Tatkala Allah hendak menciptakan bentuk Nabi Adam a.s, Dia mencampur air, tanah, api dan uap dalam penciptaannya, lalu bertajalli kepada campuran tersebut dengan sifat dan zatNya, serta digenggam dengan kekuasaannya, lalu campuran itu dibawa ke alam malakut dan dicampur dengan wangi-wangian surga serta disirami dengan bahrul uluhiyah.
Adapun masa penciptaan Nabi Adam as, kira-kira120 tahun yakni 40 tahun dalam tanah berlumpur, 40 tahun dalam tanah bebatuan dan 40 tahun dalam lapisan tanah yang membusuk, akan tetapi tidak diketahui kapan masa penciptaannya tersebut. Allah berfirman: “Bukankah Telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), Karena itu kami jadikan dia mendengar dan Melihat. (QS. Al-Insaan : 1-2)
Kemudian Allah sempurnakan bentuknya seperti keadaan manusia sekarang ini serta Allah rahasiakan hakikat bentuk dan kejadiannya dari para malaikat, sehingga membuat memandang dengan hina, karena kebodohan mereka tentang rahasia Allah.
Maka tatkala Allah menciptakan nabi Adam, Dia berfirman kepada para malaikat, sebagaimana tertulis dalam sebuah al-Qur’an. “(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila Telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya roh (ciptaan)Ku; Maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya". (QS. Shaad:71-72)
Lalu Allah berfirman kepada malaikat Jibril “Hai Jibril turunlah kamu ke dunia, ambillah beberapa jenis tanah, Aku hendak menciptakan makhluk baru yang bernama manusia”. Malaikat Jibril pun turun ke dunia untuk mengambil beberapa jenis tanah, sesampainya di dunia ia ditanya oleh tanah : “Hai Jibril, untuk apa Allah menyuruhmu mengambil tanah?” Malaikat Jibril menjawab : “Allah hendak menciptakan makhluk baru yang bernama manusia”. "Jangan! Aku tidak mau bertanggung jawab atas ciptaan ini, aku takut apabila Allah menciptakan sesuatu dariku yang aku tidak sanggup menanggungnya”.
Mendengar penolakan tersebut, malaikat jibril pun naik ke langit dan melaporkan kepada Allah perihal tanah yang tidak sanggup menanggung beban karena takut akibat yang akan terjadi bila Allah menciptakan manusia.
Lalu Allah memerintahkan malaikat Mikail untuk turun ke dunia. Sebagaimana halnya malaikat Jibril, permohonan kepada bumi pun di tolak, dan iapun kembali dengan tangan hampa, lalu Allah memerintahkan malaikat Isropil untuk turun ke dunia mengambil beberapa jenis tanah sebagaimana halnya malaikat Jibril dan Mikail, permohonan kepada bumi pun dibantah, dan ia pun kembali ke langit melaporkan tugasnya yang gagal.
Maka Allah memerintahkan malaikat Izrail untuk turun ke dunia, sebagaimana halnya yang lain, permohonannya kepada bumi untuk minta beberapa jenis tanah ditolak. Kemudian ia berkata kepada bumi : “Hai bumi tahukah kamu sesungguhnya hal ini bukan keinginan kami, para malaikat, akan tetapi Allah lah yang telah memerintahkan kami untuk mengambil beberapa jenis tanah darimu, dan Dialah zat yang Maha mengetahui semua rahasia dibalik penciptaan seluruh makhluknya.
Mendengar penjelasan malaikat Izrail, bumipun diam tubuhnya begetar hebat karena takut kepada Allah, lalu malaikat Izrail merentangkan seluruh sayapnya dari Timur ke Barat, dan diambil beberapa jenis tanah, yang berwarna merah, putih, hitam, kuning, coklat dan kelabu. Itulah yang menyebabkan anak cucu keturunan Nabi Adam berlainan warna kulitnya.
Kemudian, malaikat Izrail membawa beberapa jenis tanah itu kehadapan Allah : “Ya Allah, zat yang Maha Mengetahui, inilah hambaMu yang datang membawa tugas”. Allah berfirman : “Engkau telah berhasil melaksanakan tugasmu, untuk itu Kupercayakan pula untuk mencabut ruh keturunan Nabi Adam as”.
“Ya Allah, alangkah berat tugas ini, karena hamba akan mendapat cacian dan makian dari mereka”. “Tidak! Tugasmu hanya mencabut ruh, sedangkan kematian mereka ada sebabnya, diantara mereka ada yang mati karena tenggelam, ada yang mati karena terjatuh, terbunuh, tertabrak, dan sebagainya”. Walaupun sebabnya bermacam-macam, tapi hakikat kematian itu hanya satu yaitu dicabutnya ruh dari jasad mereka.
Kemudian Allah memerintahkan malaikat Mikail untuk mengambil 4 jenis air dari dalam surga yaitu, air manis, air pahit, air asin, dan air amis, lalu tanah yang telah diambil oleh malaikat Izrail pun disiram dengan keempat jenis air tersebut, maka jadilah keempat jenis air itu menempati sudut-sudut dalam tubuh manusia, yaitu air liur rasanya manis, air mata rasanya asin, air hidung rasanya amis dan air telinga rasanya pahit.
Allah berfirman dalam hadits qudsi : "Aku telah mencampur, tanah adam (yakni tanah yang dipilih oleh Allah sebagai bahan dasar penciptaan jasad Nabi Adam) dengan kekuasaanKu selama 4 hari."
Syekh Abdul Wahab berpendapat : Sesungguhnya Allah telah menciptakan jasad Nabi Adam dengan tanah yang diambil dari 7 lapis bumi, yaitu lapisan pertama Allah ciptakan kepalanya, lapisan kedua Allah ciptakan batang lehernya, lapisan ketiga Allah ciptakan dadanya, lapisan keempat Allah ciptakan kedua tangannya, lapisan yang kelima Allah ciptakan punggung dan perutnya, lapisan keenam Allah ciptakan pinggang dan pangkal pahanya, dan lapisan yang ketujuh Allah ciptakan kakinya.
Sedangkan Abdullah bin Abbas ra, berpendapat : seusungguhnya Allah telah menciptakan jasad Nabi Adam dari tanah yang berasal dari beberapa negeri. Kepalanya berasal dari tanah Makkah, dadanya dari tanah Madinah, punggung dan perutnya dari tanah Hindustan, kedua tangannya dari tanah Syam dan kedua kakinya dari tanah Maroko.
Dalam riwayat lain beliaupun berpendapat, bahwa Allah menciptakan jasad Nabi Adam dari tanah yang berlainan yaitu :
- Kepalanya dijadikan dari tanah di sekitar Baitul Maqdis dan ia gunakan sebagai tempat berpikir dan bicara.
- Wajahnya dijadikan dari tanah surga, dan ia menjadi lambang bentuk kecantikan dan ketampanannya.
- Telinganya dijadikan dari tanah Thursina, dan ia digunakan untuk mendengar nasihat-nasihat agama.
- Dahinya dijadikan dari tanah Irak, dan ia dijadikan untuk sujud menyembah Allah SWT.
- Tangan kanannya dijadikan dari tanah di sekitar Ka’bah maka ia diperintahkan untuk menjadi orang yang dermawan dan suka menolong.
- Tangan kirinya dijadikan dari tanah Persia (Iran) maka digunakan sebagai alat untuk bersuci dari kekotoran.
- Matanya dijadikan dari tanah di sekitar telaga Kautsar, maka ia digunakan untuk melihat yang baik-baik.
- Perutnya dijadikan dari tanah Khurasan, maka perutnya cenderung merasa lapar dan butuh kepada makanan.
- Uratnya dijadikan dari tanah Babilonia, maka ia menjadi sarana pelampiasan syahwat manusiawi.
- Tulangnya dijadikan dari tanah Bukah, maka ia menjadi lambang keperkasaan dan kekuatan.
- Hatinya dijadikan dari tanah surga Firdaus, maka Allah, meletakkan di dalamnya iman dan hawa nafsu.
- Lidahnya dijadikan dari tanah Thoif, maka ia digunakan untuk bermunajat kepada Allah SWT.
Di dalam diri Nabi Adam terdapat 5 anggota badan yang paling penting dinamakan Panca Indera, yaitu mata sebagai alat melihat, hidung sebagai alat pencium, telinga sebagai alat mendengar, lidah sebagai alat merasa dan kulit sebagai alat meraba.
Ruh masuk ke dalam tubuh Nabi Adam (manusia) melalui ubun-ubun dan langsung menuju otak, lalu ruh itu berputar di dalam jaringan-jaringan otak selama 200 tahun, kemudian turun ke mata, telinga, hidung, mulut dan lidah, lalu Allah mengajarkan ruh itu memuji kebesaranNya, maka ia segera mengucap اَلْحَــمْدُ ِللهِ (segala puji hanya untuk Allah yang telah menciptakan hamba). Allah menjawab dengan ucapan يرحمك يــا ادم (semoga Allah merahmatimu hai Adam).
Kemudian ruh itu turun ke dada, ke perut dan sampai ke ujung kaki, setelah melihat dirinya telah sempurna, ia pun menggerakan tubuhnya hendak bangun, tapi tubuhnya masih lemah belum bertenaga, dan hal itulah yang menjadi sifat manusia, Allah berfirman : “Dan Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat, kami sediakan bagi mereka azab yang pedih. Dan manusia berdoa untuk kejahatan sebagaimana ia berdoa untuk kebaikan. dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (QS. Al-Isra : 10-11)
Allah pun memerintahkan malaikat Jibril untuk meniup ubun-ubun nabi Adam, maka mengalirlah darah disekujur tubuhnya, meresap ke dalam jaringan-jaringan tubuh menjadi daging, tulang, urat, kulit dan sebagainya. Perkembangan organ tubuhnya semakin hari kian tampak jelas, rambutnya menjadi panjang, kukunya bertambah sedikit demi sedikit.
Menurut sebuah riwayat dijelaskan, bahwa kulit Nabi Adam as putih (bersih bercahaya) seperti putihnya pangkal kuku (kuku muda), maka tatkala beliau melanggar larangan Allah yaitu memakan buah khuldi, Allah pun mengganti kulitnya, seperti kulit kita sekarang ini (yakni kulit penduduk negeri Arab pada umumnya) dan Dia meninggalkan bekasnya pada pangkal kuku, untuk menjadi peringatan bagi manusia dari mana sebenarnya mereka berasal.
Setelah sempurna kejadian fisik dan rohaninya. Allah menutupi tubuhnya dengan pakaian surga yang terbuat dari benang emas bertahtakan permata dan mutiara, lalu Allah memasukkan nur Muhammadiyah ke dalam ruhnya, sehingga membuat wajah dan tubuhnya bercahaya laksana bulan purnama. Dan nur Muhammadiyah ini berpindah-pindah dari tubuh yang satu ke tubuh yang lain, atau generasi yang satu ke generasi lain, hingga sampai ke dalam ruh Abdullah bin Abdul Mutholib, yaitu ayahanda nabi Muhammad SAW dan pada akhirnya akan diterima oleh beliau sebagai pemilik nur tersebut.
Kemudian Allah memerintahkan kepada malaikat untuk mengajak nabi Adam menyaksikan kebesaran KerajaanNya di tujuh petala langit dan bumi selama 100 tahun. Maka tak satupun dari kerajaan Allah yang disaksikannya, kecuali bertambah kagum dan yakin atas kebesaran dan kekuasaan Allah SWT.
Dalam perjalanannya mengelilingi alam semesta itu, beliau mengendarai seekor kuda putih yang terbuat dari larutan minyak kasturi, namanya Maimun, kedua sayapnya terbuat dari permata, pelananya dari Zabarjad dan tali kendalinya dari batu Yakut. Dari mulutnya selalu terucap kalimat pujian dan sanjungan atas ke Maha Kekuasaan Allah SWT. Dan malaikat Jibril memegang tali kendalinya, sedangkan di sebelah kanan kirinya terdapat malaikat Mikail dan Isrofil yang mengawal perjalanannya.
Mereka berkeliling menyaksikan seluruh ciptaan Allah hingga tiba di surga Adn, seluruh penduduk surga menyambut kedatangannya dengan suka cita, mereka bertasbih memuji Allah atas kesempurnaan ciptaanNya, yaitu menciptakan makhluk baru bernama manusia.
Nabi Adam pun memasuki halaman surga Adn yang bergemerlapan cahayanya, ia memberi salam kepada penduduk surga dengan ucapan اَلسَّــلاَ مُ عَلــَـيْكـُـمْ (Assalamu'alaikum) , lalu penduduk surga menjawab dengan ucapan وَعَــلَــيْكـُــمُ السَّـــلاَ مُ (Waalaikumsalam). dan ucapan inilah yang menjadi lambang pernghormatan seorang muslim bila berjumpa dengan saudaranya seagama, hingga hari kiamat.
Setelah itu Nabi Adam as tinggal di dalam surga Adn, maka sebagai teman hidupnya. Allah menciptakan Siti Hawa dari tulang rusuknya yang sebelah kiri. Sebuah riwayat berpendapat, bahwa Nabi Adam dan Siti Hawa tinggal di dalam surga Adn, hanya setengah hari akhirat (500 tahun dunia) saja. Dan Allah memberi kebebasan kepada keduanya untuk menikmati seluruh isi surga kecuali buah dari pohon khuldi (yaitu buah anggur kering yang pada zaman modern ini diperas untuk pembuatan minuman keras).
Iblis laknatullah tidak senang melihat kesenangan mereka, lalu ia menggoda Nabi Adam dan Siti Hawa untuk makan buah khuldi dengan alasan agar kehidupan mereka di dalam surga menjadi abadi. Mereka akhirnya melanggar larangan Allah untuk memakan buah khuldi tersebut, maka terlepaslah seluruh pakaian yang dikenakannya. Dan Allah pun mengusir mereka dari dalam surga hanya dengan memakai 3 helai daun, sehelai untuk badannya, sehelai untuk menutup auratnya, dan sehelai lagi untuk menutup sorbannya (kepalanya).
Pada saat itu, ada 5 makhluk yang terusir dari surga karena terlibat dalam pelanggaran tersebut, yaitu Nabi Adam as, Siti Hawa, Iblis laknatullah, ular hitam dan burung merak (kedua makhluk ini terlibat, karena turut serta merayu Nabi Adam dan Siti Hawa).
Syekh Ka’ab Al Ahbar berpendapat : sesungguhnya Allah menurunkan mereka ke dunia pada tempat yang berlainan, Nabi Adam diturunkan di negeri Hindustan (pulau Sailon) dan Siti Hawa di Jeddah, sedangkan Iblis diturunkan di negeri Basrah, ular di negeri Ashpihan (Iran) dan burung merak dibuang kelautan lepas.
Setelah perpisahannya dengan Siti Hawa, Nabi Adam menyesali perbuatannya, ia menangis selama 300 tahun dan tidak berani mengangkat kepalanya ke atas langit karena malu kepada Allah, demikian halnya dengan Siti Hawa, keduanya merasa kehilangan. Kemudian Allah membantu mereka dengan memerintahkan angin untuk membawa suara Nabi Adam kepada Siti Hawa dan begitu pula sebaliknya, sehingga keduanya dapat berkomunikasi antara satu dengan yang lainnya seolah-olah mereka sedang berdampingan.
Setelah 300 tahun bertaubat menyesali perbuatannya, Allah menerima taubatnya dan memerintahkannya untuk menunaikan ibadah haji ke Ka’bah Baitullah, dan disanalah pada hari Jum’at Nabi Adam bertemu dengan Siti Hawa, yaitu di sebuah padang pasir yang amat luas dan tandus yang pada masa ini dinamakan Padang Arafah (pertemuan atau perkenalan). Mereka melepas rindu setelah ratusan tahun tidak berjumpa. Dan malaikat Jibril mengajarkan mereka, bagaimana mendapatkan keturunan, maka keduanya bersebadan pada hari Jum’at tersebut.
Berkat izin dan taqdir Allah, Siti Hawa hamil dan melahirkan 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan, yang laki-laki diberi nama Abdullah sedangkan yang perempuan diberi nama Amatullah.
Dan pada tahun-tahun berikutnya, Siti Hawa hamil kembali dan melahirkan pula 2 orang anak, 1 laki-laki dan 1 perempuan. Yang laki-laki diberi nama Abdurrahman sedangkan yang perempuan diberi nama Amaturahman. Demikianlah seterusnya, hingga beliau melahirkan anak kembar sebanyak 20 kali, yaitu 20 anak laki-laki dan 20 anak perempuan.
Para ahli sejarah berselisih pendapat tentang Qabil dan Habil, apakah mereka anak yang pertama atau anak yang terakhir, sedangkan kebanyakan para ahli mengatakan bahwa Habil adalah anak laki-laki pertama Nabi Adam sedangkan Qabil adalah anak yang kedua.
Sebagaimana yang lain Habil pun mempunyai saudara sekandung yang bernama Faliman (dalam riwayat lain bernama Labuda), dan Qobil mempunyai saudara sekandung perempuan, yang bernama Iqlima. Setelah mereka berusia remaja, Nabi Adam hendak menikahkan mereka, sedangkan manusia ketika itu hanya keluarga Nabi Adam saja, kemudian Allah mengutus malaikat Jibril untuk memberikan jalan keluarnya, maka sesuai dengan petunjuk Allah Habil harus menikah dengan Iqlima dan Qobil harus menikah dengan Labuda.
Habil sebagai pemuda yang shaleh menerima peraturan tersebut sedangkan Qobil menolaknya, lalu ia membunuh saudaranya. Dan inilah pertumpahan darah pertama kali yang terjadi dalam sejarah umat manusia.
Setelah kematian Habil, Allah menganugerahkan seorang anak laki-laki yang bernama Syits, dalam bahasa Arab artinya pemberian Allah atau karunia Allah. Wajahnya, akhlaknya, imannya dan kesabarannya sama dengan yang dimiliki oleh Habil. Syits diangkat menjadi seorang Nabi, ia mendapat tugas dari Nabi Adam untuk memerangi Qobil dan pengikutnya.
Setelah genap usianya 1000 tahun (dalam riwayat yang lain usianya 930 tahun), nabi Adam berpulang ke Rahmatullah, pada hari Jum’at saat tergelincirnya matahari bertepatan dengan terjadinya gerhana matahari. Beliau berpesan kepada Nabi Syits untuk melanjutkan perjuangannya dalam menegakkan dakwah Islamiyah di muka bumi.
Mendengar kematian suaminya, Siti Hawa menangis tersedu-sedu, ia keluar dari mihrobnya (tempat sholat) dan menangis di sisi maqam nabi Adam selama 40 hari. Setelah itu ia jatuh sakit hingga beberapa hari kemudian menyusul nabi Adam berpulang ke Rahmatullah. Nabi Syits mengebumikan jasad ibunya di samping kiri maqam nabi Adam.
Kehidupan itu adalah suatu nikmat bagi orang yang menghargai dan menyedarinya.
Friday, 2 December 2011
Wednesday, 30 November 2011
Jin ifrit Mencuri Cincin Nabi Sulaiman a.s.
Salah satu daripada mukjizat yang diberikan oleh Allah swt pada Nabi Sulaiman a.s. adalah tertulis pada cincinnya namanya dan nama Allah swt. Adapun setiap sesuatu yang tertulis padanya nama para Nabi dan nama Allah tidak boleh dibawa ke sebarang tempat seperti tempat-tempat yang hina seumpama tandas, tempat-tempat maksiat dan seumpamanya juga tidak boleh dipakai ketika tidur dan ketika berhadas besar.
Kerajaan Nabi Sulaiman a.s. masyhur serta luas kekuasaannya sehingga anginpun tunduk atas segala perintahnya. Maka ini memudahkan Nabi Sulaiman a.s. untuk pergi ke suatu tempat yang dihajati dengan tidak perlu berkenderaan. Cukup sekadar memerintahkan angin membawanya terbang di atas permaidani sekiranya baginda yang diiringi oleh pembesar-pembesar kerajaannya mahu menziarahi daerah kekuasaan baginda yang luas itu.
Pada suatu hari, Nabi Sulaiman a.s. bersama pembesar-pembesar kerajaannya pergi menziarahi salah sebuah daerah kekuasaan baginda dengan berkenderaan permaidani yang diterbangkan angin sehingga baginda melalui sebuah perkampungan nelayan yang terletak di tepi laut. Ketika itu kelihatan penduduknya sedang menjemur ikan. Di antaranya terdapat gadis-gadis yang turut serta menjemur ikan. Dari kalangan para gadis itu, ada seorang gadis yang amat hitam rupanya dan tidak menarik perhatian kaum lelaki.
Apabila Nabi Sulaiman a.s. dan para pembesarnya melalui tempat itu, maka penduduk kampung menjadi kehairanan kerana tiba-tiba sahaja cuaca menjadi redup. Lalu merekapun mendongak dan mendapati rombongan Nabi Sulaiman a.s. sedang melalui kawasan itu.Sedang mereka dalam keadaan itu, berkatalah gadis yang hitam rupanya tadi: “Alangkah bahagianya aku sekiranya aku menjadi permaisuri Nabi Sulaiman a.s.”
Apabila teman-temannya yang lain mendengar ucapan gadis itu, mereka lalu mentertawakannya dan mengejeknya dengan kata-kata menghiris hati: “Wahai gadis tidak tahu diri, sesungguhnya hasratmu sekadar impian. Rupamu yang hitam langsung tidak menarik perhatian. Inikan pula mahu bersuamikan Nabi Sulaiman yang hebat kedudukannya. Sedangkan kami yang mempunyai wajah menarik tidak bercita-cita untuk menjadi permaisuri baginda. Apakah engkau tidak sedar bahawa orang-orang lelaki di kampung kita inipun belum tentu mahu beristerikan engkau yang hitam legam lagi tidak menarik hati? Cukuplah engkau berangan-angan!” Riuh rendahlah suara mereka mentertawakan si gadis hitam tadi.
Mendengarkan cemuhan dan hinaan mereka, merasa sayulah hati gadis yang malang itu. Dirinya ibarat pungguk merindukan bulan. Rupa yang buruk tidak dipinta. Akhlah yang baik lebih utama.Setelah Nabi Sulaiman a.s. bersama pembesar-pembesarnya selesai dari menjelajah ke daerah kekuasaan baginda, merekapun balik ke rumah masing-masing.
Setibanya Nabi Sulaiman a.s. di istananya, baginda berhajat untuk ke tandas. Sebelum itu, baginda melucutkan cincin yang bertuliskan nama Allah dan namanya, lalu diserahkan pada isterinya.
Pada masa itulah datang jin Ifrit menyerupakan dirinya sepertimana Nabi Sulaiman a.s, lalu menemui isteri baginda dan berkata: “Wahai isteriku, ambilkan cincinku tadi.” Tanpa merasa ragu, isteri baginda menyerahkan cincin itu pada Ifrif kerana menyangka dirinya Nabi Sulaiman a.s.
Apabila Nabi Sulaiman a.s. selesai melepaskan hajatnya, baginda meminta dikembalikan cincinnya tetapi isterinya berkata: “Sesungguhnya telah aku kembalikan sebentar tadi.” Nabi Sulaiman a.s. diam kehairanan. Kemudian baginda berkata: “Baru inilah aku meminta kembali cincin itu.” Tetapi isteri baginda tetap mengatakan bahawa ia telah diserahkan.
Nabi Sulaiman a.s. merasa serba salah dan curiga. Kemungkinan cincin itu telah dicuri oleh seorang yang menyamar sebagai diri baginda kerana isterinya tidak mempunyai alasan untuk menyerahkan barang kepunyaannya kepada sesiapapun jua.Adapun Ifrit setelah ia mencuri cincin tersebut, iapun masuk ke dalam istana kerajaan dan duduk di singgahsana sambil memerintah rakyat Nabi Sulaiman a.s. ke istana dan mendapati seorang yang menyerupai dirinya duduk di atas singgahsana. Maka fahamlah baginda kedudukan perkara.
Lalu baginda berkata: “Wahai rakyatku sekalian, sesungguhnya akulah Sulaiman, raja kamu yang sebenar.”
Jawab rakyatnya: “Tidak, raja itulah yang sedang memberi ucapan. Kamu bukan raja kami. Raja Sulaiman yang sebenar adalah dia yang duduk di kerusi singgahsana. Kamu pendusta!”
Apabila rakyatnya tidak percaya lagi pada baginda, maka baginda pun pergi meninggalkan istana, menuju dari sebuah perkampungan ke perkampungan yang lain dan menyatakan dirinya sebagai Raja Sulaiman tetapi kesemua mereka menafikannya.
Akhirnya baginda pergi ke sebuah kampung nelayan yang terletak di tepi laut, lalu baginda menyatakan hajatnya untuk turut bekerja sebagai nelayan kepada seorang nelayan di tempat itu. Nelayan itu menerima hajat baginda tanpa menyedari bahawa ia sedang berhadapan dengan Raja Sulaiman.
Nabi Sulaiman a.s. menjalani kehidupannya sebagai seorang nelayan dengan baik dan baginda bekerja bersungguh-sungguh tanpat mengenal jemu dan penat sehingga menghasilkan pendaptan yang lumayan dengan nelayan itu.
Pada suatu hari, ketika baginda duduk berehat menunggu waktu makan tengahari, baginda tertidur oleh sebab keletihan.
Tidak lama kemudian, datanglah anak gadis nelayan tersebut membawa makanan tengahari. Berkata si nelayan kepada anaknya: “Wahai anakku, panggillah Sulaiman untuk makan tengahari bersama kita.”
Gadis tersebutpun pergilah mendapatkan baginda yang sedang tidur sambil dikipas oleh seekor ular dengan sehelai daun. Alangkah terkejutnya gadis itu melihat keadaan yang luar biasa ini, lalu segera dikhabarkan kepada ayahnya. Apabila si nelayan menyaksikan sendiri perkara itu, ia pasti baginda bukan sebarangan orang tanpa mengesyaki baginda adalah raja Sulaiman. Mereka meninggalkan baginda sendirian sehingga akhirnya baginda terjaga dari tidurnya dan merekapun menghadapi hidangan tengahari bersama-sama.
Setelah beberapa lama Nabi Sulaiman tinggal nelayan, maka nelayan itu bermaksud untuk mengahwinkan anaknya dengan baginda. Nabi Sulaiman as tidak pula menolak kehendak nelayan itu. Maka hiduplah Nabi Sulaiman a.s. bersama gadis hitam yang pernah bercita-cita untuk menjadi isterinya suatu masa dahulu sebagai suami isteri yang sah tanpa gadis itu menyedari bahawa Tuhan telah menjadikan impiannya suatu kenyataan.
Manakalah di istana yang telah ditinggalkan baginda, Ifrit menyamar sebagai Nabi Sulaiman as memberikan pengajaran yang menyesatkan manusia. Berpunca dari amarannya yang jahat itu, Ifrit tidak sanggup menyimpan cincin baginda yang dicurinya itu, kerana khianatnya cincin itu lalu dicampakkannya ke dalam laut yang kemudiannyaditelan oleh seekor ikan. Ifrit meninggalkan takhta kerajaan. Ketika itulah orang ramai baru menyedari kepalsuan orang yang selama ini mengaku dirinya Raja Sulaiman rupanya jin yang menyamar sebagai baginda.
Segala sesuatu hanya Allah swt yang menentukan.
Sebagaimana biasa, nelayan dan Nabi Sulaiman as keluar menangkap ikan sebagai memenuhi keperluan hidupnya. Kebetulan pada hari itu, masuklah ikan yang menelan cincin Nabi Sulaiman as ke dalam pukat mereka. Menjelang senja, kembalilah mereka ke rumah. Sebahagian daripada ikan yang ditangkap hari itu mereka jemur manakala sebahagian lagi dijadikan hidangan makan malam.
Tatkala isteri baginda menyiang ikan yang akan dimasak malam itu, tiba-tiba ditemui dalam perut ikan itu sebentuk cincin yang bertuliskan nama Nabi Sulaiman as dan nama Allah.
Segeralah isteri baginda mengkhabarkannya. Demi melihat baginda akan cincin itu, baginda terus mengucap syukur sebanyak banyaknya kepada Tuhan kerana haknya telah dikembalikan tanpa ia duga sementara rasa kasih terhadap isterinya semakin bertambah.
Setelah cincin itu disarungkan, barulah rakyat baginda meyakini bahawa baginda adalah sebenarnya Raja Sulaiman.
Nabi Sulaiman as bermaksud untuk kembali ke istana dan melihat keaaan rakyat baginda yang telah lama ditinggalkan. Baginda juga berhasrat untuk membawa isteri baginda bersama-sama tetapi merasa keberatan kerana ditakuti isterinya akan menjadi bahan ejekan berpunca dari kehitaman rupanya itu. Baginda lalu berdoa kepada Allah Taala supaya mengubah rupa isterinya yang hodoh itu menjadi cantik. Doa baginda dimakbulkan sehingga merasa cemburulah teman-teman yang pernah menghina dan mengejek isterinya dahulu.
Baginda beserta isterinya kembali ke istana dengan disambut meriah oleh rakyat jelata yang telah menyedari kesilapan meraka.
Kemudian pada suatu hari, dikumpulkanlah sekalian rakyatnya, baik dari golongan manusia, jin dan juga binatang kerana Nabi Sulaiman ingin mengetahui siapakah yang telah mencuri cincin baginda dan menyesatkan rakyat dengan perbuatan durjana. Sesiapa yang telah melakukan kesalahan pasti takut untuk bertemu dengan baginda.
Setelah sekalian rakyat berkumpul, ternyata yang tidak hadir aalah jin Ifrit. Dengan ini, diisytiharkan bahawa Ifritlah yang telah mencuri cincin baginda. Mendengar kenyataan ini, merasa marahlah golongan jin terhadap Ifrit kerana telah memalukan bangsa mereka di khalayak ramai. Lalu Nabi Sulaiman as memerintahkan beberapa orang bangsa jin untuk menangkap Ifrit. Bangsa jin yang diperintah itu segera pergi mencari tempat persembunyian Ifrit.
Akhirnya ditemui Ifrit bersembunyi di batu karang di dasar lautan. Ifrit lalu dihadapkan kepada Nabi Sulaiman as dan baginda menghukum sesuai dengan kesalahannya
BOLEHKAH BUKAN MUSLIM SELAMAT DARI NERAKA?
Prof Madya Dr Mohd Asri Zainul Abidin
Soalan ini mungkin mengejutkan. Sebab, secara umumnya ramai muslim menganggap setiap yang bukan muslim pasti akan diazab dalam neraka. Tanpa mengambil kira keadaan mereka.
Apabila saya merenung sikap baik ramai individu bukan muslim di Oxford ini dan di tempat lain juga, ia mengingatkan saya kepada Prof DiRaja Engku Aziz. Semasa saya masih Mufti Perlis, beliau pernah datang ke pejabat saya secara bersendirian. Beliau ingin berbicara dengan saya secara tertutup. Ada beberapa soalan yang beliau kemukakan, antaranya: apakah orang bukan muslim yang berakhlak baik itu tetap memasuki neraka? Saya telah jawab serba sederhana untuk beliau ketika itu.
Berbudi Baik
Soalan itu kembali bermain di fikiran saya apabila melihat ramai orang bukan muslim di Barat ini yang jauh lebih berdisiplin dalam hubungan mereka sesama manusia dibandingkan sesetengah orang muslim sendiri. Ya, bukan semua, tetapi ramai. Ya, sejarah orang Barat juga penuh dengan tompokan hitam; pembunuhan, penyeksaan dan pelbagai lagi. Hari ini pun, banyak negara yang mereka ganggu.
Itu cerita politik dan cerita agama yang dipolitikkan. Bukan semestinya sama cerita orang politik dengan cerita orang awam. Hakikatnya, dalam kehidupan peribadi, ramai mereka menepati janji, jujur dalam pekerjaan, ada nilai simpati yang tinggi terhadap manusia, haiwan dan alam. Banyak usaha menderma di sana sini untuk kefakiran dan malapetaka. Ada pula yang enggan memakan daging kerana simpati kepada binatang. Pelbagai lagi asas kemanusiaan dan nilai murni dalam hidup mereka. Di samping tidak dinafikan, sebagai manusia ada juga perkara negatif lain.
Saya ada seorang kawan baik daripada Austria, beliau seorang vegetarian. Dia juga enggan makan produk Nestle dan Coca-cola. Saya bertanya: “Stefanie! Apakah kerana itu satu pegangan agama? Jawabnya: “Tidak, hanya saya simpati kepada haiwan dan saya benci kepada kedua syarikat itu kerana mereka menindas orang miskin. Saya akan terus pulau mereka selagi saya hidup”. Saya diam, saya rasa kita orang muslim pun sukar hendak memulau kedua syarikat itu sekalipun isu Palestin dibangkit mengenai syarikat-syarikat tersebut. Stefanie masih muda, saya tidak tahu sehingga bila beliau boleh bertahan dengan pendiriannya.
Muslim berdakwah di tengah Bandar Oxford. Nasib baik masyarakat mereka tidak membantah orang lain berdakwah dalam negara mereka.
Bukan sedikit mereka yang seperti beliau. Jiwa mereka baik, perasaan mereka luhur. Malangnya, cahaya hidayah yang sebenar tidak sampai kepada mereka. Bagaimana hendak sampai dengan mudah, banyak hadangan yang mendindingi cahaya yang hakiki itu untuk sampai. Kemunduran negara umat Islam yang sentiasa porak-peranda, kelam-kabut, merusuh dan bergolak. Sikap buruk sesetengah orang muslim yang mendominasi keadaan lalu gagal menjadi contoh dan teladan yang baik kepada masyarakat dunia. Ditambah media massa Barat yang memberikan wajah buruk tentang Islam; disokong pula oleh tindakan umat Islam sendiri.
Lihat Iran yang menzalimi rakyatnya, Pakistan yang porak peranda dan menindas wanita dan Dunia Arab yang sentiasa korupsi dan menumpah darah antara satu sama lain. Kelompok-kelompok kononnya jihad yang mengebom di sana-sini. Mereka semua itu telah menggunakan lencana ‘Islam’, jenama ‘Islam’, lambang ‘Islam’ sehingga Islam yang hakiki menjadi begitu suram dan kabur. Kesemua itu adalah gunung dan bukit yang menghalang cahaya keindahan Islam yang hakiki dari menembusi jiwa kebanyakan manusia hari ini. Maka, bukanlah satu keadilan jika Allah menghukum mereka di akhirat dalam keadaan demikian. Allah berfirman:
“Tidaklah tuhanmu itu zalim terhadap hambaNya” (Fussilat: 46).Namun tidak dinafikan ada yang telah sampai penerangan yang jelas melalui jalan yang Allah kehendaki. Cuma, bukan semua berpeluang. Mungkin kita kata: mereka boleh cari Islam yang sebenar dalam internet. Malangnya, maklumat dalam internet juga bercampur baur antara yang benar dan yang palsu, antara yang indah dan buruk. Entah berapa banyak puak dan aliran dalam masyarakat muslim. Jika orang yang lahir dalam masyarakat Islam pun keliru, apatahlagi yang baru hendak mencari.
Kemudian, bukan semua orang mempunyai kemampuan analisa. Tidak pula semua mempunyai cukup masa. Juga bukan semua yang sedar bahawa mereka tidak berada atas hidayah. Jika pada zaman dahulu, Salman al-Farisi mengembara dari Parsi untuk mencari Nabi dengan penuh dugaan dan derita, tapi berapa orangkah penduduk Parsi yang sanggup sepertinya? Tiada. Parsi hanya menerima Islam selepas kewafatan Nabi s.a.w dengan sampainya tentera Umar bin al-Khattab ke sana. Jika Allah mewajibkan semua orang lakukan seperti Salman, pasti suatu bebanan yang tidak tertanggung oleh manusia.
Bolehkah Selamat?
Hari selesa lepas di Centre for Muslim-Christian Studies, Oxford seperti biasa ada seminar mingguan. Setiap hari, saya berjalan kaki berkilometer untuk menghadiri pelbagai seminar. Saya berjalan ke seminar tersebut sejauh dua kilometer dengan penuh harapan mendapat sesuatu yang menarik. Ini kerana tajuk minggu ini ‘Can Non-Muslims be Saved?’. Pembentangnya; Jon Hover, pensyarah Islamic Studies, University of Nottingham.
Saya fikir beliau akan menyentuh apa yang saya harapkan. Malangnya, beliau membahaskan pemikiran Ibn Qayyim al-Jawziyyah (meninggal 751H) tentang Fana an-Nar (Penamatan Neraka). Memang, dalam beberapa karyanya khususnya Hadi al-Arwah, Ibn al-Qayyim berhujah dengan beberapa alasan yang menarik bahawa nereka itu akhirnya akan tamat. Tiada sebarang hikmat Allah menghukum manusia kuffar dalam neraka selamanya. Idea yang kontraversial itu dipertahankan oleh Ibn Qayyim dengan beberapa hujah; riwayat salaf, tafsiran al-Quran dan atas sifat rahmat Allah yang sentiasa mengatasi murkaNya. Namun, saya rasa Jon Hover gagal membentang secara rapi hujah Ibn Qayyim khususnya berkaitan ayat al-Quran Surah Hud ayat 106-108. Saya tidak berhasrat membahaskan pemikiran Ibn Qayyim itu di sini.
Saya rasa persoalan ‘can non-muslims be saved?’ bukanlah itu jawapannya yang memuaskan. Isu apakah neraka kekal atau akhirnya musnah hanyalah tafsiran dan andaian. Hanya Allah Yang Mengetahui. Apapun, yang ke neraka, tetap ke neraka. Ada perbahasan lain yang lebih menarik oleh Ibn al-Qayyim dan para sarjana Islam yang lain. Lebih sepakat, lebih jelas dalilnya dan lebih menyerlahkan keadilan Allah dan keindahan Islam.
Selamat Dari Azab
Para sarjana bersepakat dengan prinsip yang ditegaskan oleh al-Quran bahawa Allah tidak akan mengazabkan seseorang melainkan setelah diutuskan rasul. Sesiapa yang tidak sampai kepadanya ajaran yang benar dari seorang rasul, tidak ditegakkan hujah yang teguh sehingga tiada alasan untuk ragu dan syak, maka dia tidak akan diazabkan oleh Allah. Ini seperti yang Allah tegaskan: (maksudnya)
“Tiadalah Kami mengazabkan sesiapapun sehingga Kami mengutuskan seorang rasul” (Surah al-Israk: 15).Inilah yang menyelamatkan bukan muslim yang tidak sampai hujah hidayah kepada mereka. Bahkan inilah juga yang menyelamatkan muslim yang jahil yang tidak disampaikan hujah dalam amalan atau kepercayaan tentang Islam mengenai sesuatu perkara. Al-Sa’di dalam tafsirnya menyebut:
“Allah itu Maha Adil, Dia tidak akan mengazab seseorang melainkan ditegakkan hujah dengan pengutusan rasul tapi dia menolaknya. Adapun sesiapa yang tidak sampai kepadanya hujah Allah, maka sesungguhnya dia tidak diazab”.Ini dikuatkan lagi dengan firman Allah: (maksudnya)
“Rasul-rasul pembawa khabar gembira dan amaran supaya tiada bagi manusia suatu hujah (alasan untuk berdalih pada hari kiamat) terhadap Allah sesudah mengutuskan rasul-rasul itu. dan (ingatlah) Allah Maha Kuasa, lagi Maha Bijaksana” (al-Nisa: 165).Al-Imam Ibn Qayyim al-Jauziyyah dalam karyanya Tariq al-Hijratain menyebut:
“Sesungguhnya azab itu layak diterima kerana dua sebab; pertama, tidak mahu mendengar hujah serta enggan menerima dan beramal dengan tuntutannya. Kedua, berkeras setelah ditegakkan hujah dan meninggalkan tanggungjawab berkaitan. Maka jenis yang pertama; kufur berpaling (enggan mendengar) dan yang kedua; kufur keras kepala. Adapun kufur kerana jahil tanpa ditegakkan hujah dan tanpa kemampuan untuk mengenali hujah, jenis inilah yang Allah tidak akan azab sehingga tertegaknya hujah rasul”.Seterus Ibn Qayyim menyebut lagi:
“Sesungguhnya penegakan hujah itu berbeza dengan berbezanya zaman, tempat dan individu. Mungkin dikira tertegaknya hujah ke atas orang-orang kafir pada suatu zaman, tidak pula pada zaman yang lain. Juga dikira tertegak pada satu tempat atau kawasan, tidak pada tempat atau kawasan yang lain. Demikian untuk seseorang, namun tidak pada individu lain” (m/s 438. Kaherah: Maktabah al-Mutanabi)Ya, maksudnya cara dan pendekatan penerangan tentang kebenaran Islam itu sehingga dianggap tertegak hujah adalah berbeza mengikut zaman, tempat dan individu. Mereka yang hidup dalam suasana hari ini caranya berbeza dengan zaman dahulu. Zaman kekeliruan tidak sama zaman kejelasan. Demikian latar tempat dan negara. Seseorang yang berada di negara muslim, tidak sama yang berada di negara bukan muslim dan seterusnya. Demikian latar pendidikan dan akal, tidak sama. Maka, apabila hujah tidak memadai untuk mereka, Allah berjanji tidak akan mengazab mereka. Apakah di Barat dan Malaysia juga hujah sudah memadai?
source: http://drmaza.com/home/?p=1661
Makna HIJRAH
Permulaan tahun baru Islam ialah datangnya bulan Muharam. Berbeza dengan kedatangan tahun baru masehi, ia amat terasa. Sambutannya hangat sekali. Bermula dari saat menunggu dentingan jam di Dataran Merdeka, ia berlanjutan dengan pelbagi agenda. Bahkan 1 Januari sudah diiktiraf sebagai cuti umum.
1 Muharram pula, datang dan perginya agak kurang terasa. Ada tidak pun, ialah sambutan Ma’al Hijrah dan penganugerahan Tokoh Ma’al Hijrah. Mujurlah 1 Muharram juga dijadikan cuti umum, jika tidak mungkin ia akan berlalu tanpa sedikit pun meninggalkan kesan kepada semua.
Adalah amat malang, apabila umat Islam gagal memanfaatkan tahun baru Islam. Ini kerana, kewujudan tahun hijrah mempunyai konotasi kepada perkembangan Islam yang amat signifikan. Ia adalah detik bermulanya era baharu. Detik hijrahnya nabi ke Madinah yang akhirnya ditandai dengan tertubuhnya sebuah negara Islam. Kemudian, dari saat itulah Islam terus berkembang sehingga ke hari ini.
Firman Allah s.w.t lewat surah an-Nahl ayat 41 yang bermaksud: “Dan orang-orang yang berhijrah kerana Allah, sesudah mereka dianiaya (ditindas oleh musuh-musuh Islam), Kami akan menempatkan mereka di dunia ini pada tempatnya yang baik,”
Sambutan tahun Hijrah mestilah difahami dari kaca mata yang Islam kehendaki. Bukan sekadar dengan dendangan nasyid ataupun pengkisahan peristiwa Hijrah sahaja, itu cara lama. Apa yang lebih utama, mengerti maksud dan kehendak hijrah. Itulah roh atau semangat hijrah yang tidak akan padam hingga bila-bila.
Hakikatnya hijrah memaparkan erti pengorbanan, keikhlasan, ketahanan, keyakinan dan keberanian. Hijrah juga menyelitkan unsur kebijaksanaan, kepentingan perancangan dan strategi; namun akhirnya meletakkan penyerahan diri seratus peratus kepada Allah SWT. Itulah dinamakan konsep usaha, doa dan tawakal.
Lama sebelum terjadinya hijrah, Nabi Muhammad SAW sudah mengatur strategi dengan penduduk Madinah. Beberapa siri perjanjian telah dibuat, sehinggalah nabi benar-benar meyakini kesanggupan mereka untuk menjadi ‘rakan kongsi’ dan ‘pengikut’ yang setia. Kemudian, nabi mengatur kaedah paling baik dalam melaksanakan hijrah, sehingga mengaburkan pihak musuh.
Cuba kita fikirkan, para sahabat telah diminta berhijrah terlebih dahulu sedang nabi masih di rumahnya. Ia menyebabkan musuh-musuh memberikan tumpuan kepada nabi dan sekaligus tidak begitu mengganggu hijrah para sahabat. Kemudian, nabi juga merencanakan beberapa strategi lain. Siapakah yang akan tidur di tempat tidur nabi, lencongan laluan yang mengelirukan, siapa yang akan menjadi pemandu, siapa akan menjadi perisik, penyampai maklumat dan apakah kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.
Sejarah mencatatkan, betapa penglibatan anak muda seperti Ali bin Abu Talib dan Asma’ binti Abu Bakar, adalah bukti bahawa remaja adalah aset yang mampu menyumbang kepada kebangkitan Islam. Bahkan, keterlibatan seorang lelaki yang bukannya beragama Islam, Abdullah bin Uraiqit sebagai pemandu jalan, juga membuktikan Islam tidaklah memusuhi semua orang-orang bukan Islam. Bahkan mereka yang baik boleh diangkat sebagai kawan.
Begitu juga usaha nabi dan Abu Bakar, yang sengaja mengambil laluan ke arah selatan Mekah dan bukannya arah Utara sebagaimana biasa, kemudian menuju Tihama berdekatan pantai Laut Merah, adalah satu strategi yang terus mengelirukan musuh. Ia mampu menimbulkan perpecahan di kalangan musuh yang bertengkar dengan arah yang diambil oleh nabi. Ia menunjukkan, Islam mementingkan kebijaksanaan dalam perancangan.
Kini, umat Islam tidak perlu teraba-raba dalam mencari arah dan pedoman. Peristiwa hijrah yang berlaku lebih 1400 tahun dahulu sudah menyediakan contoh kepada kita. Seandainya kita mahu berjaya, maka mulakan dengan perancangan yang baik. Namun perancangan yang baik, masih perlu kepada perlaksanaan yang baik daripada semua pihak. Kemudian, ia hanya lengkap apabila semuanya menggantungkan harapan kepada Allah SWT.
Adalah amat malang jika umat Islam masih mengekalkan budaya kerja yang tidak teratur dan sistematik. Masih suka melaksanakan kerja tanpa perancangan atau ad-hoc. Kemudian, perlaksanaannya pula main ‘cincai’, tidak mengambil kira aspek kesan jangka panjang hasil pekerjaan tersebut. Lebih malang, apabila menyandarkan semua usaha hanya di atas kepandaian diri dan melupakan kuasa Allah SWT penentu segala.
Seperkara lagi, umat Islam juga sewajarnya menobatkan Tahun Islam ini sebagai mukaddimah membaharui azam. Adakah sepanjang tahun lalu sudah terpenuh segala cita-cita ataupun masih banyak bersifat angan-angan kosong. Ini kerana, berkat keazaman daripada Rasulullah SAW melaksanakan hijrah, maka kita mendapat kebaikannya hingga kini.
Di samping itu, hijrah juga menunjukkan Islam mampu menyatukan semua umat walaupun berbeza keturunan. Siapakah yang dapat menyangkal, hijrah telah menyatukan kaum Ansar dan Muhajirin:
1 Muharram pula, datang dan perginya agak kurang terasa. Ada tidak pun, ialah sambutan Ma’al Hijrah dan penganugerahan Tokoh Ma’al Hijrah. Mujurlah 1 Muharram juga dijadikan cuti umum, jika tidak mungkin ia akan berlalu tanpa sedikit pun meninggalkan kesan kepada semua.
Adalah amat malang, apabila umat Islam gagal memanfaatkan tahun baru Islam. Ini kerana, kewujudan tahun hijrah mempunyai konotasi kepada perkembangan Islam yang amat signifikan. Ia adalah detik bermulanya era baharu. Detik hijrahnya nabi ke Madinah yang akhirnya ditandai dengan tertubuhnya sebuah negara Islam. Kemudian, dari saat itulah Islam terus berkembang sehingga ke hari ini.
Firman Allah s.w.t lewat surah an-Nahl ayat 41 yang bermaksud: “Dan orang-orang yang berhijrah kerana Allah, sesudah mereka dianiaya (ditindas oleh musuh-musuh Islam), Kami akan menempatkan mereka di dunia ini pada tempatnya yang baik,”
Sambutan tahun Hijrah mestilah difahami dari kaca mata yang Islam kehendaki. Bukan sekadar dengan dendangan nasyid ataupun pengkisahan peristiwa Hijrah sahaja, itu cara lama. Apa yang lebih utama, mengerti maksud dan kehendak hijrah. Itulah roh atau semangat hijrah yang tidak akan padam hingga bila-bila.
Hakikatnya hijrah memaparkan erti pengorbanan, keikhlasan, ketahanan, keyakinan dan keberanian. Hijrah juga menyelitkan unsur kebijaksanaan, kepentingan perancangan dan strategi; namun akhirnya meletakkan penyerahan diri seratus peratus kepada Allah SWT. Itulah dinamakan konsep usaha, doa dan tawakal.
Lama sebelum terjadinya hijrah, Nabi Muhammad SAW sudah mengatur strategi dengan penduduk Madinah. Beberapa siri perjanjian telah dibuat, sehinggalah nabi benar-benar meyakini kesanggupan mereka untuk menjadi ‘rakan kongsi’ dan ‘pengikut’ yang setia. Kemudian, nabi mengatur kaedah paling baik dalam melaksanakan hijrah, sehingga mengaburkan pihak musuh.
Cuba kita fikirkan, para sahabat telah diminta berhijrah terlebih dahulu sedang nabi masih di rumahnya. Ia menyebabkan musuh-musuh memberikan tumpuan kepada nabi dan sekaligus tidak begitu mengganggu hijrah para sahabat. Kemudian, nabi juga merencanakan beberapa strategi lain. Siapakah yang akan tidur di tempat tidur nabi, lencongan laluan yang mengelirukan, siapa yang akan menjadi pemandu, siapa akan menjadi perisik, penyampai maklumat dan apakah kemungkinan-kemungkinan yang bakal terjadi.
Sejarah mencatatkan, betapa penglibatan anak muda seperti Ali bin Abu Talib dan Asma’ binti Abu Bakar, adalah bukti bahawa remaja adalah aset yang mampu menyumbang kepada kebangkitan Islam. Bahkan, keterlibatan seorang lelaki yang bukannya beragama Islam, Abdullah bin Uraiqit sebagai pemandu jalan, juga membuktikan Islam tidaklah memusuhi semua orang-orang bukan Islam. Bahkan mereka yang baik boleh diangkat sebagai kawan.
Begitu juga usaha nabi dan Abu Bakar, yang sengaja mengambil laluan ke arah selatan Mekah dan bukannya arah Utara sebagaimana biasa, kemudian menuju Tihama berdekatan pantai Laut Merah, adalah satu strategi yang terus mengelirukan musuh. Ia mampu menimbulkan perpecahan di kalangan musuh yang bertengkar dengan arah yang diambil oleh nabi. Ia menunjukkan, Islam mementingkan kebijaksanaan dalam perancangan.
Kini, umat Islam tidak perlu teraba-raba dalam mencari arah dan pedoman. Peristiwa hijrah yang berlaku lebih 1400 tahun dahulu sudah menyediakan contoh kepada kita. Seandainya kita mahu berjaya, maka mulakan dengan perancangan yang baik. Namun perancangan yang baik, masih perlu kepada perlaksanaan yang baik daripada semua pihak. Kemudian, ia hanya lengkap apabila semuanya menggantungkan harapan kepada Allah SWT.
Adalah amat malang jika umat Islam masih mengekalkan budaya kerja yang tidak teratur dan sistematik. Masih suka melaksanakan kerja tanpa perancangan atau ad-hoc. Kemudian, perlaksanaannya pula main ‘cincai’, tidak mengambil kira aspek kesan jangka panjang hasil pekerjaan tersebut. Lebih malang, apabila menyandarkan semua usaha hanya di atas kepandaian diri dan melupakan kuasa Allah SWT penentu segala.
Seperkara lagi, umat Islam juga sewajarnya menobatkan Tahun Islam ini sebagai mukaddimah membaharui azam. Adakah sepanjang tahun lalu sudah terpenuh segala cita-cita ataupun masih banyak bersifat angan-angan kosong. Ini kerana, berkat keazaman daripada Rasulullah SAW melaksanakan hijrah, maka kita mendapat kebaikannya hingga kini.
Di samping itu, hijrah juga menunjukkan Islam mampu menyatukan semua umat walaupun berbeza keturunan. Siapakah yang dapat menyangkal, hijrah telah menyatukan kaum Ansar dan Muhajirin:
"Dan orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad pada jalan Allah untuk membela Islam dan orang-orang yang Ansar yang memberi tempat kediaman dan pertolongan kepada orang-orang Islam yang berhijrah itu, merekalah orang-orang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka beroleh keampunan dan limpah kurnia yang mulia," (al-Anfal: 74)
Jelaslah, hijrah mampu memberikan pedoman buat kita sepanjang zaman. Syaratnya, kita mestilah menggali makna hijrah yang sebenar. Jika tidak, hijrah hanya tinggal sebagai catatan sejarah yang gagal merubah apa-apa dalam hidup kita.
source: http://u-hah.blogspot.com/2008/12/menggali-makna-hijrah.html
Istimewanya Wanita
Istimewanya Wanita
Sekadar renungan buat insan yang bergelar wanita. Ketahuilah betapa istimewanya menjadi wanita. Betapa bertuahnya menjadi wanita. Bersyukurlah kerana menjadi wanita. Bacalah risalah ini dengan niat untuk diamalkan dan sampaikan kepada mereka yang lain. Insya Allah.
Istimewanya Wanita
1. Doa wanita lebih maqbul daripada lelaki kerana sifat penyayang yang lebih kuat daripada lelaki. Ketika ditanya kepada Rasulallah s.a.w. akan hal tersebut, jawab baginda : "Ibu lebih penyayang daripada bapa dan doaorang yang penyayang tidak akan sia-sia."
2. Wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 1,000 orang lelaki yang tidak soleh.
3. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 orang wali.
4. Seorang wanita solehah adalah lebih baik daripada 70 lelaki soleh.
5. Barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, darjatnya seumpama orang yang sentiasa menangis kerana takutkan Allah s.w.t. dan orang yang takutkan Allah s.w.t. akan diharamkan api neraka ke atas tubuhnya.
6. Barang siapa yang membawa hadiah (barang makanan dari pasar ke rumah)lalu diberikan kepada keluarganya, maka pahalanya seperti bersedakah.Hendaklah mendahulukan anak perempuan daripada anak lelaki. Maka barangsiapa yang menyukakan anak perempuan seolah- olah dia memerdekakan anak Nabi Ismail a.s.
7. Tidaklah seorang wanita yang haidh itu, kecuali haidhnya merupakan kifarat (tebusan) untuk dosa-dosanya yang telah lalu, dan apabila pada hari pertama haidhnya membaca "Alhamdulillahi'alaa Kulli Halin Wa Astaghfirullah Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan dan aku mohon ampun kepada Allah dari segala dosa." ; maka Allah menetapkan dia bebas dari neraka dan dengan mudah melalui shiratul mustaqim yang aman dari seksa, bahkan AllahTa'ala mengangkatnya ke atas darjat, seperti darjatnya 40 orang mati syahid, apabila dia selalu berzikir kepada Allah selama haidhnya.
8. Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama aku(Rasulullah s.a.w.) di dalam syurga.
9. Barang siapa mempunyai tiga anak perempuan atau tiga saudara perempuan atau dua anak perempuan atau dua saudara perempuan, lalu dia bersikap ehsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa serta bertanggung jawab, maka baginya adala syurga.
10. Daripada Aisyah r.ha. "Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak perempuannya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka merekaakan menjadi penghalang baginya daripada api neraka."
11. Syurga itu di bawah telapak kaki ibu.
12. Apabila memanggil akan engkau dua orang ibubapamu, maka jawablah panggilan ibumu dahulu.
13. Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu syurga. Masuklah dari mana-mana pintu yang dia kehendaki dengan tidak dihisab.
14. Wanita yang taat akan suaminya, semua ikan-ikan di laut, burung diudara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama mana dia taat kepada suaminya dan meredhainya. (serta menjaga sembahyang dan puasanya)
15. Aisyah r.ha. berkata "Aku bertanya kepada Rasulullah s.a.w. siapakah yang lebih besar haknya terhadap wanita ?" Jawab baginda, "Suaminya" "Siapa pula berhak terhadap lelaki ?" Jawab Rasulullah s.a.w. "Ibunya".
16. Seorang wanita yang apabila mengerjakan solat lima waktu, berpuasa wajib sebulan (Ramadhan), memelihara kehormatannya serta taat kepada suaminya, maka pasti akan masuk syurga dari pintu mana saja yang dia kehendaki.
17. Tiap perempuan yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah s.w.t. memasukkan dia ke dalam syurga lebih dahulu daripada suaminya(10,000 tahun).
18. Apabila seseorang perempuan mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfarlah para malaikat untuknya. Allah s.w.t. mencatatkan baginya setiap hari dengan 1,000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1,000 kejahatan.
19. Dua rakaat solat dari wanita yang hamil adalah lebih baik daripada 80 rakaat solat wanita yang tidak hamil.
20. Wanita yang hamil akan dapat pahala berpuasa pada siang hari.
21. Wanita yang hamil akan dapat pahala beribadat pada malam hari.
22. Apabila seseorang perempuan mulai sakit hendak bersalin, maka Allah s.w.t. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah s.w.t.
23. Wanita yang bersalin akan mendapat pahala 70 tahun solat dan puasa dan setiap kesakitan pada satu uratnya Allah mengurniakan satu pahala haji.
24. Apabila seseorang perempuan melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
25. Sekiranya wanita mati dalam masa 40 hari selepas bersalin, dia akan dikira sebagai mati syahid.
26. Wanita yang memberi minum susu kepada anaknya daripada badannya (susu badan) akan dapat satu pahala daripada tiap-tiap titik susu yangdiberikannya.
27. Jika wanita menyusui anaknya sampai cukup tempoh (2 1/2 tahun), makamalaikat-malaikat di langit akan khabarkan berita bahawa syurga wajibbaginya.
28. Jika wanita memberi susu badannya kepada anaknya yang menangis, Allah akan memberi pahala satu tahun solat dan puasa.
29. Wanita yang habiskan malamnya dengan tidur yang tidak selesa kerana menjaga anaknya yang sakit akan mendapat pahala seperti membebaskan 20 orang hamba.
30. Wanita yang tidak cukup tidur pada malam hari kerana menjaga anak yang sakit akan diampunkan oleh Allah akan seluruh dosanya dan bila diahiburkan hati anaknya Allah memberi 12 tahun pahala ibadat.
31. Apabila seorang wanita mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatatkan baginya seribu kebaikan, dan mengampuni dua ribu kesalahannya,bahkan segala sesuatu yang disinari sang suria akan meminta keampunan baginya, dan Allah mengangkatkannya seribu darjat untuknya.
32. Seorang wanita yang solehah lebih baik daripada seribu orang lelaki yang tidak soleh, dan seorang wanita yang melayani suaminya selama seminggu, maka ditutupkan baginya tujuh pintu neraka dan dibukakan baginyalapan pintu syurga, yang dia dapat masuk dari pintu mana saja tanpa dihisab.
33. Mana-mana wanita yang menunggu suaminya hingga pulanglah ia, disapukan mukanya, dihamparkan duduknya atau menyediakan makan minumnya atau merenung ia pada suaminya atau memegang tangannya, memperelokkan hidangan padanya,memelihara anaknya atau memanfaatkan hartanya pada suaminya kerana mencari keredhaan Allah, maka disunatkan baginya akan tiap-tiap kalimah ucapannya,tiap-tiap langkahnya dan setiap renungannya pada suaminya sebagaimana memerdekakan seorang hamba. Pada hari Qiamat kelak, Allah kurniakan Nur hingga tercengang wanita mukmin semuanya atas kurniaan rahmat itu. Tiada seorang pun yang sampai ke mertabat itu melainkan Nabi-nabi.
34. Tidakkan putus ganjaran dari Allah kepada seorang isteri yang siangdan malamnya menggembirakan suaminya.
35. Wanita yang melihat suaminya dengan kasih sayang dan suaminya melihatisterinya dengan kasih sayang akan di pandang Allah dengan penuh rahmat.
36. Jika wanita melayan suami tanpa khianat akan mendapat pahala 12 tahun solat.
37. Wanita yang melayan dengan baik suami yang pulang ke rumah di dalam keadaan letih akan medapat pahala jihad.
38. Jika wanita memicit suami tanpa disuruh akan mendapat pahala 7 tolaemas dan jika wanita memicit suami bila disuruh akan mendapat pahala tola perak.
39. Dari Hazrat Muaz : Mana-mana wanita yang berdiri atas dua kakinya membakar roti untuk suaminya hingga muka dan tangannya kepanasan oleh api,maka diharamkan muka dan tangannya dari bakaran api neraka.
40. Thabit Al Banani berkata : Seorang wanita dari Bani Israel yang buta sebelah matanya sangat baik khidmatnya kepada suaminya. Apabila ia menghidangkan makanan dihadapan suaminya, dipegangnya pelita sehingga suaminya selesai makan. Pada suatu malam pelitanya kehabisan sumbu, maka diambilnya rambutnya dijadikan sumbu pelita. Pada keesokkannya matanyayang buta telah celik. Allah kurniakan keramat (kemuliaan pada perempuan itu kerana memuliakan dan menghormati suaminya).
41. Pada suatu ketika di Madinah, Rasulullah s.a.w. keluar mengiringi jenazah. Baginda dapati beberapa orang wanita dalam majlis itu. Baginda lalu bertanya, "Adakah kamu menyembahyangkan mayat ?" Jawab mereka,"Tidak"Sabda Baginda "Seeloknya kamu sekelian tidak perlu ziarah dan tidak ada pahala bagi kamu. Tetapi tinggallah di rumah dan berkhidmatlah kepada suami nescaya pahalanya sama dengan ibadat-ibadat orang lelaki.
42. Wanita yang memerah susu binatang dengan 'Bismillah' akan didoakanoleh binatang itu dengan doa keberkatan.
43. Wanita yang menguli tepung gandum dengan 'Bismillah', Allah akan berkatkan rezekinya.
44. Wanita yang menyapu lantai dengan berzikir akan mendapat pahala seperti meyapu lantai di Baitullah.
45. "Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang mengeluarkan peluh ketika membuat roti, Allah akan mebinakan 7 parit diantara dirinya dengan api neraka, jarak diantara parit itu ialah sejauh langit dan bumi."
46. "Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang, Allah akan mencatatkan untuknya perbuatan baik sebanyak utus benang yang dibuat dan memadamkan seratus perbuatan jahat."
47. "Wahai Fatimah, untuk setiap wanita yang menganyam akan benang dibuatnya, Allah telah menentukan satu tempat khas untuknya di atas tahta di hari akhirat."
48. "Wakai Fatimah, bagi setiap wanita yang memintal benang dan kemudian dibuat pakaian untuk anak-anaknya maka Allah akan mencatatkan baginya ganjaran sama seperti orang yang memberi makan kepada 1000 orang lapar dan memberi pakaian kepada 1000 orang yang tidak berpakaian."
49. "Wahai Fatimah, bagi setiap wanita yang meminyakkan rambut anaknya,menyikatnya, mencuci pakaian mereka dan mencuci akan diri anaknya itu, Allah akan mencatatkan untuknya pekerjaan baik sebanyak helai rambut mereka dan memadamkan sebanyak itu pula pekerjaan jahat dan menjadikan dirinya kelihatan berseri di mata orang-orang yang memerhatikannya."
50. Sabda Nabi s.a.w. : "Ya Fatimah barang mana wanita meminyakkan rambut dan janggut suaminya, memotong misai dan mengerat kukunya, Allah akan memberi minum akan dia dari sungai-sungai serta diringankan Allah baginya sakaratul maut dan akan didapatinya kuburnya menjadi sebuah taman daripada taman- taman syurga dan dicatatkan Allah baginya kelepasan dari api neraka dan selamatlah ia melintas Titian Shirat."
51. Jika suami mengajarkan isterinya satu masalah akan mendapat pahala 80 tahun ibadat.
52. Wanita yang menyebabkan suaminya keluar dan berjuang ke jalan Allah dan kemudian menjaga adab rumahtangganya akan masuk syurga 500 tahun lebih awal daripada suaminya, akan menjadi ketua 70,000 maalaikat dan bidadari dan wanita itu akan dimandikan di dalam syurga, dan menunggu suaminya dengan menunggang kuda yang dibuat daripada yakut.
53. Semua orang akan dipanggil untuk melihat wajah Allah di akhirat,tetapi Allah akan datang sendiri kepada wanita yang memberati auratnya iaitu memakai purdah di dunia ini dengan istiqamah.
54. Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan ialah wanita (isteri) yang solehah.
55. Salah satu tanda keberkatan wanita itu ialah cepat perkahwinannya,cepat pula kehamilannya dan ringan pula maharnya (mas kahwin).
56. Sebaik-baik wanita ialah wanita (isteri) yang apabila engkau memandang kepadanya ia menggirangkan engkau, jika engkau memerintah ditaatinya perintah engkau (taat) dan jika engkau berpergian dijaga harta engkau dan dirinya.
Siapakah Ahlus Sunnah itu?
Istilah Ahlus Sunnah tentu tidak asing bagi kaum muslimin. Bahkan mereka semua mengaku sebagai Ahlus Sunnah. Tapi siapakah Ahlus Sunnah itu? Dan siapa pula kelompok yang disebut Rasulullah sebagai orang-orang asing?
Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka.
Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )
Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)
Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir:
Semua mengaku telah meraih tangan Laila
Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu
Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.
Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka.
As Sunnah
Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.
As Sunnah menurut bahasa
As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh
Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.
As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh.
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).”
Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”
Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.”
Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.
As Sunnah Menurut Ahli Hadits
As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya.
Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”.
As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih
As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.
Siapakah Ahlus Sunnah
Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka.
1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)
3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)
4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”
6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.
7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.
8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.
9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.
Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”
Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.
Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”
Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”
2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.
Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)
Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:
“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :
Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya
Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.
source: http://blumewahabi.wordpress.com/siapakah-ahlus-sunnah-itu/
Telah menjadi ciri perjuangan iblis dan tentara-tentaranya yaitu terus berupaya mengelabui manusia. Yang batil bisa menjadi hak dan sebaliknya, yang hak bisa menjadi batil. Sehingga ahli kebenaran bisa menjadi pelaku maksiat yang harus dimusuhi dan diisolir. Dan sebaliknya, pelaku kemaksiatan bisa menjadi pemilik kebenaran yang harus dibela. Syi’ar pemecah belah ini merupakan ciri khas mereka dan mengganggu perjalanan manusia menuju Allah merupakan tujuan tertinggi mereka.
Tidak ada satupun pintu kecuali akan dilalui iblis dan tentaranya. Dan tidak ada satupun amalan kecuali akan dirusakkannya, minimalnya mengurangi nilai amalan tersebut di sisi Allah Subhanahu Wata’ala. Iblis mengatakan di hadapan Allah Subhanahu Wata’ala: “Karena Engkau telah menyesatkanku maka aku akan benar-benar menghalangi mereka dari jalan-Mu yang lurus dan aku akan benar-benar mendatangi mereka dari arah depan dan belakang, dan samping kiri dan samping kanan.”, (QS. Al A’raf : 17 )
Dalam upayanya mengelabui mangsanya, Iblis akan mengatakan bahwa ahli kebenaran itu adalah orang yang harus dijauhi dan dimusuhi, dan kebenaran itu menjadi sesuatu yang harus ditinggalkan, dan dia mengatakan: “Sehingga Engkau ya Allah menemukan kebanyakan mereka tidak bersyukur.” (QS. Al A’raf: 17)
Demikian halnya yang terjadi pada istilah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Istilah ini lebih melekat pada gambaran orang-orang yang banyak beribadah dan orang-orang yang berpemahaman sufi. Tak cuma itu, semua kelompok yang ada di tengah kaum muslimin juga mengaku sebagai Ahlus Sunnah wal Jamaah. Walhasil, nama Ahlus Sunnah menjadi rebutan orang. Mengapa demikian? Apakah keistimewaan Ahlus Sunnah sehingga harus diperebutkan? Dan siapakah mereka sesungguhnya?
Menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus merujuk kepada keterangan Rasulullah Shallallahu ‘Alahi Wasallam dan ulama salaf dalam menentukan siapakah mereka yang sebenarnya dan apa ciri-ciri khas mereka. Jangan sampai kita yang digambarkan dalam sebuah sya’ir:
Semua mengaku telah meraih tangan Laila
Dan Laila tidak mengakui yang demikian itu
Bahwa tidak ada maknanya kalau hanya sebatas pengakuan, sementara dirinya jauh dari kenyataan.
Secara fitrah dan akal dapat kita bayangkan, sesuatu yang diperebutkan tentu memiliki keistimewaan dan nilai tersendiri. Dan sesuatu yang diakuinya, tentu memiliki makna jika mereka berlambang dengannya. Mereka mengakui bahwa Ahlus Sunnah adalah pemilik kebenaran. Buktinya, setelah mereka memakai nama tersebut, mereka tidak akan ridha untuk dikatakan sebagai ahli bid’ah dan memiliki jalan yang salah. Bahkan mengatakan bahwa dirinya merupakan pemilik kebenaran tunggal sehingga yang lain adalah salah. Mereka tidak sadar, kalau pengakuannya tersebut merupakan langkah untuk membongkar kedoknya sendiri dan memperlihatkan kebatilan jalan mereka. Yang akan mengetahui hal yang demikian itu adalah yang melek dari mereka.
As Sunnah
Berbicara tentang As Sunnah secara bahasa dan istilah sangat penting sekali. Di samping untuk mengetahui hakikatnya, juga untuk mengeluarkan mereka-mereka yang mengakui sebagai Ahlus Sunnah. Mendefinisikan As Sunnah ditinjau dari beberapa sisi yaitu sisi bahasa, syari’at dan generasi yang pertama, ahlul hadits, ulama ushul, dan ahli fiqih.
As Sunnah menurut bahasa
As Sunnah menurut bahasa adalah As Sirah (perjalanan), baik yang buruk ataupun yang baik. Khalid bin Zuhair Al Hudzali berkata:
Jangan kamu sekali-kali gelisah karena jalan yang kamu tempuh
Keridhaan itu ada pada jalan yang dia tempuh sendiri.
As Sunnah menurut Syari’at Dan Generasi Yang Pertama
Apabila terdapat kata sunnah dalam hadits Rasulullah atau dalam ucapan para sahabat dan tabi’in, maka yang dimaksud adalah makna yang mencakup dan umum. Mencakup hukum-hukum baik yang berkaitan langsung dengan keyakinan atau dengan amal, apakah hukumnya wajib, sunnah atau boleh.
Al Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab Fathul Bari 10/341 berkata: “Telah tetap bahwa kata sunnah apabila terdapat dalam hadits Rasulullah, maka yang dimaksud bukan sunnah sebagai lawan wajib (Apabila dikerjakan mendapat pahala dan apabila di tinggalkan tidak akan berdosa, pent.).”
Ibnu ‘Ajlan dalam kitab Dalilul Falihin 1/415 ketika beliau mensyarah hadits ‘Fa’alaikum Bisunnati’, berkata: “Artinya jalanku dan langkahku yang aku berjalan di atasnya dari apa-apa yang aku telah rincikan kepada kalian dari hukum-hukum i’tiqad (keyakinan), dan amalan-amalan baik yang wajib, sunnah, dan sebagainya.”
Imam Shan’ani berkata dalam kitab Subulus Salam 1/187, ketika beliau mensyarah hadits Abu Sa’id Al-Khudri, “di dalam hadits tersebut disebutkan kata ‘Ashobta As Sunnah’, yaitu jalan yang sesuai dengan syari’at.”
Demikianlah kalau kita ingin meneliti nash-nash yang menyebutkan kata “As Sunnah”, maka akan jelas apa yang dimaukan dengan kata tersebut yaitu: “Jalan yang terpuji dan langkah yang diridhai yang telah dibawa oleh Rasulullah. Dari sini jelaslah kekeliruan orang-orang yang menisbahkan diri kepada ilmu yang menafsirkan kata sunnah dengan istilah ulama fiqih sehingga mereka terjebak dalam kesalahan yang fatal.
As Sunnah Menurut Ahli Hadits
As sunnah menurut jumhur ahli hadits adalah sama dengan hadits yaitu: “Apa-apa yang diriwayatkan dari Rasulullah baik berbentuk ucapan, perbuatan, ketetapan, dan sifat baik khalqiyah (bentuk) atau khuluqiyah (akhlak).
As Sunnah Menurut Ahli Ushul Fiqih
Menurut Ahli Ushul Fiqih, As Sunnah adalah dasar dari dasar-dasar hukum syaria’at dan juga dalil-dalilnya.
Al Amidy dalam kitab Al Ihkam 1/169 mengatakan: “Apa-apa yang datang dari Rasulullah dari dalil-dalil syari’at yang bukan dibaca dan bukan pula mu’jizat atau masuk dalam katagori mu’jizat”.
As Sunnah Di Sisi Ulama Fiqih
As Sunnah di sisi mereka adalah apa-apa yang apabila dikerjakan mendapatkan pahala dan apabila tidak dikerjakan tidak berdosa.
Di sini bisa dilihat, mereka yang mengaku sebagai ahlus sunnah -dengan menyandarkan kepada ahli fikih-, tidak memiliki dalil yang jelas sedikitpun dan tidak memiliki rujukan, hanya sebatas simbol yang sudah usang. Jika mereka memakai istilah syariat dan generasi pertama, mereka benar-benar telah sangat jauh. Jika mereka memakai istilah ahli fiqih niscaya mereka akan bertentangan dengan banyak permasalahan. Jika mereka memakai istilah ulama ushul merekapun tidak akan menemukan jawabannya. Jika mereka memakai istilah ulama hadits sungguh mereka tidak memilki peluang untuk mempergunakan istilah mereka. Tinggal istilah bahasa yang tidak bisa dijadikan sebagai hujjah dalam melangkah, terlebih menghalalkan sesuatu atau mengharamkannya.
Siapakah Ahlus Sunnah
Ahlu Sunnah memiliki ciri-ciri yang sangat jelas di mana ciri-ciri itulah yang menunjukkan hakikat mereka.
1. Mereka adalah orang-orang yang mengikuti jalan Rasulullah dan jalan para sahabatnya, yang menyandarkan pada Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman salafus shalih yaitu pemahaman generasi pertama umat ini dari kalangan shahabat, tabi’in dan generasi setelah mereka. Rasulullah bersabda:
“ Sebaik-baik manusia adalah generasiku kemudian orang-orang setelah mereka kemudian orang-orang setelah mereka.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad)
2. Mereka kembalikan segala bentuk perselisihan yang terjadi di kalangan mereka kepada Al Qur’an dan As Sunnah dan siap menerima apa-apa yang telah diputuskan oleh Allah dan Rasulullah. Firman Allah:
“Maka jika kalian berselisih dalam satu perkara, kembalikanlah kepada Allah dan Rasulullah jika kalian beriman kepada Allah dan hari akhir. Dan yang demikian itu adalah baik dan lebih baik akibatnya.” (QS. An Nisa: 59)
“Tidak pantas bagi seorang mukmin dan mukminat apabila Allah dan Rasul-Nya memutuskan suatu perkara untuk mereka, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata. (QS. Al Ahzab: 36)
3. Mereka mendahulukan ucapan Allah dan Rasul daripada ucapan selain keduanya. Firman Allah:
“Hai orang-orang yang beriman janganlah kalian mendahulukan (ucapan selain Allah dan Rasul ) terhadap ucapan Allah dan Rasul dan bertaqwalah kalian kepada Allah sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Hujurat: 1)
4. Menghidupkan sunnah Rasulullah baik dalam ibadah mereka, akhlak mereka, dan dalam semua sendi kehidupan, sehigga mereka menjadi orang asing di tengah kaumnya. Rasulullah bersabda tetang mereka:
“Sesungguhnya Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali pula daam keadaan asing, maka berbahagialah orang-orang dikatakan asing.” (HR. Muslim dari hadits Abu Hurairah dan Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma)
5. Mereka adalah orang-orang yang sangat jauh dari sifat fanatisme golongan. Dan mereka tidak fanatisme kecuali kepada Kalamullah dan Sunnah Rasulullah. Imam Malik mengatakan: “Tidak ada seorangpun setelah Rasulullah yang ucapannya bisa diambil dan ditolak kecuali ucapan beliau.”
6. Mereka adalah orang-orang yang menyeru segenap kaum muslimin agar bepegang dengan sunnah Rasulullah dan sunnah para shahabatnya.
7. Mereka adalah orang-oang yang memikul amanat amar ma’ruf dan nahi munkar sesuai dengan apa yang dimaukan Allah dan Rasul-Nya. Dan mereka mengingkari segala jalan bid’ah (lawannya sunnah) dan kelompok-kelompok yang akan mencabik-cabik barisan kaum muslimin.
8. Mereka adalah orang-orang yang mengingkari undang-undang yang dibuat oleh manusia yang menyelisihi undang-undang Allah dan Rasulullah.
9. Mereka adalah orang-orang yang siap memikul amanat jihad fi sabilillah apabila agama menghendaki yang demikian itu.
Syaikh Rabi’ dalam kitab beliau Makanatu Ahli Al Hadits hal. 3-4 berkata: “Mereka adalah orang-orang yang menempuh manhaj (metodologi)-nya para sahabat dan tabi’in dalam berpegang terhadap kitabullah dan sunnah Rasulullah dan menggigitnya dengan gigi geraham mereka. Mendahulukan keduanya atas setiap ucapan dan petunjuk, kaitannya dengan aqidah, ibadah, mu’amalat, akhlaq, politik, maupun, persatuan. Mereka adalah orang-orang yang kokoh di atas prinsip-prinsip agama dan cabang-cabangnya sesuai dengan apa yang diturunkah Allah kepada hamba dan Rasul-Nya Muhammad shallallahu ‘alahi wasallam. Mereka adalah orang-orang yang tampil untuk berdakwah dengan penuh semangat dan kesungguh-sungguhan. Mereka adalah para pembawa ilmu nabawi yang melumatkan segala bentuk penyelewengan orang-orang yang melampaui batas, kerancuan para penyesat dan takwil jahilin. Mereka adalah orang-orang yang selalu mengintai setiap kelompok yang menyeleweng dari manhaj Islam seperti Jahmiyah, Mu’tazilah, Khawarij, Rafidah (Syi’ah), Murji’ah, Qadariyah, dan setiap orang yang menyeleweng dari manhaj Allah, mengikuti hawa nafsu pada setiap waktu dan tempat, dan mereka tidak pernah mundur karena cercaan orang yang mencerca.”
Ciri Khas Mereka
1. Mereka adalah umat yang baik dan jumlahnya sangat sedikit, yang hidup di tengah umat yang sudah rusak dari segala sisi. Rasulullah bersabda:
“Berbahagialah orang yang asing itu (mereka adalah) orang-orang baik yang berada di tengah orang-orang yang jahat. Dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada orang yang mengikuti mereka.” (Shahih, HR. Ahmad)
Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Madarijus Salikin 3/199-200, berkata: “Ia adalah orang asing dalam agamanya dikarenakan rusaknya agama mereka, asing pada berpegangnya dia terhadap sunnah dikarenakan berpegangnya manusia terhadap bid’ah, asing pada keyakinannya dikarenakan telah rusak keyakinan mereka, asing pada shalatnya dikarenakan jelek shalat mereka, asing pada jalannya dikarenakan sesat dan rusaknya jalan mereka, asing pada nisbahnya dikarenakan rusaknya nisbah mereka, asing dalam pergaulannya bersama mereka dikarenakan bergaul dengan apa yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka”.
Kesimpulannya, dia asing dalam urusan dunia dan akhiratnya, dan dia tidak menemukan seorang penolong dan pembela. Dia sebagai orang yang berilmu ditengah orang-orang jahil, pemegang sunnah di tengah ahli bid’ah, penyeru kepada Allah dan Rasul-Nya di tengah orang-orang yang menyeru kepada hawa nafsu dan bid’ah, penyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah dari kemungkaran di tengah kaum di mana yang ma’ruf menjadi munkar dan yang munkar menjadi ma’ruf.”
Ibnu Rajab dalam kitab Kasyfu Al Kurbah Fi Washfi Hal Ahli Gurbah hal 16-17 mengatakan: “Fitnah syubhat dan hawa nafsu yang menyesatkan inilah yang telah menyebabkan berpecahnya ahli kiblat menjadi berkeping-keping. Sebagian mengkafirkan yang lain sehingga mereka menjadi bermusuh-musuhan, berpecah-belah, dan berpartai-partai yang dulunya mereka berada di atas satu hati. Dan tidak ada yang selamat dari semuanya ini melainkan satu kelompok. Merekalah yang disebutkan dalam sabda Rasulullah: “Dan terus menerus sekelompok kecil dari umatku yang membela kebenaran dan tidak ada seorangpun yang mampu memudharatkannya siapa saja yang menghinakan dan menyelisihi mereka, sampai datangnya keputusan Allah dan mereka tetap di atas yang demikian itu.”
2. Mereka adalah orang yang berada di akhir jaman dalam keadaan asing yang telah disebutkan dalam hadits, yaitu orang-orang yang memperbaiki ketika rusaknya manusia. Merekalah orang-orang yang memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Rasulullah. Merekalah orang-orang yang lari dengan membawa agama mereka dari fitnah. Mereka adalah orang yang sangat sedikit di tengah-tengah kabilah dan terkadang tidak didapati pada sebuah kabilah kecuali satu atau dua orang, bahkan terkadang tidak didapati satu orangpun sebagaimana permulaan Islam.
Dengan dasar inilah, para ulama menafsirkan hadits ini. Al Auza’i mengatakan tentang sabda Rasulullah: “Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing.” Adapun Islam itu tidak akan pergi akan tetapi Ahlus Sunnah yang akan pergi sehingga tidak tersisa di sebuah negeri melainkan satu orang.” Dengan makna inilah didapati ucapan salaf yang memuji sunnah dan mensifatinya dengan asing dan mensifati pengikutnya dengan kata sedikit.” (Lihat Kitab Ahlul Hadits Hum At Thoifah Al Manshurah hal 103-104)
Demikianlah sunnatullah para pengikut kebenaran. Sepanjang perjalanan hidup selalu dalam prosentase yang sedikit. Allah berfiman:
“Dan sedikit dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.”
Dari pembahasan yang singkat ini, jelas bagi kita siapakah yang dimaksud dengan Ahlus Sunnah dan siapa-siapa yang bukan Ahlus Sunnah yang hanya penamaan semata. Benarlah ucapan seorang penyair mengatakan :
Semua orang mengaku telah menggapai si Laila
Akan tetapi si Laila tidak mengakuinya
Walhasil Ahlus Sunnah adalah orang-orang yang mengikuti Al Qur’an dan As Sunnah dengan pemahaman, amalan, dan dakwah salafus shalih.
source: http://blumewahabi.wordpress.com/siapakah-ahlus-sunnah-itu/
Friday, 11 November 2011
Ibn Taymiyah NAbi bagi wahabi?
Ibn Taymiyah NAbi bagi wahabi?
Kajian Ilmiah Rapi :
KENAPA ULAMA’-ULAMA’ MENTAHZIR IBN TAYMIYAH, MUHAMMAD ABD WAHHAB DAN GOLONGAN WAHHABI?
Disediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany ( 0133005046)
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد
Penulis mendatangkan 3 perkara dalam membincangkan isu Ibn Taymiyyah dan Al-Mujassimah al-Wahhabiyah :
- Pengenalan biodata Ibn Taymiyah.
- Pandangan ulama'-ulama' mu'tabar terhadap Ibn Taimiyyah.
- Senarai Ulama'-ulama' yang membantah dan mengkafirkan Ibn Taimiyah.
- Syubuhaat-syubuhaat (kesamaran-kesamaran) sekitar isu kekufuran Ibn Taymiyah.
SIAPAKAH IBN TAYMIYYAH?
Nama penuh Ibnu Taimiyyah ialah Ahmad Taqiyuddin, Abu Abbas bin Syihabuddin Abdul Mahasin Abdul Halim bin Syeikh Majduddin Abi al-Barakat Abdul Salam bin Abi Muhammad Abdillah bin Abi Qasim al-Khadhar bin Muhammad bin Ali bin Abdillah.
- Nama Taimiyah berasal dari nama datuknya, Muhammad bin Al khadhar. Ini kerana ketika beliau melakukan haji ke Mekah beliau melalui jalan Taima’.
- Datuknya seorang yang faqih dalam mazhab hanbali yang masyhur.
- Beliau lahir di desa Harran, Palestin pada 10 rabiulawal, 661H. Beliau seorang yang berbangsa kurdi.
- Pada mulanya, beliau merupakan seorang alim, banyak pengetahuan dalam fiqh mazhab Hanbali, dan Usuluddin kemudiannya shaz dan menyimpang dari mazhab yang empat.
- Mengajar dan bertabligh di Masjid Bani Umayyah di Damsyik dan ramai murid.
- Terpengaruh dengan fahaman Musyabbihah dan Mujassimah.(ajaran terpesong)
- Menyerupakan Tuhan dengan makhluk, mengeluarkan fatwa yang jauh berbeza dari mazhab Hanbali, Hanafi, Maliki dan Syafi’.
Ahmad ibn Taimiyah lahir di tengah-tengah keluarga yang berilmu yang bermadzhab Hanbali. Ayahnya adalah seorang alim dalam mazhab hanbali yang berperawakan tenang. Beliau (ayahnya) dihormati oleh ulamak-ulamak Syam dan pegawai-pegawai kerajaan sehinggakan mereka memberi mandat dan kepercayaan kepadanya di beberapa jabatan ilmiah untuk membantu mereka. Setelah ayahnya wafat, mereka melantik Ibnu Taimiyah menggantikan posisi/tempat ayahnya bahkan mereka yang selama ini mempercayai ayahnya, turut menghadiri majlis Ibn Taymiyah untuk mendorong dan memotivasinya supaya meneruskan tugas-tugas ayahnya dan memberi pujian kepadanyanya. Namun pujian tersebut ternyata membuatkan Ibnu Taimiyah terlena dan tidak menyedari motif sebenarnya disebalik pujian tersebut. Ibnu Taimiyah mulai menyebarkan satu demi satu bid’ah-bid’ahnya yang sesat sehingga para ulamak dan jabatan kerajaan yang dahulu memujinya mula menjauhinya satu persatu.
Ibnu Taimiyah meskipun adalah seorang yang tersohor dan memiliki banyak karangan dan pengikut, namun sesungguhnya beliau adalah seperti yang dinyatakan oleh al-Muhadditsu al Hafizh al Faqih Waliyy ad-Din al ‘Iraqi (W 862 H)-anak Syeikul Huffaz Zain al-addin Al ‘Iraqi dalam kitabnya al-Ajwibah al-Murdhiyah ‘ala al-asilati al-Makkiyyah : “Ibnu Taimiyah telah menyalahi Ijma’ dalam banyak permasalahan, kira-kira sekitar 60 masalah, sebahagiannya dalam masalah Ushul ad-Din (pokok-pokok agama) dan sebahagian lagi berkenaan dengan masalah-masalah furu’ ad-Din (cabang-cabang agama), Ibnu Taimiyah dalam masalah-masalah tersebut mengeluarkan pendapat lain; yang berbeza setelah termeterainya ijma’ di dalamnya".
Pelbagai lapisan masyarakat dan orang awam yang jahil mulai terpengaruh dan cuba mengikuti Ibnu Taimiyah sehinggakan perkara ini disedari oleh ulamak-ulamak di masa Ibnu Taimiyah sebagai suatu ancaman yang bahaya, lalu mereka mulai bersuara, bertindak mentahzir dan membantah pendapat-pendapatnya serta menggolongkan beliau di dalam kelompok para ahli bid’ah yang sesat. Di antara yang membantah Ibnu Taimiyah adalah al Imam alHafizh Taqiyy ad-Din Ali bin Abd al Kafi as-Subki (W 756 H) dalam karyanya ad-Durrah al Mudhiyyah fi ar-Radd 'ala Ibn Taimiyah, beliau mengatakan:
“Amma ba’du…
Ibnu Taimiyah benar-benar telah membuat bid’ah-bid’ah ( melakukan perkara-perkara baru) dalam dasar-dasar I’tiqod/keyakinan (Ushul al 'Aqa-id), beliau telah meruntuhkan tonggak-tonggak dan sendi-sendi Islam setelah ia sebelum ini bersembunyi disebalik taktik kotor mengikuti al Qur’an dan as-Sunnah. Pada zahirnya beliau mengajak kepada kebenaran dan menunjukkan kepada jalan syurga, ternyata kemudian ia bukan melakukan ittiba’ (mengikuti sunnah, ulama Salaf dan ijma’ ulamak) akan tetapi sebenarnya membuat bid’ah-bid’ah baru, beliau shaz dari umat muslimin dengan menyalahi Ijma’ dan beliau juga mengatakan tentang Allah dengan perkataan yang mengandungi tajsim (meyakini Allah adalah jisim; benda yang memiliki ukuran dan dimensi) dan bersusun (tarkib) bagi zat Allah Yang Maha Suci". Seterusnya Imam al-Subki mengatakan “ Beliau-Ibn Taimiyah- mengatakan Allah meliputi segala yang baharu dengan zatnya (hulul), Beliau menyebut Al-quran itu baharu, Allah berkata-kata setelah sebelumnya tidak,dan sesungguhnya Allah berkata-kata kemudian dia diam dan berlaku pada zatNya Iradaat dengan mengikut makhluk” pada akhir komentar Imam Subki menegaskan “ Ibn Taymiyah tidak tergolong dalam mana-mana golongan daripada 73 golongan yang berpecah dari pada umat ini, dan juga tidak bersepakatan dengan mana-mana umat, semua itu ( apa yang diyakini oleh ibn taymiyah) adalah kekufuran yang amat keji yang sedikit jumlahnya jika dinisbahkan dengan bid’ah-bid’ah yang dilakukan dalam masalah cabang agama ( furu’ fiqhiyyah)".
Di antara perkataan Ibnu Taimiyah dalam ushul ad-din yang menyalahi ijma’ kaum muslimin adalah perkataannya bahawa jenis alam ini qadim (tidak ada permulaan), (sebagaimana ia katakan dalam tujuh karyanya: Muwafaqah Sharih al Ma’qul li Shahih al Manqul, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, Syarh Hadits an-Nuzul, Syarh Hadits ‘Imran ibn al Hushain, Naqd Maratib al Ijma’, Majmu’ah Tafsir Min Sitt Suwar, Majmu' Al Fatawa) dan Allah pada Azal (keberadaannya tanpa permulaan) selalu diiringi dengan makhluk. Ibnu Taimiyah juga mengatakan bahwa Allah adalah jisim (bentuk), mempunyai arah dan berpindah-pindah. Ini semua adalah hal yang ditolak dalam agama yang mulia ini.
Dalam sebahagian karangannya, Ibnu Taimiyah menyatakan bahawa Allah Ta’ala sama besar ‘Arasy, tidak lebih besar atau lebih kecil, Maha suci Allah dari perkataan ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahawa para nabi itu tidak ma’shum, Nabi Muhammad tidak memilik jah (kehormatan), kerana itu menurutnya jika ada orang bertawassul dengan Nabi maka ia salah besar yang membawa kepada syirik (sebagaimana ia nyatakan dalam bukunya at-Tawassul Wa al Wasilah. Beliau juga mengatakan bahawa berpergian/bermusafir untuk menziarahi makam Rasulullah adalah dikira sebagai perjalanan maksiat dan tidak boleh mengqashar shalat kerananya (sebagaimana beliau kemukakan perkara ini di dalam kitab Majmuk al Fatawa). Dalam hal ini beliau benar-benar sangat keterlaluan padahal tidak ada seorang pun sebelumnya (salaf ataupun khalaf) berpandangan semacam ini. Ibnu Taimiyah juga menyatakan bahawa siksa bagi penduduk neraka akan terhenti dan tidak akan berlaku selama-lamanya (sebagaimana dituturkan oleh sebagian ahli fiqh dari sebahagian karangan Ibnu Taimiyah dan juga dinukil oleh muridnya; Ibn al Qayyim al Jawziyyah dalam kitab Hadi al Arwah ila Bilad al-Afrah).
Ibnu Taimiyah sudah berkali-kali diperintah untuk bertaubat dari menyebarkan perkataan dan kepercayaanya yang sesat ini, baik dalam masalah-masalah ushul maupun furu', setelah bertaubat di hadapan qadhi-qadhi, beliau bagaimanapun selalu mengingkari janji-janjinya- ( sifatnya yang muzabzab menyebabkan dia dipenjara sebanyak 4 kali)-sehingga akhirnya beliau dipenjara dengan kesepakatan para qadhi (hakim) dari empat madzhab; Syafi’i, Maliki, Hanafi dan Hanbali. Al Imam al Hafizh al Faqih al Mujtahid Taqiyy ad-Din as-Subki yang sezaman dengannya dalam salah satu risalahnya mengatakan: “Ibnu Taimiyah dipenjara atas kesepakatan para ulama dan para penguasa”. Terakhir mereka (qadhi-qadhi) menyatakan Ibnu Taimiyah adalah sesat, harus ditahzir (diwaspadai) dan dijauhi, seperti dijelaskan oleh Ibnu Syakir al Kutubi (murid Ibnu Taimiyah sendiri) dalam kitabnya ‘Uyun at-Tawarikh. Pada saat yang sama, Sultan Muhammad ibn Qalawuun mengeluarkan keputusan rasmi pemerintah (warta kerajaan ) untuk dibaca di seluruh Masjid di Syam dan Mesir agar masyarakat mewaspadai dan menjauhi Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya. Ibnu Taimiyah akhirnya dipenjara di benteng Al-Qal’ah di Damaskus hingga mati pada tahun 728 H.
Insyaallah..moga kte mendapat taufiq dan hidayat daripada Allah taala. Nantikan komentar-komentar para ulama' mu'tabar tentang Ibn Taymiyah dan sejauh mana beliau ditentang disebabkan kekufurannya dalam iktiqod dan keganjilannya dalam permasalahan fiqhiyah. Tungguuu...
Disediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany ( 0133005046)
Kajian Ilmiyah ; ISU IBN TAYMIYAH BUKAN ISU KHILAFIYAH !!
Disediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany
( 0133005046)
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمدلله رب العالمين, مكون الأكوان, مدبر الأزمان, الموجود أزلا وأبدا بلاكيف ولاجهة ولامكان , والصلاة والسلام على محمد سيد الأنبياء والمرسلين, وعلى ءاله الطاهرين وصحابته الطيبين, اما بعد
Marilah kita berlindung dengan Allah subhanahu wa taala daripada Syaitan yang direjam. Segala puji-pujian kita panjatkan kepada Allah, tuhan yang bersifat degan segala sifat kesempurnaan, yang menjadikan sekalian makhluk, yang menciptakan tempat dan masa, wujudnya qadim lagi azali, tidak dimulai dengan ketiadaan, tanpa bagaimana, tanpa arah yang enam, dan tidak berhajat kepada tempat, selawat dan salam ke atas junjunan besar kita nabi muhammad Sollallahu 'alaihi wasallam, kelaurga baginda,sahabat-sahabat, tabi'iin dan ulama'-ulama ASWJ yang tidak lekang memperjuangkan kelestarian akidah Islam.
Amanah Ilmiyah perlu dijaga dan tidak boleh diselewengkan. Atas matlamat ini penulis cuba menukilkan perbahasan ulama'-ulama' terhadap Ibn Taymiyah dan golongan mujassimah wahhabiyah dan jauh daripada sikap memfitnah atau mentohmah. semoga pembaca menilainya dengan neraca dan mizan syara'...
PANDANGAN ULAMA’-ULAMA’ AHLUS SUNNAH TENTANG IBNU TAIMIYAH
Al Hafizh Ibnu Hajar al-Asqolany (W 852 H) yang bergelar Amir Al-Mukminin dalam bidang hadith telah menukilkan dalam kitab ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 154,155 bahawa para ulama’ menyebut Ibnu Taimiyah dengan tiga sebutan: Mujassim, Zindiq, Munafiq. “para ulama’ telah menggelarkan Ibn Taimiyah dengan tajsim berdasarkan apa yang telah beliau tulis di dalam kitabnya “al-Aqidah al-Wasithiyah, al-Hamawiyah” dan lain-lainnya. Sebagai contoh, beliau berpendapat bahawa tangan, kaki, betis dan wajah adalah sifat-sifat hakikat bagi Allah Ta’ala, Allah beristiwa’ di atas ‘arasy dengan zat-Nya..”Imam Ibn Hajar menambah lagi : “Dia dihukum dengan munafiq kerana perkataannya (kritikan) terhadap Sayidina Ali..” Katanya lagi :“Ibn Taimiyah juga dihukum zindiq kerana berpendapat bahawa tidak boleh beristhighathah (meminta pertolongan) daripada Nabi Sollahu ‘Alaihi Wasallam.
Ibnu Hajar menyatakan; “ Ibnu Taimiyah menyalahkan Sayyidina ‘Umar ibn al Khaththab – semoga Allah meredhainya-, dia menyatakan tentang Sayyidina Abu Bakr Ash-Siddiq –semoga Allah meredhainya-bahawa beliau masuk Islam di saat umurnya tua renta/sangat dan tidak menyedari betul apa yang beliau katakan (hilang ingatan kerana tua sangat-nyanyuk).( kata Ibn Taymiyah) Sayyidina Utsman ibn ‘Affan –semoga Allah meredhainya-mencintai dan cenderung kepada harta dunia (materialis) dan Sayyidina 'Ali ibn Abi Thalib –semoga Allah meredhainya-menurutnya- berperang kerana gilakan pangkat bukan kerana agama, begitu juga - ‘Ali Bin Abi Thalib-mengikut Ibn Taymiyah telah menyalahi nash al-Qur’an dalam 17 permasalahan ”. 'Ali Bin Abi Thalib menurut Ibnu Taimiyah tidak pernah mendapat pertolongan dari Allah (makhzdulan) ke manapun beliau pergi, sangat cenderung/mencintai dan haus akan kekuasaan, pernah mencuba beberapa kali untuk mendapatkan kekuasaan tetapi tidak berjaya dan dia masuk Islam di waktu umurnya kecil ( 13 tahun ) padahal anak kecil itu Islamnya tidak sah”. seterusnya Ibn Hajar mengatakan “ dan beliau (ibn Taimiyah mencela Imam Ghazali, lalu masyarakat ketika itu telah bangun hampir membunuhnya”. ini bukti masyarakat pada masa itu amat membenci Ibn Taymiyah dan kuncu-kuncunya di sebabkan fahaman ghuluwnya.
Di dlm kitab Fath al-Bari, m.s. 66, jld. 3 pula, beliau menegaskan:“…Hasilnya, mereka telah berpegang dengan pendapat Ibn Taimiyah tentang haramnya bermusafir untuk menziarahi maqam Rasulullah dan kami mengingkarinya. Inilah seburuk-seburuk (ashna') masalah yg dinuqilkan daripada Ibn Taimiyah.”
Ibnu Hajar al Haytami al-Makkiy (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idhah fi Manasik al Hajj Wa al 'Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk menziarahi makam Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam: "Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam rasulullah ini, kerana sesungguhnya beliau adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah sepertimana yang diperkatakan oleh al-‘Izz Ibn Jamaah". Al-hafidz Al-Faqih Taqiyyuddin as-Subki juga dengan panjang lebar telah membantahnya dalam sebuah tulisannya yang tersendiri.
Ibnu Hajar al Haytami al-Makkiy (W 974 H) dalam karyanya Hasyiyah al Idhah fi Manasik al Hajj Wa al 'Umrah li an-Nawawi, hlm. 214 menyatakan tentang pendapat Ibnu Taimiyah yang mengingkari kesunnahan safar (perjalanan) untuk menziarahi makam Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi Wasallam: "Janganlah tertipu dengan pengingkaran Ibnu Taimiyah terhadap kesunnahan ziarah ke makam rasulullah ini, kerana sesungguhnya beliau adalah seorang hamba yang disesatkan oleh Allah sepertimana yang diperkatakan oleh al-‘Izz Ibn Jamaah". Al-hafidz Al-Faqih Taqiyyuddin as-Subki juga dengan panjang lebar telah membantahnya dalam sebuah tulisannya yang tersendiri.
Perkataan Ibnu Taimiyah yang berisi dengan celaan dan penghinaan terhadap Rasulullah Muhammad ini tidaklah suatu yang aneh kerana beliau ( bukan terhenti setakat itu sahaja) bahkan telah mencaci Allah, Maha Suci Allah dari perkataan orang-orang zalim yang kafir dan mulhid/atheis. Ibnu Taimiyah menisbahkan hal-hal yang tidak layak bagi Allah, beliau menyatakan Allah memiliki arah, tangan, kaki, mata (yang merupakan anggota badan) dan hal-hal buruk yang keji. Kerananya, demi Allah beliau telah dikafirkan oleh banyak para ulama, semoga Allah memperlakukannya dengan keadilan-Nya dan tidak menolong pengikutnya yang mendukung dan mempertahankan pendustaan-pendustaan yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah terhadap Syari’at Allah yang mulia ini”. Ibn Hajar Al-Haytami dalam kitab lainnya Fatawa al-Hadithiah m/s 114 -116 menyebut : “ Ibn Taymiyah adalah seorang hamba yang tidak diberi pertolongan oleh Allah, disesatkan, dibutakn, dipekakkan, dan dihinakan akannya, demikian itu sebagaimana dishorihkan/dijelaskan oleh a`immah (imam-imam) yang tampil menerangkan kefasadan (kerosakan) hal keadaannya dan mendustakan perkataan-perkataannya. Dan sesiapa yang ingin (mengetahui kefasadannya itu) hendaklah bermuthalaah (mengulangkaji) kata-kata Imam Mujtahid yang disepakati akan keimamamnya dan kemuliaannya dan sampainya kepada martabat ijtihad –iaitu- Abi al-Hasan as-Subki dan anaknya al-Taj As-Subki dan Syiekh Imam al-‘Izz Bin Jama’ah dan ulama’ yang sezaman dengan mereka serta lainnya daripada al-Syafi’yyah dan al-Malikiyyah dan al-Hanafiyyah”.
Pengarang kitab Kifayatul Akhyar, Syiekh Taqiyy ad-Din al Hushni (W 829 H), setelah menuturkan bahawa para ulamak dari empat madzhab menyatakan Ibnu Taimiyah sesat dan keluar daripada landasan Islam secara IJMA' ULAMA', dalam kitabnya Daf’u Syubah Man Syabbaha Wa tamarrada beliau menyatakan: “Maka dengan demikian, kekufuran Ibnu Taimiyah adalah hal yang disepakati oleh para ulama’.” Dalam kitab yang sama m/s. 123, (cetakan Isa al-Baabi al-Halabi) berbunyi:“Syeikh Zainuddin Ibn Rajab al-Hanbali adalah salah seorang daripada ulama’ yang menghukum kafir Ibn Taimiyah. Dia mempunyai penolakan ke atas Ibn Taimiyah. Dia juga pernah mengangkat suara dengan keras mengkufurkan Ibn Taimiyah di dalam beberapa majlisnya. Disamping itu, Imam al-Subki juga mempunyai hujah untuk mengkufurkannya..” Pada halaman yg lain, beliau mengatakan: “banyak masalah-masalah yang dilakukan oleh Ibn Taimiyah menyimpang daripada kebenaran.”
Adz-Dzahabi (Mantan murid Ibnu Taimiyah) dalam risalahnya Bayan Zaghal al Ilmi wa ath-Thalab, m.s. 23 (cetakan al-Taufiq 1347H, Damsyik):“Sesungguhnya aku telah melihat sesuatu yang telah menimpa Ibn Taimiyah. Beliau telah disingkir, dihukum sesat dan kafir serta tidak dipercayai antara kebenaran dengan kebatilan. Sebelum beliau menceburi bidang ini (falsafah), beliau merupakan cahaya yang menerangi kehidupan, lebih-lebih lagi tentang al-salafnya. Kemudian cahayanya itu menjadi gelap-gelita..”
Dalam kitab yang sama hlm 17 berkata tentang Ibnu Taimiyah: “ Saya sudah lelah mengamati dan menimbang sepak terajangnya (Ibnu Taimiyah), sehinggalah saya merasa bosan setelah bertahun-tahun menelitinya. Hasil yang saya peroleh adalah; ternyata bahawa penyebab tidak sejajarnya Ibnu Taimiyah dengan ulama’ Syam dan Mesir serta beliau dibenci, dihina, didustakan dan dikafirkan oleh penduduk Syam dan Mesir adalah kerana beliau seorang yang sombong takabbur, terlena oleh diri sendiri dan hawa nafsunya (‘ujub), sangat haus dan cenderung untuk mengepalai dan memimpin para ulama’ serta sering memperlekeh para ulama’ besar.
Lihatlah wahai pembaca betapa berbahayanya sikap mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya dan betapa nestapanya akibat yang ditimbulkan dari kecenderungan terhadap populariti dan kemasyhuran ( mencari nama). Kita mohon semoga Allah mengampuni kita". Adz-Dzahabi melanjutkan: “Sesungguhnya apa yang telah menimpa Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, hanyalah sebahagian dari risiko yang harus mereka peroleh, janganlah pembaca ragukan hal ini”.
Risalah adz-Dzahabiah ini memang benar adanya-( sekarang wahabi mengingkari wujudnya risalah ini)-dan ditulis oleh Adz-Dzahabi sendiri kerana al Hafizh as-Sakhawiy (W 902 H)- murid kepada Ibn Hajar Al-Asqolany menukilkan perkataan adz-Dzahabi ini dalam bukunya al I’lan bi at-Taubikh, hlm. 77. Suatu peringatan dari penulis jika didapati dari mana-mana kitab bahawa adz-Dzahabi memuji Ibn Taimiyah ketahuilah semua itu sebelum tertulisnya Risalah adz-Dzahabiah. Bahkan Adz-Dzahabi menegaskan pendiriannya terhadap ibn Taimiyah sebagaimana dinukilkan oleh Ibn Hajar al-Asqolany dalam ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 151:“ Dan saya –adz-Dzahabi- saya tidak beri’tiqod bahawa padanya (ibn Taymiyah) itu terpelihara dari dosa (ishmah) bahkan saya bercanggah dengannya dalam masalah-masalah usul (iktiqod) dan furu’ (cabang)“.
Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i yang merupakan guru Al-Hafiz al-Iraqi (W 761 H) adalah antara ulamak yang semasa dengan ibnu Taimiyah juga mencelanya dengan keras dan menyenaraikan kesesatan-kesesatan ibn Taimiyah. Perkara ini dinukilkan oleh al-Muhaddith al-Hafidz al-Muarrikh Shamsul al-Din Bin Thulun di dalam Dakhair al-Qasr m/s 69. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah meninggalkan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah sehinggalah beliau wafat. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya". Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul An-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith..
Lihatlah wahai pembaca betapa berbahayanya sikap mengaku-ngaku sesuatu yang tidak dimilikinya dan betapa nestapanya akibat yang ditimbulkan dari kecenderungan terhadap populariti dan kemasyhuran ( mencari nama). Kita mohon semoga Allah mengampuni kita". Adz-Dzahabi melanjutkan: “Sesungguhnya apa yang telah menimpa Ibnu Taimiyah dan para pengikutnya, hanyalah sebahagian dari risiko yang harus mereka peroleh, janganlah pembaca ragukan hal ini”.
Risalah adz-Dzahabiah ini memang benar adanya-( sekarang wahabi mengingkari wujudnya risalah ini)-dan ditulis oleh Adz-Dzahabi sendiri kerana al Hafizh as-Sakhawiy (W 902 H)- murid kepada Ibn Hajar Al-Asqolany menukilkan perkataan adz-Dzahabi ini dalam bukunya al I’lan bi at-Taubikh, hlm. 77. Suatu peringatan dari penulis jika didapati dari mana-mana kitab bahawa adz-Dzahabi memuji Ibn Taimiyah ketahuilah semua itu sebelum tertulisnya Risalah adz-Dzahabiah. Bahkan Adz-Dzahabi menegaskan pendiriannya terhadap ibn Taimiyah sebagaimana dinukilkan oleh Ibn Hajar al-Asqolany dalam ad-Durar al Kaminah juz I, hlm. 151:“ Dan saya –adz-Dzahabi- saya tidak beri’tiqod bahawa padanya (ibn Taymiyah) itu terpelihara dari dosa (ishmah) bahkan saya bercanggah dengannya dalam masalah-masalah usul (iktiqod) dan furu’ (cabang)“.
Al Hafizh Abu Sa’id al ‘Ala-i yang merupakan guru Al-Hafiz al-Iraqi (W 761 H) adalah antara ulamak yang semasa dengan ibnu Taimiyah juga mencelanya dengan keras dan menyenaraikan kesesatan-kesesatan ibn Taimiyah. Perkara ini dinukilkan oleh al-Muhaddith al-Hafidz al-Muarrikh Shamsul al-Din Bin Thulun di dalam Dakhair al-Qasr m/s 69. Abu Hayyan al Andalusi (W 745 H) juga melakukan hal yang sama, sejak membaca pernyataan Ibnu Taimiyah dalam Kitab al ’Arsy yang berbunyi: “Sesungguhnya Allah duduk di atas Kursi dan telah meninggalkan tempat kosong di Kursi itu untuk mendudukkan Nabi Muhammad shallallahu ‘alayhi wasallam bersama-Nya”, beliau melaknat Ibnu Taimiyah sehinggalah beliau wafat. Abu Hayyan mengatakan: “Saya melihat sendiri hal itu dalam bukunya dan saya tahu betul tulisan tangannya". Semua ini dituturkan oleh Imam Abu Hayyan al Andalusi dalam tafsirnya yang berjudul An-Nahr al Maadd min al Bahr al Muhith..
Ibnu Taimiyah juga menuturkan iktiqodnya bahwa Allah duduk di atas ‘Arsy dalam beberapa kitabnya: Majmu’ al Fatawa, juz IV, hlm. 374, Syarh Hadits an-Nuzul, hlm. 66, Minhaj as-Sunnah an-Nabawiyyah, juz I , hlm. 262. Keyakinan dan kepercayaan seperti ini jelas merupakan kekufuran. Ianya dikira sebagai kekufuran Tasybih; yakni menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya sebagaimana dijelaskan oleh para ulama Ahlus sunnah. Ini juga merupakan bukti bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah Mutanaaqidh (Pernyataannya sering bertentangan antara satu dengan yang lain, wa al-Mubthil Mutanaaqidh). Bagaimana beliau boleh mengatakan –pada suatu ketika-bahawa Allah duduk di atas ‘Arsy dan - pada ketika yang lain-mengatakan Allah duduk di atas Kursi ?!, padahal kursi itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan ‘Arsy sebagaimana dijelaskan oleh hadith nabi sollallahu ‚alaihi wasallam... nauzubillah.
Imam al-Kauthari (Wakil Ulama' Utsmaniyyin) di dalam kitab “Maqalaat” m/s. 35 menyifatkan bahawa Ibn Taimiyah adalah seorang pengikut Ibn Malikan, ahli falsafah yahudi apabila beliau (Ibn Taimiyah) menisbahkan suara kepada Allah Subhanahu wa taala dan pendapatnya yang mengatakan bahawa menjelmanya benda-benda yang baharu pada zat Allah. Pada m/s. 241 pula, beliau mengkritik tindakan Ibn Taimiyah yang menuqilkan hasil-hasil penulisan al-Mujassimah ke dalam kitabnya. Manakala pada m/s. 242 beliau mengemukakan beberapa contoh nuqilan Ibn Taimiyah yg menunjukkan kepada aqidah al-Tasybih.
Setelah dikemukakan semua ini , sepatutnya tidaklah pantas terutama bagi orang yang mempunyai kedudukan di sisi masyarakat (ustaz, tok guru, qadhi, mufti, dan sebagainya) dan yang mempunyai pengikut untuk memuji Ibnu Taimiyah kerana jika ini dilakukan maka orang awam yang jahil akan mengikutinya dan mengambil kata-katanya. Ekoran daripada itulah akan muncul bahaya yang sangat besar. Kerana Ibnu Taimiyah adalah penyebab berlakunya wabak pengkafiran terhadap orang yang ber-tawassul, beristighatsah dengan Rasulullah dan para Nabi, pengkafiran terhadap orang yang berziarah ke makam Rasulullah, para Nabi serta para wali untuk ber-tabarruk. Padahal pengkafiran seperti ini belum pernah terjadi sebelum kemunculan Ibnu Taimiyah. Inilah antara bid’ah yang mula-mula dipelopori oleh ibn Taymiyah. Sementara itu, dewasa ini para pengikut Ibnu Taimiyah (wahhabi) juga mengkafirkan orang-orang yang ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan para nabi dan orang-orang yang Soleh, bahkan mereka menamakan Syiekh ‘Alawi ibn Abbas al Maliki dengan nama Thaghut Bab as-Salam (ini bererti mereka mengkafirkan Sayyid ‘Alawi), kerana beliau -semoga Allah merahmatinya- mengajar di sana, di Bab as-Salam, al Masjid al Haram, Makkah al Mukarramah.
Imam al-Kauthari (Wakil Ulama' Utsmaniyyin) di dalam kitab “Maqalaat” m/s. 35 menyifatkan bahawa Ibn Taimiyah adalah seorang pengikut Ibn Malikan, ahli falsafah yahudi apabila beliau (Ibn Taimiyah) menisbahkan suara kepada Allah Subhanahu wa taala dan pendapatnya yang mengatakan bahawa menjelmanya benda-benda yang baharu pada zat Allah. Pada m/s. 241 pula, beliau mengkritik tindakan Ibn Taimiyah yang menuqilkan hasil-hasil penulisan al-Mujassimah ke dalam kitabnya. Manakala pada m/s. 242 beliau mengemukakan beberapa contoh nuqilan Ibn Taimiyah yg menunjukkan kepada aqidah al-Tasybih.
Setelah dikemukakan semua ini , sepatutnya tidaklah pantas terutama bagi orang yang mempunyai kedudukan di sisi masyarakat (ustaz, tok guru, qadhi, mufti, dan sebagainya) dan yang mempunyai pengikut untuk memuji Ibnu Taimiyah kerana jika ini dilakukan maka orang awam yang jahil akan mengikutinya dan mengambil kata-katanya. Ekoran daripada itulah akan muncul bahaya yang sangat besar. Kerana Ibnu Taimiyah adalah penyebab berlakunya wabak pengkafiran terhadap orang yang ber-tawassul, beristighatsah dengan Rasulullah dan para Nabi, pengkafiran terhadap orang yang berziarah ke makam Rasulullah, para Nabi serta para wali untuk ber-tabarruk. Padahal pengkafiran seperti ini belum pernah terjadi sebelum kemunculan Ibnu Taimiyah. Inilah antara bid’ah yang mula-mula dipelopori oleh ibn Taymiyah. Sementara itu, dewasa ini para pengikut Ibnu Taimiyah (wahhabi) juga mengkafirkan orang-orang yang ber-tawassul dan ber-istighatsah dengan para nabi dan orang-orang yang Soleh, bahkan mereka menamakan Syiekh ‘Alawi ibn Abbas al Maliki dengan nama Thaghut Bab as-Salam (ini bererti mereka mengkafirkan Sayyid ‘Alawi), kerana beliau -semoga Allah merahmatinya- mengajar di sana, di Bab as-Salam, al Masjid al Haram, Makkah al Mukarramah.
Jadi isu Ibn Taymiyah dan golongan mujassim wahabiyah bukanlah isu khilafiyah sebagaimana yang disangka-sangkakan. Kekufurannya pula amat jelas dan berbukti. Ini juga bukanlah suatu fitnah terhadapnya kerana kalam-kalam kufur Ibnu Taymiyah sememangnya sabit dalam kebanyakan kitab-kitab ulama'-ulama' dan dalam kitab-kitab beliau sendiri dan amat mustahil jika ada yang menyatakan kalam-kalam ibn taymiyah tidak sabit bahkan anak-anak muridnya juga menukilkannya di dalam kitab-kitab mereka...nantikan senarai ulama'-ulama' yang memfatwakan Ibn taimiyah sebagai mujassim, sesat, dan keluar dari landasan Islam...insyaallah.
Di Sediakan Oleh ;
Abu Lehyah Al-Kelantany
sumber: http://jihadwahabi.blogspot.com/2008/05/ibn-taymiyah-nabi-bagi-wahabi.html
sumber: http://jihadwahabi.blogspot.com/2008/05/ibn-taymiyah-nabi-bagi-wahabi.html
Subscribe to:
Posts (Atom)
