Ingatlah tidak ada arang batu yang menjadi intan tanpa melalui tekanan demi tekanan. Hidup yang melalui kesukaran dan dugaan adalah untuk menjadikan kita lebih kuat dan lebih memahami orang lain. Cuma hati yang pernah dilapah yang boleh merasa besarnya erti kasih dan sayang sesama manusia.

Thursday, 10 November 2011

IMAM ASY-SYAFI'I

IMAM ASY-SYAFI'I (Pemilik Manhaj Fiqih Yang Memadukan Antara Dua Madzhab Pendahulunya)



Nama Dan Nasabnya

Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubaid bin ‘Abdu Yazid bin Hasyim bin Murrah bin al-Muththalib bin ‘Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka’b bin Lu`ay bin Ghalib Abu ‘Abdillah al-Qurasyi asy-Syafi’i al-Makki, keluarga dekat Rasulullah SAW dan putera pamannya.

Al-Muththalib adalah saudara Hasyim yang merupakan ayah dari ‘Abdul Muththalib, kakek Rasulullah SAW. Jadi, Imam asy-Syafi’i berkumpul (bertemu nasabnya) dengan Rasulullah pada ‘Abdi Manaf bin Qushay, kakek Rasulullah yang ketiga

Sebutan “asy-Syafi’i” dinisbatkan kepada kakeknya yang bernama Syafi’ bin as-Saib, seorang shahabat junior yang sempat bertemu dengan Raasulullah SAW ketika masih muda.

Sedangkan as-Saib adalah seorang yang mirip dengan Rasulullah SAW sebagaimana diriwayatkan bahwa ketika suatu hari Nabi SAW berada di sebuah tempat yang bernama Fushthath, datanglah as-Saib bin ‘’Ubaid beserta puteranya, yaitu Syafi’ bin as-Saib, maka Rasulullah SAW memandangnya dan berkata, “Adalah suatu kebahagiaan bila seseorang mirip dengan ayahnya.”

Sementara ibunya berasal dari suku Azd, Yaman.

Gelarnya

Ia digelari sebagai Naashir al-Hadits (pembela hadits) atau Nasshir as-Sunnah, gelar ini diberikan karena pembelaannya terhadap hadits Rasulullah SAW dan komitmennya untuk mengikuti as-Sunnah.

Kelahiran Dan Pertumbuhannya

Para sejarawan sepakat, ia lahir pada tahun 150 H, yang merupakan -menurut pendapat yang kuat- tahun wafatnya Imam Abu Hanifah RAH tetapi mengenai tanggalnya, para ulama tidak ada yang memastikannya.

Tempat Kelahirannya

Ada banyak riwayat tentang tempat kelahiran Imam asy-Syafi’i. Yang paling populer adalah bahwa beliau dilahirkan di kota Ghazzah (Ghaza). Pendapat lain mengatakan, di kota ‘Asqalan bahkan ada yang mengatakan di Yaman.

Imam al-Baihaqi mengkonfirmasikan semua riwayat-riwayat tersebut dengan mengatakan bahwa yang shahih beliau dilahirkan di Ghaza bukan di Yaman. Sedangkan penyebutan ‘Yaman’ barangkali maksudnya adalah tempat yang dihuni oleh sebagian keturunan Yaman di kota Ghaza. Beliau kemudian lebih mendetail lagi dengan mengatakan, “Seluruh riwayat menunjukkan bahwa Imam asy-Syafi’i dilahirkan di kota Ghaza, lalu dibawa ke ‘Asqalan, lalu dibawa ke Mekkah.”

Ibn Hajar mengkonfirmasikan secara lebih spesifik lagi dengan mengatakan tidak ada pertentangan antar riwayat-riwayat tersebut (yang mengatakan Ghaza atau ‘Asqalan), karena ketika asy-Syafi’i mengatakan ia lahir di ‘Asqalan, maka maksudnya adalah kotanya sedangkan Ghaza adalah kampungnya. Ketika memasuki usia 2 tahun, ibunya membawanya ke negeri Hijaz dan berbaur dengan penduduk negeri itu yang terdiri dari orang-orang Yaman, karena ibunya berasal dari suku Azd. Ketika berumur 10 tahun, ia dibawa ibunya ke Mekkah karena ibunya khawatir nasabnya yang mulia itu lenyap dan terlupakan.

Pertumbuhan Dan Kegiatannya Dalam Mencari Ilmu

Imam asy-Syafi’i tumbuh di kota Ghaza sebagai seorang yatim, di samping itu juga hidup dalam kesulitan dan kefakiran serta terasing dari keluarga. Kondisi ini tidak menyurutkan tekadnya untuk hidup lebih baik. Rupanya atas taufiq Allah, ibunya membawanyanya ke tanah Hijaz, Mekkah. Maka dari situ, mulailah imam asy-Syafi’i kecil menghafal al-Qur’an dan berhasil menamatkannya dalam usia 7 tahun.

Menurut pengakuan asy-Syafi’i, bahwa ketika masa belajar dan mencari guru untuknya, ibunya tidak mampu membayar gaji gurunya, namun gurunya rela dan senang karena dia bisa menggantikannya pula. Lalu ia banyak menghadiri pengajian dan bertemu dengan para ulama untuk mempelajari beberapa masalah agama. Ia menulis semua apa yang didengarnya ke tulang-tulang yang bila sudah penuh dan banyak, maka ia masukkan ke dalam karung.

Ia juga bercerita bahwa ketika tiba di Mekkah dan saat itu masih berusia sekitar 10 tahun, salah seorang sanak saudaranya menasehati agar ia bersungguh-sungguh untuk hal yang bermanfa’at baginya. Lalu ia pun merasakan lezatnya menuntut ilmu dan karena kondisi ekonominya yang memprihatinkan, untuk menuntut ilmu ia harus pergi ke perpustakaan dan menggunakan bagian luar dari kulit yang dijumpainya untuk mencatat.

Hasilnya, dalam usia 7 tahun ia sudah hafal al-Qur’an 30 juz, pada usia 10 tahun (menurut riwayat lain, 13 tahun) ia hafal kitab al-Muwaththa` karya Imam Malik dan pada usia 15 tahun (menurut riwayat lain, 18 tahun) ia sudah dipercayakan untuk berfatwa oleh gurunya Muslim bin Khalid az-Zanji.

Semula beliau begitu gandrung dengan sya’ir dan bahasa di mana ia hafal sya’ir-sya’ir suku Hudzail. Bahkan, ia sempat berinteraksi dengan mereka selama 10 atau 20 tahun. Ia belajar ilmu bahasa dan balaghah. Dalam ilmu hadits, ia belajar dengan imam Malik dengan membaca langsung kitab al-Muwaththa` dari hafalannya sehingga membuat sang imam terkagum-kagum. Di samping itu, ia juga belajar berbagai disiplin ilmu sehingga gurunya banyak.

Pengembaraannya Dalam Menuntut Ilmu

Imam asy-Syafi’i amat senang dengan syair dan ilmu bahasa, terlebih lagi ketika ia mengambilnya dari suku Hudzail yang dikenal sebagai suku Arab paling fasih. Banyak bait-bait syair yang dihafalnya dari orang-orang Hudzail selama interaksinya bersama mereka. Di samping syair, beliau juga menggemari sejarah dan peperangan bangsa Arab serta sastra.

Kapasitas keilmuannya dalam bahasa ‘Arab tidak dapat diragukan lagi, bahkan seorang imam bahasa ‘Arab, al-Ashmu’i mengakui kapasitasnya dan mentashhih sya’ir-sya’ir Hudzail kepadanya.

Di samping itu, imam asy-Syafi’i juga seorang yang bacaan al-Qur’annya amat merdu sehingga membuat orang yang mendengarnya menangis bahkan pingsan. Hal ini diceritakan oleh Ibn Nashr yang berkata, “Bila kami ingin menangis, masing-masing kami berkata kepada yang lainnya, ‘bangkitlah menuju pemuda al-Muththaliby yang sedang membaca al-Qur’an,” dan bila kami sudah mendatanginya sedang shalat di al-Haram seraya memulai bacaan al-Qur’an, orang-orang merintih dan menangis tersedu-sedu saking merdu suaranya. Bila melihat kondisi orang-orang seperti itu, ia berhenti membacanya.

Di Mekkah, setelah dinasehati agar memperdalam fiqih, ia berguru kepada Muslim bin Khalid az-Zanji, seorang mufti Mekkah. Setelah itu, ia dibawa ibunya ke Madinah untuk menimba ilmu dari Imam Malik. Di sana, beliau berguru dengan Imam Malik selama 16 tahun hingga sang guru ini wafat (tahun 179 H). Pada saat yang sama, ia belajar pada Ibrahim bin Sa’d al-Anshary, Muhammad bin Sa’id bin Fudaik dan ulama-ulama selain mereka.

Sepeninggal Imam Malik, asy-Syafi’i merantau ke wilayah Najran sebagai Wali (penguasa) di sana. Namun betapa pun keadilan yang ditampakkannya, ada saja sebagian orang yang iri dan menjelek-jelekkannya serta mengadukannya kepada khalifah Harun ar-Rasyid. Lalu ia pun dipanggil ke Dar al-Khilafah pada tahun 184 H. Akan tetapi beliau berhasil membela dirinya di hadapan khalifah dengan hujjah yang amat meyakinkan sehingga tampaklah bagi khalifah bahwa tuduhan yang diarahkan kepadanya tidak beralasan dan ia tidak bersalah, lalu khalifah menjatuhkan vonis ‘bebas’ atasnya. (kisah ini dimuat pada rubrik ‘kisah-kisah islami-red.,).

Beliau kemudian merantau ke Baghdad dan di sana bertemu dengan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany, murid Imam Abu Hanifah. Beliau membaca kitab-kitabnya dan mengenal ilmu Ahli Ra`yi (kaum Rasional), kemudian kembali lagi ke Mekkah dan tinggal di sana selama kurang lebih 9 tahun untuk menyebarkan madzhabnya melalui halaqah-halaqah ilmu yang disesaki para penuntut ilmu di Haram, Mekkah, demikian juga melalui pertemuannya dengan para ulama saat berlangsung musim haji. Pada masa ini, Imam Ahmad belajar dengannya.

Kemudian beliau kembali lagi ke Baghdad tahun 195 H. Kebetulan di sana sudah ada majlisnya yang dihadiri oleh para ulama dan disesaki para penuntut ilmu yang datang dari berbagai penjuru. Beliau tinggal di sana selama 2 tahun yang dipergunakannya untuk mengarang kitab ar-Risalah. Dalam buku ini, beliau memaparkan madzhab lamanya (Qaul Qadim). Dalam masa ini, ada empat orang sahabat seniornya yang ‘nyantri’ dengannya, yaitu Ahmad bin Hanbal, Abu Tsaur, az-Za’farany dan al-Karaabiisy.

Kemudian beliau kembali ke Mekkah dan tinggal di sana dalam waktu yang relatif singkat, setelah itu meninggalkannya menuju Baghdad lagi, tepatnya pada tahun 198 H. Di Baghdad, beliau juga tinggal sebentar untuk kemudian meninggalkannya menuju Mesir.

Beliau tiba di Mesir pada tahun 199 H dan rupanya kesohorannya sudah mendahuluinya tiba di sana. Dalam perjalanannya ini, beliau didampingi beberapa orang muridnya, di antaranya ar-Rabi’ bin Sulaiman al-Murady dan ‘Abdullah bin az-Zubair al-Humaidy. Beliau singgah dulu di Fushthath sebagai tamu ‘Abdullah bin ‘Abdul Hakam yang merupakan sahabat Imam Malik. Kemudian beliau mulai mengisi pengajiannya di Jami’ ‘Amr bin al-‘Ash. Ternyata, kebanyakan dari pengikut dua imam sebelumnya, yaitu pengikut Imam Abu Hanifah dan Imam Malik lebih condong kepadanya dan terkesima dengan kefasihan dan ilmunya.

Di Mesir, beliau tinggal selama 5 tahun di mana selama masa ini dipergunakannya untuk mengarang, mengajar, berdebat (Munazharah) dan meng-counter pendapat-pendapat lawan. Di negeri inilah, beliau meletakkan madzhab barunya (Qaul Jadid), yaitu berupa hukum-hukum dan fatwa-fatwa yang beliau gali dalilnya selama di Mesir, sebagiannya berbeda dengan pendapat fiqih yang telah diletakkannya di Iraq. Di Mesir pula, beliau mengarang buku-buku monumentalnya, yang diriwayatkan oleh para muridnya.

Kemunculan Sosok Dan Manhaj (Metode) Fiqihnya

Mengenai hal ini, Ahmad Tamam di dalam bukunya asy-Syaafi’iy: Malaamih Wa Aatsaar menyebutkan bagaimana kemunculan sosok asy-Syafi’i dan manhaj fiqihnya. Sebuah manhaj yang merupakan paduan antara fiqih Ahli Hijaz dan fiqih Ahli Iraq, manhaj yang dimatangkan oleh akal yang menyala, kemumpunian dalam al-Qur’an dan as-Sunnah, kejelian dalam linguistik Arab dan sastra-sastranya, kepakaran dalam mengetahui kondisi manusia dan permasalahan-permasalahan mereka serta kekuatan pendapat dan qiyasnya.

Bila kembali ke abad 2 M, kita mendapati bahwa pada abad ini telah muncul dua ‘’perguruan’ (Madrasah) utama di dalam fiqih Islam; yaitu perguruan rasional (Madrasah Ahli Ra`yi) dan perguruan hadits (Madrasah Ahli Hadits). Perguruan pertama eksis di Iraq dan merupakan kepanjangan tangan dari fiqih ‘Abdullah bin Mas’ud yang dulu tinggal di sana. Lalu ilmunya dilanjutkan oleh para sahabatnya dan mereka kemudian menyebarkannya. Dalam hal ini, Ibn Mas’ud banyak terpengaruh oleh manhaj ‘Umar bin al-Khaththab di dalam berpegang kepada akal (pendapat) dan menggali illat-illat hukum manakala tidak terdapat nash baik dari Kitabullah mau pun dari Sunnah Rasulullah SAW. Di antara murid Ibn Mas’ud yang paling terkenal adalah ‘Alqamah bin Qais an-Nakha’iy, al-Aswad bin Yazid an-Nakha’iy, Masruq bin al-Ajda’ al-Hamadaany dan Syuraih al-Qadly. Mereka itulah para ahli fiqih terdepan pada abad I H. Setelah mereka, perguruan Ahli Ra`yi dipimpin oleh Ibrahim bin Yazid an-Nakha’iy, ahli fiqih Iraq tanpa tanding. Di tangannya muncul beberapa orang murid, di antaranya Hammad bin Sulaiman yang menggantikan pengajiannya sepeninggalnya. Hammad adalah seorang Imam Mujtahid dan memiliki pengajian yang begitu besar di Kufah. Pengajiannya ini didatangi banyak penuntut ilmu, di antaranya Abu Hanifah an-Nu’man yang pada masanya mengungguli semua rekan sepengajiannya dan kepadanya berakhir tampuk kepemimpinan fiqih. Ia lah yang menggantikan syaikhnya setelah wafatnya dan mengisi pengajian yang diselenggarakan perguruan Ahli Ra`yi. Pada masanya, banyak sekali para penuntut ilmu belajar fiqih dengannya, termasuk di antaranya murid-muridnya yang setia, yaitu Qadi Abu Yusuf, Muhammad bin al-Hasan, Zufar, al-Hasan bin Ziyad dan ulama-ulama selain mereka. Di tangan-tangan mereka itulah akhirnya metode perguruan Ahli Ra`yi mengkristal, semakin eksis dan jelas manhajnya.

Sedangkan perguruan Ahli Hadits berkembang di semenanjung Hijaz dan merupakan kepanjangan tangan dari perguruan ‘Abdullah bin ‘Abbas, ‘Abdullah bin ‘Umar, ‘Aisyah dan para ahli fiqih dari kalangan shahabat lainnya yang berdiam di Mekkah dan Madinah. Penganut perguruan ini banyak melahirkan para imam seperti Sa’id bin al-Musayyab, ‘Urwah bin az-Zubair, al-Qasim bin Muhammad, Ibn Syihab az-Zuhry, al-Laits bin Sa’d dan Malik bin Anas. Perguruan ini unggul dalam hal keberpegangannya sebatas nash-nash Kitabullah dan as-Sunnah, bila tidak mendapatkannya, maka dengan atsar-atsar para shahabat. Di samping itu, timbulnya perkara-perkara baru yang relatif sedikit di Hijaz, tidak sampai memaksa mereka untuk melakukan penggalian hukum (istinbath) secara lebih luas, berbeda halnya dengan kondisi di Iraq.

Saat imam asy-Syafi’I muncul, antara kedua perguruan ini terjadi perdebatan yang sengit, maka ia kemudian mengambil sikap menengah (baca: moderat). Beliau berhasil melerai perdebatan fiqih yang terjadi antara kedua perguruan tersebut berkat kemampuannya di dalam menggabungkan antara kedua manhaj perguruan tersebut mengingat ia sempat berguru kepada tokoh utama dari keduanya; dari perguruan Ahli Hadits, ia berguru dengan pendirinya, Imam Malik dan dari perguruan Ahli Ra`yi, ia berguru dengan orang nomor dua yang tidak lain adalah sahabat dan murid Imam Abu Hanifah, yaitu Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibany.

Imam asy-Syafi’i menyusun Ushul (pokok-pokok utama) yang dijadikan acuan di dalam fiqihnya dan kaidah-kaidah yang dikomitmeninya di dalam ijtihadnya pada risalah ushul fiqih yang berjudul ar-Risalah. Ushul tersebut ia terapkan dalam fiqihnya. Ia merupakan Ushul amaliah bukan teoritis. Yang lebih jelas lagi dapat dibaca pada kitabnya al-Umm di mana beliau menyebutkan hukum berikut dalil-dalilnya, kemudian menjelaskan aspek pendalilan dengan dalil, kaidah-kaidah ijtihad dan pokok-pokok penggalian dalil yang dipakai di dalam menggalinya. Pertama, ia merujuk kepada al-Qur’an dan hal-hal yang nampak baginya dari itu kecuali bila ada dalil lain yang mengharuskan pengalihannya dari makna zhahirnya, kemudian setelah itu, ia merujuk kepada as-Sunnah bahkan sampai pada penerimaan khabar Ahad yang diriwayatkan oleh periwayat tunggal namun ia seorang yang Tsiqah (dapat dipercaya) pada diennya, dikenal sebagai orang yang jujur dan tersohor dengan kuat hafalan. Asy-Syafi’i menilai bahwa as-Sunnah dan al-Qur’an setaraf sehingga tidak mungkin melihat hanya pada al-Qur’an saja tanpa melihat lagi pada as-Sunnah yang menjelaskannya. Al-Qur’an membawa hukum-hukum yang bersifat umum dan kaidah Kulliyyah (bersifat menyeluruh) sedangkan as-Sunnah lah yang menafsirkan hal itu. as-Sunnah pula lah yang mengkhususkan makna umum pada al-Qur’an, mengikat makna Muthlaq-nya atau menjelaskan makna globalnya.

Untuk berhujjah dengan as-Sunnah, asy-Syafi’i hanya mensyaratkan bersambungnya sanad dan keshahihannya. Bila sudah seperti itu maka ia shahih menurutnya dan menjadi hujjahnya. Ia tidak mensyaratkan harus tidak bertentangan dengan amalan Ahli Madinah untuk menerima suatu hadits sebagaimana yang disyaratkan gurunya, Imam Malik, atau hadits tersebut harus masyhur dan periwayatnya tidak melakukan hal yang bertolak belakang dengannya.

Selama masa hidupnya, Imam asy-Syafi’i berada di garda terdepan dalam membela as-Sunnah, menegakkan dalil atas keshahihan berhujjah dengan hadits Ahad. Pembelaannya inilah yang merupakan faktor semakin melejitnya popularitas dan kedudukannya di sisi Ahli Hadits sehingga mereka menjulukinya sebagai Naashir as-Sunnah (Pembela as-Sunnah).

Barangkali faktor utama kenapa asy-Syafi’i lebih banyak berpegang kepada hadits ketimbang Imam Abu Hanifah bahkan menerima hadits Ahad bilamana syarat-syaratnya terpenuhi adalah karena ia hafal hadits dan amat memahami ‘illat-‘illat-nya di mana ia tidak menerima darinya kecuali yang memang valid menurutnya. Bisa jadi hadits-hadits yang menurutnya shahih, menurut Abu Hanifah dan para sahabatnya tidak demikian.

Setelah merujuk al-Qur’an dan as-Sunnah, asy-Syafi’i menjadikan ijma’ sebagai dalil berikutnya bila menurutnya tidak ada yang bertentangan dengannya, kemudian baru Qiyas tetapi dengan syarat terdapat asalnya dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Penggunaannya terhadap Qiyas tidak seluas yang dilakukan Imam Abu Hanifah.

Aqidahnya

Di sini dikatakan bahwa ia seorang Salafy di mana ‘aqidahnya sama dengan ‘aqidah para ulama Salaf; menetapkan apa yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dan menafikan apa yang dinafikan Allah dan Rasul-Nya tanpa melakukan Tahrif (perubahan), Ta`wil (penafsiran yang menyimpang), Takyif (Pengadaptasian alias mempertanyakan; bagaimana), Tamtsil (Penyerupaan) dan Ta’thil (Pembatalan alias pendisfungsian asma dan sifat Allah).

Beliau, misalnya, mengimani bahwa Allah memiliki Asma` dan Sifat sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam kitab-Nya dan Rasulullah dalam haditsnya, bahwa siapa pun makhluk Allah yang sudah ditegakkan hujjah atasnya, al-Qur’an sudah turun mengenainya dan menurutnya hadits Rasulullah sudah shahih karena diriwayatkan oleh periwayat yang adil; maka tidak ada alasan baginya untuk menentangnya dan siapa yang menentang hal itu setelah hujjah sudah benar-benar valid atasnya, maka ia kafir kepada Allah. Beliau juga menyatakan bahwa bila sebelum validnya hujjah atas seseorang dari sisi hadits, maka ia dapat ditolerir karena kejahilannya sebab ilmu mengenai hal itu tidak bisa diraba hanya dengan akal, dirayah atau pun pemikiran.

Beliau juga mengimani bahwa Allah Ta’ala Maha Mendengar, memiliki dua tangan, berada di atas ‘arasy-Nya dan sebagainya.

Beliau juga menegaskan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan keyakinan dengan hati. (untuk lebih jelasnya, silahkan merujuk buku Manaaqib asy-Syafi’i karangan Imam al-Baihaqi; I’tiqaad al-A`immah al-Arba’ah karya Syaikh Dr.Muhammad ‘Abdurrahman al-Khumais [sudah diterjemahkan –kurang lebih judulnya-: ‘Aqidah Empat Imam Madzhab oleh KH.Musthafa Ya’qub])

Sya’ir-Sya’irnya

Imam asy-Syafi’i dikenal sebagai salah seorang dari empat imam madzhab tetapi tidak banyak yang tahu bahwa ia juga seorang penyair. Beliau seorang yang fasih lisannya, amat menyentuh kata-katanya, menjadi hujjah di dalam bahasa ‘Arab. Hal ini dapat dimengerti, karena sejak dini, beliau sudah tinggal dan berinteraksi dengan suku Hudzail yang merupakan suku arab paling fasih kala itu. Beliau mempelajari semua sya’ir-sya’ir mereka, karena itu ia dianggap sebagai salah satu rujukan bagi para ahli bahasa semasanya, di antaranya diakui sendiri oleh seorang tokoh sastra Arab semasanya, al-Ashmu’i sebagaimana telah disinggung sebelumnya.

Imam Ahmad berkata, “asy-Syafi’i adalah orang yang paling fasih.” Imam Malik terkagum-kagum dengan bacaannya karena demikian fasih. Karena itu, pantas bila Imam Ahmad pernah berkata, “Tidak seorang pun yang menyentuh tinta atau pun pena melainkan di pundaknya ada jasa asy-Syafi’i.” Ayyub bin Suwaid berkata, “Ambillah bahasa dari asy-Syafi’i.”

Hampir semua isi sya’ir yang dirangkai Imam asy-Syafi’i bertemakan perenungan. Sedangkan karakteristik khusus sya’irnya adalah sya’ir klasik. Alhasil, ia mirip dengan perumpamaan-perumpamaan atau hikmah-hikmah yang berlaku di tengah manusia.

Di antara contohnya,
- Sya’ir Zuhud

Hendaknya engkau bertakwa kepada Allah jika engkau lalai
Pasti Dia membawa rizki tanpa engkau sadari
Bagaimana engkau takut miskin padahal Allah Sang Pemberi rizki
Dia telah memberi rizki burung dan ikan hiu di laut
Siapa yang mengira rizki hanya didapat dengan kekuatan
Semestinya burung pipit tidak dapat makan karena takut pada elang
Turun dari dunia (mati), tidak engkau tahu kapan
Bila sudah malam, apakah engkau akan hidup hingga fajar?
Berapa banyak orang yang segar-bugar mati tanpa sakit
Dan berapa banyak orang yang sakit hidup sekian tahunan?

- Sya’ir Akhaq

Kala mema’afkan, aku tidak iri pada siapa pun
Aku tenangkan jiwaku dari keinginan bermusuhan
Sesungguhnya aku ucapkan selamat pada musuhku saat melihatnya
Agar dapat menangkal kejahatannya dengan ucapan-ucapan selamat tersebut
Manusia yang paling nampak bagi seseorang adalah yang paling dibencinya
Sebagaimana rasa cinta telah menyumbat hatiku
Manusia itu penyakit dan penyakit manusia adalah kedekatan dengan mereka
Namun mengasingkan mereka adalah pula memutus kasih sayang

Tawadlu’, Wara’ Dan ‘ibadahnya

Imam asy-Syafi’i terkenal dengan ketawadlu’an (kerendahan diri)-nya dan ketundukannya pada kebenaran. Hal ini dibuktikan dengan pengajiannya dan pergaulannya dengan teman sejawat, murid-murid dan orang-orang lain. Demikian juga, para ulama dari kalangan ahli fiqih, ushul, hadits dan bahasa sepakat atas keamanahan, keadilan, kezuhudan, kewara’an, ketakwaan dan ketinggian martabatnya.

Sekali pun demikian agungnya beliau dari sisi ilmu, ahli debat, amanah dan hanya mencari kebenaran, namun hal itu semua bukan karena ingin dipandang dan tersohor. Karena itu, masih terduplikasi dalam memori sejarah ucapannya yang amat masyhur, “Tidaklah aku berdebat dengan seseorang melainkan aku tidak peduli apakah Allah menjelaskan kebenaran atas lisannya atau lisanku.”

Sampai-sampai saking hormatnya Imam Ahmad kepada gurunya, asy-Syafi’i ini; ketika ia ditanya oleh anaknya tentang gurunya tersebut, “Siapa sih asy-Syafi’i itu hingga ayahanda memperbanyak doa untuknya?” ia menjawab, “Imam asy-Syafi’i ibarat matahari bagi siang hari dan ibarat kesehatan bagi manusia; maka lihat, apakah bagi keduanya ini ada penggantinya.?”

Imam asy-Syafi’i seorang yang faqih bagi dirinya, banyak akalnya, benar pandangan dan fikirnya, ahli ibadah dan dzikir. Beliau amat mencintai ilmu, sampai-sampai ia berkata, “Menuntut ilmu lebih afdlal daripada shalat sunnat.”

Sekali pun demikian, ar-Rabi’ bin Sualaiman, muridnya meriwayatkan bahwasanya ia selalu shalat malam hingga wafat dan setiap malam satu kali khatam al-Qur’an.

Ad-Dzahabi di dalam kitabnya Siyar an-Nubalaa` meriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Sulaiman yang berkata, “Imam asy-Syafi’i membagi-bagi malamnya; sepertiga pertama untuk menulis, sepertiga kedua untuk shalat dan sepertiga ketiga untuk tidur.”

Menambahi ucapan ar-Rabi’ tersebut, Adz-Dzahabi berkata, “Tentunya, ketiga pekerjaan itu hendaknya dilakukan dengan niat.”

Ya, Imam adz-Dzahabi benar sebab niat merupakan ciri kelakuan para ulama. Bila ilmu membuahkan perbuatan, maka ia akan meletakkan pelakunya di atas jalan keselamatan.

Betapa kita sekarang-sekarang ini lebih berhajat kepada para ulama yang bekerja (‘amiliin), yang tulus (shadiqiin) dan ahli ibadah (‘abidiin), yang menjadi tumpuan umat di dalam menghadapi berbagai problematika yang begitu banyaknya, La hawla wa la quwwata illa billaah.

Imam asy-Syafi’i tetap tinggal di Mesir dan tidak pergi lagi dari sana. Beliau mengisi pengajian yang dikerubuti oleh para muridnya hingga beliau menemui Rabbnya pada tanggal 30 Rajab tahun 204 H.

Alangkah indah isi bait Ratsâ` (sya’ir mengenang jasa baik orang sudah meninggal dunia) yang dikarang Muhammad bin Duraid, awalnya berbunyi,
Tidakkah engkau lihat peninggalan Ibn Idris (asy-Syafi’i) setelahnya
Dalil-dalilnya mengenai berbagai problematika begitu berkilauan

REFERENSI:

- asy-Syafi’i; Malaamih Wa Atsar Fi Dzikra Wafaatih karya Ahmad Tamam
- I’tiqaad A`immah as-Salaf Ahl al-Hadits karya Dr.Muhammad ‘Abdurrahman al-Khumais
- Mawsuu’ah al-Mawrid al-Hadiitsah
- Al-Imam asy-Syafi’i Syaa’iran karya Muhammad Khumais
- Diiwaan al-Imam asy-Syafi’i, terbitan al-Hai`ah al-Mishriiyyah Li al-Kitaab
- Qiyaam asy-Syafi’i (Thariqul Islam)
- Manhaj Aqidah Imam asy-Syafi’i karya Dr.Muhammad al-‘Aqil, penerbit: Pustaka Imam asy-Syafi’i


sumber:  http://almudarris.multiply.com/reviews/item/7

Ibn Taimiyah

Ibn Taimiyah; Pemilik Kemerdekaan Hati Nurani

Abad ke-13 M merupakan periode malapetaka besar bagi sejarah Islam. Dunia Muslim belum lagi pulih dari porak-poranda Perang Salib yang panjang itu, bencana yang lebih buruk datang pula melanda.
Suku Mongol menyerbu negara Muslim, memusnahkan kekayaan intelektual dan cultural yang menumpuk selama berabad-abad pemerintahan Muslim, dan membunuh jutaan kaum Muslimin. Baghdad, kota Seribu Satu Malam yang tersohor itu, kota intelektual dan cultural Metropolitan Islam, tanpa memperhatikan keberatan dunia dirampok oleh Hulaku Khan, sang Mongol, pada 1258 M. Seluruh warisan cultural dan intelektual kota itu dibakar menjadi abu, atau dicampakan ke Sungai Tigris.
Pada kurun waktu dan huru-hara dan bencana sepeti itulah lahir Ibn Taimiyah, seorang pemikir agama yang berpengaruh besar terhadap dunia pemikiran Islam. Pemikir bebas dan penganut kemerdekaan hati nurani. Ia merupakan seorang yang dipetanyakan oleh sebagian ummat, tetapi dimuliakan oleh semuanya, karya serta teladan hidunya menjadi sumber ilham bagi setiap orang. Dia adalah kepahlawanan yang idup, yang diuji dalam kesengsaraan dan godaan, dukacita dan penderitaan, yang dipersembahkannya untuk kebaikan agama, kebenaran, dan keutamaan hati nurani manusia.
Ibn Taimiyah lahir di Harra, pada masa mudanya mengungsi karena takut pada suku Mongol, dan tiba bersama orang tuanya di Damaskus pada 1268 M. Ketika itu ia hampir berusia enam tahun. Ia cedas luar biasa, otaknya tajam, dan ingatannya kuat. Pada usia muda Ibn Taimiyah telah menguasai semua ilmu yang ada, agama dan fiqh rasional, teologi, logika, dan filosofi. Karena itu ia berperan penting di antara teman sebayanya. Dalam hal ini ia dibantu oleh ayahnya, ilmuwan utama fiqh Hanbali, disamping memetik manfaat dai ajaran Zain al Din Ahmad, al-Muqaddasi.
Pada 1282 M, ketika ayahnya meninggal, Ibn Taimiyah menggantikan kedudukann sang ayah sebagai guru besar hukum Hanbali dan memangku jabatan ini dalam derajat kemuliaan selama 17 tahun. Tetapi, cara berpikirannya yang bebas, menimbulkan permusuhan dengan penganut Syafi'i, sehingga jabatan itu lepas dari tangannya. Namun waktu itu ia telah terkenal di dunia Islam dan ditugaskan bekotbah jihad melawan suku Mongol yang menyerbu Suriah dan menaklukan Damaskus. Khotbahnya menggembleng rakyat dan menggugah sultan Mesir, Sultan al-Nasir, untuk mengangkat senjata melawan orang-orang Mongol. Pada perang dahsyat di Marj as-Safa, pada 1302 M, Ibn Taimiyah berjuang gagah berani, sehingga pasukan Mongol terusir dan menderita kerugian besar.
Sejak itu hingga akhir hayatnya, mulailah baginya masa "pengadilan" yang keras dan sengsara. Pandangan bebasnya itu seolah-olah menjadi kutukan hidupnya. Ia menyarankan oposisi di bebagai daerah, dan menimbulkan kemarahan para pemuka. Pada 1307 M ia bersama dua saudaranya dipenjarakan selama empat tahun, karena dituduh mempetlikan sifat manusia dengan sifat Tuhan. Setelah bebas ia diangkat menjadi guru besar di sekolah yang didirikan oleh Sultan Mesir.
Setelah tujuh tahun ia diijinkan balik ke Damaskus, bahkan diangkat kembali sebagai guru besar, jabatannya yang dulu. Tetapi seera pula sengketa besar dengan Sultan membawa dia kembali ke penjara selama beberapa bulan, pada 1320 M.
Sebagai penganut keunggulan hati nurani individual, cara berpikirnya yang bebas itu tidak cocok dengan Muslim ortodoks dan konvensional. Kutukannya yang mematikan terhadap praktek-praktek pemujaan orang suci dan para penganutnya menimbulkan dendam di hati Sultan, yang mengurung dia di benteng Damaskus pada 1326 M. di tempat itulah ia tekun menulis tafsir Qur'an dan surat selebaran lainnya tentang sejumlah pokok pesoalan yang controversial. Ia wafat di penjara pada 1327 M. Kabar kematiannya menyuramkan Damaskus, dan sekitar 200.000 orang, mengikuti pemakamannya. Do'a pemakaman dipimpin oleh Ibn al-Wardi.
Kebesaran Ibn Taimiyah terletak pada kemandiriannya dan kebebasan berpikinya. Ia adalah di antara orang-orang mujtahid besar yang pernah dilahikan Islam, seorang yang menolak taqlid buta. Sebagai seorang penganut madzab Hanbali, ia setia mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah, tak suka berkompromi, dan seorang antropomorfis sejati seperti pendahulu keagamaannya, Imam Hanbal.
Ilmu dankesenian Yunani diterjemahkan pada masa Abbasiyah. Masalah itu disesuaikan oleh Ibn Taimiyah dengan doktrin Islam atas permintaan mereka yang baru memeluk agama itu.
Jasanya yang terbesar kepada Islam terletak pada peringatannya kepada rakyat, betapa pelunya mereka menyesuaiakan diri dengan kesederhanaan dan kemurnian Islam masa awal, serta secara mutlak mengikuti Al-Qur'an dan As-Sunnah.



Prinsip dasar Ibn Taimiyah ialah:

1. Wahyu merupakan sumber pengetahuan agama. Penalaran dan intuisi hanyalah sumber terbatas.
2. Kesepakatan umum pada ilmuwan yang terpercaya selama tiga abad perrtama Islam juga turut memberi pengertian tentang asas pokok Islam disamping Al-Qur'an dan As-Sunnah.
3. Hanya Al-Qur'an dan As-Sunnah penuntun yang otentik dalam segala persoalan.
Ia membuang dan sungguh-sungguh mencela pengarruh asing yang korup, serta mencemarkan kemurnian dan kesederhanaan Islam masa awal. Dari Ibn Taimiyah, Muhammad Ibn Abdul Wahhab, seorang pemikir besar abad ke-18, dan sekolah Pembaruan al-Manar di Mesir, mendapat ilham bagi persoalan itu.
Ia terang-terangan menyatakan permusuhan dengan eksponen Muslim berfilosofi yunani. Filosofi, katanya, menimbulkan kebimbangan dan menyebabkan perpecahan dalam Islam. Ia mengkritik keras doktrin Ibn Arabi tentang Kesatuan makhluk. Menurut pendapatnya, kesimpulan Ibn arabi dalam hal ini tidak saja bertentangan dengan ajaran Nabi, tetapi juga dengan doktrin ke-Esa-an Tuan, seperti yang termaktub di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah.
Ibn Taimiyah merupakan tokoh controversial dalam dunia Islam. Seorang pemikir bebas yang yakin kepad keunggulan hati nurani individu, dan seorang yang ingin melihat Islam dalam kemuliaan sejati, ia lalu mengecam kepada semua pencemaran dan pengaruh asing yang marasuk ke dalam Islam. Karena sikap inilah ia dicaci, dipukul, dicambuk, dipenjarakan, dan dianiaya lahir batin. Namun ia tetap nekad hidup berhenti menghadapi penganiayaan.

Seri Kebohongan Ibnu Taymiah (6): Ibnu Taymiah Mengkufuri Surah Ad-Dahr Turun Untuk Ahlulbait Nabi as.

sumber: http://ibnutaymiah.wordpress.com/2010/05/07/ibnu-taymiah-mengkufuri-surah-ad-dahr-turun-untuk-ahlulbait-nabi-as/

Seri Kebohongan Ibnu Taymiah (6)
(“Tulisan dibawah ini kami lengkapi dengan bukti scan dari kitab “Minhajus-Snnah” karya Ibnu Taymiah terbitan Saudi Arabia yang di Tahqiq oleh Dr. Muhammad Rasyad Salim”_pen)
Jika Anda bertanya, apa sebenarnya yang paling istimewa dari Syeikhul Islam-nya kaum Wahabi Salafi? Maka jawabnya tegas: Keberaniannya dalam mendustakan dan mengkufuri berbagai nash keutamaan Ahlulbait suci Nabi, utamanya Imam Ali as.  setiap berhadapan dengan keutamaan Imam Ali as., Ibnu Taymiah seakan dibisiki qarin/perewangnya[1] untuk bersegera mengkufurinya dengan alasan apapun, betapa pun alasan itu terlihat dungu dan membuktikan kemunafikan!
Puluhan bahkan mungkin ratusan contoh dapat disajikan sebagai bukti keangkuhannya terhadap kebenaran Allah SWT dan Rasul-Nya…
Dalam kesempatan ini saya mengajak Anda menyimak satu bukti tambahan atas hal itu.
Surah ad-Dahr yang juga dikenal dengan nama surah al-Insân dengan nomer urut dalam mush-haf ke 76 telah ditegaskan dalam berbagai riwayat shahihah bahwa ia turun  sekaitan dengan sedekah yang diberikan Ahlulbait as. kepada seorang miskin, yatim dan tawanan perang secara berurutan dalam tiga hari setiap kali mereka (Ahlulbait as.) hendak menyantap hidangan berbuka puasa nadzar!
Allah SWT mengabadikan pristiwa agung itu dengan menurunkan sebuah surah lengkap yang mengisahkannya dan sekaligus menjelaskan maqam agung yang disandang Ahlulbait di sisi Allah… karena surah tersebut tidak turun untuk keluarga besar bani Umayyah; Abu Sufyan, Hindun, Mu’awiyah, Yazid, Marwan dan Hakam ayahnya, atau keluarga musuh-musuh Ahulbait lainnya… maka Ibnu Taymiah sangat keberatan terhadap “keberpihakan langit” terhadap keluarga Muhammad Saw. Karenanya, keutamaan ini harus segera ditentang! Dan kaum awam pun harus dibodohi agar tertipu dengan kepalsuannnya! … Untuk itu semua Ibnu Taymiah (juru bicara kaum munafikin pembenci keluarga suci Nabi Saw.) berkata:
Perhatikan Scan yang di blok warna kuning
.
.
.
.
.
.
.
Sisi Kedua:

إن هذا الحديث من الكذب الموضوع باتّفاق أهل المعرفة بالحديث، الذي هم أئمة هذا الشأن وحكّامه، وقول هؤلاء هو المنقول في هذا الباب، ولهذا لم يرو هذا الحديث في شيء من الكتب التي يرجع اليها في النقل، لا في الصحاح ولا في المساند ولا في الجوامع ولا السنن، ولا رواه المصنّفون في الفضائل، وإن كانوا قد يتسامحون في رواية أحاديث ضعيفة…

Sesungguhnya hadis ini (hadis yang menegaskan bahwa surah itu turun untuk Ahlulbait as. _pen) adalah kebohongan/kepalsuan berdasarkan kesepakatan para ulama ahli hadis. yang mana mereka adalah imam-imam dalam disiplin ilmu ini dan para hakimnya. Dan ucapannya mereka adalah yang dinukil dalam bab/hal ini. Karenanya hadis itu sama sekali tidak pernah diriwayatkan dalam satu kitab rujukan manapun, tidak dalam kitab-kitab hadis Shahih, Musnad-musnad, Jami’-jami’ maupun Sunan-sunan. Tidak juga pernah dirwayatkan oleh para penulis kitab-kitab Fadhâil.. kendati mereka itu biasanya mentolerir hadis-hadis dha’ifah/lemah….
(Minhaj As-Sunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, Cet. Saudi Arabia, Jilid 7, hal. 177-178) -Lihat Scan Kitab di atas-
.
.
.
Sisi Ketiga:

.

إن الدلائل على كذب هذا كثيرة، منها: إن علياً إنما تزّوج فاطمة بالمدينة…

وسورة هل أتى مكيّة باتّفاق أهل التفسير والنقل، لم يقل أحد منهم إنها مدنيّة

.
“Bukti-bukti kepalsuan hadis itu banyak sekali, di antaranya; Ali baru menikah dengan Fatimah di kota Madinah…….
Dan Surah Hal Atâ adalah surah Makkiyah berdasarkan kesepakatan ahli tafsir dan hadis. Tidak seorang pun dari mereka mengatakan bahwa ia Madaniyah (turun setelah hijrah)!”
(Minhaj As-Sunnah, Tahqiq Dr. Muhammad Rasyad Salim, Cet. Saudi Arabia, Jilid 7, hal. 179) -Lihat Scan Kitab di atas-


Inilah yang dikatakan Ibnu Taymiah!
Sementara bukanlah hal sulit bagi seorang santri apalagi ulama untuk menemukan puluhan bukti bahwa surah ad-Dahr/Hal Atâ adalah berstatus Madaniyah bukan Makkiyah, apalagi menjadi kesepakatan para ulama bahwa ia Makkiyah! Tetapi Ibnu Tayimiah tidak pernah punya rasa malu untuk menisbatkan kepalsuan yang dibisikkan Qarin-nya itu kepada para ulama dan kesepakatan ulama!
Sebagai contoh perhatikan keterangan al Baghawi di bawah ini:
.

سورة الإنسان، مدنيّة، وهى إحدى وثلاثون آية

“Surah al-Insân adalah Madaniyyah. Ia berjumlah 31 ayat.” [2]
.
Keterangan serupa dapat Anda jumpai dalam tafsir Fathu al-Qadîr; asy Syaukâni – dan ia menegaskan bahwa pendapat itu adalah pendapat Jumhur ulama ahli tafsir-[3] dan Rûh al-Ma’âni; al Aluûsi, [4]
.
Surah Al Insân Turun Untuk Ahlulbait Nabi Saw.
Adapun bukti-bukti tekstual dari hadis/riwayat bahwa surah tersebut turun untuk mengabadikan amalan terpuji Ahlulbait as. adalah sangat banyak sekali. Para ulama, ahli tafsir, para muhaddis dan penulis kitab-kitab Fahdâil telah berlomba-lomba meriwayatkan dan menyebutkannya.
Ketika menyebut sejarah putri terkasih Nabi; Fatimah az Zahra as. (yang oleh Ibnu Taymiah tidak jarang dihina kemulaiannya)-, para ulama Ahlusunah juga tidak ketinggalan menyebutkan peristiwa tersebut dan hadis sekaitan turunnya surah itu! Bahkan mereka mensifatinya hadis tersebut sebagai hadis yang sangat masyhur.[5]
Saya hanya memngajak Anda –khususnya para santri dan ulama agar merujuk kitab-kitab di bawah ini untuk membutkikan betapa nyata kedunguan Ibnu Taymiah dan betapa dalam dendam dan kebenciannya terhadap leluarga suci Nabi Muhammad Saw. sehingga tanpa malu dan tanpa rasa takut sedikit pun akan siksa Allah SWT atas yang membenci Nabi dan keluarga sucinya dan mengkufuri keutamaan mereka!!…
Saya hanya meminta Anda merujuk kitab-kitab di wbawah ini:
  1. Tafsir al Wâhidi.
  2. Tafsir al Kasysyâf,; az Zamakhsyari.
  3. Tafsir Fakhru ar Râzi,15/244.
  4. Tafsir ad Durr al Mantsûr; as Suyuthi,6/485.
  5. Rûh al Ma’âni,15/174.
  6. Tafsir al Baidhâwi,2/552.
  7. tafsir an Nasafi,2/758.
  8. Tafsir an Nisaburi (dicetak dipinggir tafsir ath Thabari),12/112.
  9. Tafsir al Khâzin,4/378.
  10. Usdul Ghâbah; Ibnu al Atsîr,5/530.
  11. Al Ishâbah; Ibnu Hajar,8/281.
  12. Ar Riyâdh an Nadhirah; Muhibbuddîn ath Thabari, 2/180.
  13. Farâid as Simthain,2/53.
  14. Kifâyah ath Thalib; al Kunji:348.
  15. al Mustadrak’ al Hakim.
  16. Tadzkirah al Khawâsh:281.
  17. dll.

[1] Dalam Al Qur’an ayat 36 surah az Zukhruf [43] Allah berfirman:

وَ مَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطاناً فَهُوَ لَهُ قَرينٌ

“Barang siapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Qur’an) , Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) maka setan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”
Dan setan adalah sejelek-jelek qarin.. demikian dijelaskan Alah dalam firman-Nya:

وَ مَنْ يَكُنِ الشَّيْطانُ لَهُ قَريناً فَساءَ قَريناً

“Barang siapa yang mengambil setan itu menjadi temannya, maka setan itu adalah teman yang seburuk- buruknya.” (QS. An Nisâ’ [4];38)

Apa itu Wahabi/Salafi?

Jadi berbalik kepada perbincangan kita tentang Wahhabi,apa itu Wahhabi?
Adakah seseorang dilabel sebagai wahabi kerana mereka:
1)Tidak qunut subuh?
2)Tidak melakukan tahlil arwah?
3)Tidak menyambut maulid?
4)Tidak melakukan amalan talqin?
5)Menolak sunnah thoriqah?
6)Tinggal dan belajar di saudi?
7)Menolak kewajipan bermazhab ?
Itu sebenarnya cuma ‘ikhtilaf kecil’ antara ahli sunnah wal jama’ah dan Wahhabi,Maka aku katakan,seorang itu dipanggil WAHABI kerana :
1) Mentasybih dan Menjisimkan Allah Taala dengan makhluk-Nya. Seperti kata setengah golongan wahhabi : Allah duduk bersemayam di atas arasy di langit, ataupun yang mengatakan Allah duduk di atas arasy tapi kononnya tidak sama macam makhluk.
Puak-puak ni mengatakan : Kalau Allah tidak berhajat kepada tempat, ini menafikan kewujudan Allah!
Aku katakan : Subhanaka haza buhtanun ‘azhim! Sebagaimana diitsbatkan kewujudan Allah Taala sebelum dijadikan mana-mana tempat,begitu juga setelah Allah Taala menjadikan tempat. Allah itu wujud tanpa bertempat, dulu kini dan selama-lamanya. Ini tidak menafikan kewujudanNya. Tuan-tuan, gologan wahhabi ini mereka tidak menerima sekali-kali Allah ini wujud jika tiada bertempat.Cuba kalian berfikir,langit itu makhluk(ciptaan),Allah itu khaliq(pencipta),jika Allah(khaliq)tinggal di langit(makhluk) maka isyqal yang dapat insan waras keluarkan ialah:
-Allah perlukan makhluk(langit).
-Langit lebih besar dari Allah(contohnya jika kita lebih besar dari rumah,macam mana kita nak tinggal di rumah?).
-Jika Allah tinggal di langit,sebelum Allah ciptakan langit,Allah dimana?
-perbuatan ‘duduk’ itu adalah perbuatan makhluk,adakah fe’el allah sama dengan fe’el makhluk?kenapa orang Wahhabi tak namakan anak mereka sebagai ‘Abdul Jalis’(Hamba kepada yang duduk)?
Dan banyak lagi kalian fikirkan sendiri,kalau tak post ni akan menjadi terlalu panjang,tidak ada yang berminat nak baca nanti.
2) Mengkafir umat Islam secara keseluruhannya.
Wahabi ini menuduh umat Islam Salaf dan Khalaf yang bertawassul dengan para nabi atau sahabat ,tabiin dan wali –wali Allah yang soleh ADALAH KAFIR.
Dengan ini mereka mendustakan HADITS SOHIH yang diriwayat para ulamak muhaddithin seperti :
1) Imam Al-Hafidz Thobroni dalam “Mu’jam Kabir”dan “Mu’jam soghir” dan mensohihkan hadis tawassul tersebut.
2) Imam Syeikhul Islam As-Subky di dalam kitab “Syifa-us-Saqam”.
3) Imam Al-Hafiz Abu Bakar Al-Baihaqi di dalam kitabnya “Dala-il An-Nubuwwah” dan kitab Syu’ab al-Iman.
4) Amir Mukminin dalam bidang hadis, Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqolani. Beliau menyebut cerita tentang lelaki yang datang kepada kubur Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassallam lalu bertawassul dengannya. Ibn Hajar Mensohihkan sanad hadis ini di dalam kitab Fathul Bary jilid 2 m/s 495.
5) Imam Al-Hafidz Al-Dimyathi.
6) Imam Al-Hafidz Abu Al-Hasan Al-Maqdisy.
7) Syeikh Huffaz Al-Hafiz ‘Iraqy.
8) Imam Al-Hafidz Al-Darulqutny.
9) Imam Al-Hafidz Nawawi.
10)Imam Al-Hafidz Imam Al-Nasai’.
11) Imam Al-Hafidz Al-Lughawi Murtadha Az-Zabidi Al-Hasani.
12) Ibn Sunni di dalam ” ‘Amal al-Yaum wa al-Lailah”.
13) Amir Mukminin dalam bidang hadis, Imam Al-Bukhari dalam “adab al-mufrad”.
14) Imam Al-Hafidz Tirmizi.
15) Al-Hakim Abu Abdillah di dalam kitabnya ” Mustadrak”. Beliau menyebut hadits bertawassulnya Nabi Adam dengan Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi wassallam serta mensohihkan hadits tersebut.
16) Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuty dalam kitabnya “Khaso-is Al-Qubra”. Beliau menyebut tentang hadits tawassulnya Nabi Adam.
17) Imam Al-Hafidz Abu Al-Farraj Ibn Jauzy di dalam karyanya “Al-wafa’ “.
18) Imam Al-Hafidz Al-qadhi ‘iyadh dalam kitabnya ” As-Syifa’ Fit Taa’rif Bi Huquqil Mushthofa Sollallahu ‘Alaihi Wassallam”. Beliau menyebut keharusannya pada bab Ziarah dan juga pada bab kelebihan Nabi Sollallahu ‘Alaihi Wassallam.
19) Imam As-syeikh Nuruddin Al-Qory yang terkenal dengan gelaran Mulla ‘Ali Qory di dalam syarahnya terhadap kitab Syifa’.
20) Imam Al-Hafidz Al-Qoshtholany di dalam kitabnya “Al-Mawahibul Ladunniyyah” pada bahagian awal kitabnya.
21) Al-Allamah As-Syeikh Muhammad ‘Abdul Baqiy Al-Zarqany dalam syarahnya pada kitab Al-Mawahib (jilid 1 m/s 44).
23) Imam Syeikhul Islam Abu Zakaria Yahya An-Nawawi di dalam Kitabnya ” Al-i-dhoh” pada bab yang ke 6 m/s 497)
24) Al-Allamah As-Syeikh Ibn Hajar Al-Haitamy dalam “Hasyiah ‘Ala Al-i-dhoh”, m/s 499. beliau membincangkan keharusan bertawassul secara khusus di dalam bab yang di namakan ” Al-Jauhar Al-Munazzhom”.
25) Imam Al-Mufassir Abu ‘Abdullah al-Qurthuby di dalam tafsirnya pada Jilid yang ke 5 m/s 265.
Antara sahabat yang bertawassul dan meriwayat hadis- hadis ini :
1) Abdullah Ibn ‘Umar
2) Uthman Bin Hunaif
3) Bilal bin Harits
Adapun pandangan Al-Albaani yang mengatakan hadis ini dhoif tidaklah boleh diterima kerana dia tidak pernah sampai ke martabat Al-Hafiz atau Muhaddits maupun Musnid,dan dia tidak mempunyai sanad hadis walaupun cuma 10 hadis,jauhnya seperti langit dan bumi.
Bahkan bila kita teliti pandangan wahhabi yang mengatakan tawassul ini syirik, mereka sebenarnya mendustakan dan MENGKAFIRKAN penghulu kita Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wassallam yang mengajar doa tawassul ini :
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكُ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي ، فَتَقْضِي لِي حَاجَتِي
Adakah nabi Nabi Muhammad Sollallahu ‘Alaihi Wassallam mengajar kepada kita suatu doa yang membawa kepada syirik??
Aku katakan : Subhanaka haza Buhtanun ‘Adzim!!
HADIS TAWASSUL
Sesungguhnya At-Thabrani dan al-Baihaqi telah meriwayatkan bahawa seorang lelaki telah datang mengadukan halnya kepada Sayyidina Utsman bin Affan dizaman pemerintahannya, tetapi Saiyyidina Utsman tidak berpaling kepadanya dan tidak memandang kepada hajat yang diperlukannya [kerana kesibukan]. Lelaki itupun berlalu dan mengadu pula kepada Utsman bin bin Hunaif tentang hal itu. Mendengar hal itu, Utsman bin Hunaif pun berkata kepadanya: Kalau begitu pergilah kamu ke tempat berwudhu dan berwudhulah, kemudian datangilah masjid dan bersholatlah. Lepas itu berdoalah:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكُ وَأَتَوَجَّهُ إِلَيْكَ بِنَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ نَبِيِّ الرَّحْمَةِ ، يَا مُحَمَّدُ إِنِّي أَتَوَجَّهُ بِكَ إِلَى رَبِّي ، فَتَقْضِي لِي حَاجَتِي
Ya Allah, sesungguhnya aku bermohon kepadaMu dan aku menghadap kepadaMu melalui nabiMu yang penuh kasih sayang, Wahai Muhammad, sesungguhnya aku menghadap [hajatku] dengan [perantaraan]mu kepada Tuhanku agar diperkenankan bagiku hajatku. Dan engkau sebutlah hajatmu. Lelaki itupun berlalu dari situ dan melakukan suruhan tersebut.Kemudian dia datang ke pintu rumah Sayyidina Utsman . Tiba-tiba datang seorang penjaga pintu lalu menarik tangannya masuk kedalam dan didudukkan bersama-sama Saidina Utsman . Sayyidina Utsman berkata: Sebutlah hajatmu itu. Lalu lelaki itupun menyebut dan akhirnya Sayyidina Utsman pun menunaikan hajatnya. Sayyidina Utsman bertanya lagi: Kalau kamu mempunyai hajat lagi, sebutlah.Selepas itu lelaki itupun keluar lalu menemui Utsman bin Hunaif dan berkata kepadanya: Moga-moga Allah membalas jasamu dengan kebaikan. Tidaklah ia memandang kepada hajatku sehingga engkau mengajarkan kepadaku. Ibn Hunaif lantas menjawab: Demi Allah, tidaklah aku mengajarmu, tetapi sebenarnya aku telah menyaksikan bahwa Rasulullah ketika didatangi oleh seorang buta mengadu akan hilangnya penglihatannya ………. (hingga akhir hadits .. Maka ini adalah tawassul dan seruan selepas wafat Rasulullah.
Syeikhul Takfir
Siapakah syeikhul takfir ini sebenarnya ? Kenapakah disembunyi identitinya?..
Untuk menjawab soalan ini,mari kita lihat bukti yang didedahkan oleh ulamak-Ulamak bahawa Muhammad Bin Abdul Wahhab inilah sebenarnya Syeikhul Fattan dan Syeikh Takfir.
-Mengkafirkan ulama najd, lihat Al-Durar m/s 10,15.
-Mengkafirkan ulama mazhab hanbali dan selainnya yang sezaman dengannya,lihat Al-Durar m/s 10,13.
-Muhammad Bin Abdul Wahhab kafirkan orang perseorangan. Antaranya dia mengkafirkan Ahmad Ibn Abd Karim (seorang alim mazhab hanbali),lihat Al-Durar m/s 10,64.
-Mengkafirkan orang badawi. Lihat Al-Durar (113,114) (118,117,119) beliau mengatakan bahawa mereka lebih kafir dari Yahudi Dan Nasoro.
-Mengkafirkan penduduk makkah. Lihat Al-Durar 10/86 dan 9/291. Dia mendakwa kedua tanah haram Makkah Dan Madinah adalah negara kufur. Lihat Al-Durar 10/7.
-Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkafirkan ibn Arabi sebagaimana dalam kenyataannya di dalam kitab Al-Durar 10/25 : “Dia (Ibn ‘Arabi) lebih kufur dari firaun sesiapa yang tidak mengkafirkannya , maka dia adalah seorang yang kafir. Bahkan, kafir juga orang yang merasa ragu dengan kekufurannya.”
-Mengkafirkan Imam Al-Razi pengarang kitab tafsir yang masyhur, tafsir al-kabir.Lihat Al-Durar 10/72, 273. Dia telah mendakwa Imam Al-Razi telah menulis sebuah risalah membenarkan umat Islam menyembah bintang-bintang, rujuk Al-Durar 10/355, dakwaan sebegini dia sandarkan kepada Ibn Taymiyah Al-Harrani al-Mujassim di dalam kitab “Iqtidho’ As-Sirot Al-Mustaqim”. Tetapi apabila ulamak merujuk dakwaan kenyatan ini ,ianya tidak terdapat sebagaimana yang disebut oleh Muhammad Bin Abdul Wahhab.
-Mengkafirkan kebanyakan penduduk Syam dengan mendakwa mereka menyembah Ibn Arabi lihat Al-Durar 2/45.
-Dia mengatakan ilmu fiqh yang diistinbatkan oleh imam mazhab adalah usaha yang kufur,lihat Al-Durar 2/59.
-Mengkafirkan ulama kalam (ulamak usuluddin). Dia berkata ’ulama’ telah ijmak mengkafirkan ulamak kalam. lihat Al-Durar 1/35.
-Muhammad Bin Abdul Wahhab mengkafirkan semua guru-gurunya, di dalam kitab risalah untuk penduduk riyadh, tarikh najd tulisan Husain Bin Ghannam m/s 137-138, Muhammad Bin Abdul Wahhab berkata di dalam risalah tersebut ” tidak ada dari seorang pun dari kalangan guru-guruku yang mengetahui makna La ilaha illa Allah”.
Golongan wahabi
1. Mengkafikan Ahlus Sunnah Wal Jamaah iaitu al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah. Soleh bin Fauzan (wahhabi) berkata: ” Pengikut Al-Asyai’rah dan Al-Maturidiyah tidak layak digelar sebagai ahli sunnah wal jamaaah”. Rujuk kitab Min Masyahir Al-Mujaddidin Fil Islam, m/s 32, Terbitan Riasah Ammah Lil Ifta’ di Riyadh (Najd). Juga cucu Muhammad Bin Abdul Wahhab, Abd Rahman tidak ketinggalan mengikuti jejak takfir datuknya di dalam kitabnya Fathul Majid m/s 353, Terbitan Maktabah Darul Salam Riyadh.
2) Mengkafirkan mereka yang menyebut selawat syifa’ ,IbnBazz (wahhabi) berkata : ” lafaz selawat ini adalah syirik“. Rujuk kitab “Kaifa Ihtadaitu Ila Al-Tauhid” , Karangan Muhd Jamil Zainu, m/s 83,89, Cetakan Darul Fatah.
3)Mengkafirkan saiyyidah Hawwa.
4) Mengkafirkan ulama-ulama sufi yang benar lagi soleh dan mengisytiharkan perang terhadap mereka seperti di dalam kitab ” Majmu’ Al-mufid Min ‘Akidah Tauhid” ,m/s 102, Cetakan Maktabah Darul Fikr Riyadh. Nash kata-kata mereka ialah : ”perangilah golongan sufi sebelum kamu memerangi YAHUDI, sesungguhnya sufi itu adalah ruh Yahudi”.
5) Mengkafirkan ulama yang mentafsirkan istiwa(yang mereka terjemahkan sebagai bersemayam) dengan makna istaula di dalam kitab mereka “Halaqaat Mamnu’ah “, Tulisan Husam Al-Aqod ,Cetakan Darus Sahabah ,Tonto.
6) Mengkafirkan Umat Islam yang menyambut maulidurrasul dan yang mengamal amalan ini sejak 900 tahun yang lalu. Ibn Baaz berkata: ” Perayaan maulidurrasul adalah menyerupai orang yahudi “. rujuk kitabnya ” Tahzir minal Bida’ah”, m/s 5, Cetakan Riyadh Saudi.
7) mengkafirkan ulama yang bertawasul dengan para wali dan solihin,berkata abu bakar al jazair, di dalam kitab aqidatul mukmin m/s 144’ tawasul dengan kemuliaan mereka adalah syirik dan boleh mengeluarksan mereka dari islam dan berkekalan dalam neraka.’
8) Wahabi mengkafirkan Ibn Hajar Al-Asqolany dan Imam Nawawi dalam kitab mereka ” liqa’ babil maftuh“.
9) Wahabi mengkafirkan umat Islam yang beristighasah dengan para anbiya’. Ibn Bazz berkata: ” istighasah dengan nabi –nabi adalah syirik”. Rujuk kitabnya ” ‘akidah Sohihah Wa Ma Yudhodiduha”, m/s 22, Cetakan Darul Watan Riyadh.
10) Wahabi mengkafirkan mereka yang mengucapakan “good morning” and “good night”, dan mengatakan ucapan ini salah kerana mengikut jejak yahudi di dalam kitab mereka “Akhtho’ Sya’i’ah”, Karangan Muhd Zainu, m/s 67.
11) Mengkafirkan sebahagian penduduk Islam di Hijaz dan Yaman , berkata Ibn Bazz: ” telah tersebar dikalangan penduduk di sana (Hijaz dan Yaman) mereka yang menyembah selain dari Allah menyembah pokok, batu-batu dan kubur.”
12) Mengkafirkan sebahagian penduduk Syam, dan mendakwa penduduk syam menyembah Ibn ‘Arabi. Rujuk ta’liq Ibn Bazz pada kitaq “Fathu Majid”, m/s 217, Cetakan Darul Aulaanah.
13) Mengkafirkan sebahagian penduduk Islam di Mesir.Wahhabi mengatakan bahawa penduduk Islam Mesir mengagungkan Tuhan iaitu wali Ahmad Badawi. Rujuk taaliq Ibn Baz pada kitab “Fathul Majid” m/s 206, Cerakan Aula Nahi.
Islam vs Liberal
Berkata Mohd Asri Bin Zainul ‘Abidin,di dalam Majalah I m/s 33: ” sekarang dunia moden, banyak pengetahuan boleh di cari hanya beberapa klik di hadapan internet. Jika kita tidak larat fikir , jangan halang orang lain mencari maklumat dan berfikir. Tunjukkan imej keistimewaan islam itu dengan mengizinkaN kepelbagaian pemikiran hidup dalam iklim yang harmoni selagi tiada penipuan dan pengkhianatan.”
Sekira maklumat yang Dr Asri sebarkan itu jelas penipuan dan pengkhianatan…adakah Dr asri nak mengatakan ianya ilmiyah dan berfakta…??
Pengasas Wahhabi
Post ni dah terlampau panjang,nanti tak ada yang mahu baca,jadi aku akan ceritakan sejarah pengasas wahhabi ni di post yang lain.
Disini aku cuma ceritakan secara ringkas mengenai pengasas Wahhabi.Wahhabi ni merujuk kepada seorang alim dari tanah najd(riyadh,saudi arabiyya) yang bernama Muhammad bin Abdul Wahhab.Ulama menisbatkan kepada Wahhab sebab tak mahu ia digelar sebagai ajaran Muhammadiyyah kerana orang ramai akan salah paham bahawa ia adalah ajaran Nabi Muhammad.Ia dinisbatkan kepada nama individu sebab ajaran ini adalah ajaran baru yang belum pernah didengari sebelum ini kecuali bab akidah,Syeikh M.A.W(Muhammad Abdul Wahhab) ini telah mengikuti akidah mujassimah(menjisimkan Allah) yang dicipta oleh seorang ulama mahsyur yang dikenali sebagai Syeikhul Islam iaitu Ibnu Taymiyyah,guru kepada ibnu Qayyim Jauziyyah.
Sejarah hitam Muhammad Bin Abdul Wahhab kelihatan amat terang dan nyata sekali di dalam masyarakat Islam. Bila disebut kalimah wahhabi, umat Islam setempat akan membayangkan suatu kumpulan yang baru datang memporak- perandakan masyarakat dan memecahbelahkan Umat Islam. Dan ini memang benar-benar berlaku dan nyata bila dirujuk sejarah golongan wahhabiyah ini.
Gerakan ini telah berkerjasama dengan tentera kafir(British)dalam perang dunia pertama untuk menjatuhkan empayar turki usmaniah dan merampas Mekah Madinah(sebagai hadiah dari British) dari penjaga asalnya dari kaum bani Quraisyh yang berketurunan nabi.
Keturunan nabi dan arab bani quraish dibunuh,dipancung,dirogol dan dihalau dari bumi Mekkah dan Madinah oleh puak Wahabi yang meminta pertolongan ketenteraan dari bani sa’ud yang juga telah diwahhabikan dan British.
Hasilnya,keturunan M.A.W telah dijadikan ketua agama Mekah Madinah hingga sekarang,bani Sa’ud pendokong fahaman Wahabi diberi takhta di seluruh jazirah arab hijjaz yang kemudiaannya ditukar menjadi sebuah negara bernama ‘Saudi Arabiyya’ dan bagi British,empayar Turki Usmaniah yang berdiri teguh beratus-ratus tahun hancur luluh dan membuatkan mereka bersorak.
Arab Saudi yang mesra musuh islam
Arab Saudi yang mesra musuh islam
Tak lama kemudian,masjid Al-Aqsa pula dirampas oleh British dari penjaganya yang berketurunan nabi dan diberi kepada yahudi yang menjadikan ia sebagai negara Israel.
Maka itulah tanda kiamat apabila ketiga-tiga masjid paling suci dalam islam telah dirampas dari penjaga asalnya iaitu keluarga Rasulullah.Hingga kini Arab Saudi menjadi kawan baik Amerika dan eropah sebagai tanda terima kasih memberikan Mekah Madinah kepada mereka(bani sa’ud)dari jagaan empayar Turki Usmaniah.(Kalian boleh berfikir sendiri betapa buruknya golongan Wahabi ini.)
Fitnah Wahhabi ini telah diberi amaran oleh Nabi saw didalam hadis baginda dan golongan Wahhabi tidak sanggup menerima hakikat bahawa Muhammad Abdul Wahhab sebagai tokoh Al-Fattan dan Qarn Syaithan (tanduk Syaithan) seperti yang tersebut dalam hadis-hadis an-Nabawiyyah,dan ramai ulamak muktabar menolak Muhammad Bin Abdul Wahhab ini baik sezaman dan selepasnya.
Hadith dari Sahih Bukhari tersebut adalah seperti berikut (terjemahannya):
Ibn ‘Umar meriwayatkan bahwa Nabi s.a.w. berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Syam kami, Ya Allah Ya Tuhanku! berkatilah negeri Yaman kami”. Mereka (para Sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Najd kami”. Baginda (terus) berdoa: “Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Syam kami, Ya Allah Ya Tuhanku! Berkatilah negeri Yaman kami”. Mereka (para Sahabat) berkata: “Wahai Rasulullah! (Doakanlah) juga untuk negeri Najd kami”. Aku agak pada (permintaan) yang ketiga Baginda bersabda: “Padanya (Najd) (akan berlaku) gempa bumi, fitnah dan tempat terbit tanduk syaitan(Muhammad bin Abdul Wahhab lahir di Najd begitu juga nabi palsu yang timbul selepas kewafatan Nabi iaitu Musailamah Al-kazzab juga dari Najd yang kini dinamakan Riyadh,Arab Saudi)”.
Dalam banyak hadith lain, Najd itu disebut sebagai terletak di sebelah timur Madinah.Nabi pernah menunjukkan jari ke arah timur dan berkata,fitnah akan datang dari timur!sebanyak 3x, Dan sememangnya jika dilihat kedudukan koordinat geografi, Najd/Riyadh terletak pada 2443N 04644E, manakala Madinah terletak pada 2433N 03942E. Kedudukan Riyadh/Najd hampir pada garis darjah latitude yang sama (beza 10 minit sahaja – bukan ukuran waktu tetapi ukuran latitude) dengan Madinah betul-betul sebelah timur.
Helah yang digunapakai bagi mereka yang gerun dengan hadith ini ialah mereka mengatakan bahawa Iraq(tempat lahirnya fitnah Syiah) sememangnya di sebelah timur. Tetapi yang sebenarnya, latitude yang paling rendah bagi Iraq ialah sekitar 3040N (kota Basrah). Baghdad pula 3340N.
Dengan kedudukan latitude sedemikian, Iraq terletak di antara 0 – 40 darjah ke utara Madinah,bukan timur. Kalau nak dikatakan timur, ianya sepatut disekitar 90 +/- 20 darjah dari Medinah.
Moga Allah selamatkan kita dari fitnah Wahhabi!
USA kawan baik Arab Saudi 



sumber:  http://sufiafriqiyya.wordpress.com/2011/04/13/apa-itu-wahabisalafiahli-hadist/

Tuesday, 20 September 2011

Kisah Aisyah Radiallahua`nha

Aisyah Radiallahua`nha

Aisyah adalah salah seorang putri tersayang Sayidina Abu Bakar, sahabat Nabi yang setia, yang kemudian menggantikan Nabi sebagai khalifah yang pertama. Ia lahir di Mekkah 614 M, delapan tahun sebelum permulan zaman hijrah. Orang tuanya sudah memeluk agama Islam. Sejak kecil anak gadis itu telah dididik sesuai dengan tradisi paling mulia, agama baru itu, dan dengan sempurna dipersiapkan dan diberinya hak penuh untuk kemudian menduduki tempat yang mulia.

Aisyah menjadi isteri Nabi selama 10 tahun. Masih muda sewaktu dinikahkan dengan Nabi, tetapi memiliki kemampuan sangat baik sehingga dapat menyesuaikan diri dengan tugas barunya. Kehadirannya membuktikan bahwa ia seorang yang cerdas dan setia, dan sebagai isteri, sangat mencintai tokoh dermawan paling besar bagi umat manusia. Di seluruh dunia, Aisyah diakui sebagai pembawa riwayat paling otentik bagi ajaran Islam seperti apa yang telah disunahkan oleh suaminya. Aisyah dianugerahi ingatan yang sangat tajam, dan mampu mengingat segala pertanyaan yang diajukan para tamu wanita kepada Nabi, serta juga mengingat segenap jawaban yang diberikan oleh Nabi. Diingatnya secara sempurna semua kuliah yang diberikan Nabi kepada para delegasi dan jamaah di masjid. Kerana kamar Aisyah itu bersebelahan dengan masjid, dengan cermat dan tekun ia mendengarkan dakwah, kuliah dan diskusi Nabi dengan para sahabat dan orang-orang lain. Ia mengajukan juga pertanyaan-pertanyaan kepada Nabi tentang soal-soal yang sulit dan rumit sehubungan dengan ajaran agama baru itu. Hal-hal inilah yang menyebabkan ia menjadi ilmuwan dan periwayat yang paling besar dan paling otentik bagi sunnah Nabi dan ajran Islam.

Aisyah tidak ditakdirkan hidup bersama-sama dengan Nabi untuk waktu yang lama. Pernikahannya itu berlangsung hanya 10 tahun saja. Tahun 11 H, 632 M, Nabi wafat dan dimakamkan di kamar yang di huni Aisyah.

Nabi digantikan oleh sahabat yang setia, Abu Bakar, sebagai khalifah Islam yang pertama. Aisyah terus menduduki urutan kesatu, dan setelah Fatimah meninggal dunia pada tahun 11 H, Aisyah dianggap sebagai wanita yang paling penting di dunia Islam. Tetapi ayahnya, Abu Bakar, tidak berumur panjang. Ia meninggal dunia beberapa tahun setelah wafat Nabi.

Selama kekuasaan Umar al-Faruq yang kedua, Aisyah menduduki posisi sebagai ibu utama di seluruh daerah-daerah Islam yang secara cepat makin meluas. Orang datang untuk meminta nasihat-nasihatnya yang bijaksana tentang segala hal yang penting.

Umar terbunuh dan kemudian khalifah Usman. Dua peristiwa kesyahidan tersebut telah mengguncangkan sendi-sendi negara baru itu, dan menjurus kepada perpecahan yang tragis di kalangan umat Islam. Keadaan itu sangat merugikan agama yang sedang menyebar luas dan berkembang dengan cepat, yang pada waktu itu telah menjalar sampai ke batas pegunungan Atlas di sebelah barat, dan ke puncak-puncak Hindu Kush di sebelah timur.

Aisyah tidak dapat tinggal diam sebagai penonton dalam menghadapi perpecahan itu. Dengan sepenuh hati ia membela mereka yang menuntut balas atas kesyahidan khalifah yang ketiga. Di dalam Perang Unta, suatu pertempuran melawan Ali, khalifah yang keempat, pasukan Aisyah kalah dan ia terus mundur ke madinah di bawah perlindungan pengawal yang diberikan oleh putra khalifah sendiri.

Beberapa orang sejarawan yang menaruh minat terhadap peristiwa itu, baik yang Muslim maupun yang bukan, memberikan kritik kepada Aisyah dalam pertempuran melawan Ali. Tetapi tidak seorang pun yang meragukan kesungguhan hati dan keyakinan Aisyah untuk menuntut balas bagi darah Usman.

Aisyah menyaksikan berbagai perubahan yang dialami oleh Islam selama 30 tahun kekuasaan Khalifah yang saleh. Ia meninggal dunia tahun 678 M. ketika itu kekuasaan berada di tangan Muawiyah. Penguasa ini amat takut kepada Aisyah dengan kritik-kritiknya yang pedas berkenaan dengan negara Islam.

Ibu utama agama Islam ini terkenal dengan bermacam ragam sifatnya, kesalehannya, umurnya, kebijaksanaannya, kesederhanaannya, kemurahan hatinya, dan kesungguhan hatinya untuk menjaga kemurnian riwayat sunnah Nabi.

Kesederhanaan dan kesopanannya segera menjadi obor penyuluh bagi wanita Islam sejak waktu itu juga. Ia menghuni ruangan yang berukuran kurang dari 12x12 kaki bersama-sama dengan Nabi. Ruangan itu beratap rendah, terbuat dari batang dan daun kurma, belantaikan tanah. Pintunya cuma satu, dan hanya ditutup dengan secarik kain yang digantungkan di atasnya. Selama masa hidup Nabi, jarang Aisyah tidak kekurangan makan. Pada malam hari ketika Nabi menghembuskan nafasnya yang terakhir, Aisyah tidak mempunyai minyak untuk menyalakan lampu, dan makanan tidak ada sedikitpun.

Sewaktu khalifah Umar berkuasa, Aisyah jarang menahan wang atau pemberian yang diterimanya sampai keesokan harinya, karena semuanya itu segera dibagikan kepada orang-orang yang memerlukannya. Pada suatu hari di bulan Ramadhan, waktu Abdullah bin Zubair menyerahkan sekantung wang sejumlah satu lakh dirham, Aisyah membahagikan wang itu sebelum waktu berbuka puasa.

Aisyah pada zamannya terkenal sebagai dermawan. Pengabdiannya kepada masyarakat, dan usahanya untuk mengembangkan pengetahuan orang tentang sunnah dan fiqih, tidak ada tandingannya di dalam catatan sejarah Islam. Jika orang menemukan persoalan mengenai sunnah dan fiqh yang sukar untuk dipecahkan, soal itu akhirnya di bawa ke Aisyah, dan kata-kata Aisyah menjadi keputusan terakhir. Kecuali Ali, Abdullah bin Abbas dengan Abdullah ibn Umar, Aisyah jug termasuk kelompok intelektual di tahun-tahun pertama Islam.

Ibu agung agama Islam ini menghembuskan nafasnya yang terakhir 17 Ramadhan, 58 H (13 Julai, 678 M). kematiannya menimbulkan rasa duka terutama di Madinah dan di seluruh dunia Islam.

Aisyah bersama Khadijah dan Fatimah az-Zahra dianggap sebagai wanita yang paling menonjol di kalangan wanita Islam. Kebanyakan para ulama menempatkan Fatimah ditangga teratas, diikuti Khadijah, dan Aisyah yang terakhir. Fatimahlah yang berada di tempat teratas, kerana anak tersayang Nabi, Khadijah itu agung karena dialah orang pertama yang memeluk agama Islam. Tetapi, tidak seorang pun yang menandingi Aisyah mengenai peranannya dalam menyebarluaskan ajaran Nabi.

Monday, 19 September 2011

Allah Tidak Jauh, Doa Sentiasa Mustajab

Antara tanda kasih sayang dan rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya adalah Dia tidak mewujudkan sebarang halangan untuk seorang hamba memohon kepada-Nya. Insan diperintahkan berhubung langsung dengan Allah tanpa sebarang 'broker' dalam hubungan yang suci itu. Tiada sebarang perantaraan antara Allah dan hamba-hamba-Nya.
Islam menolak segala unsur keberhalaan yang menjadikan makhluk sebagai tuhan jelmaan menggantikan tuhan yang hakiki. Islam menganggap perbuatan memohon kemakbulan doa dari makhluk adalah syirik. Tidak kira siapa pun makhluk itu. Sama ada dia nabi ataupun wali.
Seorang muslim tidak diizinkan pergi ke kubur mereka dan menyeru: wahai fulan tolonglah saya! Atau: Wahai nabi tolonglah tenteramkan jiwa saya! Atau: Wahai wali sembuhkanlah penyakit saya!
Perbuatan itu adalah syirik. Mukmin hanya meminta doa daripada Allah. Firman Allah: (maksudnya)
"Dan tiada yang lebih sesat dari orang yang menyeru selain Allah, yang tidak dapat menyahut seruannya sehinggalah ke hari kiamat, sedang mereka (makhluk-makhluk yang mereka sembah itu) tidak dapat menyedari permohonan tersebut. Dan apabila manusia dihimpunkan (untuk dihitung amalan pada hari akhirat), segala yang disembah itu menjadi musuh (kepada orang-orang yang menyembahnya) dan membantah mereka." (Surah al- Ahqaf: 5-6).
Firman Allah: (maksudnya)
"Allah jua yang memasukkan malam kepada siang dan memasukkan siang kepada malam (silih berganti), dan Dia yang memudahkan peredaran matahari dan bulan; tiap-tiap satu dari keduanya beredar untuk suatu masa yang telah ditetapkan. Yang melakukan semuanya itu ialah Allah Tuhan kamu, bagi-Nyalah kuasa pemerintahan; sedangkan mereka yang kamu sembah selain Allah itu tidak mendengar permohonan kamu, dan kalaulah mereka mendengar pun, mereka tidak dapat memperkenankan pemohonan kamu; dan pada hari kiamat pula mereka mengingkari perbuatan syirik kamu. Dan (ingatlah) tiada yang dapat memberi tahu kepadamu (Wahai Muhammad, akan hakikat yang sebenarnya) seperti yang diberikan Allah Yang Maha mendalam pengetahuan-Nya." (Surah Fatir: 13-14).
Maka perbuatan memohon selain Allah, sama ada menyeru berhala secara terang atau memanggil nama para wali seperti Abdul Qadir al-Jailani atau wali 'songo' atau apa sahaja termasuk dalam kerja-kerja syirik yang diharamkan oleh nas- nas al-Quran dan al-sunah.
Nabi s.a.w. begitu menjaga persoalan akidah ini. Daripada Ibn 'Abbas:
"Bahawa seorang lelaki berkata kepada Nabi s.a.w: "Apa yang Allah dan engkau kehendaki." Maka baginda bersabda kepadanya: Apakah engkau menjadikanku sekutu Allah, bahkan (katakan): apa yang hanya Allah kehendaki." (Riwayat al-Imam Ahmad dinilai sahih oleh Al-Albani, Silsilah al-Ahadith al-Sahihah, 1/266).
Bandingkanlah ketegasan Nabi ini dengan ajaran sesetengah guru tarekat atau sufi yang mencetuskan segala unsur keajaiban pada diri mereka agar dikagumi oleh pengikutnya. Akhirnya, mereka seakan Tuhan yang disembah, atau wakil Tuhan yang menentukan penerimaan atau penolakan amalan pengikutnya. Bahkan untung rugi nasib masa depan pengikut pun seakan berada di tangan mereka. Demikian juga, pengikut yang melampau, berlebih-lebihan memuja tokoh agama, akhirnya boleh terjerumus kepada kesyirikan. Terlampau memuja tokoh seperti itulah yang menyebabkan banyak individu dianggap keramat dan suci sehingga dipanggil 'tok keramat' lalu mereka seakan dimaksumkan.
Kemudian, datang pula orang-orang jahil ke kubur mereka membayar nazar atau meminta hajat mereka ditunaikan. Sehingga apabila saya ke Urumuqi di China, ada satu gua yang kononnya dianggap tempat Ashabul Kahfi yang disebut dalam al-Quran itu. Ramai yang pergi melakukan kesyirikan dengan meminta hajat di situ. Saya beritahu bahawa dalam dunia ini entah berapa banyak gua yang didakwa kononnya tempat Ashabul Kahfi. Ada di Turki, Jordan dan lain-lain.
Semuanya dakwaan tanpa bukti. Sama juga kononnya tempat-tempat sejarah nabi yang didakwa oleh sesetengah pihak. Tiada petunjuk yang dapat memastikan ketulenannya. Jika pun benar, mereka bukan tuhan untuk seseorang meminta hajat. Inilah yang terjadi kepada Nabi Isa. Dari seorang nabi yang diutuskan, akhirnya manusia menabalkannya menjadi anak Tuhan. Meminta hajat daripada orang-orang agama atau soleh setelah mereka mati adalah syirik. Islam tidak kenal perkara seperti itu. Islam tulen bebas dari segala unsur kebodohan tidak bertebing itu.
Ada yang cuba membela dengan menyatakan: bukan apa, mereka ini ialah orang yang dekat dengan Allah, kita ini jauh. Maka kita gunakan perantaraan mereka. Macam kita hendak dekat dengan menteri atau raja. Saya kata kepada mereka: Adakah awak menganggap Allah itu sama dengan tabiat raja atau menteri awak? Dakwaan inilah yang disanggah oleh al-Quran sekeras-kerasnya.
Firman Allah: (maksudnya)
"Ingatlah! Hanya untuk Allah agama yang bersih (dari segala rupa syirik). Dan orang-orang musyrik yang mengambil selain dari Allah untuk menjadi pelindung itu berkata: "Kami tidak menyembah mereka (tuhan-tuhan palsu) melainkan untuk mendekatkan kami kepada Allah sehampir-hampirnya". Sesungguhnya Allah akan menghukum antara mereka tentang apa yang mereka berselisihan padanya. Sesungguhnya Allah tidak memberi hidayah petunjuk kepada orang-orang yang tetap berdusta (mengatakan yang bukan- bukan), lagi sentiasa kufur (dengan melakukan syirik)." (Surah al-Zumar:3).
Setelah Allah menceritakan tentang bulan Ramadan dan kewajiban puasa, Allah terus menyebut kemustajaban doa. Ia menunjukkan adanya kaitan yang kuat antara puasa Ramadan dan janji Allah untuk memustajabkan doa hamba-hamba-Nya. Allah berfirman (maksudnya):
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu mengenai Aku maka (beritahu kepada mereka): Sesungguhnya Aku (Allah) sentiasa hampir (kepada mereka); Aku perkenankan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka menyahut seruan-Ku (dengan mematuhi perintah-Ku), dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku supaya mereka mendapat petunjuk." (Surah al-Baqarah: 186).
Demikian, Allah itu sentiasa hampir dengan kita, mendengar dan memperkenankan doa kita. Sesiapapun boleh sampai kepada-Nya. Tiada pengawal atau orang tengah yang menghalang seorang hamba untuk merintih dan merayu kepada Tuhannya. Siapapun hamba itu. Apa pun bangsanya dan apa pun bahasa doanya. Apa pun sejarah buruk dan baiknya.
Tuhan sentiasa sudi mendengar lalu memustajabkan pemohonan mereka dengan cara yang dikehendaki-Nya. Bertambah banyak hajat dan permohonan seorang hamba, bertambah kasih dan dekat Allah kepadanya. Amat berbeza dengan tabiat makhluk yang lemah ini. Walau bagaimana baik pun seseorang dengan kita, namun jika kita terlalu meminta, perasaan jemu dan bosan akan timbul dalam jiwanya. Allah Maha Suci dari demikian. Dia menyuruh kita berdoa dan membanyakkan doa. Ini kerana doa adalah lambang kehambaan diri kepada zat yang Maha Agung.
Firman Allah (maksudnya):
"Dan Tuhan kamu berfirman: Berdoalah kamu kepada-Ku nescaya Aku perkenankan doa permohonan kamu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong takbur daripada beribadat (berdoa kepada-Ku) akan masuk neraka jahanam dalam keadaan hina." (Surah Ghafir: 60).
Seseorang kadangkala tidak perasan bahawa apabila dia berdoa kepada Allah sebenarnya dia sedang melakukan ibadah yang besar. Walaupun pada zahirnya kelihatan dia sedang memohon untuk kepentingan diri sendiri, namun hakikatnya dia sedang membuktikan keikhlasan tauhidnya kepada Allah dan ketundukan kepada Tuhan Yang Sebenar. Maka dengan itu Nabi menyatakan: Doa itu adalah ibadah. (Riwayat Abu Daud dan al- Tirmizi, sahih). Jika sepanjang malam seorang hamba berdoa kepada Allah, bererti sepanjang malam dia melakukan ibadah yang besar.
Doa sentiasa diterima oleh Allah. Jika ada yang kelihatan tidak diterima, mungkin ada beberapa faktor yang mengganggu. Mungkin pemohonan itu tidak membawa kebaikan jika dimustajabkan. Allah Maha Mengetahui. Seperti hasrat kita ingin mengahwini seseorang yang kita suka, lalu kita berdoa agar Allah menjadikan dia pasangan kita. Allah lebih mengetahui jika itu tidak baik untuk kita lalu Allah memilih untuk kita pasangan yang lain. Atau Allah memustajabkan doa orang lain yang lebih dikehendaki-Nya. Atau Allah memustajabkan doa calon berkenaan yang inginkan orang lain. Segalanya mungkin. Namun doa tidak sia-sia. Pahala tetap diberikan, kebaikan yang lain pula akan diganti di dunia dan di akhirat.
Sabda Nabi s.a.w.:
"Tiada seorang muslim yang berdoa dengan suatu doa yang tiada dalamnya dosa, atau memutuskan silaturahim melainkan Allah akan memberikan kepadanya salah satu dari tiga perkara: sama ada disegerakan kemakbulan atau disimpan untuk diberikan pada hari akhirat, ataupun dijauhkan keburukan yang sepandan dengannya." (Riwayat Ahmad, al-Bazzar dan Abu Ya'la dengan sanad yang sahih).
Maka, ada doa kita kepada Allah diterima olehnya di dunia. Ada yang tidak diberi disebabkan hikmat yang Allah lebih mengetahuinya, lalu disimpan doa itu di sisi-Nya untuk diberikan pada hari akhirat dengan yang lebih baik dan lebih utama untuk kita. Atau doa itu ditukar dengan kebaikan-kebaikan yang lain seperti diselamatkan kita dari pelbagai bahaya yang sebahagian besarnya tidak pernah diduga. Betapa banyak keberbahayaan yang menimpa orang lain, tetapi kita diselamatkan oleh Allah. Tidak juga kerana permohonan kita dalam perkara tersebut atau kebijaksanaan kita, namun barangkali doa kita dalam perkara yang lain, lalu diberikan gantian keselamatan untuk kita dalam perkara yang tidak diduga.
Kadangkala Dia tidak memberikan kepada kita sesuatu permohonan disebabkan rahmat-Nya kepada kita. Barangkali ingin menyelamatkan kita. Dia Maha Mengetahui, jika diberikan, mungkin kita hanyut atau menempuh sesuatu yang merugikan kehidupan di dunia atau akhirat. Kita pun demikian. Bukan bererti apabila seorang bapa tidak tunaikan kehendak anaknya tanda kebencian terhadapnya. Bahkan sebahagian besarnya kerana kasih sayang dek bimbang jika diberikan akan mendatangkan kemudaratan. Maha Suci Allah untuk dibandingkan dengan kita semua, namun yang pasti rahmat-Nya sentiasa melimpah. Jika Dia menangguhkan doa kita, tentu ada hikmah-Nya.
Di samping itu hendaklah kita faham, doa itu bermaksud permohonan. Seorang yang berdoa mestilah bersungguh-sungguh dalam doanya. Maka tidaklah dinamakan berdoa jika tidak faham apa yang kita doa. Sebab itu saya amat hairan dengan sesetengah orang yang berdoa tanpa memahami maksud. Sesetengah mereka menghafal teks Arab kerana hendak menjadi 'tekong' doa dalam pelbagai majlis.
Malangnya, ada yang tidak faham apa yang dibaca dan yang mengaminkan pun sama. Ada orang merungut, kata mereka, umat Arab di Masjidilharam dan Masjid Nabawi tidak baca doa selepas solat beramai-ramai. Itu menunjukkan mereka tidak kuat pegangan Islam mereka. Saya katakan: Islam tidak diturun di kampung halaman kita, ia diturunkan di Mekah dan Madinah. Mereka melakukan apa yang menjadi amalan Rasulullah. Lagipun seseorang yang bersolat disuruh berdoa ketika dalam solat dan berwirid selepasnya. Dalam hadis, kita diajar agar berdoa ketika sujud dan selepas membaca tasyahud sebelum salam. Di situlah antara waktu mustajabnya doa.
Sabda Nabi s.a.w.:
"Paling dekat hamba dengan tuhannya adalah ketika sujud, maka banyakkan doa ketika sujud." (Riwayat Muslim).
Nabi memberitahu tentang doa selepas tasyahud sebelum memberi salam dalam solat:
"Berdoalah pasti mustajab, mintalah pasti akan diberikan." (Riwayat al-Nasai, sanadnya sahih).
Bukan bererti orang yang kita tengok tidak mengangkat tangan berdoa kuat beramai-ramai selepas solat itu tidak berdoa. Kita yang barangkali kurang faham sedangkan mungkin mereka berdoa dalam solat melebihi kita. Jika seseorang berdoa selepas memberi salam, tentulah dalam banyak hal, hajat makmum dan imam tidak sama. Maka jangan marah jika kita lihat orang berdoa bersendirian.
Nasihatilah mereka yang membaca doa tanpa faham maksudnya, atau mengaminkan tanpa mengetahui isinya. Lebih menyedihkan, kadangkala doa dibaca dengan nada dan irama yang tidak menggambarkan seorang hamba yang sedang merintih memohon kepada Allah. Sebahagian nada itu, jika seseorang bercakap kepada kita dengan menggunakannya pun kita akan pertikaikan. Layakkah nada seperti itu sebagai doa kepada Allah yang Maha Agung?
Benarlah sabda Rasulullah s.a.w.:
"Berdoalah kamu kepada Allah Taala dalam keadaan kamu yakin akan dimustajabkan. Ketahuilah sesungguhnya Allah tidak menerima doa dari hati yang lalai dan alpa." (Riwayat al-Tirmizi, disahihkan oleh al-Albani).
Pelajari kitab nas-nas agama tentang doa kerana ianya amat penting bagi kehidupan dunia dan akhirat kita.
- Artikel iluvislam.com
- Sumber : drmaza.com

Friday, 16 September 2011

Memahami Persoalan Bida'ah




Artikel ini ditulis di atas permintaan sahabat untuk memahami permasalahan mengenai bidaah. Saya tidak bercadang untuk membawa dalil-dalil dari kitab-kitab yang besar untuk menerangkan masalah yang tiada berkesudahan ini. Sekadar pemerhatian, saya dapati sudah banyak artikel mengenainya ditulis yang dipetik daripada kitab ulamak dan juga dalil al-Quran dan al-Hadis. Namun apa yang ingin saya kongsikan bersama suatu kefahaman yang perlu ada kepada kita untuk memahami permasalahan ini yang sengaja dibesar-besarkan agar umat Islam terus berselisih sepanjang zaman sehingga melupakan perkara yang lebih besar daripada membincangksn masalah khilafiyah yang sudah diselesaikan oleh ulamak terdahulu beratusan tahun.

Namun, kerana wujudnya segelintir golongan yang tidak ingin berpedoman dengan kalam ulamak bahkan mereka lebih suka untuk menggunakan kalam mereka sendiri menyebabkan mereka hanyut dalam kefahaman yang mereka cipta sendiri. Ulamak dikatakan manusia biasa. Mempunyai potensi untuk melakukan kesilapan namun persoalannya apakah kita luar biasa? Apakah pandangan kita tidak ada potensi untuk silap? Sudah tentu pandangan kita yang dangkal dan tidak dipandukan dengan dowaabit syariyyah yang betul, lebih berpotensi untuk silap berbanding ulamak-ulamak kita yang jika dihitung kitab dan tulisan mereka tidak termampu oleh kita untuk merenangi lautan ilmu mereka. Justeru, menyebabkan kita hanyut di lautan yang luas bersama rakit kecil.

Sayugia difahami, untuk memahami nas syar’iyyah kita memerlukan penguasaan ilmu alat. Ilmu alat merupakan suatu sifir dan formula yang disusun oleh ulamak bersumberkan al-Quran dan al-Hadis. Formula ini disusun setelah mereka merenangi lautan ilmu yang luas daripada kalamullah dan kalam Rasulillah SAW. Bukan hanya berakit ke hulu lalu merasakan diri sudah hebat dan jaguh di lautan ilmu Allah SWT. Kesilapan memahami hadis Rasulillah SAW merupakan suatu pendustaan ke atas nama Nabi SAW yang dijanjikan “seat” kelas VVIP di dalam api neraka Allah SWT seperti mana yang telah disabdakan oleh junjungan besar SAW.

Bidaah bukan suatu hukum. Jika kita mempelajari ilmu usul fiqh kita tidak akan menemui satu hukum yang dinamakan sebagai bidaah. Hukum ada 5 yang disebut sebagai hukum takhlifi iaitu wajib, haram, sunat, makruh dan harus. Jadi, sesuatu perkara bidaah hendaklah dihukumkan dengan 5 hukum ini samada ia bidaah yang wajib, bidaah yang haram, bidaah yang sunat, bidaah yang makruh atau bidaah yang harus. Maka kita tidak boleh hukumkan semua bidaah adalah haram kerana terdapat bidaah yang wajib seperti menyusun al-Quran di dalam satu mushaf yang kita tahu ia berlaku pada zaman Sayyidina Uthman R.A. iaitu zaman sahabat Radhiallahu ‘Anhum. Tidak berlaku pada zaman Nabi SAW. Maka Islam tidak menganggap ia sesuatu yang haram bahkan wajib kerana jika tidak disusun di dalam satu mushaf yang dikenali sebagai mushaf uthmani pada zaman kita ini maka keaslian al-Quran tidak akan terjamin kerana masing-masing akan membaca mengikut lahjah (loghat) mereka.

Saya boleh membincangkan topik ini daripada sudut bahasa arab itu sendiri. Adakah kullu yang digunakan oleh Nabi SAW menunjukkan tidak terkecuali yakni semua atau sebahagian sahaja? Tidak ada takhsis dan sebagainya. Mengapa digunakan lafaz nakirah pada perkataan bidaatin? Kenapa digunakan perkataan muaannas iaitu bida’ah tidak digunakan bid’un sahaja namun saya tidak berhasrat untuk membincangkannya pada artikel ini. Cukuplah jika kita memahami bahawa kalam nabi SAW merupakan kalam berbahasa arab dan mesti difahami dengan menggunakan bahasa arab yang betul mengikut qawaid nahwiyyahnya. Jika kita mengetahui makna bahasa arab dengan bantuan kamus jangan merasa terlalu bijak untuk memahami kalam Nabi SAW yang agung sehinggakan penyair-penyair arab yang hebat bahasanya di zaman jahiliyyah tidak dapat menandingi kesusasteraan bahasa Nabi SAW.

Kecuaian dalam memahami istilah hadis. Apakah yang dimaksudkan dengan hadis Nabi SAW? Hadis ialah “apa yang disandarkan kepada Nabi SAW daripada perkataan atau perbuatan atau pengakuan atau sifat kejadian tubuh Nabi SAW atau akhlaknya”. Ulamak usuliyyun yakni ulamak usul fiqh tidak mengambil kira sifat kejadian Nabi SAW dan akhlak sebagai dalil hukum. Dengan perkataan yang lain. Ulamak usuliyyun mengambil kira 3 aspek daripada 5 aspek ini untuk menentukan sesuatu hukum iaitu perkataan Nabi SAW, perbuatan Nabi SAW dan akuan atau diam Nabi SAW.

Kebiasaan golongan yang suka membidaahkan umat Islam melihat kepada dua sahaja iaitu apa yang dikatakan oleh Nabi SAW dan apa yang dibuat oleh baginda dan mencuaikan yang ketiga iaitu hadis taqriri atau sunnah taqririyyah. Jika Nabi tak buat dan Nabi tak kata maka bidaah padahal di sana masih ada satu lagi kategori hadis yang dicuaikan oleh mereka iaitu sunnah taqririyyah.

Sunnah taqririyyah ialah sesuatu yang Nabi diam padanya. Nabi tidak kata boleh dan Nabi tidak kata tak boleh atau haram maka dikira sebagai harus. Pernah belaku di zaman Nabi SAW, para sahabat memakan dhob (binatang padang pasir bentuknya seperti biawak) dihadapan Nabi SAW tetapi Nabi tidak memakannya dan Nabi SAW tidak melarang sahabatnya daripada makan maka ulamak menganggap ia suatu yang halal kerana jika ia suatu yang diharamkan oleh Allah SWT maka pasti dilarang oleh Nabi SAW kerana seorang Nabi tidak akan redha dengan maksiat yang dilakukan oleh umatnya dan menjadi kewajipan seorang Nabi untuk menyatakannnya. Maka inilah yang dikatakan sebagai hadis taqriri atau sunnah taqririyyah. Nabi tak kata dan Nabi tak buat tapi adakah Nabi larang? Jika tidak ada larangan daripada Nabi SAW mengapa kita memandai-mandai untuk melarang dan mengatakannnya haram?

Jika kita melarang apa yang Nabi SAW tidak larang kita juga sebenarnya melakukan bidaah yang lebih besar kerana kita mengada-ngadakan larangan sesuatu yang Nabi SAW sendiri tidak larang..

Kerana kecuaian kita dalam memahami sunnah taqririyah ini maka kita melarang apa yang Nabi SAW tidak pernah melarang seperti tahlil, berzikir selepas solat secara berjemaah, terawih secara berjemaah, talqin kepada orang yang telah mati, bacaan yasin malam jumaat dan seumpamanya bahkan nun jauh di sana ada dilalah yang membenarkan semua itu walaupun daripada sudut parktikalnya berbeza kerana ia termasuk daripada perkara yang luas dan tidak ditetapkan begini-begini. Adapun bidaah yang haram ialah seperti kita menambah bilangan rakaat solat yang secara qot’ie telah ditetapkan oleh Allah dan RasulNya.

Adapun permasalahan baca yasin maka tidak menjadi satu kesalahan jika kita ingin membacanya pada malam jumaat atau pada malam-malam yang lain tanpa mewajibkannya. Namun dengan kelebihan surah yasin yang digelar sebagai qalbul quran (jantung al-Quran) dan kebesaran malam jumaat yang digelar sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari) maka jika digabung keduanya sudah pasti kita akan mendapat ganjaran yang besar di sisi Allah SWT.

 

Monday, 12 September 2011

Alhambra: Peradaban Islam di Andalusia



alhambraAlhambra, sering juga dijuluki "Istana yang Hilang" atau "Kejayaan yang Sirna". Alhambra yang terletak di Andalusia (nama yang diberikan umat Islam untuk Spanyol) menyimpan rekaman sejarah kehebatan ilmu pengetahuan, karya sastra, seni dan arsitektur umat Islam. Bahkan Cordova, wilayah dimana Alhambra berdiri disebut sebagai puncak kecemerlangan ilmu pengetahuan Islam, di saat Barat sedang dalam Abad Kegelapan. alhambraMenurut Washington Irving dalam bukunya berjudul "Al-Hamra", penyebab kemunduran umat Islam di Andalusia, bukan karena kehebatan dan kekuatan tentara Salib (seperti banyak disimpulkan oleh para sejarawan) tetapi karena pertikaian internal, Dan sayang, istana yang begitu megah itu tak lagi diurus, bahkan dijarah dan dihancurkan, termasuk Perpustakaan CORDOVA yang menyimpan banyak dokumen penting bagi ilmu pengetahuan

Awal kedatangan pasukan Islam di Spanyol berawal kabar dari Julian, seorang Gubernur Ceuta, yang memohon kepada Musa bin Nusair, raja Muda Islam di Afrika untuk memerdekakan negerinya, karena di negerinya (Andalusia) sedang dilanda kekacauan yang hebat. Kemudian atas perintah Raja Muda tersebut, beliau memerintahkan Thariq bin Ziyad keturunan Barbar salah seorang Panglima Islam untuk Raja Muda yaitu Musa bin Nusair, maka Tariq dan Pasukannya mengunjungi tanah Andalusia.

Tariq membawa pasukannya kurang lebih 12.000 orang ke Gibraltar pada Mei tahun 711 M. Tanggal 19 Juli 711 M, Raja Muda dan Tariq bin Ziyad bersama pasukannya telah mengalahkan pasukan Kristen di daerah Muara Sungai Barbate. Kemudian, Tarik membagi pasukannya ke-4 (empat) wilayah penting yaitu, Toledo, Kordoba, Malaga, dan Granada.

Timbullah untuk mendirikan kerajaan Islam di tanah Spanyol. Dengan Raja Mudanya di Toledo yang bekuasa tahun 711-756 M berada di bawah pengawasan Bani Umayyah di Damaskus. Kemudian disusul oleh kerajaan-kerajaan Islam lainnya dan juga berdiri Mulukuth Thawaif atau raja-raja kecil, seperti di Malaga di bawah Raja Hamudian (1010-1057); Saragoza di bawah pimpinan Raja Tujbiyah (1019-1039) yang dilanjutkan Raja Huddiyah (1039-1142); Valencia di bawah pimpinan Raja Amiriyah (1021-1096); Badajos dengan Raja Aftasysyiyah (1022-1094); Sevilla di bawah Raja Abbadiyah (1023-1069); Toledo di bawah pimpinan Raja Dzun Nuniyah (1028-1039).

alhambraIstana Alhambra didirikan oleh kerajaan Bani Ahmar atau bangsa Moor (Moria) (bangsa yang berasal dari daerah Afrika Utara), satu kerajaan Islam terakhir yang berkuasa di Andalusia sekarang Spanyol. Kerajaan ini adalah Daulat Bani Ahmar yang berkuasa antara 1232-1492 M, didirikan oleh Sultan Muhammad bin Al-Ahmar atau Bani Nasr yang masih keturunan Sa'id bin Ubaidah, seorang sahabat Rasulullah saw. yang berasal dari suku Khazraj di Madinah. Bangunan Istana Alhambra dibangun kurang lebih tahun 1238 dan 1358 M oleh sultan tersebut yang diteruskan oleh keturunan raja-raja Bani Ahmar. Istana Alhambra tidak langsung didirikan, namun secara bertahap.

Bangsa Berber atau Moor pertamakali menundukkan Andalusia dalam cahaya Islam. Berabad-abad umat Islam berusaha memakmurkan negeri yang gersang, tandus, dan penduduknya yang angkuh dan keras itu, hingga kemudian menjadi sebuah negeri yang subur, makmur, dan menjadi pusat peradaban dunia.

alhambraIstana ini dilengkapi dengan taman mirta semacam pohon myrtuscommunis dan juga bunga-bunga yang indah harum semerbak, serta suasana yang nyaman. Kemudian, ada juga Hausyus Sibb (Taman Singa), taman yang dikelilingi oleh 128 tiang yang terbuat dari marmer. Di taman ini pula terdapat kolam air mancur yang dihiasi dengan dua belas patung singa yang berbaris melingkar, yakni dari mulut patung singa-singa tersebut keluar air yang memancar. Di dalamnya terdapat berbagai ruangan yang indah, yaitu, Ruangan Al-Hukmi (Baitul Hukmi), yakni ruangan pengadilan dengan luas 15 m x 15 m, yang dibangun oleh Sultan Yusuf I (1334-1354); Ruangan Bani Siraj (Baitul Bani Siraj), ruangan berbentuk bujur sangkar dengan luas bangunan 6,25 m x 6,25 m yang dipenuhi dengan hiasan-hisan kaligrafi Arab; Ruangan Bersiram (Hausy ar-Raihan), ruangan yang berukuran 36,6 m x 6,25 m yang terdapat pula al-birkah atau kolam pada posisi tengah yang lantainya terbuat dari marmer putih. Luas kolam ini 33,50 m x 4,40 m dengan kedalaman 1,5 m, yang di ujungnya terdapat teras serta deretan tiang dari marmer; Ruangan Dua Perempuan Bersaudra (Baitul al-Ukhtain), yaitu ruang yang khusus untuk dua orang bersaudara perempuan Sultan Al-Ahmar; Ruangan Sultan (Baitul al-Mulk); dan masih banyak ruangan-ruangan lainnya seperti ruangan Duta, ruangan As-Safa', ruangan Barkah, Ruangan Peristirahatan sultan dan permaisuri di sebelah utara ruangan ini ada sebuah masjid yakni Masjid Al-Mulk.

Selain itu, istana merah ini dikelilingi oleh benteng dengan plesteran yang kemerah-merahan. Yang lebih unik lagi pada bagian luar dan dalam istana ini ditopang oleh pilar-pilar panjang sebagai penyangga juga penghias istana Alhambra. Kemudian, dinding istana itu baik di luar atau pun dalam istana banyak dihiasi dengan kaligrafi-kaligrafi Arab dengan ukiran yang khas yang sulit dicari tandingannya.

alhambraSemula kerajaan ini hanya kerajaan kecil saja namun dengan cepatnya kerajaan ini menjadi kerajaan kuat dan megah hingga dua setengah abad lebih berkuasa. Kekuatan ini bukan saja dari kematangan pola pikir para pemimpinnya, tetapi keadaan alam pun ikut mendukung kejayaannya. Wilayah Granada termasuk daerah sebuah bukit atau pegunungan yang indah dengan ketinggian kurang lebih 150 m, dengan luas kira-kira 14 ha, satu daerah yang sukar dimasuki oleh musuh namun mudah dipertahankan, sekarang Bukit La Sabica.

Pada masa kejayaannya istana Alhambra ini dilengkapi dengan barang-barang berharga seperti barang yang terbuat dari logam mulia, perak, dan permadani-permadani indah yang masih alami buatan tangan manusia.

Raja-raja Bani Ahmar sangat memperhatikan akan kemakmuran rakyat sehingga pada saat itu bidang pertanian, dan roda perniagaan sangat maju. Selama 260 tahun kerajaan raja-raja Bani Ahmar berkuasa, namun timbul di antara mereka perselisihan juga sengketa. Inilah yang menyebabkan lemahnya kerajaan Bani Ahmar. Bagaimanapun gigihnya usaha Sultan Muhammad XII Abu Abdillah an Nashriyyah raja terakhir Bani Ahmar untuk menyelamatkan kerajaannya, akhirnya runtuh juga oleh dua buah kerajaan Kristen yang bersatu dari utara. Maksud dari dua buah kerajaan ini adalah karena perkawinan Karel/Ferdinand V (L. 1452-W. 1516) dari Aragon menikah dengan saudari Henry IV yaitu Ratu Isabella (L. 1451-W. 1504) dari Castille dan Leon. Keduanya menikah tahun 1469. Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella ini, keduanya yang mendukung dan membantu rencana penjelajahan Columbus di tahun 1492.

Pada pertengahan 1491 M, Raja Ferdinand V telah mengepung Granada selama tujuh bulan, Ferdinand V berkemah di Gumada di sebelah selatan kota. Sebelumnya Ferdinand V telah menguasai kota-kota lain seperti MalagaAlmeria. Yang terakhir adalah Granada yang diserahkan oleh raja terkahir Bani Ahmar Abu Abdillah. Penyerahan Granada ini diserahkan di halaman Istana Alhambra. pelabuhan terkuat di Andalusia, kemudian Guadix dan Almunicar, dan Baranicar.

alhambraDemikianlah Granada takluk dan menyerah yang diduduki oleh pengikut-pengikut Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella pada tanggal 2 Januari 1492 M/2 Rabiul Awwal 898 H. Karena kegigihan dan perjuangan Raja Ferdinand V dan Ratu Isabella, Paus Alexander VI (L. 1431-W. 1503) yang terkenal dengan perjanjian Tordesillasnya pada tahun 1494 ia memberi gelar raja dan ratu ini sebagai "Catholic Monarch" atau "Los Reyes Catolicos" atau Raja Katolik.

Dengan kemenangan umat Kristen inilah orang-orang Islam dipaksa keluar dari tanah Spanyol, untuk yang mau menetap harus berpindah agama. Selain dari itu, orang-orang Yahudi pun ikut terusir dari tanah ini. Padahal, saat kekuasaan Islam sedang berjaya mereka mendapat tempat, kehormatan, dan pekerjaan yang layak oleh orang-orang Muslim Spanyol.

Yang sangat menyedihkan perpustakan-perpustakaan Islam ikut dibakar dan dihancurkan. Karya tulis yang sampai kepada kita hanyalah bagian terkecil dari karya-karya pemikir Islam di zamannya hingga sekarang sulit dicari tandingannya, yang sebagian besarnya dihancurkan dan dibakar. Alhambra yang megah pun dengan benteng yang berwarna kemerah-merahan kian tak terawat, kusam, dan tak terlihat wajah aslinya, dan dijadikan Istana Kristen. Kemudian, Masjid Kordoba yang megah didirikan oleh Sultan Abu Yusuf Al-Muwahhid pada tahun 785 M yang diperbesar pada tahun 848, 961, 1187 M., dialih-fungsikan menjadi Gereja Santa Maria de la Sede.

alhambraHampir delapan abad lamanya Islam berkuasa di Spanyol, dari Kordoba hingga Granada adalah bukti nyata sebagai kejayaan Islam tempo dulu serta peradaban tinggi di tanah Andalusia. Salah satu bukti adalah Istana Alhambra ini, satu bangunan yang telah berdiri hingga sekarang yang hampir delapan abad pula usianya masih tetap kokoh walaupun sebagian kecil ada yang sudah lenyap. Kemasyuran istana ini kerena daya pesona serta keindahan arsitekturnya yang sungguh luar biasa.

dicopy dari lama: http://www.namagraph.comSumber: mesjid-asri.blogspot.com

Friday, 2 September 2011

HARI RAYA



Hari raya adalah saat berbahagia dan bersuka cita. Kebahagiaan dan kegembiraan kaum mukminin di dunia adalah karena Tuhannya, yaitu apabila mereka berhasil menyempurnakan ibadahnya dan memperoleh pahala amalnya dengan kepercayaan terhadap janji-Nya kepada mereka untuk mendapatkan anugerah dan ampunan-Nya. Allah Ta 'ala berfirman :

"Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.

Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. " (Yunus: 58).

Sebagian orang bijak berujar: "Tiada seorang pun yang bergembira dengan selain Allah kecuali karena kelalaiannya terhadap Allah, sebab orang yang lalai selalu bergembira dengan permainan dan hawa nafsunya, sedangkan orang yang berakal merasa Senang dengan Tuhannya."

Ketika Nabi shallallahu alaihi wasallam tiba di Madinah, kaum Anshar memiliki dua hari istimewa, mereka bermain-main di dalamnya, maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

"Allah telah memberi ganti bagi kalian dua hari yang jauh lebih baik, (yaitu) 'Idul fitri dan 'Idul Adha (HR. Abu Daud dan An-Nasa'i dengan sanad hasan).

Hadits ini menunjukkan bahwa menampakkan rasa suka cita di hari Raya adalah sunnah dan disyari'atkan. Maka diperkenankan memperluas hari Raya tersebut secara menyeluruh kepada segenap kerabat dengan berbagai hal yang tidak diharamkan yang bisa mendatangkan kesegaran badan dan melegakan jiwa, tetapi tidak menjadikannya lupa untuk ta'at kepada Allah.

Adapun yang dilakukan kebanyakan orang di saat hari Raya dengan berduyun-duyun pergi memenuhi berbagai tempat hiburan dan permainan adalah tidak dibenarkan, karena hal itu tidak sesuai dengan yang disyari'atkan bagi mereka seperti melakukan dzikir kepada Allah. Hari Raya tidak identik dengan hiburan, permainan dan penghambur-hamburan (harta), tetapi hari Raya adalah untuk berdzikir kepada Allah dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Makanya Allah gantikan bagi umat ini dua buah hari Raya yang sarat dengan hiburan dan permainan dengan dua buah Hari Raya yang penuh dzikir, syukur dan ampunan.

Di dunia ini kaum mukminin mempunyai tiga hari Raya: hari Raya yang selalu datang setiap minggu dan dua hari Raya yang masing-masing datang sekali dalam setiap tahun.

Adapun hari Raya yang selalu datang tiap minggu adalah hari Jum'at, ia merupakan hari Raya mingguan, terselenggara sebagai pelengkap (penyempurna) bagi shalat wajib lima kali yang merupakan rukun utama agama islam setelah dua kalimat syahadat.

Sedangkan dua hari Raya yang tidak berulang dalam waktu setahun kecuali sekali adalah:

1. 'Idul Fitri setelah puasa Ramadhan, hari raya ini terselenggara sebagai pelengkap puasa Ramadhan yang merupakan rukun dan asas Islam keempat. Apabila kaum muslimin merampungkan puasa wajibnya, maka mereka berhak mendapatkan ampunan dari Allah dan terbebas dari api Neraka, sebab puasa Ramadhan mendatangkan ampunan atas dosa yang lain dan pada akhirnya terbebas dari Neraka.

Sebagian manusia dibebaskan dari Neraka padahal dengan berbagai dosanya ia semestinya masuk Neraka, maka Allah mensyari'atkan bagi mereka hari Raya setelah menyempurnakan puasanya, untuk bersyukur kepada Allah, berdzikir dan bertakbir atas petunjuk dan syari'at-Nya berupa shalat dan sedekah pada hari Raya tersebut.

Hari Raya ini merupakan hari pembagian hadiah, orang-orang yang berpuasa diberi ganjaran

puasanya, dan setelah hari Raya tersebut mereka mendapatkan ampunan.

2. 'Idul Adha Oiari Raya Kurban), ia lebih agung dan utama daripada 'Idul Fitri. Hari Raya ini terselenggara sebagai penyempurna ibadah haji yang merupakan rukun Islam kelima, bila kaum muslimin merampungkan ibadah hajinya, niscaya diampuni dosanya.

Inilah macam-macam hari Raya kaum muslimin di dunia, semuanya dilaksanakan saat rampungnya ketakwaan kepada Yang Maha Menguasai dan Yang Maha Pemberi, di saat mereka berhasil memperoleh apa yang dijanjikan-Nya berupa ganjaran dan pahala. (Lihat Lathaa'iful Ma'arif, oleh Ibnu Rajab, hlm. 255-258)

via: Facebook.com

Perkara Nikah di Kalangan Masyarakat Melayu

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,


Terlebih dahulu amba ingin menghulurkan ucapan Selamat Hari Raya Aidilfitri kepada seluruh muslimin muslimat dimana saja berada, dengan iringan doa semoga Lebaran ditahun ini akan lebih mendatangkan kebaikan didalam kehidupan kita dan sejagat, Insya`ALLAH.


Mengenai dengan tajuk perbualan yang ingin dikisahkan ialah perkara Nikah kahwin dikalangan masyarakat melayu, tidak tertumpu hanya di Brunei , tetapi dimana saja ada bangsa Melayu (tidak semua lahhh). Kita pun sudah maklum dengan hal sedemikian, tetapi apa yang kita dengarkan dan hadapi pada ketika dizaman ini perkara Nikah ini seolah-olah telah menjadi satu beban yang cukup besar kepada golongan tertentu.


Ini adalah disebabkan dengan sikap kitani sendiri yang sering menyifatkan perkahwinan tu harus diadakan dengan suasana yang cukup meriah dan GAH! Tidak cukup hanya dengan catering, malah harus ditempah satu dewan bagi menjamu tetamu. Apabila kita mengimbas keadaan dizaman-zaman lampau, yang mana dulu majlis perkahwinan sering dibuat dikampung-kampung, desa-desa dengan hadirnya banyak kaum keluarga yang saling menghulurkan bantuan dalam menyelenggarakan majlis, dan kenangan itu memang cukup dan manis sering teringat-teringat walaupun kitani sudah berada jauh dizaman yang serba canggih ini.


Berbalik kepada persoalan kenapa PAYAH nya bekawin masani, yelah kerna adanya DEMAND yang cukup tinggi hingga membebankan bagi pihak yang kurang berkemampuan. Bagi golongan yang berjawatan tinggi dan menjawat gaji yang lumayan, memang bagi mereka perkara ini amat mudah, tetapi bagaimana dengan mereka yang berpendapatan sederhana?????


Apakah senario sebegini akan terus menerus menular dikalangan masyarakat kita??? Kenapa soal nikah kahwin harus disifatkan TERLALU MAHAL??? Sedangkan melalui Hadis Nabi Muhammad s.a.w ada menyatakan:
“Sebaik-baik pernikahan adalah yang paling mudah.” (Hadis Riwayat Abu Daud, 6/13, no. 1808. Dinilai sahih oleh al-Albani).

Jadinya apabila kitani memandang perkara ini didalam kacamata ISLAM, bermakna nikah kawin itu tidak perlu susah-susah, malah ianya harus di senang-senangkan. So perkara ani harus diambil perhatian kepada kitani semua, janganlah kita membebankan diri sendiri dan juga pihak yang lain. Yang menakutkan adalah jika adanya fikiran-fikiran singkat yang akan membuat keputusan diluar kawalan seperti terjadinya ZINA berleluasa disana sini, salah satu puncanya adalah kerna hendak NIKAH DAN KAHWIN adalah MAHAL. Jadinya bagaimana kah kitani kan menyahut seruan TITAH KDYMM Baginda Sultan agar menjadikan negara kitani sebagai NEGARA ZIKIR??? Semua atu akan berbalik kepada kitani semua! Marilah kitani sama-sama fikirkan dan ambil pendekatan yang khusus mengenai perkara ini. 


Mohon maaf dan silap andainya ada perkataan yang kurang sopan sepanjang penulisan saya kali ini. Sekian

Wassalam..

seribrunei.