dengan keadaannya yang bergerak lambat dan tidak boleh terbang seperti mereka, agak mustahil untuk dirinya mengikuti jejak langkah mereka. Maka dia pun berkatalah kepada kedua-dua ekor itik tersebut.
"Kalian hendak berpindah, nanti aku akan mati kekeringan di sini. Aku tidak mampu terbang mengikutimu mencari tempat yang lebih baik. "
"Hmmm.. betul juga kata kamu Si Kura-Kura. Owh, tidak mengapa jika kamu mahu, kami boleh membantu kamu untuk sama-sama berpindah," ujar salah seekor itik tersebut setelah berfikir seketika.
"Bagaimana?" balas kura-kura kembali.
"Kami berdua akan menggigit sebatang kayu dan kamu juga mesti menggigit kayu itu untuk sampai ke destinasi kita dengan selamat. Bagaimana, kamu setuju?" Soal itik.
"Owh, kalau begitu aku setuju," kura-kura memberi persetujuan tanpa berbelah bagi.
Maka terbanglah kedua-dua ekor itik itu mencari tempat tinggal baru bersama kura-kura. Tiba-tiba sedang melalui suatu kawasan, ada beberapa orang budak nakal yang mengejek kura-kura.
"Hei kura-kura! Ada hati nak terbang tinggi. Engkau tu dah memang semulajadinya tidak boleh terbang, ada hati nak terbang tinggi macam itik. "
Kura-kura berasa geram dan marah dengan ejekan tersebut, tetapi dia masih tidak berkata apa-apa kerana dia tahu jika dia membuka mulut pasti dia akan terjatuh.
Kedua-dua itik tersebut terus terbang meninggalkan mereka tanpa mempedulikan ejekan budak-budak itu. Setelah penat terbang mencari destinasi impian, mereka melalui satu lagi kawasan yang dipenuhi dengan budak-budak yang sedang bermain. Mereka begitu kagum dengan keberanian dan kesungguhan kura-kura.
"Kura-kura, kami kagum dengan semangat yang ditunjukkan oleh kamu. Walaupun kamu tidak boleh terbang, tetapi kamu berusaha dengan gigih dan mahu ditolong oleh sahabat-sahabat mu, " jerit mereka kepada kura-kura.
Disebabkan teruja dengan pujian budak-budak tersebut, maka kura-kura pun membuka mulutnya untuk menjawab pujian budak-budak itu.
'ALHAMDULILLAH, aku ingin pergi ke tempat yang lebih baik dan berair bersama itik-itik"
Sebelum sempat menghabiskan kata-katanya, maka jatuhlah kura-kura itu ke atas tanah dan berkecailah badannya.
Begitulah berakhirnya kisah Itik dan Kura-Kura. Apabila dikeji, dihina, kura-kura begitu kuat tetapi kura-kura yang dulu bersemangat kental akhirnya mati menyembah bumi dek kerana sedikit pujian.
Begitu juga dengan kita, kita akan kuat apabila dihina dan diberi pelbagai tohmahan tetapi kita mudah terbuai dengan puji-pujian. Dalam kehidupan ini, kita janganlah cepat lemah dengan kejian, dan cepat riak dengan hanya sedikit pujian.Sebaliknya sentiasa bersyukur dan jadikan setiap kejian, umpatan dan fitnah tersebut sebagai sumber kekuatan kita untuk terus berjaya. Dan jika kita dipuji, janganlah pula berasa riak. Sebaliknya kembalilah segala pujian tersebut kepada-Nya, kerana tanpa keizinan-Nya tidak mungkin kita mampu memiliki apa yang kita usahakan.
Awal pujian adalah lembah kehinaan. Janganlah kita mudah terbuai dengan pujian yang diberikan, kelak kita yang akan binasa.
- Artikel iluvislam.com

ALLAH Mendengar Isi Hatimu...

Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Alhamdulilah gaji ku masuk jua akhirnya. Inilah kali pertama aku bekerja selepas menamatkan pengajian. Aku sudah niat gaji yang pertama ku ini akan akan aku sedekahkan untuk rumah anak-anak yatim.
Selama berbulan, aku masih belum mempunyai kesempatan untuk pergi ke rumah anak yatim yang memang hati ini mendambakan untuk berbakti di sana.
Aku berdoa kepada Allah supaya aku dapat pergi ke rumah mereka. Bagi ku anak yatim juga adalah tanggungjawab kita. Aku ingin menyayangi mereka seperti keluarga ku sendiri. Hati ini terpanggil untuk pergi ke sana. Di kampus dulu, dapat aku melihat keletah mereka semasa program anak yatim. Sekarang sejak bekerja, aku masih belum dapat menyusun jadual bertemu mereka. Aku berdoa moga Allah mempertemukan aku dengan mereka. Aku ingin  menyayangi mereka. Malah, Bukhari meriwayatkan:
Daripada Sahl bin Sa'ad R.A, bahawa Rasulullah S.A.W bersabda: Maksudnya: "Aku dan orang yang menyantuni anak yatim kelak di Syurga seperti ini," lalu memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dengan sedikit merenggangkannya. [Riwayat al-Bukhari no 5304]
Pada petang Jumaat, pintu rumah ku di ketuk. Ada seorang budak lelaki berbaju melayu putih umur dalam lingkungan 10 tahun datang. Ibu ku pantas keluar. Aku hanya memandang dari dalam, hatiku dapat merasakan seolah-olah  anak itu datang untuk mengutip derma. Ya Allah... Aku bersyukur kepadamu. Aku terus mencapai wang kertas yang ku simpan erat di genggaman tangan ku.
Ibu terus muncul di depan pintu, "Kasihan anak yatim tadi jauh datang dari selatan tanah air katanya rumah anak yatim mereka baru dibuka, mereka memerlukan kelengkapan untuk keperluan asas," kata ibuku. Aku lantas memberikan ibuku wang kertas tersebut.
Ibuku lantas memberikan kepada anak yatim tersebut. Anak yatim tersebut memberikan pula sekeping CD himpunan surah-surah lazim dari bacaan Ustaz Kazim Elias. Aku bersyukur Ya Allah... Alhamdulilah kerana mendengar isi hatiku ini. Hajat ku tercapai jua akhirnya. Kuasa Allah mengatasi segala-galanya. Hati ini berdetik aku tinggal di barat tanah air sedangkan anak yatim tadi dari selatan tanah air. Ya Allah. Maha Besar.
Mengenang kembali setiap perkara yang berlaku. Setiap apa yang kita lahirkan dan sembunyikan dalam hati ini. Tiada apa pun yang tersembunyi oleh Allah. Allah Maha Melihat dan  Maha Mendengar setiap  yang terbuku di hati ini. Oleh itu, kita haruslah sentiasa berdoa memohon kepada Allah. Beritahulah segala isi hati kita kepada Yang Maha Mencipta. Moga kita sentiasa di dalam rahmat kasih sayang-Nya.
"Segala yang ada di langit dan bumi adalah kepunyaan Allah. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hati kamu atau kamu sembunyikannya, nescaya Allah akan menghitung dan menyatakannya kepada kamu. Kemudian Ia mengampunkan bagi sesiapa yang dikehendaki-Nya dan menyiksa sesiapa yang dikehendaki-Nya (menurut undang-undang peraturan-Nya). Dan (ingatlah), Allah Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu."  (Surah Al-Baqarah: 284)
-Artikel iluvislam.com

BELAJAR Untuk Menerima

Hidup ini semakin hari semakin banyak pula dugaan. Dugaan semalam belum lagi tamat, datang pula dugaan dan cubaan pada hari ini. Namun, sebenarnya tanpa kita sedari dugaan tersebut sebenarnya telah mengajar kita. Mengajar kita erti menerima.
Setiap anak Adam di atas muka bumi ini telah ditentukan Allah ajalnya, rezekinya, jodohnya dan menjadi orang yang sengsara ataupun sebaliknya sejak azali lagi. Sebagai contoh:
Hari ini Aminah makan nasi goreng dan air laici, malamnya pula Aminah makan mee goreng dan air masak. Jadi, di sinilah ketentuan Allah bahawa rezeki Aminah dari segi makanan, minuman dan sebgainya telah ditetapkan baginya.
Begitu juga rezeki dari segi Belajar. Sebagai contoh: Aminah merupakan pelajar SK. Fakeh Abdul Samad, setelah itu dia melanjutkan pelajaran ke SMK. Seri Mahkota. Kemudian tamat sahaja SPM, dia melanjutkan pelajaran ke Kolej Matrikulasi Negeri Sembilan dan kemudian menyambung pelajaran ke Universiti Malaysia Terengganu. Ini semua merupakan ketetapan Allah kepada setiap hamba-Nya. Suatu ketentuan yang telah ditetapkan sejak azali lagi.
Ketika Aminah di sekolah, matriks dan universiti banyak pula cabaran dan dugaan yang diberikan Allah sesuai dengan kesanggupannya. Segala dugaan dan cabaran yang ditempuhi haruslah diiringi dengan kesabaran dan kecekalan. Bagaimana untuk menerbitkan rasa sabar?
Rasa sabar insya-Allah dapat dilahirkan apabila seseorang itu belajar untuk menerima. Belajar untuk menerima segala ketentuan Allah. Apabila seseorang itu menerima segala dugaan Allah dengan sabar. Maka ganjaran yang besar akan diperolehi di dunia bahkan ganjaran yang sangat besar di Akhirat.
Usahlah khuatir, kerana Allah Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya. Segala kesusahan yang kita hadapi moga dapat memberi suatu hasil yang lumayan di dunia dan di Akhirat kelak.
"Bersama kesusahan ada kesenangan, sesungguhnya bersama kesulitan ada kesenangan." [al-Insyirah, ayat 5 dan 6]
Usaha, Doa, Tawakal dan Redha
Bagaikan suatu formula pula. Usaha + Doa + Tawakal + Redha = TENANG. Sudah pasti ketenangan dapat dihasilkan apabila menggunakan bahan-bahan seperti Usaha, tanpa usaha kita tidak mungkin berjaya (dengan izin-Nya), kerana Allah tidak menyukai hamba-Nya yang selalu berdoa tetapi langsung tidak berusaha, sebagai contoh:
Ali sangat lapar ketika itu, dia terus berdoa kepada Allah agar memberinya makanan. Namun begitu, dia langsung tidak berusaha untuk mendapatkan makanan.
Allah tidak akan mengubah keadaan sesuatu kaum itu melainkan dia berusaha untuk mengubahnya sendiri. Ya, USAHA!
Doa merupakan senjata orang Mukmin, berdoalah dan jangan sombong! Allah tidak menyukai hamba-Nya yang sombong iaitu yang selepas selesai solat, langsung tidak berdoa meminta kepada Allah.
Setelah kita masukkan bahan usaha + doa, kita campurkan pula ramuan Tawakal. Tawakal bererti berserah kepada Allah.
Bahan yang terakhir adalah Redha, sebagai contoh apabila seseorang itu memperoleh keputusan peperiksaan yang tidak cemerlang, seharusnya dia redha, walaupun dia sudah berusaha dan berdoa sehabis mungkin. Bersangka baiklah pada Allah S.W.T kerana Dia lebih mengenali diri kita berbanding, kita mengenali diri sendiri. Dia Maha Mengetahui apa yang terbaik buat hamba-hamba-Nya.
Maka,apabila kita redha. Bahan-bahan tersebut telah membuatkan kita mencapai tahap REDHA.
Insya-Allah
Wallahualam
- Artikel iluvislam.com

Iktibar dari Penciptaan Manusia

"...(Allah) yang mengetahui apa yang ada di hadapan mereka dan apa yang ada di belakang mereka, sedang mereka tidak mengetahui sesuatu pun daripada (kandungan) ilmu Allah melainkan apa yang Allah kehendaki (memberitahu kepadanya)." - Surah Al-Baqarah: Ayat 255
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang Maha Agung. Mengikut kamus Dewan Bahasa dan Pustaka, manusia ialah makhluk yang mempunyai akal budi.
Jika diperincikan lagi maksudnya, akal daripada aspek manusia bermaksud dapat berfikir, manakala budi pula bermaksud kebijaksanaan.
Jadi bolehlah dirumuskan secara ringkas dan umum daripada segi bahasa, bahawa manusia itu adalah makhluk yang dapat berfikir dengan bijaksana.
Penciptaan Manusia
Dalam Al-Quran telah diterangkan mengenai asal penciptaan manusia yang bermula daripada tanah (Nabi Adam a.s.) kemudian seterusnya seperti mana firman Allah s.w.t.:
"Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia daripada suatu sari pati (berasal) daripada tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kukuh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik." - Surah Al-Mu'minun: Ayat 12-14
Perlu diingat bahawa asal penciptaan manusia di dalam Al-Quran bukanlah sebuah teori atau sangka-sangka manusia.
Ini adalah hakikat penciptaan manusia yang sebenar oleh Allah yang Maha Pencipta dengan sebaik-baik ciptaan-Nya.
Malahan Allah yang Maha Agung juga mampu mencipta sesuatu yang lebih baik dari manusia.
"Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." - Surah Al-Mu'min: Ayat 57
Maka mengapa manusia perlu sombong? Sombong dalam segala aspek kehidupan, daripada segi hartanya, keluarganya, pangkat dan kekuasaannya dan ilmunya.
Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia daripada tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya daripada saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." - Surah As-Sajadah: Ayat 7-9
Sekiranya manusia merasakan dirinya hebat dengan adanya pangkat dan kekuasaan, sila perhatikan daripada apa ia diciptakan?
Bukankah sperma melalui zakar yang berkongsi dengan air kencing?
Manusia berkongsi tempat dengan saluran najis kencing, hinakah manusia?
Tidak kira siapa pun juga, Presiden Amerika, Russia, China mahupun Sultan, Perdana Menteri hatta para Nabi a.s. sekalipun melalui proses yang sama kecuali Nabi Adam a.s., Hawa dan Nabi Isa a.s.
Akan tetapi, Allah yang Maha Agung telah mengangkat manusia menjadi makhluk yang mulia dan memberi gelaran yang terbaik. Pangkat yang terbaik dan mengatasi segala gelaran atau pangkat yang diberikan oleh manusia.
Pangkat dan gelaran terbaik itu selain para Nabi dan Rasul, adalah Muslim dan kemuliaan yang paling mulia adalah manusia yang paling bertakwa di sisi Allah yang Maha Agung.
Perlu diingat, manusia tidak dapat mengatasi ketakwaan para Nabi dan Rasul kerana mereka adalah maksum.
"...Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal." - Al-Hujuraat: Ayat 13
Tujuan Manusia Diciptakan
"Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi. Mereka berkata: Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerosakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau. Tuhan berfirman: Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui." - Surah Al-Baqarah: Ayat 30
Dalam ayat di atas diterangkan tujuan manusia diciptakan adalah untuk dijadikan khalifah di muka bumi.
Dalam tafsir Ibn Katsir, ayat "menjadikan seorang khalifah" bukan sahaja bermaksud untuk melantik pemimpin dalam kalangan manusia, malahan Allah berkehendak melantik para Nabi dan Rasul.
Selain itu, Allah juga berkehendak menjadikan di antara manusia itu para syuhada, orang-orang soleh, wali-wali, ulama-ulama dan secara umumnya orang yang mencintai Allah serta orang-orang yang mengikuti para rasul-Nya.
Apa yang paling utama adalah Allah yang Maha Penyayang mahu memberi kenikmatan syurga kepada hamba-Nya yang ingin menikmati syurga.
Jadi, adakah kita benar-benar menepati tujuan kita diciptakan?
Adakah kita benar-benar mencintai Allah yang Maha Agung dan mengikuti apa yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w.?
Adakah kita benar-benar mahukan nikmat syurga?
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku." - Surah Adz-Dzariyat: Ayat 56
Dalam ayat di atas, Allah secara jelas menerangkan tujuan penciptaan jin dan manusia, iaitu untuk menyembah-Nya. Tidak boleh dipersoalkan lagi.
Mengikut Ibn Abas r.a., tidak diciptakan mereka (jin dan manusia) itu, kecuali untuk tunduk (patuh) beribadah kepada Allah secara sukarela atau terpaksa.
Dalam tafsir Ibn Katsir juga menerangkan sedemikian dan ditambah, manusia disuruh beribadah kepada-Nya dan bukan kerana Aku (Allah yang Maha Tinggi) memerlukan mereka (manusia).
Jadi, adakah kita benar-benar memerlukan Allah atau kita memerlukan selain-Nya?
Adakah kita lebih memerlukan pangkat, harta dan segala jenis keindahan di dunia melebihi rahmat dan penjagaan Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang?
"Apakah manusia mengira, bahawa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?" - Surah Al-Qiyaamah : Ayat 36
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia daripada setitis mani yang bercampur, yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), kerana itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat." - Surah Al-Insaan: Ayat 2
Manusia diberi ujian berupa tanggungjawab melaksanakan perintah dan menjauhi larangan di bumi sebelum diadili di akhirat, iaitu penentu sama ada masuk syurga atau neraka.
"Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?" - Surah Al-Mu'minuun: Ayat 115
Penciptaan Anggota Badan
"Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang, dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." - Surah Al-Infithaar: Ayat 7-8
Allah yang Maha Penyayang telah menciptakan manusia dengan tubuh badan yang sempurna, seimbang dan rupa yang menarik.
Malah keupayaan berfikir otak termasuk bahasa dan percakapan juga telah sempurna semenjak penciptaan Nabi Adam a.s.
"Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." - Surah Al-Tin: Ayat 4
Anggota badan telah diletakkan sesuai pada tempatnya dan mudah digunakan. Jari-jari yang fleksibel, mata yang dilengkapi alis mata dan semua penciptaan asal dari Allah telah sempurna dan sesuai pada tempatnya. Samakah penciptaan anggota tiruan manusia dengan penciptaan original oleh Allah yang Maha Agung?
  1. Manakah yang lebih baik antara tangan tiruan ciptaan manusia dengan tangan original ciptaan Allah? Jawapan: Tentulah yang original.
  2. Manakah yang lebih baik antara kaki tiruan ciptaan manusia dengan kaki original ciptaan Allah? Jawapan: Tentulah yang original.
  3. Manakah yang lebih baik antara pendengaran (telinga) dan penglihatan (mata) tiruan ciptaan manusia dengan mata dan telinga original ciptaan Allah? Jawapan: Tentulah yang original.
  4. Manakah yang lebih baik antara hukum tiruan ciptaan manusia dengan hukum original (Al-Quran) ciptaan Allah? Jawapan: Jawablah dengan penuh kejujuran dan keikhlasan. Nikmat manakah yang hendak kita dustakan lagi?
Persoalan
Antara Sifat-Sifat Semula jadi Manusia
01.Mengakui Kewujudan Tuhan
Semua manusia telah diciptakan oleh Allah berada dalam keadaan mengakui akan kewujudan yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu sama ada secara sedar atau tidak.
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui..." - Surah Ar-Ruum: Ayat 30
Disebabkan oleh manusia sudah fitrahnya (fitrah disini bermaksud pembawaan atau sifat-sifat semulajadi) mengakui akan kewujudan Tuhan, maka manusia perlu mencari bagaimana memohon (mengadu nasib, melepaskan diri dari kesulitan dan sebagainya) kepada Tuhan.
Maka diutuskan para Rasul untuk memberi penjelasan kepada manusia mengenai Tuhan yang wajib disembah dan sebenar-benar tempat bermohon, iaitu hanya menyembah Allah yang Maha Esa dan tidak mensyirikkannya (agama tauhid).
Oleh sebab itu, wajiblah bagi manusia untuk menuntut ilmu. Ilmu yang diajarkan oleh para Nabi dan Rasul supaya tetap di jalan agama Allah yang lurus dan tidak terjerumus dalam kesyirikan dan melanggar fitrah yang ditetapkan oleh Allah yang Maha Agung.
Perumpamaannya, seperti fitrah bumi dan bulan yang beredar dalam orbitnya.
Andai kata bumi dan bulan melanggar sifat semulajadinya, pasti hancur keduanya berlanggar sesama sendiri.
Begitu juga manusia, jika melanggar fitrahnya, maka porak perandalah sistem kehidupan.
02.Dorongan Fisiologi
Dorongan fisiologi disini bermaksud pentadbiran sistem badan tanpa sedar atau tanpa perlu berfikir dan tanpa kehendak. Ini adalah salah satu nikmat terbesar daripada Allah dan sangat diperlukan oleh manusia untuk meneruskan kehidupan dan mengembangkan populasi manusia di muka bumi.
Sesungguhnya Allah Maha Teliti ciptaan-Nya.
"Musa berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk." - Surah Thaahaa: Ayat 50
a. Contohnya, perjalanan sperma, jantung yang berdegup, kefungsian buah pinggang, kelenjar pituitari, sistem pernafasan dan pelbagai lagi nikmat yang dikurniakan kepada manusia secara semulajadi tanpa manusia perlu berfikir untuk melakukan itu semua.
Persoalannya, berapa ramaikah di antara manusia pernah bersyukur akan nikmat jantung, buah pinggang, hormon dan pelbagai lagi nikmat-Nya?
Pernahkah walau sekali ketika selepas solat kita berdoa agar Allah yang Maha Penyayang mengekalkan nikmat mata yang berkelip, jantung yang berdegup atau sekurang-kurangnya mengucapkan syukur atas nikmat yang tidak terhingga ini?
b. Termasuk dalam dorongan fisiologi adalah nafsu. Nafsu bermaksud dorongan hati atau keinginan yang kuat. Kadangkala kita juga memerlukan kehendak, contohnya apabila lapar, perut perlu diisi. Maksudnya kita tidak perlu berfikir samada perlu lapar atau tidak. Ia berlaku secara semulajadi.
"(Nabi Yusuf a.s berkata) Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." - Surah Yusuf: Ayat 53
Ini bermaksud nafsu itu adalah rahmat dan nikmat kepada manusia, tetapi dorongan hati yang kuat untuk melakukan kemaksiatanlah antara punca kejahatan dan ia dipanggil hawa nafsu.
Apa yang paling penting adalah, manusia perlu mengenal dan memahami perbezaan nafsu dan hawa nafsu dan bukan memeranginya, tetapi mengendalikannya kerana ia sebahagian daripada fitrah manusia.
Bagaimana mungkin kita memerangi fitrah Allah yang Maha Pencipta segala sesuatu?
Ciptaan Allah yang Maha Agung adalah sempurna dan tiada kekurangan sebesar zarah sekalipun; mahupun yang lebih kecil daripada itu. Setelah menciptakan, Dia tidak pula membiarkannya begitu sahaja seperti di dalam ayat di bawah:
"Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan bulan apabila mengiringinya, dan siang apabila menampakkannya, dan malam apabila menutupinya (gelap-gelita) dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya." - Surah Asy-Syams: Ayat 1-10
Oleh sebab manusia diberikan nafsu, maka diilhamkan kepada manusia jalan kefasikan dan ketakwaan. Maksudnya dalam tafsir Ibn Katsir adalah 'diberi kefahaman kepada manusia mengenai jalan kebaikan dan keburukan'.
Jadi, manusialah yang memilih mahu berbuat kebaikan atau keburukan berdasarkan tahap pengendalian nafsunya.
Sumpah Allah yang Maha Agung dalam ayat di atas dimulakan dengan penciptaan yang lebih besar daripada penciptaan manusia, iaitu penciptaan alam semesta serta penciptaan langit dan bumi serta memberi peringatan kepada manusia bahawa segala sesuatu adalah ciptaan Allah yang Maha Agung termasuk jalan kefasikan dan ketakwaan.
Sila perhatikan akhir Surah Asy-Syams bagaimana orang yang cenderung mengikut hawa nafsu mengakhiri hidupnya.
03.Dorongan Kerohanian atau Spiritual
"Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya kerana mencari keredaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat." - Surah Al-Baqarah: Ayat 265
Manusia fitrahnya menyukai kebaikan, ketenteraman, rasa kasih sayang, hatta penganiaya, perompak atau orang yang zalim seumpamanya juga mahukan kebaikan, kasih sayang dan suasana yang harmoni.
Contohnya, seorang pencuri akan berasa marah bila barangannya sendiri dicuri atau peragut juga akan berasa marah jika dia sendiri diragut serta penjajah juga akan berasa marah bila negaranya sendiri dijajah. Ini adalah fitrah manusia yang sentiasa inginkan kebaikan.
Dalam Surah Al-Baqarah, ayat 265 di atas diterangkan, manusia yang membelanjakan hartanya di jalan Allah yang Maha Agung dan benar-benar yakin akan pahala amal perbuatannya itu (Rujukan Ibn Katsir).
Daripada aspek lain, manusia berusaha memenuhkan atau memuaskan keperluan rohaninya dengan cara berbuat perkara-perkara kebaikan.
Persoalannya, jika manusia secara semulajadi inginkan kebaikan, mengapa ramai manusia yang berbuat kejahatan? Apakah yang memperdayakan manusia sehingga derhaka kepada Allah yang Maha Tinggi?
Jawapan : Ini disebabkan manusia terpedaya dengan hasutan syaitan yang memang membenci dan bersumpah untuk menyesatkan semua manusia. Manusia juga gagal melawan hasutan syaitan kerana kegagalan mengendali hawa nafsunya dan kegagalan mengendali hawa nafsu pula disebabkan tiada ilmu (Rujuk artikel Tipu Daya Iblis Zaman Ini dan Tujuan Menuntut Ilmu).
Antara Sikap dan Perangai Manusia
1. Tergesa-gesa
"Manusia telah dijadikan (bertabiat) tergesa-gesa. Kelak akan Aku perIihatkan kepadamu tanda-tanda azab-Ku. Maka janganlah kamu minta kepada-Ku mendatangkannya dengan segera."Surah Al-Anbiyaa': Ayat 37
Manusia bersifat tergesa-gesa dalam pelbagai urusan harian termasuk juga dalam hal keagamaan. Contohnya dalam berdoa, solat dan lain-lain.
2. Berselisih Pendapat
"Manusia dahulunya hanyalah satu umat, kemudian mereka berselisih. Kalau tidaklah kerana suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka, tentang apa yang mereka perselisihkan itu." - Surah Yunus: Ayat 19
Berselisih pendapat dan kepelbagaian pendapat mempunyai maksud yang berbeza.
Berselisih pendapat bermaksud bersengketa atau tiada muafakat serta berpecah belah.
Manakala kepelbagaian pendapat bermaksud berbagai-bagai atau bermacam cara.
Contohnya, kepelbagaian pendapat para sahabat radiyallahu anh dan para ulama mazhab terdahulu adalah berdasarkan pemahaman mereka dalam Al-Quran dan Hadis dan semua pendapat mereka adalah benar.
"Manusia itu adalah umat yang satu. (Setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, iaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, kerana dengki antara mereka sendiri..." - Surah Al Baqarah: Ayat 213
Tetapi, bukankah Allah yang Maha Agung yang menciptakan jalan kefasikan dan ketakwaan? Mengapakah Allah yang Maha Agung mencipta perselisihan pada hamba-Nya?
Perlu diingat segala perkara yang manusia gelar sebagai kebaikan mahupun keburukan adalah datang dari Allah yang Maha Agung, kebaikan adalah rahmat-Nya, keburukan juga rahmat-Nya sebagai ujian pada manusia, seperti dalam,
"...Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, nescaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlumba-lumbalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka (iaitu orang yang bersepakat membuat hukum sendiri dan meninggalkan Al-Quran dan As-Sunnah)." - Surah Al-Maa'idah: Ayat 48-49
Ayat di atas juga adalah satu perintah agar tetap berpegang pada Al-Quran dan As-Sunnah dan tidak membuat keputusan berdasarkan logik yang terdorong oleh hawa nafsu semata-mata terutama mengenai prinsip-prinsip Islam termasuk dari segi struktur pemerintahan, perundangan, pendidikan, sistem kemasyarakatan, ekonomi dan kerohanian.
Kecacatan salah satu dari sistem tersebut bermakna keruntuhan tamadun atau khilafah Islam.
Ini bermakna, salah satu cara asas dan umum bagi mewujudkan kembali khilafah Islam dan menyatukan umat Islam adalah dengan kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah dengan sebenar-benar pemahaman (pemahaman sahabat r.a., tabiin dan tabiut tabiin), bukan pemahaman sendiri dan logik akal semata-mata, malah agama tidak didasari dengan logik sepenuhnya kerana akal manusia terbatas.
04.Zalim dan Bodoh
"Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khuatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh..." - Al Ahzab: Ayat 72
Amanat seperti ayat di atas mengikut Tafsir Ibnu 'Abbas r.a bermaksud ketaatan atau perintah dan larangan.
Sebelum ditawarkan kepada Nabi Adam a.s, ditawarkan kepada langit, bumi dan gunung-ganang, tetapi ditolak kerana takut melanggar perintah Allah yang Maha Agung. Setelah itu Allah yang Maha Agung menawarkan kepada Nabi Adam a.s dan diterima oleh Nabi Adam a.s. Firman-Nya kepada Nabi Adam a.s,'Jika engkau berbuat baik, engkau diberi balasan, jika berbuat buruk, engkau akan disiksa.' - Rujukan tafsir Ibn Katsir.
Maksud manusia menjadi zalim dan bodoh kerana setelah tahu wujudnya syurga dan neraka, mereka tetap mahu mencari jalan menuju ke neraka dan setelah nampak kebenaran mereka memilih kesesatan. Mohon semoga Allah yang Maha Penyayang melindungi kita dari azab api neraka. Hanya kepada Allah yang Maha Penyayang kita mohon pertolongan.
05.Mengeluh dan Kikir 
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir." - Surah Al-Ma'aarij: Ayat 19
Dari Abu Hurairah r.a : Rasulullah saw bersabda, "Seburuk-buruk perangai yang ada pada seseorang ialah sifat bakhil lagi gelisah dan sifat pengecut lagi pasif."
Riwayat Imam Ahmad dan Abu Daud, dinukil daripada tafsir Al-Munir.
Sebenarnya terlalu banyak untuk diterangkan mengenai sikap dan perangai manusia serta sifatnya seperti lemah, lalai, dengki, berbantah-bantah dan sebagainya.
Manakala sikap dan perangai manusia yang baik adalah lawan pada keburukannya.
Kesimpulan
Bersyukur kita kepada Allah yang Maha Agung yang telah menciptakan manusia dan menyempurnakannya.
Janganlah kita melanggar fitrah yang telah ditetapkan kerana perlanggaran itu boleh membawa kemudaratan yang besar pada manusia seperti yang terjadi pada umat Islam kini.
Semoga Allah yang Maha Agung menyatukan umat Nabi Muhammad saw dan memenangkan kaum muslimin terhadap orang-orang kafir. Segala puji-pujian bagi Allah yang Maha Agung.
"Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Asmaaul Husna. Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." - Surah Al-Hasyr: Ayat 24

ALLAH ~ Kenapa Aku didalam NERAKA???

Tuhan, kenapa aku masih berada di sini? Bukankah aku dahulu selalu bersedekah di masjid-masjid? Bukankah aku dahulu sentiasa membantu sahabat-sahabatku yang kesusahan? Bukankah aku dahulu sentiasa memberi peringatan kepada sahabat-sahabatku? Kenapa aku masih ada di Neraka-Mu ini?
Tuhan, mana pergi amalan-amalan baik yang aku lakukan dahulu? Tidakkah aku telah menggunakan kudratku untuk jalan dakwah? Oh Tuhan. Dengarlah rintihan aku ini.
(Tiba-tiba)
Tangannya terangkat dan berkata, "Aku dahulu memasukkan duit ke dalam tabung kerana aku inginkan pujian sahabat-sahabatku terutamanya mereka yang berlainan jantina denganku."
Kakinya tiba-tiba bersuara,'aku berjalan pergi berdakwah semata-mata ingin menonjolkan diriku di hadapan orang lain bahawa aku ini seorang yang Alim dan Soleh. Aku ingin manusia melihat betapa aku ini hebat berdakwah dan kaya dengan ilmu agama.'
Mulutnya tiba-tiba menyanggah, 'ah, kau ni. Kononnya mulut kau ini kau gunakan untuk mengingatkan sahabat-sahabat kau, tetapi hakikatnya kau tidak mengamalkannya! Kau suruh orang jauhi zina tetapi kau dengan mudah ber'chit chat' dengan teman-temanmu yang berlainan jantina dan bercakap perkara-perkara yang tidak sepatutnya! Kau suruh orang bersedekah dan berbuat baik, tetapi diri kau? Pernah kau cerminkan diri kau? berapa banyak harta kau yang kau laburkan untuk Akhirat? dan berapa peratus nilai keihklasanmu di dalamnya?
Telinga yang hanya mendengar dari tadi turut tidak melepaskan peluang.'Hey hey, nanti dulu. Kau jangan lupa, telinga kau ni, kau gunakan untuk apa? Ingat tidak pada suatu ketika dahulu, kau menggunakannya untuk mendengar lembut suara si dia yang bukan muhrim mu? Apa kau sudah lupa ketika nafsu kau sudah menewaskan akal dan Iman mu, kau asyik dalam kecintaan kau pada dia yang tidak halal bagimu? Apa kau ingat semua ini bukan dosa? Mana perginya tazkirah yang kau beri dahulu kepada teman-temanmu? Apa yang kau ingatkan mereka? Sudah lupa? Kau mengatakan La Takrabu Zina. Punya kau bersemangat memberi ceramah mengenai bahaya pujuk rayu Syaitan, tetapi mengapa kau yang tertewas dengan pujuk rayu si Durjana tu?
Hati yang kehitam hitaman tiba-tiba mencelah, "itulah kau manusia. Sudah kerugian kau di sini bukan? Bukankah Guru-guru mu sentiasa berpesan, pastikan kau lakukan sesuatu dengan niat yang ikhlas. Bukankah kau sudah tahu benar segala amalan tanpa niat yang ikhlas umpama buih di lautan. Segala kebaikanmu itu habis hancur berkecai. Dahulu bila kau dianugerahkan dengan nikmat yang banyak, kau lupa diri.
Kau sombong! Keihklasanmu lenyap sekelip mata. Syukur mu kian menipis. Bongkak mu kian meninggi. Apa kau sudah lupa hakikatnya kau cuma manusia lemah ciptaan Si Maha Besar? Bukankah sifat sombong hanya milik mutlak Allah? Kau tahu bukan si durjana Iblis dihalau dari Syurga kerana kesombongannya? Si Firauan binasa kerana bongkaknya? Si namrud dihina kerana takburnya? Jadi kenapa kau tidak belajar dari pengajaran ini?
Betapa dirimu rugi hari ini wahai manusia. Andai didunia dahulu kau mengamalkan ilmumu, pasti kau bahagia sekarang. Tetapi, seperti kau tahu, There is no turn Back! Sekarang rasailah azab dari Allah ini bersama - sama dengan kami," kata si iblis dan kaumnya.
Tiba-tiba tersedarku dari mimpi. Astarfirullah. Saat itu, terbayang-bayang difikiranku akan Surah Yassin ayat 65 :
"Pada waktu itu Kami meteraikan mulut mereka (sejurus); dan (memberi peluang kepada) tangan-tangan mereka memberitahu Kami (kesalahan masing-masing), dan kaki mereka pula menjadi saksi tentang apa Yang mereka telah usahakan."
Ya Allah, lindungilah kami dari melakukan apa yang Kau larangi dan dekatkanlah kami dengan amalan-amalan yang Kau redhai.
- Artikel iluvislam.com